Share

Tugas Ganda

last update publish date: 2026-05-01 21:28:54

Di sebuah ruangan VVIP rumah sakit yang tenang, cahaya lampu pendar memantul di permukaan layar ponsel milik Sofia. Wanita itu menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal empuk, membiarkan jemarinya menari pelan di atas layar. Sebuah pesan singkat baru saja masuk dari Tito—salah satu pengawal yang ditempatkan Rendra di kediaman keluarga Sera— melaporkan keributan memalukan yang melibatkan Sintia.

Sudut bibir Sofia tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan kelicikan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
cihhh qrin it pngwal Mao bela Klrga Sera tau ny Mlah brphak k s Soffel.. dah lhaa g ad abs ny Klo s Soffel sm lampir brsatu
goodnovel comment avatar
Div Nadhifa
Sofia tuh wujud makhluk kek apa sih gaes??? udah ditolongin sera pas di Malaysia, eh sekarang nimpuk sera dg fitnahan² keji kyk gtu.
goodnovel comment avatar
Eenok Khus
dih ada penghianat jg yaa rendra /evan udh tau x yaa ma diem2 jg yelidikin ngumpulin bukti gtu emg sintia blm kapok deh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berharap Kami Berpisah

    Sera mengangguk, melangkah mendekati sisi ranjang lalu duduk dengan posisi tubuh tegak dan formal. Keheningan sempat merayap selama beberapa saat di antara dirinya dan Sintia, membuat Sera berdehem pelan untuk mencairkan suasana yang kaku. Ia melirik ke arah botol cairan infus yang tinggal menyisakan sepertiga bagian di atas tiang besi. "Jam berapa dokter akan datang untuk memeriksa Anda?" tanya Sera dengan nada suara sesopan mungkin. "Jika pemeriksaan sudah selesai, Nyonya bisa meminta selang infusnya untuk dilepas sekarang. Atau... apa mau saya bantu lepaskan saja?" Sintia tidak langsung menjawab. Sepasang matanya bergerak beralih dari wajah Sera, lalu menatap lurus ke arah Dewa yang masih berdiri di dekat sana. Sorot mata Sintia tampak tegas, seolah sedang mengirimkan sinyal yang meminta suaminya itu untuk segera keluar dan meninggalkan mereka berdua saja di dalam kamar. Dewa yang sudah puluhan tahun hidup bersama Sintia tentu langsung paham arti tatapan tersebut. Pria paruh bay

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Mertua Jahat Berubah?

    "Silakan saja kalau kamu mau menemui Mama," jawab Rendra, helaan napasnya terdengar berat. Namun, jeda beberapa detik setelahnya nada suaranya berubah menjadi sangat dalam dan penuh penekanan. "Tapi, pastikan jangan sampai kamu terluka atau ditindas lagi di sana, jangan biarkan hal itu terjadi lagi." Sera tersenyum tipis. "Tenang saja, Mas. Nyonya Sintia tidak akan melakukan hal seperti itu lagi kepadaku. Percayalah." Di seberang sana, Rendra terdiam cukup lama. Keheningan itu terasa begitu pekat, mengisyaratkan gurat keberatan dan rasa berat hati yang teramat sangat untuk memberikan izin kepada istrinya. "Kamu sudah makan siang?" tanya Rendra kemudian, mencoba mengalihkan kecemasannya yang masih menggantung. "Makan siang dulu sebelum pergi menemui mama." Sera melirik sekilas ke arah jam dinding di koridor. "Aku belum lapar, Mas. Nanti saja, Erika juga sedang ada urusan sebentar, aku makan setelah Erika kembali saja." Setelah beberapa menit berbincang,mereka akhirnya mengak

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berani Kalau Sedang Cemburu

    Sera melangkah masuk ke ruang koas, lalu meletakkan tas kertas tebal berlogo merek ternama pemberian Ratu di atas mejanya. Ia berdiri mematung sembari memandangi benda itu dengan kening berkerut, tampak benar-benar bingung dengan motif di balik pemberian tersebut. Erika yang sejak tadi berada di sana langsung menyadari perubahan ekspresi wajah Sera. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Sera pelan. "Ada apa? Kenapa mukamu ditekuk begitu?" Tanpa menunggu persetujuan, jemari Erika yang penasaran bergerak meraih tas kertas itu. Ia membuka bagian atasnya lebar-lebar, mengintip ke dalam, lalu merogoh isinya. Begitu menarik sepotong pakaian tebal keluar dari sana, kedua mata Erika seketika membelalak lebar, dan ekspresi wajahnya berubah total menjadi penuh keterkejutan. "Astaga, Sera... ini jaket mahal!" seru Erika setengah berbisik, jemarinya mengusap permukaan bahan jaket yang halus dan terasa sangat premium. "Ini merek luar negeri yang antreannya panjang sekali kalau mau beli!"

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menumbalkan Sahabat

    Evan menelan ludah susah payah. Jakunnya naik-turun, melihat sosok Rendra yang mendadak muncul dari belakang. Sementara itu, Sera justru melipat wajahnya dalam-dalam. Ekspresinya datar. Dari sudut matanya, ia menangkap siluet Sofia yang berjalan anggun namun pasti menuju ke arah mereka. Sera buru-buru memecah keheningan. Ia menoleh ke arah Evan, lalu kembali menatap Rendra dengan tatapan lempeng. "Kami sedang membicarakan soal Erika," ucap Sera, sengaja mengeraskan volume suaranya. "Iya, Erika." Rendra tidak langsung merespons. Sepasang alis tebalnya bertaut erat, menciptakan lipatan dalam di dahinya. Matanya menyipit, menatap Sera dan Evan bergantian dengan penuh selidik. "Memang ada masalah apa dengan Erika?" tanyanya, suaranya berat dan menuntut. Sera menghela napas pendek, menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Itu yang tidak bisa diceritakan. Sebaiknya Mas Rendra tidak perlu tanya." Bersamaan dengan kalimat itu, Sera memberikan isyarat halus—sebuah gerakan kepala yan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Mengunci Mulut Rapat-rapat

    Di luar ruang kerja Rendra yang tertutup rapat, Sera dan Evan seketika saling pandang dengan mata membulat. Ketegangan yang membubung dari dalam ruangan menembus celah pintu, membuat keduanya membeku di tempat. Evan mendekatkan wajahnya ke arah Sera, berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Bisa-bisanya kita menguping pembicaraan seperti ini, Nona?" Mendengar bisikan panik dari ajudan suaminya, Sera langsung mengangkat jari telunjuk kanannya ke depan bibir, memberikan isyarat tegas agar Evan menutup mulut. Evan menelan ludah gundah, lalu mengangguk-angguk paham. Tanpa sadar, keduanya justru semakin mendekatkan telinga ke arah daun pintu kayu jati yang tebal itu untuk kembali mendengarkan kelanjutan perdebatan antara Rendra dan Sofia dengan saksama. Di dalam ruangan, Sofia tampak terkejut. Gurat wajahnya menegang, namun ia segera menguasai diri untuk menjawab dengan nada profesional yang dipaksakan. "Kontrak kerja saya menjadi juru bicara kepresidenan itu adalah

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menyusun Jadwal

    Sofia menatap Sera dengan tatapan meremehkan, sudut bibirnya terangkat tipis. "Tentu saja," jawab Sofia, suaranya terdengar angkuh. "Ada hal penting yang ingin Rendra bahas secara langsung denganku malam ini." Sera tidak menunjukkan riak emosi apa pun di wajahnya. Ia justru mempererat cengkeramannya pada kotak susu dan camilan di tangannya, lalu menatap Sofia dari undakan tangga dengan pandangan menghunjam. "Kamu datang ke sini dalam kapasitas sebagai bawahannya, kan? Jadi, tolong jaga caramu bicara saat berada di lingkungan istana. Panggil dia Pak Presiden," ucap Sera dengan nada suara yang rendah namun sarat akan penekanan. Tanpa menunggu balasan dari Sofia, Sera langsung membalikkan badannya dan melangkah lebar menaiki sisa anak tangga, meninggalkan area itu begitu saja. Sofia yang ditinggalkan di undakan bawah hanya bisa tergelak pendek, menatap punggung Sera dengan pandangan sinis sebelum akhirnya melangkah naik menuju ke lantai atas, mengarahkan tujuannya ke ruang ker

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status