LOGINSera mengangguk, melangkah mendekati sisi ranjang lalu duduk dengan posisi tubuh tegak dan formal. Keheningan sempat merayap selama beberapa saat di antara dirinya dan Sintia, membuat Sera berdehem pelan untuk mencairkan suasana yang kaku. Ia melirik ke arah botol cairan infus yang tinggal menyisakan sepertiga bagian di atas tiang besi. "Jam berapa dokter akan datang untuk memeriksa Anda?" tanya Sera dengan nada suara sesopan mungkin. "Jika pemeriksaan sudah selesai, Nyonya bisa meminta selang infusnya untuk dilepas sekarang. Atau... apa mau saya bantu lepaskan saja?" Sintia tidak langsung menjawab. Sepasang matanya bergerak beralih dari wajah Sera, lalu menatap lurus ke arah Dewa yang masih berdiri di dekat sana. Sorot mata Sintia tampak tegas, seolah sedang mengirimkan sinyal yang meminta suaminya itu untuk segera keluar dan meninggalkan mereka berdua saja di dalam kamar. Dewa yang sudah puluhan tahun hidup bersama Sintia tentu langsung paham arti tatapan tersebut. Pria paruh bay
"Silakan saja kalau kamu mau menemui Mama," jawab Rendra, helaan napasnya terdengar berat. Namun, jeda beberapa detik setelahnya nada suaranya berubah menjadi sangat dalam dan penuh penekanan. "Tapi, pastikan jangan sampai kamu terluka atau ditindas lagi di sana, jangan biarkan hal itu terjadi lagi." Sera tersenyum tipis. "Tenang saja, Mas. Nyonya Sintia tidak akan melakukan hal seperti itu lagi kepadaku. Percayalah." Di seberang sana, Rendra terdiam cukup lama. Keheningan itu terasa begitu pekat, mengisyaratkan gurat keberatan dan rasa berat hati yang teramat sangat untuk memberikan izin kepada istrinya. "Kamu sudah makan siang?" tanya Rendra kemudian, mencoba mengalihkan kecemasannya yang masih menggantung. "Makan siang dulu sebelum pergi menemui mama." Sera melirik sekilas ke arah jam dinding di koridor. "Aku belum lapar, Mas. Nanti saja, Erika juga sedang ada urusan sebentar, aku makan setelah Erika kembali saja." Setelah beberapa menit berbincang,mereka akhirnya mengak
Sera melangkah masuk ke ruang koas, lalu meletakkan tas kertas tebal berlogo merek ternama pemberian Ratu di atas mejanya. Ia berdiri mematung sembari memandangi benda itu dengan kening berkerut, tampak benar-benar bingung dengan motif di balik pemberian tersebut. Erika yang sejak tadi berada di sana langsung menyadari perubahan ekspresi wajah Sera. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Sera pelan. "Ada apa? Kenapa mukamu ditekuk begitu?" Tanpa menunggu persetujuan, jemari Erika yang penasaran bergerak meraih tas kertas itu. Ia membuka bagian atasnya lebar-lebar, mengintip ke dalam, lalu merogoh isinya. Begitu menarik sepotong pakaian tebal keluar dari sana, kedua mata Erika seketika membelalak lebar, dan ekspresi wajahnya berubah total menjadi penuh keterkejutan. "Astaga, Sera... ini jaket mahal!" seru Erika setengah berbisik, jemarinya mengusap permukaan bahan jaket yang halus dan terasa sangat premium. "Ini merek luar negeri yang antreannya panjang sekali kalau mau beli!"
Evan menelan ludah susah payah. Jakunnya naik-turun, melihat sosok Rendra yang mendadak muncul dari belakang. Sementara itu, Sera justru melipat wajahnya dalam-dalam. Ekspresinya datar. Dari sudut matanya, ia menangkap siluet Sofia yang berjalan anggun namun pasti menuju ke arah mereka. Sera buru-buru memecah keheningan. Ia menoleh ke arah Evan, lalu kembali menatap Rendra dengan tatapan lempeng. "Kami sedang membicarakan soal Erika," ucap Sera, sengaja mengeraskan volume suaranya. "Iya, Erika." Rendra tidak langsung merespons. Sepasang alis tebalnya bertaut erat, menciptakan lipatan dalam di dahinya. Matanya menyipit, menatap Sera dan Evan bergantian dengan penuh selidik. "Memang ada masalah apa dengan Erika?" tanyanya, suaranya berat dan menuntut. Sera menghela napas pendek, menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Itu yang tidak bisa diceritakan. Sebaiknya Mas Rendra tidak perlu tanya." Bersamaan dengan kalimat itu, Sera memberikan isyarat halus—sebuah gerakan kepala yan
Di luar ruang kerja Rendra yang tertutup rapat, Sera dan Evan seketika saling pandang dengan mata membulat. Ketegangan yang membubung dari dalam ruangan menembus celah pintu, membuat keduanya membeku di tempat. Evan mendekatkan wajahnya ke arah Sera, berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Bisa-bisanya kita menguping pembicaraan seperti ini, Nona?" Mendengar bisikan panik dari ajudan suaminya, Sera langsung mengangkat jari telunjuk kanannya ke depan bibir, memberikan isyarat tegas agar Evan menutup mulut. Evan menelan ludah gundah, lalu mengangguk-angguk paham. Tanpa sadar, keduanya justru semakin mendekatkan telinga ke arah daun pintu kayu jati yang tebal itu untuk kembali mendengarkan kelanjutan perdebatan antara Rendra dan Sofia dengan saksama. Di dalam ruangan, Sofia tampak terkejut. Gurat wajahnya menegang, namun ia segera menguasai diri untuk menjawab dengan nada profesional yang dipaksakan. "Kontrak kerja saya menjadi juru bicara kepresidenan itu adalah
Sofia menatap Sera dengan tatapan meremehkan, sudut bibirnya terangkat tipis. "Tentu saja," jawab Sofia, suaranya terdengar angkuh. "Ada hal penting yang ingin Rendra bahas secara langsung denganku malam ini." Sera tidak menunjukkan riak emosi apa pun di wajahnya. Ia justru mempererat cengkeramannya pada kotak susu dan camilan di tangannya, lalu menatap Sofia dari undakan tangga dengan pandangan menghunjam. "Kamu datang ke sini dalam kapasitas sebagai bawahannya, kan? Jadi, tolong jaga caramu bicara saat berada di lingkungan istana. Panggil dia Pak Presiden," ucap Sera dengan nada suara yang rendah namun sarat akan penekanan. Tanpa menunggu balasan dari Sofia, Sera langsung membalikkan badannya dan melangkah lebar menaiki sisa anak tangga, meninggalkan area itu begitu saja. Sofia yang ditinggalkan di undakan bawah hanya bisa tergelak pendek, menatap punggung Sera dengan pandangan sinis sebelum akhirnya melangkah naik menuju ke lantai atas, mengarahkan tujuannya ke ruang ker







