LOGINhalo geng kalian sehat-sehat kan? jangan lupa like dan komen ya mamacih
Sinar matahari pagi yang menembus tirai kaca kamar utama jatuh tepat di atas selimut tebal. Rendra membuka kelopak matanya perlahan. Udara sejuk pendingin ruangan menyapa kulitnya saat ia mengubah posisi tidur menghadap ke samping. Di sebelahnya, Sera masih tertidur pulas dengan napas teratur.Rendra mengulurkan tangannya, lalu mengusap lembut lengan atas Sera yang terbalut piyama katun tipis. Gerakan jemarinya pelan dan berulang, berusaha tidak mengagetkan wanita itu."Sera..." bisik Rendra dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.Sentuhan hangat itu membuat bulu mata Sera bergerak-gerak pelan. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka sempurna. Sera menoleh, menatap wajah suaminya yang sudah tersenyum tipis tepat di depannya."Pagi, Mas," gumam Sera seraya menarik selimut lebih tinggi hingga sebatas dada."Pagi," balas Rendra seraya kembali mengusap lengannya pelan. "Hari ini kamu mau ikut denganku?"Kening Sera berkerut samar. Rasa kantuknya perlahan
"Tadi sore aku langsung marah-marah dan menuduh Mas yang tidak-tidak tanpa berpikir panjang," ucap Sera seraya meremas bantal di pangkuannya. Rasa panas merayap cepat ke kedua pipinya. "Pasti Mas Rendra sekarang berpikir kalau aku ini wanita yang gampang dihasut orang lain. Aku cuma termakan cemburu buta sampai lupa memakai akal sehatku sendiri. Padahal Mas sudah bilang dari awal kalau Sofia itu orangnya seperti apa."Rendra terdiam mendengarkan penuturan itu. Pandangannya tidak lepas dari ekspresi Sera yang tampak begitu menyesal dan gelisah. Perlahan, garis-garis tegas di wajah Rendra memudar. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa kecil sebelum akhirnya seulas senyuman hangat merekah di wajahnya.Sera yang mendengar hembusan napas geli dari Rendra lekas mendongak dengan bibir mengerucut. "Mas Rendra kok malah tertawa? Aku ini sedang bicara serius."Rendra mengulurkan kedua tangannya, menarik bantal kecil dari pangkuan Sera lalu meletakkannya ke sisi ranjang. Ia meraih kedua telapak t
Satu jam kemudian, di sebuah restoran privat. Sofia duduk di salah satu sudut meja bundar dengan cangkir teh yang mengepul di depannya. Sesekali melirik pintu masuk dengan sorot mata penuh antisipasi. Di benaknya, rencana tadi siang pasti sudah bekerja. Sera yang masih muda dan lugu pasti menangis di hadapan Rendra, dan Rendra yang panik pasti terpaksa datang menemuinya untuk menyelesaikan masalah ini. Apalagi saat Evan berkata ingin bertemu, ia langsung menyetujuinya begitu saja. Bunyi lonceng kecil di atas pintu masuk kafe berdentang pelan. Sofia seketika menegakkan punggungnya, dagunya terangkat tinggi dengan senyum kemenangan yang mulai terbit di bibirnya. Namun, senyum itu membeku di detik berikutnya saat matanya menangkap sosok yang melangkah masuk. Bukan Rendra, melainkan Evan yang berjalan santai menuju mejanya. Sofia menahan napas sejenak, guratan kecewa dan amarah sekilas melintas di wajahnya sebelum ia buru-buru menyembunyikannya di balik topeng ketenangan yang kaku
Sera melangkah maju dua langkah, lalu meraih lengan kemeja Rendra yang hendak mengambil ponsel di atas meja. Tarikan lembut di lengannya membuat Rendra seketika menghentikan gerakan dan menoleh. "Jangan, Mas," kata Sera seraya menggelengkan kepala. Napasnya kini jauh lebih teratur, meski sisa air mata masih mengering di sudut pipinya. "Jangan temui dia." Dahi Rendra berkerut dalam. Tatapannya menuntut penjelasan. "Kenapa? Tadi kamu menangis sampai seperti ini karena omongannya, Sera. Kita harus datangi dia dan selesaikan semuanya biar wanita itu tidak semena-mena." "Karena kalau Mas menemuinya sekarang, Sofia justru mendapatkan apa yang dia inginkan," sahut Sera mantap. Tangannya beralih menggenggam jemari suaminya yang masih terasa tegang. "Tadi Mas sendiri yang bilang kan? Dia sengaja melempar cerita bohong itu padaku supaya Mas mau membuka pintu dan bicara lagi dengannya. Kalau Mas datang, rencananya berhasil. Aku tidak mau Mas masuk ke dalam perangkapnya." Rendra menatap
Kedua tangan Sera terkepal di sisi tubuhnya, gemetar menahan gejolak di dada. Ia menarik napas pendek-pendek seraya menatap lurus ke dalam manik mata Rendra yang tampak begitu bingung. "Sofia menemuiku di restoran," ucap Sera, suaranya parau dan bergetar hebat. "Dia bilang... kalian berdua punya masa lalu yang Mas sembunyikan dariku." Kerutan di dahi Rendra semakin dalam. "Sofia menemuimu?" "Dia bilang, kalau bukan karena kutukan Iraya, kalian berdua pasti sudah bersama sampai sekarang," lanjut Sera seraya menyeka kasar air mata yang kembali lolos menuruni pipinya. Sera menelan ludah, dadanya sesak saat harus mengulang kalimat itu. "Dan dia bilang... Mas dan Sofia punya anak." Pupil mata Rendra melebar sempurna. Tubuh tegapnya menegang kaku di tempat. Keheningan pekat seketika menyergap ruangan luas itu selama beberapa detik. Udara di sekitar mereka seolah tersedot habis. "Sofia bilang apa?!" suara bariton Rendra meninggi, matanya membelalak tak percaya. "Dia bilang kali
Pupil mata Sera melebar seketika. Gelas kaca di dekat tangannya hampir saja tersenggol sikut saat tubuhnya menegang kaku di kursi. Dadanya bergemuruh hebat, mencerna setiap kata yang baru saja terlontar dari bibir Sofia. "Mana mungkin..." bisik Sera seraya menggelengkan kepala pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. "Kamu mengada-ada." Sofia tertawa remeh, melipat kedua tangannya di depan dada seraya menyandarkan punggungnya santai. "Mengada-ada katamu? Kamu pikir aku sejauh ini datang cuma untuk membuat lelucon murahan?" Sera mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha mati-matian meredam getaran di jemarinya. "Mas Rendra tidak mungkin menyembunyikan hal sebesar itu." "Rendra pintar menjaga citranya, Sera. Dan kamu terlalu naif untuk melihat apa yang ada di balik topeng kesempurnaannya," sahut Sofia dengan senyum tipis yang memuakkan. Tatapannya menatap lurus ke arah Sera tanpa berkedip. "Kalau saja tidak ada mitos kutukan sialan itu, aku dan Rendra pasti sudah bersama s







