LOGINSudah tiga hari berlalu sejak hari itu. Rasa bersalah Sera semakin besar dari hari ke hari.Dia tidak punya kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Raven, karena Raven tak pernah pulang lagi ke rumahnya semenjak tiga hari yang lalu.Sera sadar, Raven sedang menghindarinya. Pria itu masih marah padanya.Seharusnya Sera merasa senang, karena dengan begitu usahanya untuk menjauhi Raven menjadi semakin mudah.Tapi itu berlaku jika dia tidak memiliki kesalahan. Saat ini, hati Sera merasa tak tenang karena bagaimanapun juga dirinya bersalah hari itu.Kini, Sera duduk di tangga beranda samping, sama seperti tiga malam sebelumnya berturut-turut. Untuk menunggu Raven pulang.Dia sedikit menggigil karena udara malam yang dingin. Sesekali Sera melirik ke depan rumah, lalu menghela napas kecewa ketika pria yang ditunggunya tak kunjung pulang.Sera menekan tombol ponsel di bagian samping, hingga layarnya menyala untuk melihat jam. Sudah pukul sembilan malam lewat sepuluh menit.Dia tak pernah m
Raven tetap berjalan dengan tenang. Lalu berhenti di depan dispenser. Detik berikutnya terdengar bunyi air yang mengalir deras dari dispenser yang mengisi gelas kosong di bawahnya.“Bicara apa?” tanya Raven akhirnya dengan tenang, sangat tenang hingga membuat dapur yang sunyi itu terasa mencekam bagi Sera.Sera berdiri tak jauh dari Raven. Hanya ada mereka berdua di sana. Ratna sedang bekerja di ruangan lain, dan Celine tampaknya belum bangun.“Tentang semalam,” ucap Sera, ragu. “Tadi malam saya datang terlambat karena–”“Pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter itu?” Raven menyela dengan suara rendahnya.Sera seketika terhenyak. Menatap Raven dengan bingung. “Bapak… tahu?”Raven meneguk air putihnya sejenak, lalu menaruh gelas yang sudah kosong ke meja dengan tenang. Perlahan dia berbalik, menatap Sera tanpa ekspresi.“Saya menunggu kamu,” ucap Raven datar. “Dan saya tidak pernah menunggu orang lain sebelumnya.”Sera terdiam, jari-jari tangannya mulai meremas rok di sisi tubuhnya. P
Setelah orang tua Bastian datang, Sera pun memutuskan untuk pamit bersama adik-adiknya.Dia memulangkan Rania dan Salsa terlebih dulu. Setelah memastikan kedua adiknya naik ke dalam taksi, Sera lantas menyetop taksi yang lain untuk menuju ke Star Restaurant, tempat pertemuannya dengan Raven.Sepanjang perjalanan Sera merasa bersalah dan gelisah. Dia sudah sangat terlambat.Sera hanya bisa berharap Raven akan mengerti ketika dia memberi penjelasan nanti.Beberapa saat kemudian, Sera tiba di Star Restaurant. Dia bergegas turun dari taksi dan melangkah cepat menuju pintu masuk.Ada yang aneh, pikir Sera seraya memperhatikan bangunan dua tingkat yang berdinding kaca nan mewah itu. Suasana di sana tampak sepi. Sera tidak melihat ada pengunjung yang datang.Ketika tiba di depan pintu masuk, Sera tertegun saat melihat papan kecil bertanda CLOSED tergantung di pintu.“Restorannya sudah tutup?” gumam Sera sambil mencoba mendorong pintu itu. Terkunci.Lalu, Sera melihat papan nama restoran yang
Musik jazz romantis mengalun merdu di seluruh penjuru restoran.Lampu-lampu restoran diredupkan, hanya mengandalkan cahaya dari puluhan–atau bahkan ratusan, lilin yang berpendar di setiap meja dan lantai.Cahaya yang temaram membuat suasana restoran terasa romantis dan hangat.Raven melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul tujuh lebih dua puluh menit.Sera terlambat dua puluh menit, pikirnya.Namun, Raven sama sekali tidak terganggu. Pikirannya tetap tenang. Dia yakin, sebentar lagi wanita itu akan datang.Mengingat hal itu, Raven menegakkan punggungnya seketika. Tanpa sadar sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas dengan samar.Dan dia juga merasakan dadanya tiba-tiba berdebar cepat.Raven tidak pernah merasa gugup sampai seperti ini ketika akan bertemu seseorang, sekalipun orang itu adalah orang penting.Malam ini sengaja Raven mereservasi seluruh restoran, hanya agar dirinya dan Sera leluasa makan malam berdua.Raven berdehem pelan sekali. Dia ingin tahu bagaimana rea
Jari-jari Sera saling meremas karena gugup. Membayangkan malam ini dirinya akan bertemu Raven membuat jantungnya berdebar kencang.Ya, pada akhirnya Sera memutuskan untuk pergi memenuhi undangan Raven.Meski ini salah, dan meski masih ada luka yang belum sembuh, tapi malam ini Sera memilih untuk mengikuti kata hatinya.Sera berangkat dari kediaman Raven setelah matahari tenggelam.Dia mengenakan semua yang Raven berikan kemarin. Lalu melapisi tubuhnya dengan cardigan karena tak ingin terlalu mencolok di mata pekerja yang lain.Hari itu jam kerja berakhir lebih awal. Raven sengaja memberi keringanan pada semua pekerja agar istirahat lebih awal hari ini.Sera mengerti, alasan Raven melakukannya agar Sera bisa pergi dengan leluasa sehingga pekerja yang lain tidak menghakiminya yang pergi keluar pada jam kerja.Kini, Sera menumpangi taksi online, menuju Star Restaurant.Jari-jari tangan Sera terasa semakin dingin. Perasaannya tak karuan. Raven tengah menunggunya di sana, Sera tahu itu.Da
“Sera, kamu dapat paket,” kata Bima sambil menghampiri Sera dengan kotak cukup besar di pelukannya.“Aku gak pesan apa-apa, kok.” Sera menjawab sambil mengelap guci antik dengan hati-hati.“Tapi ini penerimanya atas nama kamu.”“Masa, sih?”“Lihat dulu deh.”Sera menjeda aktifitasnya, lalu menghampiri Bima dan melihat nama penerima dalam kotak tersebut.Benar.Nama dirinya dan nomor teleponnya tertera di sana. Itu kotak berwarna biru muda dan dihiasi pita merah muda di atasnya.“Mungkin hadiah dari seseorang yang kamu kenal,” ucap Bima kemudian. “Lihat dulu aja isinya apa. Yang jelas nggak mungkin isinya bom.”Sera terkekeh mendengar candaan Bima. Pada akhirnya Sera menerima kotak itu dengan penuh rasa penasaran.Lalu membawanya ke dalam kamarnya, dan dia buka kotak itu di sana.Seketika itu juga, Sera tertegun.Kotak itu berisi sebuah gaun berwarna ivory yang lembut, sling bag dan sepasang wedges berwarna senada dengan gaun.Lalu terdapat kotak kecil yang berisi sepasang anting mutia







