Terjebak Cinta CEO Brengsek

Terjebak Cinta CEO Brengsek

last updateÚltima actualización : 2026-02-19
Por:  LeeinActualizado ahora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
No hay suficientes calificaciones
6Capítulos
3vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Raisa Valentine adalah sekretaris cantik yang pendiam dari Caesar Johnson, seorang CEO playboy dari keluarga konglomerat paling berpengaruh di Amerika. Meskipun harus menanggung amarah Caesar, daftar kekasihnya yang berganti setiap minggu, dan kenalan-kenalan yang tidak menyenangkan, Raisa tetap setia karena satu alasan sederhana: dia mencintai Caesar. Sampai suatu malam, sebuah kesalahan memabukkan membuat mereka berhubungan. Raisa berharap ini awal dari sesuatu, tapi Caesar malah berkata dingin: "Jangan salah paham. Ini cuma seks. Tidak lebih." Sejak itu, Caesar terus memanggil Raisa ke ranjangnya kapan pun dia mau, tanpa perasaan, tanpa komitmen. Raisa terjebak dalam hubungan gelap yang terus melukai, sementara Caesar tetap bermain dengan wanita lain di depan matanya. Raisa tahu dia harus pergi. Tapi bagaimana meninggalkan pria yang sudah dia cintai bertahun-tahun, meski pria itu terus menghancurkannya?

Ver más

Capítulo 1

Bab 1: Awal mula

Bunyi ketukan keyboard memenuhi ruangan sekretaris yang sunyi. Raisa Valentine menatap layar komputer di hadapannya dengan fokus, jemarinya bergerak lincah menyusun laporan keuangan triwulan yang harus selesai sore ini. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang,masih ada tiga jam sebelum deadline.

Tiba-tiba, suara tawa renyah seorang wanita tiba-tiba memecah keheningan.

Raisa mengangkat kepalanya. Sepasang kekasih—tidak, bukan pasangan kekasih—melintas di depan mejanya. Sang pria tinggi tegap dengan setelan jas hitam yang pas di tubuh atletisnya, sementara wanita berambut pirang di sampingnya mengenakan dress merah yang terlalu ketat dan terlalu pendek untuk ukuran kantor.

Caesar Johnson.

CEO Johnson Corp yang baru berusia 30 tahun, pewaris tunggal keluarga konglomerat paling berpengaruh di Amerika, dan... bosnya.

Mata Raisa sedikit bergetar saat tatapan mereka bertemu sekilas. Caesar hanya melempar pandangan singkat, dingin, tanpa emosi, sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya dengan wanita itu masih terkikik di sampingnya.

Pintu ruangan tertutup dengan bunyi klik pelan.

Raisa menghela napas panjang, kembali menatap layar komputernya. Tapi huruf-huruf di sana tiba-tiba menjadi kabur. Tanpa disadari, ingatannya melayang ke tujuh tahun yang lalu—hari yang mengubah segalanya.

Tujuh Tahun yang Lalu

Raisa menggenggam erat tas kulit lusuh di pangkuannya. Tangannya basah oleh keringat dingin. Di sekelilingnya, sembilan wanita lain duduk dengan postur sempurna, mengenakan blazer mahal dan membawa portfolio tebal. Mereka semua terlihat percaya diri, berpengalaman, profesional.

Sementara Raisa? Baru lulus kuliah tiga bulan lalu dengan nilai pas-pasan, tidak punya pengalaman kerja, dan mengenakan blazer pinjaman dari temannya yang sedikit kebesaran di bahu.

"Nona Raisa?"

Raisa tersentak. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata tebal, Ibu Sandra, kepala HRD—memanggil namanya dari ambang pintu.

"I-iya?" Raisa berdiri terlalu cepat, hampir menjatuhkan tasnya.

"Silakan masuk."

Ruang wawancara lebih besar dari yang Raisa bayangkan. Meja panjang kayu mahoni mengkilap di bawah lampu kristal mewah. Tiga orang duduk di sisi lain meja, Ibu Sandra, seorang pria berbadan besar yang sepertinya dari divisi keuangan, dan...

Napas Raisa tertahan.

Di tengah, duduk seorang pria muda yang tidak mungkin tidak dikenali. Caesar Johnson. CEO termuda dalam sejarah Johnson Corp. Wajahnya sering menghiasi majalah bisnis dan tabloid, tidak hanya karena kesuksesannya, tapi juga karena skandal-skandalnya dengan berbagai wanita.

Tapi melihatnya langsung... Raisa merasa pria itu berbeda.

Caesar Johnson lebih tampan dari fotonya. Rahang tegas, mata kelam yang tajam, dan aura berkuasa yang mengisi seluruh ruangan. Dia mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan lengan berotot yang tidak lazim untuk seorang CEO yang seharusnya lebih banyak duduk di balik meja.

"Silakan duduk, Nona Raisa." Suaranya dalam, tenang, tapi ada sesuatu yang membuat Raisa merasa telanjang di bawah tatapannya.

Raisa duduk, berusaha tidak terlihat gemetar.

"Jadi..." Ibu Sandra membuka CV Raisa dengan ekspresi skeptis. "Anda lulus dari Universitas Negeri dengan IPK 3.5, tidak ada pengalaman kerja, dan ini adalah lamaran pekerjaan pertama Anda?"

"Y-ya, Bu." Raisa menelan ludah.

"Mengapa Anda pikir Anda cocok untuk posisi sekretaris CEO? Ini posisi yang sangat menuntut. Kami butuh seseorang dengan pengalaman minimal tiga tahun."

Raisa membuka mulut, tapi kata-kata tidak keluar. Dia sudah mempersiapkan jawaban, tapi sekarang semuanya menguap.

"Tunggu." Suara Caesar memotong. Semua mata tertuju padanya. "Biarkan aku yang menanyainya."

Ibu Sandra mengangguk, mundur ke kursinya.

Caesar bersandar, menatap Raisa dengan intensitas yang membuat jantungnya berdegup kencang. "Mengapa kau melamar di sini? Jangan beri jawaban template dari buku panduan wawancara. aku ingin tahu alasan sebenarnya."

Raisa menatap mata kelam itu. Ada sesuatu dalam tatapannya, bukan menghakimi, tapi... menunggu. Menyelidik. Seolah dia benar-benar ingin tahu.

Dan entah kenapa, Raisa memutuskan untuk jujur.

"Sejak saya duduk dibangku SMA, saya sudah memiliki cita-cita untuk masuk ke dalam perusahaan ini, saya sudah mendengar betapa hebatnya perusahaan ini, jadi saya memutuskan untuk melamar disini, jika saya diterima saja berjanji. dengan sepenuh hati akan melakukan pekerjaan dengan baik."

"Selain itu... Adik saya sakit." Suaranya parau. "Leukemia. Dia baru berusia 15 tahun. Orang tua saya sudah meninggal tiga tahun lalu, jadi saya satu-satunya yang bisa mengurusnya. Pengobatannya... sangat mahal. Saya butuh pekerjaan dengan gaji yang cukup untuk biaya rumah sakit dan kemoterapi. Johnson Corp menawarkan benefit kesehatan terbaik dan gaji tertinggi di industri ini. Jadi saya melamar."

Hening.

Ibu Sandra berdehem tidak nyaman. "Nona Valentine, meskipun kami simpati dengan situasi Anda, tapi—"

"Berapa lama kau kuliah sambil kerja?"

Lagi-lagi Caesar yang bertanya. Raisa mengerjap.

"Empat tahun penuh, Pak. Saya bekerja paruh waktu di tiga tempat berbeda untuk membiayai kuliah saya sendiri dan membantu biaya pengobatan Mia—adik saya."

"Tiga pekerjaan sekaligus?" Caesar mengangkat alis. "Sambil kuliah?"

"Ya, Pak. Kasir di minimarket pagi hari, pelayan di kafe sore hari, dan entri data freelance malam hari."

"Dan kau lulus tepat waktu dengan IPK 3.5?" Untuk pertama kali, ada nada... kagum? Di suara Caesar. "Itu cukup mengesankan."

bu Sandra terlihat akan protes, tapi Caesar mengangkat tangan menghentikannya.

"Pengalaman bukan segalanya. Dedikasi, loyalitas, kemampuan bertahan di bawah tekanan, itu yangku cari. Dan dia jelas punya semuanya."

Raisa menatap Caesar dengan mata membulat. Dia... membela dirinya?

Wawancara berlanjut hampir satu jam, pertanyaan tentang kemampuan organisasi, penguasaan software, kecepatan mengetik, kemampuan multitasking. Raisa menjawab sebisa mungkin, tapi dia tahu jawaban-jawabannya jauh dari sempurna dibanding sembilan kandidat lain di luar.

Tapi setiap kali Ibu Sandra atau pria dari divisi keuangan itu terlihat meragukan, Caesar selalu... membela. Entah dengan pertanyaan lanjutan yang memberi Raisa kesempatan memperbaiki jawaban, atau dengan komentar yang menempatkan pengalaman hidupnya setara dengan pengalaman kerja formal.

Saat wawancara berakhir, Raisa keluar dengan perasaan campur aduk, antara harapan dan ketidakpercayaan.

Tiga hari kemudian, dia menerima telepon.

"Nona Raisa? Ini dari HRD Johnson Corp. Selamat, Anda diterima sebagai sekretaris pribadi CEO. Anda bisa mulai bekerja Senin depan."

Raisa berdiri membeku di tengah apartemen kecilnya, ponsel gemetar di tangan. Lalu kakinya melemas. Dia jatuh berlutut, menangis, tangis bahagia yang tidak bisa ditahan.

"Mia!" teriaknya pada adiknya yang sedang berbaring lemah di kamar. "Kakak diterima! Kakak dapat pekerjaan!"

Mia tersenyum lemah dari balik selimut. "Aku tahu Kakak pasti bisa."

Malam itu, sambil memeluk adiknya yang kurus, Raisa bersumpah dalam hati: Dia akan bekerja sekeras mungkin. Dia akan membuktikan bahwa Caesar Johnson tidak salah memilihnya. Dia akan setia pada perusahaan ini, pada bos yang sudah memberinya kesempatan saat tidak ada orang lain yang mau.

Dia tidak tahu bahwa kesetiannya suatu hari bisa menghancurkannya.

Masa Kini

"Aahhh... Caesar... pelan-pelan..."

Suara desahan melengking menembus pintu kayu tebal ruang CEO.

Raisa berhenti mengetik. Jemarinya membeku di atas keyboard. Matanya menatap kosong ke arah pintu tertutup itu.

Tujuh tahun. Tujuh tahun dia bekerja di sini. Tujuh tahun menyaksikan adegan yang sama berulang kali—Caesar membawa wanita berbeda ke ruangannya, kadang di tengah jam kerja, kadang setelah meeting penting, kadang bahkan sebelum sarapan.

Dan setiap kali, Raisa harus duduk di sini, mendengar suara-suara itu, sambil terus mengetik laporan seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ohh... lebih cepat... yaa seperti itu..."

Raisa menghela napas panjang, memakai headphone, dan menyalakan musik klasik dengan volume maksimal. Musik Beethoven mengalir, menenggelamkan suara-suara dari ruangan sebelah.

Tangannya kembali menari di atas keyboard. Wajahnya tenang, profesional, tidak menunjukkan emosi apa pun.

Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang terus retak perlahan, menyakitkan, dan tanpa henti.

Karena Raisa Valentine punya satu rahasia yang tidak boleh siapa pun tahu, terutama Caesar Johnson:

Dia mencintai bosnya. Sudah sejak tujuh tahun lalu. Sejak hari itu, saat pria itu membelanya di hadapan orang-orang yang meragukan. Sejak hari itu, saat Caesar memberinya harapan di saat hidupnya paling gelap.

Dan cinta itu tidak pernah pudar, bahkan setelah dia menyaksikan Caesar dengan ratusan wanita berbeda. Bahkan setelah dia tahu Caesar tidak akan pernah melihatnya sebagai apa pun selain sekretaris yang efisien.

Raisa menatap layar komputer dengan mata yang perlahan berkaca-kaca.

"Dasar bodoh," bisiknya pada dirinya sendiri. "Kau ini memang bodoh, Raisa."

Tapi meski begitu, dia tidak bisa pergi. Tidak bisa meninggalkan pria yang sudah menyelamatkan hidupnya—meski pria itu tidak pernah tahu betapa dalam cinta yang Raisa pendam selama tujuh tahun ini.

Dan suatu hari nanti, kesetiaan bodoh itu akan membuatnya membayar harga yang terlalu mahal.

Tapi hari itu belum tiba.

Hari ini, Raisa Valentine masih setia. Masih mencintai dalam diam. Masih mengetik laporan sambil mendengar bosnya bercinta dengan wanita lain.

Seperti biasa.

Seperti tujuh tahun terakhir.

Atau sampai hatinya benar-benar hancur berkeping-keping.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
6 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status