LOGINRaisa Valentine adalah sekretaris cantik yang pendiam dari Caesar Johnson, seorang CEO playboy dari keluarga konglomerat paling berpengaruh di Amerika. Meskipun harus menanggung amarah Caesar, daftar kekasihnya yang berganti setiap minggu, dan kenalan-kenalan yang tidak menyenangkan, Raisa tetap setia karena satu alasan sederhana: dia mencintai Caesar. Sampai suatu malam, sebuah kesalahan memabukkan membuat mereka berhubungan. Raisa berharap ini awal dari sesuatu, tapi Caesar malah berkata dingin: "Jangan terlalu dipikirkan. Ini cuman one-night stand." Namun, sejak kejadian itu, Caesar terus memanggil Raisa ke ranjangnya kapan pun dia mau, tanpa perasaan, tanpa komitmen. Sementara Raisa terjebak dengan hubungannya dengan Caesar; Caesar terus bermain dengan wanita lain didepan matanya. Raisa tahu dia harus pergi. Tapi bagaimana dia bisa meninggalkan pria yang selama ini membantunya? Pria yang selama ini ia cintai selama bertahun-tahun?
View MoreBunyi ketukan keyboard memenuhi ruangan sekretaris yang sunyi. Raisa Valentine menatap layar komputer di hadapannya dengan fokus, jemarinya bergerak lincah menyusun laporan keuangan triwulan yang harus selesai sore ini.
Jam dinding menunjukkan pukul dua siang,masih ada tiga jam sebelum deadline. Tiba-tiba, suara tawa renyah seorang wanita tiba-tiba memecah keheningan. Raisa mengangkat kepalanya. Sepasang kekasih—tidak, bukan pasangan kekasih, melintas di depan mejanya. Sang pria tinggi tegap dengan setelan jas hitam yang pas di tubuh atletisnya, sementara wanita berambut pirang di sampingnya mengenakan dress merah yang terlalu ketat dan terlalu pendek untuk ukuran kantor. Caesar Johnson. CEO Johnson Corp yang baru berusia 30 tahun, pewaris tunggal keluarga konglomerat paling berpengaruh di Amerika, dan... bosnya. Mata Raisa sedikit bergetar saat tatapan mereka bertemu sekilas. Caesar hanya melempar pandangan singkat, dingin, tanpa emosi, sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya dengan wanita itu masih terkikik di sampingnya. Pintu ruangan tertutup dengan bunyi klik pelan. Raisa menghela napas panjang, kembali menatap layar komputernya. Tapi huruf-huruf di sana tiba-tiba menjadi kabur. Tanpa disadari, ingatannya melayang ke tujuh tahun yang lalu, hari yang mengubah segalanya. FLASHBACK Tujuh Tahun yang Lalu Raisa menggenggam erat tas kulit lusuh di pangkuannya. Tangannya basah oleh keringat dingin. Di sekelilingnya, sembilan wanita lain duduk dengan postur sempurna, mengenakan blazer mahal dan membawa portfolio tebal. Mereka semua terlihat percaya diri, berpengalaman, profesional. Sementara Raisa? Baru lulus kuliah tiga bulan lalu dengan nilai pas-pasan, tidak punya pengalaman kerja, dan mengenakan blazer pinjaman dari temannya yang sedikit kebesaran di bahu. "Nona Raisa?" Raisa tersentak. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata tebal, Ibu Sandra, kepala HRD—memanggil namanya dari ambang pintu. "I-iya?" Raisa berdiri terlalu cepat, hampir menjatuhkan tasnya. "Silakan masuk." Ruang wawancara lebih besar dari yang Raisa bayangkan. Meja panjang kayu mahoni mengkilap di bawah lampu kristal mewah. Tiga orang duduk di sisi lain meja, Ibu Sandra, seorang pria berbadan besar yang sepertinya dari divisi keuangan, dan... Napas Raisa tertahan. Di tengah, duduk seorang pria muda yang tidak mungkin tidak dikenali. Caesar Johnson. CEO termuda dalam sejarah Johnson Corp. Wajahnya sering menghiasi majalah bisnis dan tabloid, tidak hanya karena kesuksesannya, tapi juga karena skandal-skandalnya dengan berbagai wanita. Tapi melihatnya langsung... Raisa merasa pria itu berbeda. Caesar Johnson lebih tampan dari fotonya. Rahang tegas, mata kelam yang tajam, dan aura berkuasa yang mengisi seluruh ruangan. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan lengan berotot yang tidak lazim untuk seorang CEO yang seharusnya lebih banyak duduk di balik meja. "Silakan duduk, Nona Raisa." Suaranya dalam, tenang, tapi ada sesuatu yang membuat Raisa merasa telanjang di bawah tatapannya. Raisa duduk, berusaha tidak terlihat gemetar. "Jadi..." Ibu Sandra membuka CV Raisa dengan ekspresi skeptis. "Anda lulus dari Universitas Negeri dengan IPK 3.5, tidak ada pengalaman kerja, dan ini adalah lamaran pekerjaan pertama Anda?" "Y-ya, Bu." Raisa menelan ludah. "Mengapa Anda pikir Anda cocok untuk posisi sekretaris CEO? Ini posisi yang sangat menuntut. Kami butuh seseorang dengan pengalaman minimal tiga tahun." Raisa membuka mulut, tapi kata-kata tidak keluar. Dia sudah mempersiapkan jawaban, tapi sekarang semuanya menguap. "Tunggu." Suara Caesar memotong. Semua mata tertuju padanya. "Biarkan aku yang menanyainya." Ibu Sandra mengangguk, mundur ke kursinya. Caesar bersandar, menatap Raisa dengan intensitas yang membuat jantungnya berdegup kencang. "Mengapa kau melamar di sini? Jangan beri jawaban template dari buku panduan wawancara. aku ingin tahu alasan sebenarnya." Raisa menatap mata kelam itu. Ada sesuatu dalam tatapannya, bukan menghakimi, tapi... menunggu. Menyelidik. Seolah dia benar-benar ingin tahu. Dan entah kenapa, Raisa memutuskan untuk jujur. "Sejak saya duduk dibangku SMA, saya sudah memiliki cita-cita untuk masuk ke dalam perusahaan ini, saya sudah mendengar betapa hebatnya perusahaan ini, jadi saya memutuskan untuk melamar disini, jika saya diterima saja berjanji. dengan sepenuh hati akan melakukan pekerjaan dengan baik." "Selain itu... Adik saya sakit." Suaranya parau. "Leukemia. Dia baru berusia 15 tahun. Orang tua saya sudah meninggal tiga tahun lalu, jadi saya satu-satunya yang bisa mengurusnya. Pengobatannya... sangat mahal. Saya butuh pekerjaan dengan gaji yang cukup untuk biaya rumah sakit dan kemoterapi. Johnson Corp menawarkan benefit kesehatan terbaik dan gaji tertinggi di industri ini. Jadi saya melamar." Hening. Ibu Sandra berdehem tidak nyaman. "Nona Valentine, meskipun kami simpati dengan situasi Anda, tapi—" "Berapa lama kau kuliah sambil kerja?" Lagi-lagi Caesar yang bertanya. Raisa mengerjap. "Empat tahun penuh, Pak. Saya bekerja paruh waktu di tiga tempat berbeda untuk membiayai kuliah saya sendiri dan membantu biaya pengobatan Mia—adik saya." "Tiga pekerjaan sekaligus?" Caesar mengangkat alis. "Sambil kuliah?" "Ya, Pak. Kasir di minimarket pagi hari, pelayan di kafe sore hari, dan entri data freelance malam hari." "Dan kau lulus tepat waktu dengan IPK 3.5?" Untuk pertama kali, ada nada... kagum? Di suara Caesar. "Itu cukup mengesankan." Bu Sandra terlihat akan protes, tapi Caesar mengangkat tangan menghentikannya. "Pengalaman bukan segalanya. Dedikasi, loyalitas, kemampuan bertahan di bawah tekanan, itu yangku cari. Dan dia jelas punya semuanya." Raisa menatap Caesar dengan mata membulat. Dia... membela dirinya? Wawancara berlanjut hampir satu jam, pertanyaan tentang kemampuan organisasi, penguasaan software, kecepatan mengetik, kemampuan multitasking. Raisa menjawab sebisa mungkin, tapi dia tahu jawaban-jawabannya jauh dari sempurna dibanding sembilan kandidat lain di luar. Tapi setiap kali Ibu Sandra atau pria dari divisi keuangan itu terlihat meragukan, Caesar selalu... membela. Entah dengan pertanyaan lanjutan yang memberi Raisa kesempatan memperbaiki jawaban, atau dengan komentar yang menempatkan pengalaman hidupnya setara dengan pengalaman kerja formal. Saat wawancara berakhir, Raisa keluar dengan perasaan campur aduk, antara harapan dan ketidakpercayaan. Tiga hari kemudian, dia menerima telepon. "Nona Raisa? Ini dari HRD Johnson Corp. Selamat, Anda diterima sebagai sekretaris pribadi CEO. Anda bisa mulai bekerja Senin depan." Raisa berdiri membeku di tengah apartemen kecilnya, ponsel gemetar di tangan. Lalu kakinya melemas. Dia jatuh berlutut, menangis, tangis bahagia yang tidak bisa ditahan. "Mia!" teriaknya pada adiknya yang sedang berbaring lemah di kamar. "Kakak diterima! Kakak dapat pekerjaan!" Mia tersenyum lemah dari balik selimut. "Aku tahu Kakak pasti bisa." Malam itu, sambil memeluk adiknya yang kurus, Raisa bersumpah dalam hati: Dia akan bekerja sekeras mungkin. Dia akan membuktikan bahwa Caesar Johnson tidak salah memilihnya. Dia akan setia pada perusahaan ini, pada bos yang sudah memberinya kesempatan saat tidak ada orang lain yang mau. Dia tidak tahu bahwa kesetiannya suatu hari bisa menghancurkannya.Raisa tertegun mendengar ucapan Caesar yang terakhir.'Seharusnya kulakukan ini dari dulu.'Kata-kata itu terus bergema di kepalanya, tidak mau pergi.Dia tidak menyangka. Benar-benar tidak menyangka.Pria yang dulu selalu berkata dengan nada meremehkan bahwa dia tidak akan pernah menyentuh wanita biasa seperti Raisa, pria yang selalu membawa model, aktris, dan putri konglomerat ke ranjangnya, pria yang selalu terlihat bosan dengan semua wanita setelah seminggu...Kini merasa puas setelah melakukan ini dengannya.Orang yang tidak punya pengalaman apa pun dalam hal ini. Orang yang bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan sampai dipaksa.Raisa masih berlutut di lantai, kepalanya tertunduk, napasnya masih belum sepenuhnya teratur.Di hadapannya, Caesar berdiri dan memasukkan kembali miliknya ke dalam celana dengan gerakan yang sangat santai, seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang sangat biasa.Lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, tanpa menatap Raisa sekali pun, dia berbalik d
Raisa menatap langit-langit kamarnya sebentar, menimbang-nimbang apakah dia harus bangun atau tidak.Tapi ketukan itu datang lagi, kali ini lebih keras.Tok. Tok. Tok.Raisa menghela napas panjang, mengangkat selimut dari tubuhnya dengan gerakan yang sedikit kesal, lalu turun dari tempat tidur.Kakinya menyentuh lantai kayu yang sejuk. Dia berjalan ke pintu dengan langkah yang lambat karena tubuhnya masih terasa sedikit pegal.Tangannya meraih kenop pintu, memutarnya, lalu menarik pintu terbuka.Dan langsung membeku total.Caesar berdiri di ambang pintu dengan jubah tidur sutra hitam yang sama sekali tidak diikat, hanya tergerai terbuka memperlihatkan dada bidang dan perut sixpack yang terpahat sempurna. V-line yang menawan terlihat jelas menghilang di balik celana piyama hitam longgar yang memeluk pinggulnya dengan sempurna.Raisa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, menatap langit-langit koridor seolah itu adalah hal paling menarik yang pernah dia lihat."Apa yang kau la
Ketika matahari benar-benar tenggelam di balik cakrawala, Raisa duduk sendirian di meja makan panjang yang luas itu.Pemandangan yang agak ironis, sebenarnya.Satu orang di meja yang bisa menampung dua puluh orang, dengan hidangan makan malam yang disiapkan dengan sangat rapi oleh dapur mansion.Sebelumnya Handry sudah menyampaikan bahwa Caesar tidak akan bisa ikut makan malam dirumah karena masih ada urusan lain.Raisa tidak bertanya lebih jauh. Justru dia merasa lebih lega bisa makan tanpa kehadiran Caesar.Dia menyendok sup perlahan, merasakan hangatnya mengalir ke tenggorokan. Entah karena dia memang lapar atau karena masakannya benar-benar enak, kali ini dia makan dengan porsi yang lebih banyak dibanding siang tadi.Setelah selesai, Raisa melipat serbet di pangkuannya dengan rapi dan meletakkannya di atas meja.Dia duduk sebentar, menatap taman yang kini hanya bisa terlihat sebagai siluet gelap di balik jendela besar yang diterangi lampu taman berwarna kuning hangat.Lalu dia ter
Mereka melewati foyer yang luas dengan langit-langit tinggi dan lampu kristal besar yang berkilau, menaiki tangga marmer putih dengan pegangan besi tempa yang elegan, lalu berjalan menyusuri koridor panjang dengan dinding berwarna krem lembut yang dihiasi lukisan-lukisan mahal.Akhirnya, Hendry berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ornamen ukiran bunga yang indah.Dia membuka pintu dengan gerakan yang sangat hati-hati, lalu melangkah ke samping dan mempersilakan Raisa masuk."Ini kamar Anda, Nona."Raisa melangkah masuk.Dan langsung terpesona.Ruangan itu sangat luas, mungkin dua kali lipat ukuran kamarnya di apartemen. Dindingnya berwarna putih gading dengan aksen emas yang menghiasi sudut-sudut dan list di langit-langit. Tempat tidur king size dengan seprai putih lembut dan tumpukan bantal besar berdiri megah di tengah ruangan, dengan kanopi putih tipis yang tergantung dengan anggun.Di sudut ruangan ada sofa kecil berwarna krem dengan meja kopi bulat, sempurna untuk be












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.