MasukMata Sera berbinar-binar ketika memasuki toko perlengkapan bayi yang super lengkap. Semua yang dibutuhkan bayi baru lahir ada di sini.Dia betah berlama-lama di sana untuk melihat-lihat pakaian bayi yang lucu. Tapi dia menahan napas saat melihat label harga.Akhirnya Sera menaruh kembali pakaian yang barusan dia pegang, ke tempat semula. Sera lebih memilih pakaian satu set yang berisi lima, itu jauh lebih rendah harganya daripada baju sebelumnya.“Ayo, Mas, kita cari yang lain.”“Aku pilih yang ini.” Raven mengambil dua stel pakaian yang tadi Sera pegang, yang harganya sangat mahal, dan memasukkannya ke troli.“Mas, lebih baik yang ini saja.” Sera menunjuk lima pakaian yang tadi dia ambil.“Iya, itu juga ambil.”“Tapi yang itu nggak perlu.”Raven menggeleng. “Aku ingin memberi yang terbaik buat anak-anak kita.”Sera mengatupkan bibirnya dan tidak bisa membantah lagi kalau Raven sudah bilang begitu. Akhirnya Sera melanjutkan langkahnya lagi, melihat-lihat pakaian yang lain.Tapi Sera s
“Pak Raven, Kak Sera, kami pergi dulu,” ucap Rania setelah menghabiskan minumannya, lalu menoleh pada Salsa yang duduk di sebelahnya. “Ayo. Nanti kesiangan.”Salsa mengangguk sambil memasukkan potongan sandwich terakhir ke mulutnya. Hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah setelah libur panjang.“Iya. Hati-hati, ya,” jawab Sera yang sedang merapikan piring kotor bekas dirinya dan Raven.“Hm.” Rania mengangguk. “Oh iya, Kak, aku mau pesan ojek online. Rumah ini nomor berapa ya? Biar driver-nya gampang nyarinya.”“Bilang aja nomor tu–”“Kalian tidak perlu pesan ojek online,” sela Raven, membuat kata-kata Sera seketika terhenti. “Ada sopir yang akan mengantar kalian.”Sera langsung menoleh pada suaminya dengan tatapan penuh tanya. Raven menatap Sera sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada kedua adik iparnya.“Mulai hari ini kalian berdua akan diantar jemput. Jadi tidak perlu lagi pakai ojek online.”“Mas….” Mata Sera seketika berkaca-kaca dan lidahnya mendadak kelu.Sementar
Demi Sera.Dia melangkah masuk.Seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang merapikan lapak buah, menatap Raven dengan curiga. “Cari apa, Mas?”Raven mengeluarkan ponsel dan membaca catatan yang ditulis Sera. “Mangga muda keras. Campur jambu dan nanas. Cabai diulek. Gula merah, bukan gula pasir,” ujarnya, dengan nada suara seolah-olah dia sedang membaca dokumen kerjaan.Ibu itu berkedip beberapa kali, lalu tersenyum tipis. “Oh. Mau bikin rujak?”Raven mengangguk samar. “Iya.”“Buat istri yang lagi ngidam, ya?”Raven terdiam selama sepersekian detik, lalu kembali mengangguk. “Iya.”Ibu itu tersenyum lebar. “Tunggu sebentar,” katanya, lalu memilihkan mangga muda, dia tekan-tekan sebentar, memasukkannya ke dalam kantong kresek. Lalu nanas yang masih segar dan jambu yang kulitnya mulus.“Cabenya mau berapa, Mas?”Raven menatap cabe rawit yang merah menyala itu. “Yang pedas sekali.”Ibu itu terkekeh-kekeh. “Kalau gitu yang banyak, Mas. Saya tambahin, ya.”Raven membayar tanpa menawar. Bahkan di
Raven mengerutkan keningnya, napasnya sedikit berat. “Sesuatu yang lain?”“Hm.” Sera mengangguk. Dia menurunkan kedua tangannya dari dada, ke pinggang Raven dan meremasnya pelan, membuat Raven kesulitan menelan salivanya. “Saya… pengen makan rujak serut mangga muda,” lanjutnya dengan ragu.Mata Raven mengerjap. Dia melirik jam dinding sesaat, lalu menatap wajah Sera lagi. “Sudah jam sepuluh. Memangnya masih ada yang jual?”“Nggak tahu.” Sera menggeleng sambil tersenyum kikuk.“Kamu benar-benar menginginkannya?”Kali ini Sera mengangguk. “Iya.”Sebenarnya Sera tidak ingin merepotkan suaminya, dan dia juga tidak berani berharap banyak Raven akan mencari makanan itu untuknya. Apalagi saat ini sudah hampir tengah malam.Tapi tiba-tiba….“Baik. Aku akan mencarinya untukmu,” kata Raven tanpa ragu.Sera membulatkan matanya. “Mas? Serius?”“Iya.” Raven mengangguk mantap. “Kamu sedang mengidam. Keinginanmu jauh lebih penting.” Lalu tanpa banyak bicara, dia masuk ke walk in closet dan mengeluar
Sera berhenti melangkah di ambang pintu. Perasaannya tiba-tiba ragu. Jari-jari tangannya menggenggam erat nampan berisi secangkir teh melati hangat.Menghela napas panjang, Sera kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Cantika yang sedang duduk di beranda.“Saya membuat teh melati hangat untuk Nyonya,” kata Sera sambil meletakkan gelas bening berisi cairan keemasan itu di meja kecil samping kursi rotan.Cantika melirik minuman itu sesaat, tapi tidak memberi tanggapan apapun pada Sera.Sera kembali menegakkan punggungnya dan terdiam selama beberapa detik sambil menggenggam nampan kosong.“Saya… minta maaf,” ucap Sera setelah beberapa saat hening. “Karena kehadiran saya sudah membuat Nyonya terganggu.”Cantika mengembuskan napas kasar. Ujung matanya bergerak samar.Sera mengeratkan genggamannya dan kembali melanjutkan ucapannya, “Saya tahu ini bukan pilihan yang Nyonya harapkan, tapi saya akan berusaha menjadi istri yang tidak memalukan untuk keluarga ini.”Mendengarnya, Cantika membe
Jari-jari tangan Sera yang dingin saling meremas di depan perutnya. Matanya menatap bangunan klasik yang terlihat megah di depan sana.Dia pernah berkunjung ke rumah itu beberapa bulan yang lalu. Tapi dulu statusnya masih sebagai asisten rumah tangga.Sore ini dia kembali ke sana, tapi sebagai istri Raven. Sera benar-benar merasa gugup.“Jangan khawatir. Ada aku.” Raven meraih salah satu tangan Sera, menyelipkan jari-jari tangannya pada sela jari istrinya. Berusaha memberikan kehangatan pada tangan yang dingin itu.Sera mendongak, menatap Raven yang selalu terlihat tampan dengan kemeja hitamnya. “Iya. Selama ada Mas Raven, saya pasti akan baik-baik saja.”Raven seketika berdehem. Lalu menunduk dan berbisik di telinga Sera, “Itu kata-kata milikku. Kamu jangan mengatakan sesuatu yang membuatku kehilangan kendali.”Sera akhirnya terkekeh kecil. Perasaan gugupnya perlahan hilang lalu dia menegakkan punggungnya.“Ayo, ikut aku.”Sambil menggenggam tangan Sera, Raven membawanya memasuki ked







