LOGINKeesokan malamnya, saat Scarlett makan malam bersama Nathan, Bruce, dan Zoe, Zoe langsung meledak begitu mendengar bahwa Scarlett menolak saham yang ditawarkan Tristan.“Ya ampun, apa kamu tahu berapa nilai King International? Setelah bertahun-tahun Tristan begitu pelit, akhirnya dia mau buka dompetnya saat perceraian, dan kamu malah tidak memanfaatkannya?” Zoe yang biasanya tenang kini tampak hampir frustrasi setengah mati.“Sudahlah,” Scarlett menghela napas. “Tidak ada yang namanya makan siang gratis. Kalau aku menerima saham itu, siapa tahu ada syarat atau ikatan tersembunyi di baliknya.”“Ini dari mana ceritanya makan siang gratis?” bantah Zoe. “Ini imbalan atas semua tahun yang sudah kamu jalani dan tanggung. Lagipula, demi Nathan juga…”Nada suara Zoe melunak, tetapi ia segera menambahkan, “Pokoknya, itu memang hakmu.”Sementara Zoe terus menyayangkan keputusan Scarlett menolak saham tersebut, Bruce melirik Scarlett lalu berkata, “Letty-ku hanya ingin memutus hubungan dengan te
Audrey mengabarkan pada Scarlett bahwa Henry sudah kembali ke rumah, dan ia meminta Scarlett untuk datang menjenguk jika tidak sedang sibuk bekerja.Setelah pembicaraan selesai, Scarlett kembali ke mejanya dan menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen yang menantinya.---Tiga hari kemudian, Scarlett baru saja tiba di kantor, tiba-tiba ada sebuah panggilan dari Andrew masuk.“Nona Scarlett, Tuan Tristan sudah berada di kantor catatan sipil,” suara Andrew terdengar dari seberang telepon.Tanpa ragu, Scarlett menjawab, “Suruh dia menunggu. Aku akan tiba dalam 20 menit.”Makan bisa ditunda, tidur bisa dilewatkan, tetapi perceraian tidak boleh gagal.Setelah menutup telepon dengan Andrew, Scarlett bergegas menuju mobilnya dan melaju cepat ke kantor catatan sipil.“Nona Scarlett,” panggil Andrew saat Scarlett melangkah keluar ke area parkir kantor catatan sipil.Scarlett menoleh dan melihat mobil Tristan terparkir tidak jauh dari sana. Akhir dari kisah mereka berdua hanya tinggal beberapa
Mendengar kata-kata Audrey, Tristan melepas kacamatanya. Jemarinya menekan pelipis, seolah beban di kepalanya semakin berat.Audrey melanjutkan dengan nada tegas namun sarat kepedulian, “Pikirkan baik-baik. Jika kamu sungguh ingin bersama Scarlett, maka kamu harus bicara serius dengannya. Tapi satu hal yang harus kamu lakukan—lepaskan masa lalu sepenuhnya dan terima anak itu sebagai anakmu sendiri.”Tristan terdiam lama. Suasana menjadi senyap, hingga akhirnya ia hanya mengeluarkan dengusan pelan, sebuah jawaban samar tanpa kepastian.Melihat putranya seperti itu, hati Audrey tersentuh. Di balik sikap kerasnya, naluri keibuannya tetap tak bisa dibohongi. Ia menepuk bahu Tristan dengan lembut.“Pulanglah dulu, Nak. Bibi-bibimu dan Ibu akan mengurus semuanya di sini.”Didorong oleh desakan sang ibu, Tristan akhirnya mengangguk dan berbalik pergi.Saat sosoknya semakin menjauh, Audrey sedikit berteriakl dari belakang, “Renungkan semuanya saat kamu sudah di rumah.”Tristan hanya melambaik
Malam itu, Henry tiba-tiba berkata bahwa sudah sangat lama sejak keluarga mereka terakhir kali berkumpul lengkap di rumah. Karena itu, Audrey pun diminta untuk menghubungi semua orang dan mengajak mereka pulang.Tristan sebenarnya sama sekali tidak berniat kembali. Namun, Audrey menggunakan alasan yang sulit ia tolak—mengatakan bahwa Henry dan Ruby sudah semakin tua, dan setiap kali berkumpul bisa saja menjadi yang terakhir. Dengan perasaan berat, Tristan akhirnya pulang.Saat tiba, Tristan hanya memberi respons singkat. Sama sekali tidak menunjukkan keinginannya untuk menghadiri acara keluarga itu.Tatapan para anggota keluarga membuatnya merasa tidak nyaman. Sejak dulu, Tristan tidak pernah suka dikasihani. Dan jelas sekali, kabar tentang anak Scarlett sudah menyebar di kalangan keluarga.“Tristan, kalau memang sudah tidak sanggup lagi, lebih baik kalian bercerai saja,” ujar bibinya blak-blakan.“Benar. Masih banyak perempuan lain di luar sana. Kenapa harus bertahan pada satu orang?
Amarah Tristan yang meledak tiba-tiba, disertai hentakan keras ke dinding, membuat Scarlett merasa seolah dadanya dihantam hingga napasnya nyaris terputus.Ia mencengkeram pergelangan tangan Tristan dengan sekuat tenaga. Wajahnya memerah saat ia meronta dan terengah-engah. “Tristan… lepaskan aku…” katanya dengan suara terputus-putus.Scarlett sadar ia tidak bisa mengalahkan Tristan, perbedaan kekuatan mereka terlalu besar. Ia sama sekali tak sebanding dengannya.Tatapan Tristan penuh amarah. Ia tak melepaskannya—justru cengkeraman di leher Scarlett semakin menguat. Udara di paru-paru Scarlett menipis, pandangannya mulai mengabur, bahkan sosok Tristan di depannya perlahan memudar.Tangannya masih mencengkeram pergelangan tangan pria itu, tetapi tenaganya terus terkuras. Ia ingin berbicara, ingin memohon, namun tak satu pun kata mampu keluar.Nathan… Nathan…Nama itu terlintas di benaknya. Nathan tak memiliki ayah, dan mungkin sebentar lagi juga akan kehilangan ibunya. Air mata menggena
Nathan menyimak instruksi dari Scarlett dengan serius. Tatapannya tertuju lurus ke arah Audrey ketika ia mengumpulkan seluruh keberaniannya dan memanggil, “Nenek.” Suaranya terdengar lantang dan jelas, seolah-olah ia takut panggilan itu tak sampai ke telinga Audrey.Begitu kata “Nenek” terdengar, Audrey refleks mencengkeram dadanya, seakan sebuah anak panah menembus jantungnya. “Astaga, Scarlett, suruh dia berhenti memanggilku Nenek. Itu benar-benar menusuk hatiku. Ibu bersumpah, Ibu bisa langsung pingsan hari ini gara-gara kalian berdua.”Sebutan 'Nenek' adalah sesuatu yang terlalu berat untuk diterima Audrey. Ia bahkan takut, beberapa kali lagi dipanggil seperti itu oleh Nathan, usianya akan berkurang beberapa tahun.Melihat reaksi Audrey yang kelewat dramatis, Scarlett nyaris tertawa.Saat Nathan melihat Audrey terengah-engah sambil memegangi dada, ia justru memeluk leher Scarlett lebih erat dan kembali bersuara manja, “Nenek.”Hati Audrey berdenyut nyeri. Pemandangan Scarlett bers







