ログインSekar memandang punggung Liam dari sofa. Pria itu tak banyak bicara setelah mengatainya gila. Seperti yang sudah-sudah dan yang Sekar sudah hafal; Liam pasti merokok di balkon.Sementara itu di balkon, saat Liam menyender di dinding dan hendak menyalakan rokok, matanya bersirobok dengan Sekar. Pria itu langsung memalingkan wajah. Tak jadi merokok, tersadar kalau asapnya bakal menempel di jemurannya. Liam menundukkan pandangan ke bawah, mengamati bocah-bocah bermain di playground.“Siapa aja yang tahu soal kamu menulis?” tanya Liam setelah hampir sepuluh menit kembali duduk di sofa.Sekar menjawab dengan gelengan kepala. “Baru kamu.”“Oh.” Liam menopang satu kaki, menggoyang-goyangkannya.Sekar memperhatikan sembari menghitung dalam hati. ‘Satu, dua, tiga, empat , lim ….’Liam berhenti menggoyangkan kaki, menoleh ke sisi kanan dengan wajah yang masih bingung.“Kalau kamu mau merasakan seks—” Dia menjeda ucapan, jakunnya bergerak-gerak, “kenapa waktu buat perjanjian, kamu bilang no sex?
“Aku … mau ngomong.” Sekar berdiri, mendekap tablet dengan satu tangan di dada.Lawan bicaranya diam saja, masih berdiri di daun pintu. Tak lama kemudian, Liam masuk dan menggenggam tangan Sekar.“Kayak kamu bilang tadi, kita perlu energi. Makan dulu. Aku beli nasi uduk.”Mendengar jawaban Liam yang singkat dan agak datar, keputusan Sekar makin bulat. Tak apa-apa bila memang harus berakhir sekarang juga.Di meja makan sarapan yang dibeli Liam sudah tersaji. Dua porsi nasi uduk yang masih terbungkus daun pisang terhidang di atas piring porselen warna putih.Di Sabtu yang lengang itu Sekar dan Liam menikmati sarapan dalam diam. Saking sunyinya hingga suara desau angin yang meniup-niup tipis jemuran Liam terdengar. Sekar merasakan curi-curi tatap Liam padanya dari balik bulu mata.“Hm, jadi mau buat potato ball-nya?” Liam memecah keheningan setelah seperti sengaja menggerakkan sendok dengan agak tergesa.Mau tak mau Sekar jadi menjawab meski tak yakin. “Ya, jadi.”Perempuan itu memang ud
Bila hari Sabtu adalah seorang manusia, Sekar ingin memujinya, mentraktirnya semangkuk es serut. Pagi itu hanya ada sisa harum tubuh Liam di ranjang, Sekar tak tahu si pemilik aroma itu ke mana, tapi tadi sempat merasakan kecupan Liam di pipinya saat masih setengah terbangun.“Wangi,” gumamnya manja menaikkan selimut dan memeluk bantal.Perempuan itu memejamkan mata, masih ingin merasakan sisa-sisa keintiman yang membuai. Semalam, usai bercinta di antara dirinya dan Liam tak ada yang membahas tentang Peonyrose. Entah mengapa.Sekar sendiri menyimpannya dalam hati. Bukan sekarang, pikirnya, Dan sepertinya Liam juga tak mau merusak momen. Namun, dia tahu sesuatu harus segera diselesaikan. Dia merasa bila memang harus mengaku, mau tak mau harus siap. Apalagi kalau mesti berpisah.Sekar keluar kamar dengan kaus Liam yang diambilnya dari lemari pakaian. Dari dapur dia mendengar suara kibasan kain dari arah balkon. Matanya bertemu dengan tatapan Liam yang sedang memasangkan hanger pada keme
“Eh—” Sekar masih menggerakkan bahu. “Itu apa? Siapa?” Jemarinya yang menelusuri rambut Liam mulai canggung. Seketika dia kehilangan kendala. Desir gairah perlahan menguap. Pintu kulkas yang disandarinya mendadak panas.‘Kenapa Liam tau-tau nyebut Peonyrose? Dia baca? Dia tau?’ Kepala Sekar bergerak ke kiri kanan. Sekar mengumpat lagi dalam hati karena Liam terus-terusan mencumbunya. Logikanya langsung memerintahkan si pemilik raga untuk melawan ciuman-ciuman Liam yang kian menyetrumnya.“Ehm!”Sekar mendengar lenguhannya dan Liam, tapi, hatinya bilang kalau Liam sedang memperdayainya. Cumbuan ini adalah tipu daya. Sekar lemah, dan mungkin dalam tempo yang singkat dia akan mengaku.Kedua tangan Sekar mendorong bahu Liam pelan-pelan, melepaskan dari sengat gairah sambil meletakkan dahinya di dada Liam.“Tadi, kamu …” Sekar menarik napas, “tanya apa?”Liam menaikkan tali kamisol Sekar ke bahu. “Hm … apa kamu tahu Peonyrose? Dia, penulis novel. Kamu suka baca novel, kan?”“Oh. Kamu beli
Setelah memarkir mobilnya di garasi khusus tenant apartemen, Liam tak langsung naik ke unitnya di lantai 10. Pria itu keluar gedung apartemen, mampir ke sebuah mini market bernama Lowka.Apa sudah terjadi padanya selama ini? Liam bertanya dalam hati sambil menatap dirinya dari pintu kulkas bening. Beberapa bulan silam di tahun lalu, Liam ingat, dia juga berada di tempat ini. Janjan dengan Sekar yang waktu itu membawa proposal menikah kontrak dengannya.Di meja kursi besi teras Lowka, Liam kembali duduk di sana, menyalakan sebatang rokok sambil sesekali meneguk americano hangat dalam paper cup.‘Waktu itu Sekar udah selucu itu. Lucu yang … menawan. Ya, itu! Dia udah menawan hati gue.’Liam tersenyum kecil, lalu mengeluarkan ponsel dari kantong celana, membuka file perjanjian kontrak pernikahan mereka yang sudah dua kali direvisi.‘Buat ciuman, seks.’ Liam memejamkan mata, membayangkan dua hal itu saat pertama kali mereka lakukan.Liam lantas membaca ulang kontrak. Pada poin tujuan dan
Hari ini pertama kali Gita berkunjung ke apartemen Gardenia. Sahabat Sekar itu sedang cuti, sebab besok akan berangkat ke luar negeri untuk menonton konser penyanyi kesukaannya.“Ah gue lupa lagi nge-war tiketnya.” Sekar bertopang dagu, mengitari bibir gelas dengan telunjuk, duduk memeluk lutut di atas kursi meja makan.“Lo bukan lupa sih kata gue, cuma lagi keasyikan berduaan.” Gita terkekeh. “Luar biasa banget soalnya ya; baru nikah seumur jagung udah second honeymoon.”“Ulang tahun itu, Gita. Bukan honeymoon, ih!” Sekar mengoreksi, meskipun ya kegiatan berlibur itu delapan puluh persennya adalah saling mengenal anatomi tubuh masing-masing secara berkala.“Padahal kan bisa sambil di kasur sambil nge-war tiket.” Lagi-lagi Gita meledek.“Iya, iya!” gerutu Sekar, mendorong-dorong pelan bahu Gita dengan sebal. “Have fun ya besok. Selamat bersenang-senang di konser. Siapa tahu di pesawat ketemu jodoh yang string-nya attached.”Gita nyengir, mengamini. Dan matanya tak lepas dari pintu kul







