Mag-log inTekanan yang mulai bergerak tidak pernah memilih korban secara adil,Ia hanya mencari yang paling dekat dengan pusat benturan.
Pagi itu, barak timur Aethelgard tampak berjalan seperti biasa. Latihan tetap berlangsung. Perintah tetap diteriakkan. Pedang beradu seperti rutinitas yang menenangkan setidaknya di permukaan.Rafka Narendra Afsar berdiri di antara para prajurit muda, mantel latihannya terbuka, pedang kayu di tangan. Wajahnya fokus, rahangnya mengeras. Ia tahu sesuatuHujan kecil belum berhenti sejak ruangan penghormatan itu ditinggalkan. Lorong-lorong istana dipenuhi cahaya obor redup dan langkah pelan para pelayan yang berbicara nyaris berbisik.Namun setelah keluar dari ruangan Cristian…tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa bisa bernapas lega.Jagatra berjalan paling depan di koridor utama.Tatapannya lurus.Diam.Sementara di belakangnya, Justin menunduk sambil memasukkan tangan ke saku jubah. Rafka berjalan pelan dengan wajah pucat. Rionaldo masih memegang gelas kecil kosong sejak tadi.Dan Lucas…langkahnya mulai terasa berat.Sangat berat.Awalnya tidak ada yang sadar.Sampai....BRUKK!Tubuh Lucas tiba-tiba oleng keras menghantam dinding batu.“Lucas!”Rafka langsung bergerak cepat menangkap bahunya sebelum pria itu jatuh sepenuhnya ke lantai.Rionaldo membeku.Justin langsung mendecak panik.“Anjir.!”Lucas tertawa kecil sambil menahan napas kasar.“
Malam turun perlahan di Aethelgard.Hujan tipis kembali membasahi halaman istana. Cahaya obor memantul di lantai batu yang masih menyisakan retakan perang. Dan di tengah kerajaan yang sedang mencoba bangkit kembali…nama Cristian kembali memenuhi udara.Karena besok pagi… pemakamannya akan dilaksanakan.Di ruang persiapan kerajaan, beberapa pelayan berjalan pelan sambil membawa kain putih dan lambang bahrasta.Tidak ada suara keras.Tidak ada percakapan panjang.Semua orang bergerak hati-hati…seolah takut merusak kesunyian yang menyelimuti istana malam itu.Di ruangan paling ujung…tubuh Cristian terbaring tenang.Pakaiannya sudah diganti dengan jubah kerajaan berwarna hitam dan emas. Luka di dadanya ditutupi kain kehormatan perang.Dan untuk pertama kalinya sejak perang dimulai…wajah pria itu terlihat benar-benar damai.Pintu ruangan terbuka perlahan.KREEKK…Jagatra masuk lebih dulu.Di belakangnya ada Lucas, Ju
Balai Agung Aethelgard berubah sunyi.Namun sunyi itu… bukan ketenangan,Melainkan tekanan yang membuat udara terasa berat.Jagatra masih berdiri di tengah aula.Tatapannya dingin mengarah lurus ke depan.Prajurit yang tadi melapor bahkan tidak berani mengangkat kepala lagi.Lucas mengusap wajahnya kasar.“…dewan bangsawan mulai gerak.”Justin mendecakkan lidah keras.“Mereka takut kehilangan kuasa.”Rafka mengepalkan tangannya kecil.“Dan mereka pakai Audina.”Rionaldo langsung berbalik menuju pintu aula.“Gue ambil dia sekarang.”Namun...“Berhenti.”Langkah Rionaldo langsung terhenti.Semua mata berpindah ke Jagatra.Pangeran mahkota itu perlahan berjalan turun dari tangga aula.Langkahnya tenang.Terlalu tenang.Dan justru itu yang membuat semua orang semakin waspada.Lucas menyipitkan mata kecil.“…lo mau apa?”Jagatra berhenti beberapa langkah dari mereka.Tatapannya tidak berubah.
Pagi di Aethelgard mulai bergerak perlahan.Balai Agung kembali dibuka.Para pelayan membersihkan sisa reruntuhan. Prajurit berjaga di setiap lorong utama. Dan untuk pertama kalinya sejak perang saudara pecah…kerajaan mulai terlihat hidup kembali.Namun kedamaian itu… tidak bertahan lama.Di sayap utara istana, Audina sedang duduk di ruang pemulihan kecilnya.Lukanya masih belum benar-benar sembuh. Bahunya masih diperban tebal. Namun dibanding beberapa hari lalu…warnanya sudah jauh lebih baik.Di dekat jendela, sinar matahari pagi masuk lembut menyinari ruangan.Nara berdiri di samping meja sambil menuangkan air hangat.Meskipun Putri Ellisha sudah meninggalkan Aethelgard… Nara masih tinggal sementara untuk membantu pemulihan para korban perang.“Audina, kau harus istirahat lebih lama,” katanya pelan.Audina tersenyum kecil.“Aku bosan terus di kamar.”Nara menghela napas kecil pasrah.Namun sebelum ia sempat menjawab—
Fajar belum benar-benar muncul saat langkah Jagatra kembali terdengar di koridor utama istana.Sepanjang lorong batu Aethelgard…obor-obor masih menyala redup.Beberapa pelayan yang berjaga malam langsung menunduk hormat saat melihatnya lewat.Namun tidak ada yang berani bicara.Karena seluruh istana mulai sadar:setelah perang selesai… Jagatra berubah semakin diam.Langkahnya tenang.Terlalu tenang.Seolah semua emosinya sudah terkubur jauh di bawah luka dan kelelahan.Di belakangnya…Lucas berjalan sambil memasukkan tangan ke saku jubah.Rionaldo menyusul beberapa langkah lebih belakang sambil menguap kecil meski matanya jelas belum tidur sama sekali.Rafka ikut berjalan diam.Sementara Justin…baru muncul dari ujung koridor dengan wajah pucat dan mata sembab.Tidak ada yang mengomentari keadaan satu sama lain.Karena semua orang di sana sama-sama hancur. Dan pagi itu… mereka berjalan menuju tempat yang belum dise
Malam semakin larut di Aethelgard.Sebagian besar istana akhirnya mulai tenang setelah hari panjang yang melelahkan. Para tabib beristirahat bergantian. Prajurit yang berjaga duduk bersandar di dekat obor sambil menahan kantuk.Namun di salah satu atap tertinggi istana…Rionaldo masih belum tidur,Ia duduk di tepi genteng batu dengan satu kaki menggantung santai. Perban di bahunya sudah sedikit memerah lagi karena luka panahnya belum benar-benar kering.Angin malam meniup rambutnya pelan.Tatapannya lurus ke langit gelap.Kosong.Di sampingnya ada botol minuman yang bahkan belum disentuh sejak tadi.Biasanya…Rionaldo pasti sudah mengeluh soal luka. Atau bercanda keras sampai seluruh penjaga istana pusing mendengarnya.Namun malam ini…tidak ada suara apa pun darinya.Karena semakin malam berjalan…semakin sulit baginya mengabaikan kenyataan bahwa Cristian benar-benar sudah tidak ada.“…brengsek.”Gumamannya pelan hilang ter
pagi dibuka oleh suara langkah yang dipercepat Di ruang peta, Kaesar berdiri lebih awal dari siapa pun, Ia menyukai permukaan yang tidak memberi petunjuk, tempat orang lain harus mengisi kekosongan dengan kecemasan mereka sendiri.“Mulai hari ini,” katanya tanpa menoleh, “semua izin lint
Cristian tidak berada di aula latihan pagi itu. Keputusan kecil, nyaris tak terlihat, namun ia mengubah cara beberapa mata mencari. Pedang- pedang berderet rapi di rak, satu tempat kosong di sudut,bukan karena diambil, melainkan karena sengaja tidak dipajang. Cristian memilih ruang senyap di bawa
Ellisha datang tanpa pengumuman.Tidak ada pengiring. Tidak ada kain kebesaran. Ia berjalan sendiri melewati koridor yang biasanya hanya ia lihat dari jarak aman,lorong-lorong tempat keputusan kecil mengubah arah banyak hidup. Gaunnya sederhana, warna pucat yang nyaris menyatu dengan dinding batu.
Pagi tidak datang dengan terang. Ia merayap. Di bangunan kecil sisi taman, Jagatra terbangun sebelum lonceng pertama. Lilin semalam telah habis, menyisakan sumbu hitam yang bengkok jejak kecil dari sesuatu yang dibiarkan menyala terlalu lama. Ia tidak menyalakan yang baru. Cahaya, pagi ini, tidak







