Share

bab 210 Rionaldo yang setia.

Author: Pita
last update publish date: 2026-04-19 09:13:38

Malam turun perlahan di atas Aethelgard. Api obor di sepanjang koridor istana menyala redup, menari pelan seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diungkapkan terang-terangan.

Dan di antara cahaya yang rapuh itu, seorang pangeran berdiri sendirian.

Rionaldo Xaviero.

Pangeran yang selalu tampak paling licin, paling tidak bisa ditebak, paling dekat dengan dunia abu-abu di dalam istana. Orang-orang mengira ia hanya memikirkan dirinya sendiri.

Mereka salah.

Merek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 236 lucas hilang.

    CLANG!Benturan pedang kembali menggema di aula utama.Kaesar menyerang tanpa jeda.Tanpa ritme.Tanpa kendali.Setiap ayunan dipenuhi kemarahan yang selama ini ia tahan.Sementara Jagatra…tetap bertahan.Lantai marmer retak sedikit demi sedikit.Tiang aula bergetar setiap kali logam bertemu logam.Prajurit di luar pintu mulai gelisah.Bahkan mereka yang setia pada Kaesar…mulai takut melihatnya sekarang.Karena pria di depan singgasana itu…tidak lagi terlihat seperti pangeran.Ia terlihat seperti seseorang yang siap menghancurkan apa pun di depannya.Sesuatu yang Tidak DisadariLucas berdiri beberapa langkah di belakang Jagatra.Matanya terus bergerak.Mengamati.Bukan hanya pertarungan.Tapi seluruh aula.Dan semakin lama ia memperhatikan…semakin jelas satu hal:Ada yang salah.Di balik pilar besar sisi kanan aula…beberapa prajurit berdiri terlalu diam.Tidak ikut panik.

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 235 kaesar mengamuk.

    Aula utama Aethelgard malam itu terasa seperti medan perang yang ditahan paksa.Tidak ada pasukan yang berteriak.Tidak ada dentuman besar.Namun tekanan di udara…cukup untuk membuat siapa pun sulit bernapas.Jagatra berdiri di depan tangga singgasana.Tenang.Diam.Namun matanya… tidak pernah lepas dari Kaesar.Sementara di seberangnya…Kaesar masih berdiri santai.Terlalu santai.Seolah semua kekacauan malam ini hanyalah permainan yang sudah ia menangkan sejak awal.Kalimat yang Menyulut Segalanya“Lucas berhenti.”Kaesar tersenyum tipis.“Michael tertangkap.”Ia melangkah turun satu anak tangga.“Justin diburu.”Langkah berikutnya.“Dan Rafka…”matanya menyipit,“…akhirnya mulai bergerak seperti orang yang putus asa.”Jagatra tetap diam.Namun Lucas yang berdiri di belakangnya mengepalkan tangan lebih kuat.Kaesar melihat itu.Dan tertawa kecil.“Kalian benar-benar masih b

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 234 cristian yang tetap setia.

    Lorong panjang menuju aula utama terasa semakin dingin.Api di luar istana mulai meredup.Namun ketegangan di dalam Aethelgard…justru semakin membesar.Cristian berjalan di depan.Ellisha mengikuti beberapa langkah di belakangnya.Nara tetap mendampingi dengan wajah cemas.Suasana di antara mereka sunyi.Namun bukan sunyi yang canggung.Melainkan sunyi… dari terlalu banyak pikiran yang belum sempat diucapkan.Di setiap persimpangan lorong, prajurit berjaga.Beberapa langsung menegang saat melihat Cristian.Karena tatapan pangeran itu malam ini… berbeda.Lebih tajam.Lebih dingin.Namun satu hal tidak berubah:ia tetap berjalan lurus.Tidak ragu.Tidak berbalik.Seolah apa pun yang terjadi di depan sana…ia sudah memutuskan akan tetap maju.Ellisha mempercepat langkah sedikit.“Paduka Cristian…”Cristian menoleh sekilas.“Kenapa Anda masih bertahan?”Pertanyaan itu membuat langkah Cr

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 233 Hati ellisha hancur.

    Koridor istana Aethelgard malam itu terasa asing.Sunyi.Namun bukan sunyi yang damai.Melainkan sunyi… setelah terlalu banyak tangisan ditahan.Langkah yang Tidak TenangEllisha berjalan pelan di lorong dekat ruang penyembuhan.Nara mengikuti beberapa langkah di belakang.Biasanya, Ellisha akan menjaga sikapnya tetap tegak.Tetap anggun.Tetap tenang.Namun malam ini…langkahnya goyah.Tangannya terus menggenggam ujung lengan bajunya sendiri.Kuat.Seolah hanya itu yang menahannya agar tidak runtuh.Ia berhenti tepat di depan ruang penyembuhan.Pintu kayu itu tertutup.Dari dalam… terdengar suara pelan.Tabib.Pelayan.Dan sesekali… suara Audina yang lemah.Ellisha membeku.Ia sudah berlari ke sini sebelumnya.Sudah melihat darah itu.Namun sekarang…setelah semuanya lebih tenang…rasa bersalah itu justru terasa lebih besar.“…Putri…” bisik Nara hati-hati.Ellisha tidak m

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 232 audina merawat luka.

    Langit Aethelgard masih menyisakan cahaya merah yang samar.Namun jauh dari aula utama…jauh dari takhta dan benturan dua pangeran…ada satu tempat yang justru dipenuhi keheningan berbeda.Ruang penyembuhan.Nafas yang KembaliAroma obat memenuhi udara.Lilin-lilin kecil menyala redup di setiap sudut.Di atas ranjang sederhana…Audina terbaring.Perban melilit lengannya.Bahunya tertutup kain bersih yang mulai ternodai merah samar.Namun napasnya… sudah lebih teratur.Seorang tabib tua berdiri di sampingnya, memeriksa luka dengan hati-hati.“Dia beruntung,” katanya pelan pada pelayan di dekatnya.“Luka itu dalam… tapi tidak mengenai titik vital.”Pelayan itu menghela napas lega.“Dia kuat…” lanjut sang tabib.“…atau mungkin… terlalu keras kepala untuk jatuh.”Kelopak mata Audina bergerak.Pelan.Berat.Dunia terasa kabur saat ia membuka mata.Cahaya lilin menusuk lembut penglihatannya.“…di mana…?” bisiknya lemah.Pelayan yang berjaga langsung mendekat.“Nona! Anda sudah sadar!”Audin

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 231 jagatra menatap takhta.

    Langit Aethelgard masih menyala redup oleh sisa api.Namun di dalam istana… ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari kobaran itu.Keheningan.Keheningan yang tidak lagi berarti aman.Melainkan… sebelum badai berikutnya datang.Jalan yang Akhirnya TerbukaLorong bawah tanah mulai berubah.Tidak lagi penuh kepungan.Tidak lagi tertutup rapat.Karena di satu titik…seseorang telah memaksa jalan itu terbuka.Rionaldo.Dan efeknya mulai terasa.Rafka dan pasukannya bergerak naik.Justin menjauh dari kejaran.Dan jalur menuju pusat istana… perlahan tidak lagi terkunci sepenuhnya.Semua bergerak.Tanpa sadar… menuju satu titik yang sama.Di tangga batu menuju lantai utama…Jagatra berhenti sejenak.Lucas di belakangnya.Prajurit di sekeliling mereka… lebih sedikit dari sebelumnya.Namun cukup.Jagatra menatap ke atas.Ke arah aula utama.Ke arah… singgasana.“…dia ada di sana,” katanya

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 163 kaesar semakin haus takhta.

    Di aula timur, Kaesar berdiri menghadap jendela tinggi. Kabut belum sepenuhnya turun dari bukit, tetapi dadanya sudah penuh oleh sesuatu yang lebih tebal dari udara dingin: ketidaksabaran. Ia membenci jeda-jeda memberi orang lain waktu untuk bernapas, dan bernapas berarti bertahan.Ia me

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 162 Cristian menyelamatkan.

    Pangeran Cristian Bahrasta mengangkat wajahnya ke arah kisi-kisi jendela, menghitung bayang yang bergerak satu denyut lebih lambat dari jadwal jaga.Di dalam, Putri Ellisha sudah bangun. Ia merasakan perubahan udara sebelum suara muncul. Perubahan itu halus,seperti lilin yang hampir pad

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 161 Ellisha mengorbankan diri.

    Fajar menyelinap tanpa upacara. Di rumah kecilnya, Audina bangun seperti biasa,Ia menyiapkan air, menyisakan pintu setengah terbuka. Hidup yang wajar adalah kamuflase terbaik.Di sisi lain kota, tirai sutra disingkap dengan satu tarikan tegas. Putri Ellisha berdiri menghadap cermin tinggi. Wajahnya

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 160 Audina bertahan hidup.

    Pagi datang tanpa upacara. Cahaya menembus kisi jendela dapur kecil, jatuh pada meja kayu yang telah memikul terlalu banyak musim. Audina Veleryna Arsela bangun sebelum bunyi apa pun, karena bertahan hidup selalu dimulai lebih awal daripada perintah.Ia menghitung sisa gandum dengan tela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status