Mag-log in“Hati-hati saja, Mas karena banyak karyawan yang keluar masuk di restoran itu,” jawab pria lansia dengan ekspresi serius.
”Apakah Bapak tahu alasan mereka keluar masuk di restoran itu? Keluar masuk itu ada karyawan yang baru masuk kerja lalu keluar bekerja di sana?” tanya Anthonius santai, tetapi penasaran.
“Iya, alasannya aku tidak tahu karena banyak alasan yang keluar dari karyawan yang pernah melamar pekerjaan di sana,” jawab pria lansia itu.
“Terima kasih, Pak.”
Anthonius tidak ingin mendengar kalimat seperti itu lagi karena tidak ingin memperkeruh keadaan ketika berada di kota lain. Ia mengabaikan pernyataan pria lansia terkait karyawan yang sering masuk dan keluar dari restoran itu.
Bahkan, ia tidak memedulikan perkataan siapa pun karena ia harus bekerja dan sangat membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Pekerjaan apa pun dilakukan olehnya, meskipun ia berasal dari keluarga konglomerat.
Keluarga konglomerat tidak terikat erat untuknya karena tidak pernah dianggap oleh ayahnya sejak ditinggal selamanya oleh ibunya.
Anthonius kembali ke kos untuk sarapan terlebih dahulu lalu mencetak berkas data diri dan surat lamaran pekerjaan dengan berpakaian rapi untuk mengirim ke restoran itu.
Bahkan, ia juga tidak lupa untuk mengambil foto diri di dalam kamar kos dengan penampilan baru yang tidak mengubah wajah sama sekali lalu latar belakang diedit menjadi warna merah.
Anthonius mengirim data diri dan surat lamaran pekerjaan ke restoran sederhana dengan berpakaian rapi ke bagian resepsionis yang berada di sisi kasir.
“Permisi, Bu, saya hendak mengirim surat lamaran pekerjaan sebagai pelayan pria penuh waktu. Di mana saya bisa meletakkan lamaran ini?” tanya Anthonius pelan dan sopan.
“Kamu sungguh ingin bekerja di sini? sudah mendengar rumor yang menyebar luas di kota ini?” tanya seorang wanita dengan intonasi penekanan dan menatap lamat.
Anthonius tersenyum tipis dan heran. “Kenapa pertanyaannya seperti itu? Rumor apa yang tersebar sampai Ibu bertanya seperti itu? Apakah wajah saya terlihat tidak meyakinkan untuk melamar pekerjaan sebagai pelayan pria di rumah makan sederhana ini?” tanya Anthonius pelan sambil terkekeh pelan.
“Meyakinkan, tapi paras Mas terlalu tampan dan gaya rambut yang panjang seperti itu harusnya diikat dengan benar atau dipotong agar pelanggan tidak kabur dari rumah makan ini,” jawab wanita yang ada di depannya sambil terkekeh.
“Jadi, maaf, apa keputusannya?” tanya Anthonius sambil menatap lamat dan penasaran dengan jawaban yang disampaikan oleh seorang wanita yang berpakaian rapi.
“Saya hanya bisa mengantarkan lamaran ini ke bagian HRD karena mereka yang berperan untuk menindaklanjuti lamaran Mas diterima atau ditolak.”
“Baiklah. Berapa lama saya akan dihubungi oleh bagian HRD untuk panggilan kerja atau melakukan proses rekrutmen?” tanya Anthonius yang tidak sabar mendapatkan pekerjaan dan bekerja di rumah makan sederhana.
“Kurang lebih seminggu. Kalau lebih dari itu, artinya Mas tidak mendapat proses lanjutan rekrutmennya.”
“Baik. Saya mengerti.”
“Saya mau ke ruang HRD dulu untuk menyerahkan lamaran pekerjaan ini dan jika Mas beruntung bertemu dengan seorang wanita berjilbab, tinggi, putih, bermata besar dan langsing maka bisa langsung melakukan proses rekrutmen karena beliau adalah pemilik rumah makan ini. Nama beliau adalah Ibu Sandria Riantina.”
Anthonius hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. Ia menganggap bahwa kesempatan untuk bertemu dengan pemilik rumah makan sangat minim kalau tidak memiliki akses apa pun atau menjadi orang penting di negerinya.
“Kenapa senyumannya seperti itu? Apa yang Mas pikirkan?” tanya wanita yang ada di resepsionis dengan sinis sambil menggeleng pelan.
“Tidak ada. Terima kasih kalau begitu.”
Anthonius pergi dari resepsionis rumah makan saat dia memberikan lamaran pekerjaan ke ruangan HRD. Ia tidak hanya mengirim lamaran pekerjaan di rumah makan dan mengirim lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan yang sesuai dengan jurusan perkuliahan.
Anthonius lulus kuliah di bidang Manajemen Bisnis. Ia lebih sering mengirim ke perusahaan yang memiliki barang untuk dijual dan bisa dikembangkan.
Saat Anthonius mengirim lamaran pekerjaan dan kondisi lelah, sosok Adrian kembali ke permukaan dan menguasai dirinya lagi.
“Kenapa cara kerjamu lama, sih? Pantas saja kamu dibenci oleh ayahmu dan banyak orang karena kamu adalah orang yang sangat hati-hati dalam bertindak dan tidak berpikir cepat, serta mengambil tindakan cepat,” cerocos Anthonius versi Adrian.
Anthonius membuka sebuah situs secara acak. Ia menemukan situs yang siapa pun bisa berjualan di sana. Ia memahami situs itu secara perlahan dan seksama.
Ia memahami situs berjualan daring selama setengah jam. Tidak ada yang spesial untuknya, tapi ia menemukan ada yang aneh dan mengganjal di situs tersebut.
Anthonius mencoba untuk mencari keanehan pada situs itu, tetapi kepala telah lelah dan ingin mengistirahatkan fisik dan pikiran agar bisa beraktivitas kembali.
Anthonius tidak bisa berhadapan di depan layar laptop selama berjam-jam karena kepala sakit dan mata sudah tidak bisa fokus, tetapi ia berlatih selama satu tahun lalu untuk bisa tahan di depan laptop dengan durasi tiga jam.
Namun, hasilnya masih terkadang kuat dan terkadang lelah.
Nada dering panjang dengan dering lagu rock and roll membangunkannya dari tidur yang hampir terlelap karena lelah mencari pekerjaan di berbagai tempat dan mengirim data diri dan surat lamaran pekerjaan secara daring.
Ia memeriksa waktu di layar ponsel dan terdapat notifikasi pesan dari nomor tak dikenal. Ia membuka dan membaca pesan dari nomor tak dikenal itu dengan mata yang masih lengket karena waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
[Yth. Bapak/Ibu Anthonius. HRD rumah makan sederhana mengundang Bapak/Ibu untuk melakukan proses rekrutmen di rumah makan sederhana pada tanggal 10 Mei 2024 pukul sembilan pagi dan harap membawa data diri, surat lamaran pekerjaan dan dokumen pendukungnya. Mohon konfirmasi kehadiran untuk proses rekrutmen.]
Anthonius membalas pesan dari HRD rumah makan sederhana dengan sangat semangat.
[Baik, Bapak/Ibu HRD. Saya bisa hadir untuk melakukan proses rekrutmen.]
Beberapa jam berlalu, hari telah berganti. Ia mengenakan pakaian rapi untuk proses rekrutmen dengan setelan atas dan bawah berwarna putih dan hitam dengan sepatu fantovel yang mengkilap.
Anthonius mengikuti beberapa tahap proses rekrutmen hingga akhir dan waktu telah memasuki sore hari.
“Kalian tunggu di ruang tunggu yang ada di dekat resepsionis untuk menunggu hasil proses rekrutmen ini. Nanti ada dua orang yang diterima sebagai pelayan pria dan wanita. Masing-masing dibutuhkan dua orang.”
“Baik, Ibu.”
Anthonius menunggu di ruang tunggu sambil memainkan permainan di ponselnya secara santai untuk menunggu hasil rekrutmen.
“Sudah siap mendengar hasil rekrutmen?” tanya seorang wanita berjilbab, tinggi, putih dan langsing dengan nada ramah dan tersenyum lebar.
Hari pertama Anastasia sudah membuat Anthonius naik pitam karena kelakuan dia yang tidak mengatakan apa pun, tetapi telah memberi jadwal dirinya rapat dengan klien yang berasal dari Inggris.Anastasia melaksanakan perintah Anthonius untuk memanggil Raihan untuk menjelaskan jadwal dirinya pada hari ini.Lima menit kemudian, Raihan masuk ke ruangan dengan napas tersengal-sengal ketika diminta untuk datang ke ruangan Anthonius dengan cepat.“Ada apa, Pak?” tanya Raihan sambil menghadap Anthonius.“Kenapa Bapak tidak memberitahuku tentang jadwalku sebelumnya? Apakah semuanya harus dia yang menjelaskannya? Bukan, kah, ini jadwal milik Pak Tio? Kenapa saya yang menggantikan jadwalnya dia?” cecar Anthonius nada protes sambi mengernyitkan dahi dan sedikit menekan.“Maaf, Pak. Pak Tio tadi memberitahu saya bahwa Bapak menggantikan beliau sesuai jadwal yang telah disepakati sebelumnya. Jadi, jadwal yang sudah dijadwalkan harus dihadiri, Pak. Bapak kemarin memang tidak ada jadwal sehingga tidak
“Iya. Masuklah ke mafia yang masih tersisa karena kamu sudah gak punya anak buah!” seru Anthonius nada serius.“Maaf. Aku gak bisa karena tahta yang tersisa adalah tingkat dua, tiga dan lima,” balas Yuno nada menolak.“Oke. Aku bisa mencarinya kalau kamu gak mau.”Anthonius memasuki kamar sambil membawa amplop cokelat besar dan meninggalkan Yuno di lantai bawah.Yuno diantar ke markasnya oleh pengawal Anthonius tanpa diberi upah sama sekali.“Aku belum diberi upah olehmu. Transfer saja!” ujar Yuno dengan menekan dan sedikit teriak.Anthonius mengabaikan perkataan Yuno lalu mendapat pesan masuk dari nomor tak dikenal. Ia membuka dan membaca pesan yang ternyata dari Yuno.[Kirim uang sebesar tiga puluh juta rupiah sebagai uang tutup mulut ketika aku mendengar dan melihat sosok dirimu. Kamu bukanlah orang sembarangan dan pasti mengetahui semua yang terjadi pada kita dan Adrian memintamu untuk membunuh semua yang berhubungan dengannya, kan? karena arwah dia merasuki tubuhmu karena caramu
“Ambil saja di sana!” ucap Katugo Banduro dengan intonasi penekanan dan kesal.Anthonius melangkah di balik mejanya sambil menarik kerah pakaiannya dan mengarahkannya ke meja.“Banyak laci, di mana kamu simpan?”“Ada di pintu kedua bagian tengah. Aku menaruhnya di sana karena kematian Adrian sangat aneh, meskipun katanya mati karena hukuman mati, tapi aku merasa itu aneh karena matinya bukan dieksekusi, melainkan di dalam penjara dan sebelum diakhiri nyawanya, dia diberi minuman alkohol dengan kadar yang sangat tinggi dan membuatnya halu, seakan sedang dieksekusi dan hasil forensik menemukan semua itu, tapi kasus ketua kita ditutup begitu saja dan tidak dilanjutkan karena isu beredar bahwa mereka diberi segepok uang untuk menutup mulut dan ….”“Dan apa?” tanya Anthonius dengan intonasi penekanan sambil sedikit berteriak.“Dan istrinya juga tahu hal itu karena dia menerima segepok uang dari seorang pria mengenakan jas hitam,” jawab Katugo dengan terbata-bata dan mengalihkan pandanganny
Satu tangan memegang tangan pria anak buah Katugo Banduro yang mencekik lehernya sambil terbatuk dan sulit bernapas.Anthonius mencengkeram tangan pria berambut klimis sampai tulang berbunyi renyah dan diikuti erangan kesakitan sampai wajah pria itu memerah dan cengkeraman di leher terlepas.Anthonius mengeluarkan pecahan meja kaca dari perut lalu mengarahkan ke leher sampai darah muncrat dan mengenai wajahnya.Anthonius tersengal-sengal sambil terduduk dan memandangi pria yang ada di depannya sudah tidak bernyawa dengan tangannya sambil membulatkan bola mata.Anthonius tercengang melihat darah muncrat dari leher yang biasa dilihat olehnya dari televisi malah melakukannya karena menghalangi jalan untuk mencari Katugo Banduro.Anthonius berdiri sambil membawa pecahan kaca meja menuju dinding dan mencari celah sambil menyingkirkan anak buah Katugo Banduro yang tergeletak tak bernyawa.Tanpa sengaja, tangan anak buah Katugo Banduro menyentuh dan menyenggol hiasan panjang yang ada di deka
Anthonius masih bertanya datar kepada semua orang yang ada di depannya saat ini sembari menatap semua orang secara bergantian dan menyebarkan bola mata untuk mencari keberadaan Katugo Banduro.Anthonius tidak mengetahui penampilan Katugo Banduro, tetapi asal menyebut namanya.Namun, sistem Adrian memunculkan sosok Katugo Banduro di hadapan mereka menggunakan layar tidak terlihat dari kacamata canggih dan cerdas.Sosok Katugo Banduro adalah pria bergaya jepang mulai dari kepala hingga kaki dengan rambut berwarna merah darah, mata sipit dan bibir tipis disertai dengan luka gores panjang di area pipi sebelah kiri.“Kalau kalian masih tidak mau memberitahuku di mana Katugo Banduro maka tamat riwayat kalian!” ancam Anthonius dengan nada tinggi sambil menatap tajam ke arah mereka.Semua orang terdiam lalu tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ancaman darinya. Mereka meremehkan dan merendahkannya sampai membuat kepalan tangan semakin erat.Seorang pria kurus mendatangi pria kekar yang ada
“Aku tidak tahu pasti, tapi tugas mereka adalah pembersihan mayat dan tidak ada satu orang pihak berwajib yang berhasil menemukan mayat ketika ada keluarga yang melapor,” jawab Yuno sambil menangkat kedua pundaknya.“Kamu tidak tahu pasti?” tanya Anthonius penasaran dengan memperhatikan jalanan.“Iya.”Pikiran Anthonius berlabuh ke mana-mana. Markas Kartugo Banduro tidak pasti digunakan untuk pembersihan mayat, melainkan hanya tempat berkumpul dan mereka pasti menggunakan alat untuk membersihkan mayat.“Pemilik bangunan Right Now bernama Sherly Anggun Farida,” ungkap Yuno.Sistem Adrian menampilkan foto Sherly Anggun Farida dan sosok yang ada di sistem yang tidak bisa tampak di hadapan siapa pun adalah wanita yang habis mendaftar di Sistem Adrian dan berjudi di aplikasinya.“Sherly Anggun Farida, anak dari seorang pengusaha perkapalan yang merupakan saingan bisnis dari pemilik perusahaan perkapalan yang bernama Pak Tio? Ayahnya bernama Yugo Pranomo, pemilik dari semua tahta yang ada d







