Partager

6. Potensi

Auteur: Angdan
last update Date de publication: 2026-07-23 15:10:17

Anthonius duduk bersandar di kepala kursi tanpa memikirkan apa pun karena bagi dirinya bahwa jika sudah berusaha lalu hasil tidak berpihak kepadanya maka belum rezeki dan tidak menjadi masalah.

Namun, sosok dalam diri Anthonius selalu berisik ketika dia tidak bisa mengendalikan tubuh Anthonius secara keseluruhan.

Jika tidak terjadi sesuatu kepadanya maka sosok arwah Adrian tidak bisa mengambil alih tubuhnya menjadi meronta untuk bisa mengendalikan semuanya. Bagi Adrian, Anthonius adalah pria lemah yang tidak memiliki keberanian untuk melawan sehingga dia membantu dirinya untuk bisa melawan dan membangunkan tekad untuk membalas semua perbuatan buruk kepadanya. 

‘Kamu harus menunjukkan kemauanmu untuk bisa bekerja di sana, Anthonius. Jangan diam dan pasif seperti ini, elah!’ cerocos Adrian sambil mengomel.

“Berisik,” balas Anthonius pelan sambil menekan.

“Apa yang kamu bilang tadi?” tanya seorang wanita berjilbab sambil menatap Anthonius.

“Maaf, Bu, saya hanya berlatih berbicara jika ada pelanggan yang mengomel lalu menyalahkan kami jika kami tidak melakukan kesalahan,” jawab Anthonius asal bicara.

Wanita berjilbab hanya mengangguk sambil tersenyum tipis saat mendengar jawaban Anthonius yang terlihat menjawab dengan nada yang bersemangat.

“Baiklah. Seperti yang sudah saya sampaikan bahwa hanya ada empat orang yang diterima untuk bekerja di rumah makan ini. Jadi, saya minta maaf sebesar-besarnya kalau belum rezeki,” ucap wanita itu dengan lembut.

“Tidak apa, Bu. Kami paham,” jawab calon karyawan serentak dengan penuh semangat kecuali Anthonius yang hanya diam saja.

“Sebelum itu, perkenalkan nama saya adalah Annisa Yulia Isti. Saya adalah pemilik rumah makan ini dan Ibu dan Bapak yang tadi adalah HRD. Namanya adalah Ibu Susan Anggiata dan Bapak yang mewawancarai adalah Bapak Rudi Asmono. Mereka memberikan hasil kepada saya dan saya yang mengumumkannya. Jadi ….’

“Lanjutkan, Bu,” ucap Susan dengan santai sambil mengamati semua calon karyawan rumah makan sederhana.

“Baik. Nama pertama untuk bekerja sebagai pelayan pria adalah Anthonius Jantoro Abadi dan yang kedua adalah Kurniawan. Selamat untuk kalian.”

Anthonius membulatkan bola mata sekilas saat nama dirinya disebutkan oleh Ibu Annisa, pemilik rumah makan sederhana. Ia tidak percaya mendapat kepercayaan untuk bekerja di rumah makan sederhana karena usaha yang dikeluarkan olehnya belum maksimal.

“Saya keterima bekerja di rumah makan sederhana?” tanya Anthonius nada tidak percaya sambil menatap Annisa.

“Iya. Kamu diterima bekerja sebagai pelayan pria di rumah makan sederhana dan mulai besok kamu sudah bisa bekerja,” jawab Annisa dengan lembut.

Anthonius hanya mengangguk sambil bibir sedikit terbuka karena ia tidak mengharapkan hasil yang baik karena banyak pesaing yang melamar pekerjaan di posisi yang sama dengan keahlian yang dimiliki.

Semua orang berdiri dan bersalaman dengan Annisa tanpa menyentuh untuk para pria. Anthonius masih terduduk bingung dengan keputusan yang dibacakan olehnya. 

Anthonius mendekati Annisa dengan diberi jarak agar tidak menjadi salah paham ketika dilihat oleh banyak orang. 

“Maaf, Bu, Ibu tidak menyesal jika memilih saya? Bagaimana kalau keliru? saya tidak memiliki keahlian, kemampuan dan kekuatan apapun,” lontar Anthonius dengan nada terbata-bata.

“Itu menurut kamu, kan?” balas Annisa santai dan lembut.

“Menurut saya? Kenapa Ibu bisa bilang kalau itu menurut saya?” tanya Anthonius bingung dan heran.

Annisa terkekeh pelan ketika mendengar pertanyaan dari Anthonius. Dia tidak menjawab pertanyaannya malah tertawa dan menghindar ketika ia penasaran dengan jawaban dari atasannya. 

“Katakan yang sesungguhnya, Bu agar saya tidak bingung,” cerocos Anthonius sambil mencegah langkah Annisa yang hendak memasuki ruangannya.

“Kamu penasaran alasan saya memilihmu?”

“Iya, Bu. Banyak orang mengatakan bahwa saya tidak memiliki keahlian apapun dan nyali untuk bersaing dengan banyak orang,” jawab Anthonius dengan tegas sambil menatap lamat.

“Orang yang berkata seperti itu adalah orang yang punya sifat iri dan dengki agar kamu selalu merasa lemah dan bodoh, tapi saya lihat kamu memiliki potensi untuk sukses dan coba kenali dirimu sendiri karena setiap orang pasti memiliki 3K, yaitu keahlian, kekuatan dan kepintaran.” jawab Annisa dengan bijak dan dewasa.

Anthonius mematung dan membisu setelah mendengar jawaban dari Annisa. Annisa mengatakan hal berbeda karena dia percaya bahwa setiap orang memiliki 3K dalam diri. 

Namun, Anthonius merasa tidak memiliki apa pun dalam dirinya sehingga ikut berbagai macam pelatihan untuk bisa bersaing dan bekerja di luar rumah.

Anthonius juga pasti membuktikan bahwa dirinya bisa sukses dan berdiri di kaki sendiri tanpa bantuan ayahnya karena cukup dihina dan direndahkan oleh keluarganya.

“Kamu juga bukan lulusan dari universitas yang sembarangan. Kamu lulusan dari Universitas terbaik di negeri, yaitu Universitas Unaima jurusan Manajemen Bisnis Digital dan kamu adalah mahasiswa lulusan terbaik di angkatanmu. Kamu juga mengikuti berbagai macam pelatihan untuk meningkatkan kualitas diri dan itu bagi saya adalah kamu adalah karyawan yang berharga dan bisa diandalkan,” ucap Annisa yang tiba-tiba hadir dalam kebisuannya.

‘Dasar bodoh. Selama kamu hidup, kamu tidak mengenal dirimu sendiri dan lebih memilih untuk memperhatikan yang lain daripada dirimu sendiri?’ protes Adrian dengan nada kesal.

“Bahkan, organisasimu juga banyak dan jadikan pengalaman hidupmu untuk bertahan hidup dan mengasah diri agar sesuatu yang berharga dan spesial dalam dirimu keluar dan tunjukkan pada dunia bahwa kamu adalah pria hebat yang bisa mengubah dunia,” ucap Annisa yang menyadarkan Anthonius.

Anthonius membisu dan mengingat semua pengalaman yang pernah dilakukan dan dilewati olehnya. Semua yang dikatakan oleh Annisa membuat dirinya merenung dan memikirkan bahwa dirinya adalah pria yang berharga dan bermanfaat untuk banyak orang.

Namun, Anthonius masih merasa tidak memiliki apapun dalam dirinya karena Ayah kandung dan istrinya mengatakan bahwa dirinya adalah pria tidak berguna sehingga untuk maju masih setengah jalan.

“Percayalah pada dirimu sendiri, Anthonius dan jangan pernah mendengarkan perkataan orang lain karena istimewa dirimu hanya kamu yang tahu. Percaya pada diri sendiri bahwa kamu adalah orang berharga dan memiliki potensi yang sangat bagus,” tutur Annisa dengan lembut.

Annisa kembali lagi kepadanya ketika dirinya masih berdiri di tengah keramaian pengunjung. Ia tidak menyangka masih bertemu dengan seseorang yang memiliki sikap dan lisan yang baik dan lembut.

‘Percaya dengan dirimu sendiri dan kamu jangan terlalu lemah dan banyak pertimbangan karena hidup terus berjalan, Anthonius. Bergerak dan lakukan lalu untuk hasilnya belakangan!’ geram Adrian dalam tubuh Anthonius.

“Terima kasih, Bu,” ucap Anthonius singkat lalu pergi dari rumah makan sederhana.

Anthonius pergi dari rumah makan sambil mempercepat langkahnya untuk kembali ke kos. Saat Anthonius hendak memasuki gerbang, tiba-tiba seorang kakek berambut putih mempercepat langkahnya dan menabrak Anthonius hingga terjungkal ke aspal.

“Maaf, Nak,” ucap kakek berambut putih sambil memegang tangannya sekilas lalu mempercepat langkahnya.

Anthonius hendak memanggil kakek itu, tetapi langkahnya semakin jauh dan kakek telah berada di gang paling ujung.

“Kenapa langkahnya cepat sekali? Kakek pernah ikut lari marathon?” gumam Anthonius sambil memperhatikan kakek berambut putih yang terus melangkah.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Pembalasan Menantu Lemah   12. Peringatan, Ancaman dan Saran Awal

    Anthonius mengepalkan tangan dengan erat sambil napas naik turun cepat. Makanan dan minuman yang dibeli dari hasil kerja keras malah terbuang sia-sia karena kelakuan Akbar yang selalu merundung dan menghinanya.Tertawa Akbar semakin keras sambil memukul kaki. Hinaan yang disertai tertawa membuatnya sangat kesal dan marah.Dia mendekati Akbar sembari menatap dari atas hingga bawah. Bahkan, dia tersenyum miring saat menatap Anthonius lalu menutup hidung.“Pria seperti ini seharusnya tidak berada di sini dan … tidak pantas bekerja di sebuah rumah makan yang terkenal dan melegenda di banyak orang dan hampir seluruh Indonesia mengenalnya,” hina Akbar sambil menunjuk dan meletakkan jari telunjuk ke pundaknya.Anthonius masih membisu ketika Akbar masih meledek dan menghina. Bahkan, dia menyangkut orang tua yang tidak pernah diketahui olehnya.“Orang tuamu pasti tidak pernah mengurusmu sampai kamu harus bekerja sebagai pelayan. Pelayan yang gak becus dan gak tahu hal apa pun. Bahkan, orang tu

  • Pembalasan Menantu Lemah   11. Ide Gila Pusing Tujuh Keliling

    “Kenapa jauh sekali? Bukannya harus mengurus berkas data diri untuk berangkat ke sana?” protes rekan kerja pria.Anthonius masih membisu dengan pikiran ke mana-mana. Ia disuguhkan seorang pria berjas hitam dengan penampilan yang terlihat tegas dan kuat sedang berdiri di depan restoran dan menatap ke arah dalam.Ia memperhatikan keadaan sekitar dan tatapannya tidak mengarah kepada siapa pun, melainkan ke arah dirinya.‘Siapa dia? Apakah dia adalah anak buah dari ayah Anthonius?’“Iya juga. Kamu ada ide untuk liburan ke mana karena ibu Bos menanyakan hadiah kita untuk liburan,” tanya rekan wanita kepada Anthonius sambil mencolek lengannya.Anthonius menoleh ke arah beberapa rekan kerja yang masih ada di restoran bersama atasannya. Ia tidak mempermasalahkan liburan karena bagi dirinya, menyelesaikan tugas lomba adalah kewajiban.“Terserah ke mana saja, yang penting saya bisa bermain laptop,” jawab Anthonius datar sambil mengangkat kedua pundaknya.Lonceng pintu restoran terdengar dan art

  • Pembalasan Menantu Lemah   10. Pemikat Wanita dan Penghasil Uang

    Anthonius mengabaikan panggilan masuk dari Raihan dan tetap berjalan menuju perjalanan ke kos sembari terus menundukkan kepala, tetapi bola mata masih mengawasi keadaan jalanan yang ada di sekitarnya.Ia harus bisa menghindari kerumunan pria lalu mendengar semua panggilan namanya dari suara pria yang sangat dikenal olehnya.“Tuan muda Anthonius! Berhenti, Tuan muda!” teriak Raihan.Anthonius terus melangkah dan berpura-pura tidak mendengar panggilan namanya berulang kali. Ia mendengar suara klakson sangat keras dan kebisingan yang menegur seseorang menyebrang jalan raya.Ia tidak pulang ke kos malah berlari ke arah lain dengan sekuat tenaga untuk menghindari gerombolan anak buah ayahnya. Anthonius tidak ingin tertangkap dan terjebak dalam rayuan tangan kanan ayahnya yang telah mengasuhnya sejak masih kecil.Anthonius memasuki sebuah bangunan kosong yang bersih dan bersembunyi di balik meja resepsionis sambil bersandar. Suara langkah kaki berlarian dan meminta semuanya berpencar untuk

  • Pembalasan Menantu Lemah   9. Hampir Ketahuan

    ”Diam kau!” bentak pria berkulit putih dan berkumis tipis.‘Mereka adalah rekan sekolahku di SMA dan mereka suka mengganggu dan merundung anak-anak yang gak punya harta berlebih dan dua pria yang ada di belakang pria berkumis tipis adalah anak dari anggota dewan. Mereka semena-mena terhadap siapapun yang tidak memiliki harta berlebih. Mereka juga pernah melecehkan perempuan dan tidak dijebloskan penjara dengan alasan masih di bawah umur, tetapi menurutku mereka sudah tidak dibawah umur, melainkan usianya sudah bisa membedakan antara baik dan buruk. Nama pria yang sok kaya, bermata sipit dan berkumis tipis adalah Akbar Jumaidi, pria berambut keriting bernama Hilmi Stohler dan pria berambut lurus, cepak dan hampir botak bernama Antonio Kohle,’ beber Anthonius dengan intonasi penekanan.“Ini adalah tempat umum dan seharusnya kalian para pria bisa membedakan tempat yang pantas untuk melakukan perundungan atau tidak. Jika kalian lakukan di sini maka kupastikan kalian tidak akan pernah mela

  • Pembalasan Menantu Lemah   8. Mempermalukan Rekan Sekolah

    “Tidak perlu begitu. Kamu lakukan yang menurutmu, aku gak bisa mengatasinya dan kamu jauh lebih tahu daripada aku. Kita saling membantu, kalau kamu mau mengendalikanku, kendalikan agar masalahmu juga terselesaikan, tapi jangan pernah menyebutkan namamu di depan orang yang mengenalmu karena mereka tahu bahwa kamu telah meninggal dan aku juga akan melakukan yang harus aku selesaikan,” jawab Anthonius dengan santai.‘Oke, sepakat,’ jawab Adrian.“Oke, sepakat,” balas Anthonius santai.Waktu pengingat Anthonius berdering dengan keras, lama dan panjang. Ia melihat waktu pengingat di layar ponsel dan menunjukkan bahwa waktunya mengikuti kelas berbisnis digital.“Kamu diam saat aku mengikuti kelas berbisnis digital dan jangan berisik di dalam sana,” ucap Anthonius dengan intonasi penekanan.Anthonius memberikan kalimat penegasan kepada Adrian yang selalu ikut campur saat ada sesuatu yang membuatnya kesal.Anthonius mengikuti kelas bisnis digital selama 1,5 jam dan mendapatkan ilmu yang sanga

  • Pembalasan Menantu Lemah   7. Berbagi Pengalaman

    Anthonius berpikir bahwa kakek berambut putih itu adalah mantan pelari marathon sehingga langkahnya cepat dan cepat menjauh darinya, padahal ia ingin memeriksa keadaan kakek itu.‘Dasar bodoh. Untung saja, kepala kakek itu gak terbentur batu yang ada di sisi kirimu dan dia malah memastikan kamu baik-baik saja dan meminta maaf kepadamu. Kamu jadi orang sangat lemot sampai berdiri pun lama banget,’ ngomel Adrian dalam tubuhnya.“Berisik, kamu!” sentak Anthonius sambil mengernyitkan dahi.“Kamu bicara sama siapa, Nak? siapa yang mengganggumu?” sahut seorang wanita tua yang rambutnya diikat penuh, berpakaian lengan panjang dengan intonasi penekanan.“Maaf, Nek. Saya … hanya belajar akting saja,” jawab Anthonius secepat kilat.“Kalau belajar akting, lebih baik di dalam rumah aja daripada di luar agar tidak dianggap gila oleh banyak orang jika ada yang melihatmu seperti itu,” saran wanita tua itu.“Baik, Nek,” balas Anthonius sambil tersenyum lebar dan mengangguk sekilas.Anthonius melangka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status