MasukSiang Semua ( ╹▽╹ ) Akhirnya Pengajuan KPR othor diterima BCA (≧▽≦) Terima kasih atas doa dan dukungannya (◍•ᴗ•◍)
Sunyi total.Bukan sunyi yang nyaman. Ini sunyi yang menghantam seperti tembok batu, mendadak dan keras, membungkam seisi arena dalam satu waktu.Ribuan pasang mata berpaling ke satu arah.Ke sosok yang berdiri tegak di atas arena batu biru, dengan darah yang belum sepenuhnya mengering di sudut bajunya.Ryan Pendragon.Pemuda itu baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak ada seorang pun menyangka akan didengarnya hari ini.Tetua Brock adalah orang pertama yang bersuara.Alisnya naik satu kali, lalu kembali datar. Ia menatap Ryan sambil menggenggam tongkat lebih erat di belakang punggung."Kau yakin?" Suaranya bergema tenang ke seluruh arena. "Kau harus paham konsekuensinya." "Jika kau gagal dalam tantangan ini, posisi ketigamu akan hilang. Zach Swiftgale yang akan mengisi tempat itu."Dalam hati, pria kekar tua itu menahan sesuatu yang nyaris menjadi senyum.'Kalau Ryan nekat dan kalah
Zach mengumpulkan sisa Hukum Angin ke dalam kedua telapak tangannya dan menghantam ke depan.Kecepatannya bahkan melampaui sebelumnya.Serangan itu hampir sempurna.Hampir.Tepat saat telapak Zach menyentuh dadanya, tubuh Ryan sedikit miring. Bukan menghindari, melainkan menggeser sudut tumbukan beberapa sentimeter, cukup agar kekuatan yang masuk tidak langsung frontal.Pada detik yang sama, Esensi Pedang Abadi meledak dari ujung pedangnya, menghujam tepat ke posisi yang akan ditempati Zach sepersekian detik ke depan.SYIIING!Jeritan pedang itu membelah udara. Tajam. Menusuk.Ryan menggumam pelan, hampir tidak terdengar di tengah keributan arena."Gao Abadi, turun!"Energi Gao dan Esensi Pedang Abadi bertemu di satu titik di udara.Kuning keemasan dan keperakan melebur bersama dalam kilatan yang menyilaukan seluruh arena. Sifat paling Yang di antara semua energi ya
Debu dari serangan terakhir Zach Swiftgale belum benar-benar mereda. Ryan menarik pedangnya mundur setengah langkah, membiarkan sebagian besar tembakan telapak itu melewati celah di sisi kanannya. Sisanya yang tidak bisa dihindari, dia belokkan dengan tebasan cepat. Bukan tebasan penuh. Cukup untuk mengalihkan arah serangan, tidak lebih. Dari luar, itu terlihat persis seperti orang kelelahan yang mencoba bertahan dari banjir serangan tanpa henti. Zach mengerutkan kening. Ada yang tidak beres, dan insting kultivaktornya tidak bisa mengabaikannya. Bukan soal apakah Ryan kuat atau tidak. Dia sudah membuktikannya sendiri bahwa murid Sekte Moon Flower itu berbahaya. Tapi waktu menghadapi Yakou Zedd, Ryan tidak pernah sekadar bertahan. Setiap kekurangan kecepatan dia tutup dengan kekuatan serangan yang jauh melampaui lawannya. Efisien. Mematikan. Tanpa ruang untuk lawan bernapas. Tapi sekarang? Dengan serangan yang belum sepenuhnya diperlambat, Ryan justru terus mundur. Zach
Ryan menimbang hal itu selama beberapa langkah. "Masalahnya, lawanku bukan orang lemah." "Wakil Keluarga Swiftgale yang masuk babak ini sudah terbukti menguasai hukum alam." "Kalau aku terlalu setengah-setengah, justru aku yang menanggung luka lebih dalam dari yang direncanakan." "Hmph!" Dengus itu kali ini lebih nyaring, hampir terdengar seperti tawa meremehkan. "Dengan Divine Immortal Body, Enam Dao, Energi Gao, dan hukum yang sudah kau kuasai, belum lagi Pedang Iblis Darah dan semua kemampuannya, kau masih khawatir terluka parah oleh lawan yang levelnya berada di bawahmu?" "Jika hal sepele seperti itu saja bisa menggagalkanmu, lebih baik kau putar balik sekarang, pulang ke Sekte Moon Flower, dan lupakan semua ini." Ryan menahan tawa dalam hati. Divine God Beast Tamer tidak sepenuhnya salah. Yang diperlukan bukan kekuatan penuh, hanya kendali yang tepat. Menampilkan celah tanpa benar-benar membiarkan lawan memanfaatkannya. Itu bukan hal yang sulit. Ryan melangkah naik k
Ryan baru mengambil satu langkah menuju arena ketika suara Mervin Lux terdengar dari belakangnya. "Ryan." Langkah itu berhenti. Ryan menoleh. Mervin terbaring setengah duduk di pinggir Arena, tubuhnya disangga oleh seseorang dari sekte. Wajahnya sepucat abu, bibirnya mengering dari darah yang sudah mulai membeku. Tangan kirinya yang tulangnya hancur tergeletak di samping tubuhnya, tidak bergerak. Tapi kedua matanya terbuka penuh, menatap tepat ke arah Ryan dengan tatapan yang tidak meminta dan tidak memohon. Hanya menuntut. Tulang rahangnya masih mengeras di bawah kulit yang pucat itu, bahkan dalam kondisi seperti ini. "Aku sudah mempermalukan sekte." Suaranya serak seperti batu yang saling bergesekan. "Kau harus menang." Ryan menatapnya diam selama dua detik. Lalu sudut bibirnya terangkat sedikit. "Tentu saja." Dia berbalik. Langkahnya kembali bergerak ke depan, pelan namun tidak pernah ragu. Dan sebelum jarak di antara mereka terlalu jauh untuk didengar, suaranya meng
Lantai di luar arena mengalami retak-retak panjang, menganga ke segala arah seperti jaring laba-laba raksasa yang ditarik dari satu pusat ke seluruh penjuru.Ketika cahaya itu perlahan mereda, yang tersisa adalah pemandangan yang membuat tribun membisu.Seluruh arena sudah berubah merah membara seperti lava yang baru mengering. Permukaan yang tadinya keras dan dingin kini retak-retak dan bercahaya dari dalam, memancarkan panas yang bisa dirasakan bahkan dari sisi tribun. Satu-satunya titik yang masih berwarna biru pucat hanyalah area kecil di sekitar kaki Mervin Lux yang masih berdiri.Asap hijau mengepul dari seluruh permukaan tubuhnya. Wajahnya pucat pasi. Tapi pedangnya masih menunjuk ke atas, ke arah Calder Sanctum yang melayang di langit.Calder berdiri di udara dengan tangan kanan masih terangkat. Sarung tangannya yang dibalut api keemasan kini berwarna merah tua, dan dari celah-celah jarinya, darah me
"Siapa kau?!" seorang praktisi Guild Round Table membentak dengan berani. "Ini wilayah Keluarga Pendragon!" Lambert Shark tersenyum sambil memegang pedang di tangannya. Dia berkata dengan acuh tak acuh, "Lalu mengapa jika kalian Keluarga Pendragon? Aku sudah membunuh Ryan Pendragon, jadi apakah m
Beberapa jam kemudian, di sebuah hotel mewah di Silverbrook, Ryan membuka mata mengakhiri kultivasinya. Naga darah yang tadinya melayang di atas kepalanya kini telah kembali ke dalam tubuhnya. Sambil meregangkan tubuh, dia merasakan kehadiran seseorang di luar pintu. John Lux rupanya telah menu
Calvin Robert bangkit berdiri, matanya menatap tajam ke arah petir yang mengamuk di selatan. Bahkan dia yang begitu kuat pun merasa ngeri melihat skala bencana petir ini. "Tetua Zhu, Anda tahu betul Nexopolis," ujarnya serius. "Lihatlah peta dan tentukan di mana petir Ilahi itu berada. Kita harus
"Ryan," Waver Jorge akhirnya berkata dengan hati-hati, "mari kita akhiri masalah ini di sini. Kamu tidak mengerti beberapa hal tentang Gunung Langit Biru. Jika orang-orang penting itu mengetahui hal ini, konsekuensinya akan tak terbayangkan." "Ryan, tolong dengarkan Paman dan berhenti." Namun Ryan







