LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu, Kak Alberth Abraham Parinussa, Kak Pengunjung5804, Kak Patricia Inge, Kak Lola Ayu, dan Kak Recky Roger atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Sendy Zen atas hadiah Kopi dan Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih juga kepada para pembaca yang telah mendukun novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Jumlah akumulasi Koin masih kurang 175 koin lagi untuk bab bonus hadiah, jadi ini bab terakhir hari ini. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Kellan Cook dan Cedric Ember menatap Ryan Pendragon dengan bola mata yang bergetar.Apa yang barusan terjadi?Pikiran keduanya seolah berhenti bekerja.Ryan mengalahkan Magnus Terran?Bukan hanya mengalahkannya. Pemuda itu menang dalam adu kekuatan tubuh secara langsung, bidang yang selama ini menjadi kebanggaan Magnus. Yang lebih sulit dipercaya, Ryan hanya memakai satu serangan. Padahal tingkat kultivasinya tampak baru berada di Ranah Creation.Saat ini, telapak Magnus berlumuran darah. Tulang-tulang di dalamnya hancur berkeping-keping, dan jemarinya terkulai ke arah yang tidak wajar. Tangan besar yang tadi terlihat seperti dicetak dari besi kini menggantung lemas di sisi tubuhnya.Magnus mengerang rendah.Mata Ryan sedikit berkilat.Harus diakui, bakat tubuh lelaki ini memang luar biasa. Ketahanannya jauh melampaui Lucian Zeth. Tenaga yang Ryan pakai barusan tidak jauh berbeda dari tenaga yang ia gunakan untuk menumbangkan Lucian di kantin.Namun hasilnya sama sekali berbeda.Lu
Kellan Cook memasang wajah seperti orang yang sedang menikmati pertunjukan menarik.Persis seperti dugaannya, begitu dipancing sedikit, lelaki dari tanah tandus itu langsung bersungguh-sungguh. Magnus Terran memang mudah terbakar, tetapi justru karena itulah ia berguna pada saat seperti ini.Kali ini, sehebat apa pun keberuntungan Ryan Pendragon, mustahil pemuda itu bisa menahan telapak Magnus.Namun Cedric Ember justru menyipitkan mata.Ia menangkap sesuatu yang terasa janggal.Ketika Magnus menyerang untuk kedua kalinya dengan tenaga yang jauh lebih besar, wajah Ryan sama sekali tidak berubah. Tidak ada ketakutan, tidak ada ketegangan, bahkan tidak ada niat untuk menghindar. Pemuda itu malah tersenyum tipis, dan di matanya ada kilatan bersemangat yang sulit disembunyikan.‘Ada apa dengan bocah ini?’Kultivator Ranah Creation biasa seharusnya sudah gemetar hanya karena merasakan tekanan serangan itu. Telapak Magnus bukan sekadar serangan fisik. Di dalamnya tersimpan kekuatan yang
Ketiganya sempat tertegun mendengar ucapan Ryan Pendragon.Namun sesaat kemudian, bahu mereka melemas, dan senyum mengejek muncul di wajah masing-masing.Tadinya, mereka sempat curiga Ryan menyimpan kartu aneh yang tidak mereka ketahui. Bagaimanapun, menahan tepisan Magnus Terran bukan sesuatu yang bisa dilakukan sembarang orang. Setidaknya, untuk seorang murid tahun pertama Ranah Creation, hal itu terlalu tidak masuk akal.Akan tetapi, kecurigaan itu langsung buyar.Ternyata bocah ini hanya bersandar pada nama Departemen Penegak Hukum.Bagi mereka, kalimat seperti itu sama saja dengan pengakuan kalah. Kultivator kuat mana yang menyeret nama para pengajar dan Departemen Penegak Hukum untuk menekan lawan sebelum bertarung? Itu jelas kelakuan orang lemah yang tidak punya keyakinan pada tenaganya sendiri.Magnus mendengus dingin.Sejak tadi, ia masih memikirkan bagaimana tangannya bis
Namun belum sampai satu tarikan napas, keterkejutan di wajah Kellan Cook, Magnus Terran, dan Cedric Ember berubah menjadi ejekan. Bocah ini benar-benar tolol. Kecepatan Ryan Pendragon memang mengerikan. Saking cepatnya, Kellan sempat merasa bahwa penilaiannya terhadap murid tahun pertama itu mungkin keliru. Kecepatan seperti itu jarang terlihat, bahkan di antara Kultivator Ranah Star Seed. Sayangnya, tindakan Ryan berikutnya hampir membuat mereka tertawa. Pemuda itu tidak memakai keunggulan kecepatannya untuk memutari Magnus. Ia juga tidak memakainya untuk mundur dan menjaga jarak. Sebaliknya, Ryan justru mengangkat tangannya sendiri untuk menahan telapak Magnus Terran secara langsung. Sepasang mata segitiga Kellan langsung berkilat senang. Ia sudah tidak sabar melihat tangan Ryan remuk di bawah cengkeraman Magnus. 'Apakah hati Dao bocah itu juga akan hancur begitu ia sadar jurang kekuatan di antara kalian?' Membayangkannya saja membuat dada Kellan terasa hangat. Menghant
Ketiganya menatap punggung Ryan Pendragon yang semakin menjauh. Wajah mereka mengeras satu per satu. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Sikap Ryan barusan sama sekali tidak menyisakan rasa hormat kepada mereka. Tiga murid tahun kedua Ranah Star Seed sudah menyapanya dengan cukup jelas, tetapi pemuda itu bahkan tidak mau mendengar isi pembicaraan mereka. Kapan mereka pernah diperlakukan seperti ini oleh seseorang yang tingkat kultivasinya jauh di bawah mereka? Mereka adalah murid Akademi Heavenly Flame. Di seluruh Benua Valorisia, nama mereka termasuk bersinar terang di antara para genius. Namun sekarang, mereka justru dipandang sebelah mata oleh murid tahun pertama Ranah Creation. Penghinaan seperti itu tidak bisa diterima. Di antara mereka bertiga, Magnus Terran adalah orang yang paling mudah tersulut. Dulu, tidak lama setelah masuk Akademi Heavenly Flame, Magnus pernah terlibat adu mulut dengan seorang murid. Perselisihan kecil itu berakhir dengan lawannya terkapar, tulang
“Api Naga Bumi Nine Origin?” Kultivator berbadan kekar itu langsung menoleh. Matanya membelalak, dan napasnya terasa lebih berat. “Bukankah itu benda yang sedang kita butuhkan? Poin kontribusi kita bertiga digabung pun belum cukup untuk menebus satu saja. Bagaimana mungkin bocah itu bisa mendapatkannya?” “Aku tidak tahu.” Kultivator berwajah pucat meliriknya sekilas, lalu menjawab dengan nada datar. “Tapi soal benda bersifat api, aku tidak pernah salah lihat.” “Aku percaya pada penilaian Kakak Ember,” ujar kultivator berjubah hijau sambil tersenyum. Saat mengatakan itu, pandangannya mengikuti arah kepergian Ryan Pendragon. Kilatan tipis melintas di mata segitiganya. “Sepertinya kita perlu mengajak adik seperguruan Ranah Creation itu berbincang sebentar. Siapa tahu dia bersedia meminjamkan Api Naga Bumi Nine Origin miliknya kepada kita lebih dulu.” Senyumnya tetap ramah, tetapi nada di baliknya tidak menyisakan banyak ruang untuk menolak. “Kalau tidak, urusan yang itu akan mer







