LOGINSiang Semua ( ╹▽╹ ) ini bab pertama siang ini. Selamat membaca (◠‿・)—☆
Raungan itu mengoyak seluruh lembah. Dari celah debu yang terbelah, kepala raksasa dengan rahang terbuka lebar muncul lebih dulu, diikuti badan yang terus mengembang semakin besar, semakin panjang, memenuhi arena yang sudah porak-poranda. Naga Darah. Panjangnya tidak bisa langsung dihitung dengan mata. Seluruh tubuhnya memancar merah darah yang berdenyut seperti jantung yang berdetak terlalu cepat. Dari sekitar tubuhnya, sisa energi iblis dari bilah raksasa tadi masih mengepul pekat. Naga itu telah menelan bilah iblis raksasa itu. Bulat. "I... ini..." Yuriel mundur setengah langkah. Untuk kedua kalinya hari ini, kakinya bergerak ke belakang tanpa menunggu perintah dari pikirannya. BOOOMMM! Naga Darah menukik lurus ke arah Patung Seratus Binatang yang masih berdiri di tengah lembah. Benturannya mengirimkan getaran ke seluruh permukaan tanah sekaligus, dan semua orang yang berdiri di sana terpaksa mencengkeram apa pun yang bisa dijangkau agar tidak terpelanting. Debu menge
Liontin giok itu melesat keluar dari balik baju Ryan. Dalam hitungan detik, benda kecil itu meledak menjadi perisai raksasa yang mengembang di antara Ryan dan senjata maut yang meluncur dari langit. Bilah iblis menghantam permukaan perisai dengan tenaga penuh. KRAAAK! Perisai bertahan. Bilah berhenti. Jarak antara ujungnya dan tubuh Ryan hanya selebar satu jari. Di atas tebing, darah menyembur dari bibir Yuriel Leviathan sebelum ia sempat menahan diri. Pfft! Serangan balik. Sambungan antara dirinya dan teknik yang ia kendalikan putus paksa, dan harganya ditagih langsung dari dalam tubuhnya sendiri. Tulang-tulangnya seperti ditekan dari dalam. Napasnya tersengal. Matanya melebar menatap perisai itu. Dia kenal benda ini. 'Itu... liontin yang pernah kuberikan kepada Shirly.' Tangannya mengepal. Shirly dan Rindy sudah ia awasi ketat dari jarak dekat. Tidak ada celah bagi mereka untuk mendekati Ryan. Lalu bagaimana liontin itu bisa berakhir di tangan bocah itu? Yuriel me
Orang tua berjubah putih itu merasakan sesuatu yang tidak beres dan melirik ke arah tebing.Sudah cukup jelas baginya bahwa seseorang dari Istana Roh Abadi sedang menyerang Ryan. Tapi ia memilih tidak bertindak. Pasti ada alasan di balik langkah Istana Roh Abadi. Yuriel tidak pernah bergerak tanpa perhitungan yang matang, dan sekte yang sudah bertindak jarang bisa dihentikan dengan mudah tanpa harga yang lebih besar dari yang sepadan.Kalau ia ikut campur sekarang, urusannya hanya akan menjadi jauh lebih rumit dari yang perlu.Jadi ia memilih tetap di tempatnya.**Ryan menatap energi iblis yang menggeliat di udara, matanya menyempit. Aura ini bukan milik Cade Aurin.'Ada yang mengendalikan ini dari belakang.'Sebelum ia selesai menganalisis, energi iblis itu bertransformasi menjadi ribuan anak panah yang menutupi langit. Semuanya meluncur deras ke arahnya sekaligus.Kekua
"Aku mengakui kekalahan!"Suara Cade Aurin meledak dari dalam lubang, tidak menyisakan satu pun sisa keangkuhan yang tadi terpancar dari setiap pori tubuhnya."Aku akan menyerahkan esensi darahku! Jangan bunuh aku!"Matanya bergerak liar. "Kau tidak bisa membunuhku! Aku genius terkuat Klan Unicorn Naga, kalau kau membunuhku kau berhadapan dengan seluruh klan!"Ryan menatapnya dari bibir lubang dengan senyum tipis yang tidak hangat."Kau lupa?" Suaranya datar. "Taruhan kita bukan soal esensi darah. Yang dipertaruhkan adalah nyawa. Dan sekarang kau meminta pengampunan?"Cade gemetar.Rahangnya terkunci. Matanya membaca wajah Ryan, dan apa yang dibacanya membuat tubuhnya yang sudah hancur itu semakin berat.Tidak ada ragu di sana, tidak ada celah untuk berdebat.Kepanikan memuncak."Senior! Tolong beri aku kekuatan! Yu..."Mulutnya terbuka, hendak menyebut nama seseorang.WUUUMM!
Kabut hitam Cade Aurin yang memenuhi seluruh barrier itu meleleh sekaligus, seperti salju di atas bara yang sudah terlalu panas. Domain yang belum matang itu bergetar keras di bawah benturan cahaya emas, retak di tepinya, dan dalam satu detik strukturnya runtuh seluruhnya. Kisi seratus tebasan Cade beradu langsung dengan tebasan tunggal Ryan. BOOOOMM! Ledakan cahaya emas dan hitam memenuhi seluruh ruang dalam barrier sekaligus. Getarannya merambat keluar menembus dinding barrier bahkan dengan semua penopang yang sudah Ketua Aliansi pasang, dan seluruh tebing di sekeliling lembah bergetar tipis satu kali. Semua orang di luar area itu mundur setengah langkah bersamaan saat gelombang aura bocor keluar. Sulit dibayangkan ini adalah benturan antara dua kultivator yang bahkan belum mencapai Ranah Creation. Debu mengembang. Cahaya memudar. Barrier masih berdiri. Di luar barrier, tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang bergerak. Napas-napas ditahan, mata-mata terbuka lebar, dan
"Seseorang ingin dia mati." Kata-kata itu masih bergema ketika Ryan sudah tahu jawabannya. Yuriel Leviathan. Siapa lagi yang punya alasan ingin melihatnya mati secara menyakitkan? Siapa lagi yang punya akses sekaligus posisi untuk membantu seseorang seperti Cade Aurin secara diam-diam? Dan siapa lagi yang cukup dendam untuk repot-repot menyiapkan ini semua? Tapi bukan sekarang waktunya untuk berpikir panjang tentang itu. Ryan menggerakkan tangannya. Sebuah pedang panjang muncul dalam genggamannya. Bukan Pedang Iblis Darah. Orang di depannya tidak layak mati oleh bilah itu. Tapi golok ini sudah lebih dari cukup. Cade Aurin menatap pedang itu. Satu kerutannya yang singkat muncul di antara alisnya. Selama ini yang ia dengar adalah Ryan bertarung dengan kepalan kosong dan mengandalkan kekuatan fisik. Kenapa sekarang senjata? Tidak ada waktu untuk mempertanyakannya lebih lama dari itu. Di belakang Cade, bayangan merah darah mengembang perlahan membentuk siluet Unicor
Ryan mengangkat tangannya sedikit dengan gerakan yang tenang. Secara ajaib, energi darah tampak membeku di udara, dan mata air spiritual yang mengalir di bawah pohon-pohon suci juga berhenti tiba-tiba, seolah-olah waktu telah berhenti bergerak maju. Dengan sedikit gerakan jari-jarinya yang elega
"Baiklah, aku bisa memberitahumu karena kau akan segera mati." Mata Monica berkilat dingin saat melanjutkan, "Namaku Monica Mouren. Kultivator dari zaman kuno!"Begitu kata-kata terakhir itu terucap, gelombang kejut dahsyat meletus dari tubuhnya, menghantam Pedang Spirit Blood dengan kek
Pak Tua Ludwig–sang Kakak pertama yang memiliki wajah bijak itu menatap Ryan dengan sorot mata yang penuh perhitungan dan berkata, "Anak ini benar-benar anomali. Kalian tidak bisa memperlakukannya seperti kultivator normal!" "Karena dia berhasil membunuh Saudara Keempat, kekuatannya seharusnya seta
Ryan dan Monica kemudian kembali ke tempat semula. Monica menghampiri Luna Pendragon yang masih terbaring lemah, lalu membentuk segel tangan yang rumit. Cahaya reinkarnasi yang lembut mengelilingi telapak tangannya. Setelah itu, Monica menyentuh kening Luna Pendragon dengan cahaya yang menyilau







