LOGINini bab kedua siang ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Langit sudah gelap total ketika Ryan Pendragon akhirnya menghentikan langkahnya.Di hadapannya, perkemahan milik Divine Palace berdiri seperti kota kecil yang tidak pernah tidur. Lentera-lentera menggantung di tiap sudut, menerangi tenda-tenda yang berderet rapi sampai ke dalam. Penjaga berpatroli dengan langkah santai, mengobrol pelan, sesekali tertawa kecil di antara mereka. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang waspada.Wajar.Myriad Sword Palace terkurung di balik formasi perlindungan mereka sendiri, tersekap dari dalam seperti orang yang mengunci pintu rumahnya sendiri karena takut perampok. Tidak ada yang akan repot-repot menyerang dari luar. Untuk apa? Siapa yang cukup bodoh untuk berjalan sendirian ke depan gerbang musuh di tengah malam?Tidak ada yang waras.Ryan menyipitkan mata, mengukur jarak ke gerbang. Formasi terlarang di area ini memang menekan semua orang tanpa terkecuali, termasuk dirinya. Tapi justru itu masalahnya buat mereka. Lawannya jauh lebih tinggi di
BOOM! BOOM! BOOM!Pertarungan itu tidak seimbang dari detik pertama. Sepuluh kultivator Creation menyerang dari berbagai sudut sekaligus, tidak memberikan ruang untuk bernapas, tidak memberikan celah untuk memfokuskan serangan ke satu titik yang bisa dieksploitasi. Jason Klean bergerak di antara mereka seperti seseorang yang sudah memutuskan tidak akan membiarkan dirinya dihabisi tanpa harga yang sepadan.Satu kultivator Ranah Creation dari Divine Palace terlambat menghindar dari sapuan pedang Jason Klean yang tidak peduli dengan pertahanannya sendiri. Pedang itu masuk dari sisi kiri, menembus baju besi, keluar di sisi kanan. Kultivator itu ambruk dengan lubang menganga di dadanya dan tidak bangkit lagi."BUNUH DIA!"Kultivator Ranah Creation tingkat enam dari Divine Palace melepaskan serangan yang tidak memberikan arah untuk dihindari. Jason Klean menerima sebagian dampaknya, darah menyembur dari punggungnya di mana pedang lawan menyayat melewati pertahanannya.Lututnya menyentuh
"Semua orang, bersiap untuk evakuasi!"Tetua Nox sudah setengah berdiri dari posisinya ketika suara itu datang dari arah pintu masuk markas."Tetua Nox, jangan khawatir. Ini aku."Ruangan yang tadi sudah bergerak ke mode siaga berhenti serentak. Kepala-kepala berpaling ke satu arah.Ryan berdiri di ambang pintu aula utama.Kondisinya tidak prima. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh di beberapa bagian yang terlihat, pakaiannya compang-camping di beberapa tempat, dan auranya yang sudah kembali ke Primordial Chaos terasa jauh lebih tipis dari terakhir kali dia ada di sana. Tapi dia berdiri tegak. Dia ada. Dan di belakangnya, seorang pria tua dengan botol labu anggur di tangan berdiri dengan postur seseorang yang sedang mampir santai di sore hari, seolah tidak ada yang terjadi sama sekali.Tetua Nox menatap Harold Guard satu kali, matanya menimbang sebentar, lalu menoleh ke Ryan tanpa mengajukan pertan
Harold Guard berjalan keluar dari gelap, labu anggur di tangannya, langkahnya goyah seperti biasa. Dia berdiri di antara Ryan dan Tetua Fang tanpa mengubah postur atau ekspresinya sedikit pun.Tetua Fang menatap pria tua itu."Siapa kau? Kau tahu ini wilayah Klan Laut? Ikut campur dalam urusan ini, dan kau akan menyesal sampai akhir hayatmu."Harold Guard menoleh ke Ryan satu kali, memastikan kondisinya. Matanya sebentar saja melihat luka di sudut bibir Ryan dan darah di lantai sebelum kembali menghadap Tetua Fang."Sebetulnya," katanya, labu anggurnya terangkat ke mulutnya untuk satu tegukan panjang, "aku yang membawa anak itu kemari untuk mengambil Kristal Ungu Surgawi. Kalau dipikir, ini salahku juga."Dia menurunkan labu anggurnya."Tapi karena aku tidak mau berurusan lebih jauh, lebih baik kau pergi saja.""BERANI KAU—"Setetes anggur keluar dari mulut labu. Bukan dituang, buka
Ryan mengangguk pelan ke arah Marsh Quinn tanpa berkata apa-apa. Dia melirik sekeliling. Tetua Fang berdiri di posisinya dengan mata yang tidak bergerak dari tubuh Ryan, menunggu momen yang tepat dengan sabar. Dari caranya berdiri, jelas dia tidak akan membiarkan Ryan keluar dari ruang ini tanpa melewatinya dulu. 'Melarikan diri bukan pilihan selama Tetua Fang di sini.' Ryan menghela napas singkat. Di depannya, Marsh Quinn dan Davan Quinn sudah bergerak. Ledakan energi dari pertempuran mereka menggetarkan seluruh area bawah penjara es, gelombang demi gelombang menekan ke segala arah bergantian. Tapi Ryan tidak punya kemewahan untuk mengamati pertempuran itu lebih dari satu detik. "MANUSIA LEMAH!" Tetua Fang melesat ke depan. Kemarahannya sudah melewati titik yang bisa dikontrol dengan akal sehat. Leon Frey mati di tangannya. Formasi penyegelnya diangkat dan dilempar balik ke kerumunannya sendiri. Ledakan Seribu Artefak melukainya dua kali. Setiap satu dari itu ada
Tidak ada waktu untuk berhenti. Tangannya merogoh cincin penyimpanannya. Sepuluh artefak tingkat Dao Integration dan dua artefak tingkat ruang-waktu keluar bersamaan, melayang di udara membentuk pola yang sudah pernah dipakai sebelumnya. Senyum tipis muncul di bibirnya. Ironis, tapi tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari ini. "Ledakan Seribu Artefak." WENG! Artefak-artefak itu mulai bergetar dengan frekuensi yang membuat air di sekitar mereka berguncang. Pusaran terbentuk dari setiap artefak, saling memperkuat satu sama lain sampai resonansi gabungan mereka melampaui jumlah masing-masing bagiannya. BOOM! Ledakan merobek seluruh area bawah penjara es dalam satu gelombang yang tidak membeda-bedakan apa yang berdiri di jalurnya. Kultivator Klan Laut yang sudah mulai berkumpul kembali dari kekacauan formasi tadi terlempar ulang. Beberapa tidak bangkit lagi. Air yang memenuhi area itu bergolak membentuk pusaran yang menarik ke bawah siapapun yang tidak cukup kuat untuk
Venerable Immortal Yuriel Leviathan sengaja menceritakan semuanya dengan detail yang menakutkan. Dia ingin melihat reaksi Rindy Snowfield dan Shirly Jirk ketika menyadari betapa hopelessnya situasi Ryan, serta bagaimana mereka akan memilih antara cinta dan keselamatan diri.Mendengar kata-kata yan
"Kakek tua bangka," ucap Ryan dengan suara yang terdengar berbeda—lebih dalam dan bergema, "apakah kau benar-benar pikir aku akan kalah dari orang rendahan sepertimu?""Pergi sana dan mati!" teriaknya dengan dominan.Beberapa saat kemudian, sebuah bercak darah yang pekat muncul
Di kejauhan yang aman, para Tetua Agung dari Sekte Demon Blade dan Sekte Sky Sword telah mundur dengan bijak ke sebuah paviliun megah, menyaksikan pemandangan brutal dengan tenang sambil menunggu kesempatan terbaik untuk menyerang.Para penonton biasa di kejauhan sudah berhamburan ketaku
"Apakah Anda mengatakan bahwa kita harus menyingkirkan dan membunuh Ryan sekarang juga?" tanya Kepala Keluarga Liam dengan dahi berkerut, mencoba memahami maksud tersembunyi. "Tidak! Sama sekali bukan itu maksudku!" Tetua Agung Sekte Demon Blade menggelengkan kepala dengan cepat. "Ryan tidak boleh







