INICIAR SESIÓNDava hanya ingin ijazahnya berguna dan bisa lanjut S2. Tapi CEO sekelas Reinhart memintanya melakukan hal yang tak masuk akal: Menghamili istrinya sendiri, Aurelia. Wanita dengan kecantikan yang menghancurkan logika pria itu kini menjadi 'tugas' harian Dava. Namun, saat tubuh saling berpaut dan rasa mulai tumbuh, Dava sadar bahwa ia bukan sekadar pembuat ahli waris, ia adalah pria yang siap merebut sang ratu dari istana CEO-nya.
Ver más"Saudara Dava Atmajaya? Silakan masuk. Bapak CEO sudah menunggu," suara sekretaris cantik dengan rok span ketat membuyarkan lamunannya.
Dava mengerutkan kening. "CEO? Bukankah ini wawancara untuk posisi 'Management Trainee' dengan HRD?"Sekretaris itu hanya tersenyum tipis. "Pak Reinhart sendiri yang memilih berkas Anda. Silakan."
Dalam kebingungan, Dava melangkah mengikuti sekretaris itu.
Hari ini adalah pertaruhan terakhirnya.Di tas punggungnya yang sudah tipis, terselip surat tunggakan rumah sakit ayahnya dan lembar pendaftaran S2 yang hampir kedaluwarsa. Jika gagal mendapatkan pekerjaan ini, gagal pula kesempatan Dava untuk mengangkat derajat keluarganya dan melunasi hutang-hutang itu.Maka, Dava melangkah dengan jantung berdegup kencang. Lift membawanya ke lantai paling atas.
Begitu pintu terbuka, ia disambut oleh ruangan yang luas dengan pemandangan seluruh Jakarta dari balik jendela. Di tengah ruangan, duduk seorang pria dengan setelan jas tiga lapis yang tampak begitu mewah.
Reinhart. Pria itu adalah definisi kesempurnaan maskulin. Rahangnya tegas, tatapannya sedingin es, dan auranya begitu mendominasi hingga kegugupan Dava semakin terasa.
"Duduk," perintah Reinhart tanpa menoleh. Ia sibuk menatap tablet di tangannya.Dava duduk dengan kaku. "Terima kasih, Pak. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan wawancara ini-""Aku sudah membaca riwayat hidupmu," potong Reinhart cepat. Ia akhirnya mendongak, matanya menyipit menilai Dava dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Lulusan terbaik, atletis, tidak memiliki catatan kriminal, dan... sangat butuh uang. Benar?"Dava menelan ludah. "Benar, Pak. Saya juga seorang pekerja keras, Pak. Saya bersedia melakukan apa saja untuk memajukan perusahaan ini."Reinhart menyeringai. "Bagus. Karena pekerjaan ini tidak ada hubungannya dengan 'memajukan perusahaan'."Dava mengerutkan keningnya, sebuah refleks yang diutarakan atas ucapan Reinhart barusan.Reinhart berdiri, berjalan mengitari meja dan berdiri tepat di depan Dava. Ia jauh lebih tinggi dari yang terlihat di majalah."Aku tidak butuh otakmu untuk berpikir di sini. Aku punya ribuan orang untuk itu. Aku butuh fisikmu. Kesehatan reproduksimu,” jelas Reinhart.
Dava tertegun. Ia betul-betul tidak mengerti maksud pria itu."Maaf, Pak? Saya tidak mengerti."
Reinhart mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu yang membuat darah Dava seolah berhenti mengalir. "Istriku, Aurelia. Dia cantik, bukan? Kau pasti pernah melihat fotonya di berita sosialita.”“Tentu saja, Pak-”
“Aku ingin kau membuatnya hamil,” potong Reinhart. “Berikan aku ahli waris, dan aku akan membayar biaya S2-mu di kampus mana pun di dunia ini, ditambah sepuluh miliar rupiah tunai."
Dava tersentak berdiri. Rencana S2-nya… Reinhart tahu? Namun bukan itu yang terpenting sekarang."Ini gila! Bapak bercanda, kan?" tukas Dava tidak percaya.
"Aku tidak pernah bercanda soal bisnis," jawab Reinhart dingin. "Aku mandul. Keluarga besarku menuntut keturunan dalam satu tahun ini atau jabatan CEO-ku dicopot. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku butuh pria berkualitas, muda, dan 'bersih' untuk mengisi posisiku di tempat tidur."Dava mengepalkan tangannya. "Saya bukan pria bayaran, Pak! Saya datang ke sini untuk melamar kerja!""Dan ini adalah pekerjaan, Dava. Pekerjaan dengan bayaran paling tinggi yang bisa didapatkan seorang 'fresh graduate' sepertimu." Reinhart berjalan ke arah jendela kaca. "Pikirkan ayahmu yang sedang sakit. Pikirkan masa depanmu."Dava mengerjap. Dari mana pria itu tahu tentang ayahnya?
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka.Seorang wanita masuk. Waktu seolah melambat bagi Dava.Itu adalah Aurelia.Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang sangat ketat, memeluk setiap lekuk tubuhnya yang spektakuler. Pinggangnya ramping, namun pinggul dan dadanya memberikan siluet yang mampu membuat pria mana pun kehilangan akal sehat.Rambut hitamnya tergerai indah, dan bibirnya yang merah merekah sedikit terbuka saat melihat ada orang asing di ruangan suaminya.
Aurelia tidak hanya cantik, dia memiliki aura seksualitas yang alami namun elegan. Saat dia berjalan, gerakan pinggulnya menciptakan irama yang memabukkan.Mata Aurelia dengan cepat beralih ke Dava. Ia menatap Dava dari atas ke bawah, ada binar keingintahuan yang nakal di matanya. Ia mendekat, aroma parfum vanilla dan jasmine yang mahal langsung menyerbu indra penciuman Dava."Jadi..." Aurelia menyentuh lengan jas suaminya, namun matanya tetap tertuju pada Dava. "Pria ini yang kamu ceritakan itu?"Reinhart memegang bahu istrinya, namun matanya menatap Dava dengan penuh kemenangan. "Ya. Namanya Dava. Dia yang akan menjagamu dan membantumu memberikan apa yang kita inginkan."Aurelia berjalan mendekati Dava. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Dava bisa melihat betapa halusnya kulit wanita itu, dan betapa rendahnya potongan kerah bajunya yang memperlihatkan keindahan yang dicarikan setiap pria.Aurelia mengulurkan tangan, ujung jarinya dengan kuku merah panjang menyentuh dada Dava, tepat di atas jantungnya yang berdegup liar."Tampan," bisik Aurelia pelan, hampir seperti desahan. "Tapi, apakah dia cukup kuat untuk bertahan denganku, Sayang?”Dava membeku. Di satu sisi, ia merasa terhina. Namun di sisi lain, melihat Aurelia sedekat ini, mencium aromanya, dan melihat bagaimana pakaian itu hampir tidak sanggup menahan bentuk tubuhnya... sesuatu di dalam diri Dava mulai memberontak.Bagaimanapun, ia pria normal!Reinhart tersenyum tipis. "Itu tugasmu untuk mengujinya, Aurelia."Dava menatap Aurelia yang kini tersenyum penuh rahasia padanya, lalu menatap kontrak di meja.Reinhart menatap Dava kembali. "Kontraknya ada di meja. Tanda tangani sekarang, dan sore ini uang muka satu miliar akan masuk ke rekeningmu. Atau silakan keluar, dan biarkan ayahmu mati tanpa perawatan yang layak."
“A-aku harus pergi ke kampus,” ucap Dava pada Aurelia.Ketika Dava menoleh, Aurelia tengah tidur dengan napas teratur. Ah, Nyonya sudah tertidur, batin Dava.Selesai berkemas, Dava memacu mobil operasionalnya dengan kecepatan tinggi menembus kemacetan jalan. Jantungnya berpacu lebih cepat daripada putaran mesin mobil. Kemejanya yang tadi basah kini memang sudah kering, namun sensasi kulit Aurelia yang bersentuhan dengannya di bawah shower pagi tadi masih terasa nyata, seperti bekas luka yang tak terlihat.Di dalam kepalanya, suara Aurelia dan pesan-pesan cemas Sita saling beradu. Ia merasa kikuk memikirannya.Sesampainya di pelataran kampus, Dava mengerem mendadak. Ia melihat sosok gadis dengan blus cokelat muda berdiri gelisah di depan gedung fakultas. Dava keluar mobil dengan terburu-buru."Sita!" panggil Dava sambil berlari menghampirinya.Sita menoleh. Ekspresi cemas di wajahnya seketika berubah menjadi campuran antara lega dan marah. Saat Dava sampai di depannya, Sita langsu
Dava pun terbangun dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya. Ingatan tentang lensa kamera tersembunyi yang ia temukan semalam masih menghantui pikirannya. Namun, saat ia menoleh ke samping, tempat tidur itu lagi-lagi sudah kosong.Hanya ada keharuman vanilla dan jasmine yang tertinggal di bantal, serta suara gemericik air yang jatuh dari balik pintu kaca buram di sudut ruangan. Aurelia sedang mandi.Dava duduk di tepi ranjang, menatap tangannya yang sedikit gemetar. Pikirannya berperang antara rasa takut pada Reinhart dan daya tarik Aurelia yang tak tertahankan.Seharusnya ia segera pergi, kembali ke paviliunnya sebelum pelayan lain curiga. Namun, bayangan tubuh Aurelia semalam membuat kaki Dava justru melangkah ke arah kamar mandi.Ia membuka pintu kaca tersebut. Uap panas langsung menyergap wajahnya. Aurelia tersentak, ia berbalik dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian dadanya. Matanya yang jernih membelalak kaget, namun rasa terkejut itu hanya bertahan sedetik se
Layar ponsel di lantai itu akhirnya padam, menyisakan cahaya remang lampu tidur berwarna amber. Keheningan kamar itu mendadak terasa berat.Di atasnya, Aurelia tidak memberinya ruang sedikit pun untuk berpikir. Wanita itu bergerak dengan keanggunan yang mematikan, jemarinya yang lentik dan gemetar melepaskan kancing kemeja Dava satu per satu. Rasanya harga diri Dava runtuh bersamaan dengan terbukanya kancing-kancing itu."Jangan pikirkan hal lain," bisik Aurelia. Suaranya parau. "Malam ini, biarkan aku merasa hidup."Dava menatap lurus ke dalam mata Aurelia. Dava tahu dia hanyalah pria sewaan. Namun, saat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang kain, insting maskulinnya mengambil alih. Tubuh Dava yang atletis—hasil dari tahun-tahun bekerja kasar sebagai kuli panggul demi menyambung hidup—tampak begitu kontras dengan kelembutan kulit Aurelia yang seputih porselen dan terawat oleh kemewahan.Untuk pertama kalinya sejak ia menerima kontrak Reinhart, Dava tidak merasa seperti asi
Keesokan harinya, kampus pascasarjana Universitas Maju tampak berkabut. Udara segar yang ada sedikit mendinginkan kepala Dava yang terasa mendidih setelah rentetan kejadian gila beberapa hari terakhir. Ia berdiri di depan gedung fakultas dengan ransel yang terasa lebih berat, bukan karena buku-buku tebal di dalamnya, melainkan karena rahasia yang ia pikul.Dava menarik napas dalam. Tadi ia baru menjalankan kelas pertama.Hari ini adalah hari pertamanya kuliah S2. Gelar yang ia impikan sejak kecil, tiket yang seharusnya ia dapatkan dengan keringat kejujuran, kini ia beli dengan harga dirinya sendiri."Dava? Dava Atmajaya?"Suara feminin yang lembut itu membuat Dava tersentak. Ia menoleh dan seketika itu juga seluruh tubuhnya membeku. Berdiri beberapa meter darinya, seorang gadis dengan blus cokelat muda dan rambut dikuncir kuda menatapnya dengan mata yang berbinar tak percaya."Sita?" suara Dava tercekat.Sita adalah masa lalunya. Gadis yang pernah mengisi hari-harinya di masa S


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.