LOGINSeason 2 telah selesai. Terima Kasih telah menemani othor dan Ryan Pendragon selama hampir setahun ini. othor sengaja bikin open ending, agar jika banyak yang ingin sekuelnya, bisa othor buat. Sekali Lagi, terima kasih semua nya. Dan jangan lupa mampir ke novel baru othor berjudul Balas Dendam Tuan Muda Sampah: Menjadi Dokter Ilahi. Sampai Jumpa Lagi (◠‿・)—☆
Ryan menundukkan kepalanya sedikit."Terima kasih, Senior."Tanpa pertarungan dengan Heavenly Saint Cael Ironblood, ia tidak tahu kapan ia akan menemukan prinsip itu sendiri. Bukan pemahaman yang bisa datang dari membaca kitab atau mendengarkan ceramah di tempat yang nyaman. Hanya dari tubuh yang sudah tidak punya pilihan lain selain menemukan cara baru untuk bertahan hidup."Ini kemampuanmu sendiri." Cael Ironblood berdiri dengan susah payah dari dasar kawah, gerakannya berhati-hati seperti orang yang tahu setiap gerakan menguras sisa yang ada. Auranya melemah dengan cara yang terasa seperti seseorang yang sudah memutuskan bahwa sudah waktunya untuk pergi. "Aku menunggu di sini puluhan ribu tahun, dan sekarang saatnya pergi sepenuhnya."Ia berhenti sebentar."Sampaikan salamku ke Harold Guard. Dia memilih orang yang tepat."Sosoknya memudar. Bukan secara dramatis dengan cahaya yang meledak ke mana-mana. Lebih seperti salju yang mencair di bawah cahaya matahari yang tidak terburu-
BOOM!Dua kekuatan ekstrem bertabrakan, dan Ryan dihantam ke lantai batu dengan keras. Punggungnya membentuk retakan di lantai yang tidak pernah retak dalam puluhan ribu tahun sebelum ini.Ryan menggerakkan jari-jarinya perlahan, satu per satu, memeriksa apa yang masih bisa bergerak dan apa yang tidak.Sakit. Semua sakit. Tidak ada satu tulang pun di tubuhnya yang masih dalam kondisi utuh, dan ia sudah cukup yakin tentang itu tanpa perlu memeriksa lebih lanjut. Napasnya keluar tidak teratur, setiap tarikan terasa seperti menyedot udara melalui sesuatu yang sudah setengah hancur dan tidak mau memberikan jalan yang bersih.Cael Ironblood berdiri di sampingnya, menatap ke bawah dengan tatapan yang tidak sepenuhnya bisa disebut kasihan tapi juga mengandung sesuatu yang dekat ke penilaian terakhir yang belum diputuskan."Di levelmu sekarang, kau belum layak menjadi lawanku."Ia mengepalkan tinjunya sekali
Ryan menatapnya.Seseorang yang levelnya setara memintanya bertempur secara fisik murni, tanpa senjata dan tanpa teknik yang bergantung pada energi spiritual. Logikanya mengatakan itu keuntungan bagi Cael Ironblood yang jelas memiliki tubuh yang dilatih secara khusus jauh melampaui standar biasa. Tapi sesuatu yang terbentuk dari setiap pertarungan yang sudah ia lewati, dari yang menang sampai yang hampir tidak selamat, mengatakan hal yang berbeda dari logikanya.Ia tidak akan menolak permintaan seperti itu."Oke."Ryan memasukkan pedangnya ke sarungnya. Tangannya mengepal satu kali."Ayo."Mereka saling menerjang bersamaan.BOOM! BOOM! BOOM!Suara kepalan bertemu kepalan bergema di ruang besar itu seperti palu besi yang dipukulkan berulang ke landasan yang sudah tidak bisa kemana-mana, berat dan tanpa henti dan semakin cepat. Setiap benturan meninggalkan getaran di lengan Ryan yang
Pria berbaju putih itu sudah pergi. Ryan berdiri sendirian di depan gerbang Kuil Pedang Samsara, angin yang mengandung aura pedang memukul wajahnya dari arah istana tanpa berhenti satu detik pun. Tidak ada penjelasan tambahan yang diberikan. Tidak ada peta. Hanya gerbang yang terbuka dan ruang di baliknya yang menunggu langkah pertama. Ryan menekan semua yang tidak perlu ke bagian belakang pikirannya, menghela napas satu kali yang tidak terdengar ragu, dan mendorong pintu masuk dengan tangan yang sudah siap. WUSHHH! Udara di dalam berbeda dari luar. Lebih berat, mengandung tekanan yang tidak berasal dari satu sumber tapi dari setiap sudut sekaligus, seperti tempat yang sudah menyerap terlalu banyak pertarungan selama terlalu lama hingga udaranya sendiri ikut berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi sekadar udara. Di dalam, tidak ada apa-apa yang terlihat. Lantai batu putih yang tidak retak meski sudah berusia tidak terhitung. Langit-langit yang ujungnya tidak bisa ditemukan
Mereka membawa Ryan kembali ke peti mati. Tutupnya dibuka. Ryan dilempar ke dalam. Tutupnya ditutup dengan bunyi yang terdengar sangat final. Kegelapan total. Ryan mencoba mendorong tutup itu dari dalam. Tidak bergerak. Ia mengalirkan energi spiritual ke kedua tangannya dan mendorong lagi, kali ini dengan tekanan yang seharusnya lebih dari cukup untuk membobol pintu besi biasa sekalipun. Tutup itu tidak bergerak satu milimeter pun. Di dalam peti mati yang gelap itu, Ryan berbaring diam, mencoba menghitung waktu dari getaran yang melewati papan kayu di bawahnya. Tidak berhasil. 'Harold Guard, orang tua itu, apa yang sebenarnya sedang dilakukannya?' ** Ketika tutup peti mati akhirnya terbuka, cahaya yang menyambut Ryan berbeda dari cahaya hutan tadi. Lebih terang, lebih terbuka, mengandung kelembapan yang khas dari udara laut. Ia diseret keluar dan berdiri di mana mereka meletakkannya. Di bawah kakinya bukan tanah lagi tapi papan kayu yang sudah menghitam dari usia panj
lndra spiritual Ryan mengembang ke seluruh area yang ditunjuk Monyet Perang. Semuanya adalah anggota Klan Monyet Perang. Puluhan ekor bergerak di antara pepohonan, aura mereka tidak seragam tapi terpusat pada satu titik di kedalaman hutan yang tidak kelihatan dari sini. Yang terkuat di antara mereka mencapai Ranah Dao Integration, tidak lebih dari itu. 'Bisa kutangani sendiri.' Ryan turun dari bahu Monyet Perang dan melangkah ke depan. Kehadiran aura manusia di wilayah mereka sudah cukup untuk menarik perhatian tanpa perlu mengumumkan diri. Dari berbagai arah, sosok-sosok berbulu dengan tongkat kayu di tangan mulai bermunculan satu per satu, mata mereka merah darah, tubuh mereka besar dan tegap. Gerakan mereka terkoordinasi, bukan serangan sembarangan dari binatang yang takut tapi lebih menyerupai penjagaan wilayah yang sudah sering dilatih dan diulang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ryan mengaktifkan teknik penjinakan yang baru dipelajarinya, mengalirkan kekuatan ji
Ryan tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada musuh-musuhnya. Ini adalah prinsipnya. Sejak kembali dari Gunung Langit Biru, ia telah memutuskan untuk menghabisi siapapun yang berani menyinggungnya tanpa ampun. "BERANINYA KAU MEMBUNUH ANAKKU!" Raungan murka Karl Quins memecah keheningan. Dia t
Ryan menggelengkan kepalanya. Keluarga Quins masih berada di Gunung Langit Biru dan belum kembali. Dia telah meminta Eagle Squad untuk memangau bandara, kereta api, gerbang tol, dan berbagai stasiun di Provinsi Riveria. Begitu Keluarga Quins kembali, dia pasti akan menjadi orang pertama yang t
Tang San ragu sejenak. Dengan semua yang menimpanya bulan ini, ia khawatir akan ada berita buruk lain. Namun setelah beberapa saat, ia tetap mengangkat telepon itu. "Tang San di sini. Ada apa?" Tak lama kemudian, ekspresinya berubah dingin. Bibirnya bergetar saat berkata pada bawahannya, "Sesuatu
"Milikmu?" Adel terkesiap, matanya membulat tak percaya. Gedung Camelot adalah salah satu landmark Kota Riverpolis! Bangunannya seratus kali lebih megah dari kantor Golden Dragon Group. Bahkan dari luar tadi ia sudah bisa merasakan betapa pentingnya gedung ini. "Bagaimana mungkin?" bisik Adel t







