LOGINIni bab bonus hadiah sekaligus bab terakhir hari ini. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Pada saat itu, Ryan sudah tiba di depan pintu masuk Sumber Urat Spiritual.Ia sempat tertegun melihat banyaknya murid yang berkerumun di sana. Sebagian duduk bersila di atas batu sambil memejamkan mata, seolah sedang menenangkan napas. Sebagian lagi berdiri bersandar di dinding tebing, sesekali melirik ke arah pintu masuk dengan wajah tidak sabar.Semuanya menunggu.Poin kontribusi yang dibutuhkan untuk memasuki Sumber Urat Spiritual dan berkultivasi di dalamnya bisa disebut tidak masuk akal. Meski begitu, masih sebanyak ini murid yang rela datang dan menunggu giliran.Dari sini saja, Ryan sudah bisa membayangkan sepekat apa energi spiritual di dalamnya.Ia menarik napas pelan.Bahkan di luar pintu masuk, udara yang masuk ke paru-parunya terasa jauh lebih padat daripada energi spiritual di asramanya. Setiap tarikan napas seperti membawa butiran energi halus yang langsung meresap ke dalam tubuh.Ryan tidak membuang waktu.Ia melangkah menuju pintu masuk.Di depan pintu itu duduk se
Benua Valorisia teramat luas.Di negeri seluas itu, kekuatan kelas puncak bukan hanya lambang kekuatan. Mereka juga melambangkan fondasi dalam yang diwariskan turun-temurun, dengan sumber daya, teknik, dan warisan yang tidak bisa dibandingkan dengan sekte biasa. Satu keputusan dari kekuatan seperti itu bisa mengubah arah banyak kerajaan, bahkan membuat sekte kelas satu menundukkan kepala.Corwin Samian adalah genius terbaik yang dilahirkan Sekte Primordial Sword dalam ribuan tahun terakhir. Lebih dari itu, sekte tersebut sudah memilihnya sebagai calon ketua sekte berikutnya.Corwin menggeleng pelan.“Sekalipun kau tidak datang, kultivasiku hari ini memang sudah hampir selesai. Perayaan hari kelahiran keluarga kerajaan Kerajaan Nine Nether sudah dekat. Aku harus mempersiapkan diri.”“Kakak Seperguruan Samian,” Hollis Lie mengerutkan kening, “justru perkara itulah yang membuatku mencarimu. Kali ini, sepertinya
Setelah Ryan keluar dari Paviliun Moonveil, suara Quillon Wynn mendadak terdengar di dalam benaknya. “Perempuan itu punya fisik yang istimewa. Dia terlahir dengan Tubuh Iblis Bawaan. Luar biasa.” “Tubuh Iblis Bawaan?” Ryan tertegun. Bukankah tubuh seperti itu seharusnya ditempa melalui proses yang sangat panjang? Banyak kultivator iblis menghabiskan hidup untuk mengejarnya, bahkan rela menghancurkan tubuh lama demi membangun fondasi baru. Namun Selene Chase justru sudah memilikinya sejak lahir. Quillon seolah mengangguk di dalam benaknya. “Aku pun sedikit terkejut. Perempuan ini pasti punya kedudukan yang tidak biasa di Wilayah Iblis.” Nada suaranya berubah lebih dalam. “Lahir di Wilayah Iblis, tetapi mampu mendirikan Paviliun Moonveil di dalam Akademi Heavenly Flame. Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan orang biasa, apalagi kekuatan biasa.” Ryan teringat sesuatu, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu. “Mungkinkah Selene Chase ini putri Demon Emperor yang terperangkap itu?
Di dalam Paviliun Moonveil, udara terasa berat sampai menekan dada. Selene Chase menggenggam pedangnya erat. Bilah dingin itu menempel di leher Ryan Pendragon, siap menebas kapan saja. Namun Ryan hanya menatap pedang itu tanpa sedikit pun panik. ‘Justru bagus,’ pikirnya. ‘Kalau dia tidak mencabut pedang, aku tidak akan pernah bisa memastikan hubungannya dengan Demon Emperor.’ Sekarang semuanya menjadi lebih jelas. Sekalipun Selene bukan orang yang dimaksud Demon Emperor, ia tetap seseorang yang sangat peduli pada keberadaan sosok itu. Selene menatap Ryan yang tidak bergeming, lalu mengerutkan kening. “Kau tidak takut aku benar-benar membunuhmu?” Niat membunuhnya semakin pekat. “Sekalipun kau murid Akademi Heavenly Flame, akademi tidak akan berbuat apa-apa kepadaku kalau aku membunuhmu.” “Sejujurnya, Akademi Heavenly Flame bahkan tidak akan berani menyelidiki terlalu jauh.” Ryan mengepalkan tangan, dan secangkir teh muncul di telapaknya. Ia menyesapnya pelan, seolah pedang
Lina Jirk mengerucutkan bibir dengan kesal, lalu berjalan keluar dari aula. “Peraturan macam apa itu? Sekolah tidak berguna.” Namun baru beberapa langkah, ia teringat sesuatu. Lina berhenti dan berbalik menatap Eliot Lane. “Anu, boleh aku minta tolong?” tanyanya. “Apa kau punya teknik yang bisa menelusuri kejadian yang sudah lama berlalu? Aku mau yang tingkat tinggi.” Eliot mengerutkan kening. Ia tidak tahu apa yang ingin diselidiki Lina, tetapi dari tatapan gadis itu, urusannya jelas bukan hal kecil. Meski begitu, ia tidak banyak bertanya. Eliot hanya mengulurkan jari dan menyentuh kening Lina. Cahaya samar mengalir masuk. Tidak lama kemudian, wajah Lina berubah cerah. “Terima kasih. Aku pergi beberapa hari untuk menyelidiki sesuatu.” Setelah berkata begitu, Lina langsung pergi. Begitu sosok Lina lenyap, seorang pria muncul di sisi Eliot. Kalau Ryan Pendragon ada di sana, ia pasti langsung mengenalinya. Pria itu adalah Divine God Frost Sword, sosok yang dulu terluka par
“Nona Selene juga akan berangkat ke Kerajaan Nine Nether?”Dugaan Ryan Pendragon semakin mengerucut.Kerajaan Nine Nether bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang. Hanya keluarga kerajaan dari Empat Kekaisaran Agung, para kepala dari empat akademi, serta segelintir genius papan atas yang memiliki kelayakan untuk hadir.Namun Selene Chase justru bisa pergi ke sana untuk merayakan hari kelahiran Putri Kesembilan.“Iya.” Selene tersenyum penuh rahasia. “Kau pasti penasaran dengan jati diriku, kan?”Ryan menatapnya tanpa menjawab.“Sayangnya, jati diriku belum pernah kubuka kepada orang luar.”Ryan hanya bisa menghela napas dalam hati. Ketika berhadapan dengannya, wanita ini justru bertingkah seperti gadis kecil yang senang menyimpan rahasia.**Setelah selesai makan, semua orang bersiap pulang.“Ryan, tunggu sebentar.”Begitu mendengar panggilan Selene, Xander Jett dan Za







