ログインMaaf baru upload, tadi masih ada meeting
Seorang pemuda.Mungkin seusia Ryan secara penampilan, meski waktu yang ada di balik mata itu tidak bisa disebut muda dari parameter mana pun yang manusia biasa gunakan untuk mengukur usia. Rambutnya tidak rapi tapi bukan berantakan, lebih seperti seseorang yang tidak pernah menjadikan penampilannya sebagai prioritas karena ada hal lain yang lebih penting. Jubah yang tidak istimewa, tapi pada tubuh itu terasa seperti pilihan yang disengaja bukan karena tidak punya yang lebih baik. Dan di tangannya, sebuah pedang yang masih di dalam sarungnya, dipegang dengan jari yang melingkar longgar di gagangnya, cara seseorang yang tidak perlu mengeluarkannya untuk membuat siapa pun mengerti bahwa ia tahu cara menggunakannya.Tapi yang paling tidak bisa diabaikan dari semua itu adalah matanya.Dingin bukan karena membenci seseorang atau sesuatu secara spesifik. Dingin karena sudah terlalu lama berdiri di tempat yang tidak ada orang lain yang bisa mencapainya, dan sudah lama tidak menemukan ala
Saint King Lyra Crimson pernah menjadi kultivator yang namanya dikenal luas di masanya, nama yang tidak perlu dijelaskan kepada siapa pun yang hidup di zaman yang sama dengannya. Di masa mudanya, ia bukan hanya cantik, tapi seorang jenius yang tidak mudah ditemukan sekali dalam beberapa generasi. Tapi dibandingkan dengan apa yang baru saja ia saksikan dari seorang pemuda di depannya, ada jarak yang tidak bisa ditutup hanya dengan kata-kata apa pun.Sosoknya memudar perlahan, dimulai dari ujung jarinya dan bergerak ke tengah, sampai tidak ada lagi.Ryan tidak merasa perlu merayakan apa pun, dan tidak ada bagian dari dirinya yang mencari alasan untuk melakukannya.Siapa pun yang berhasil mengalahkan seseorang setingkat Heavenly Saint mungkin akan menceritakannya berulang kali sampai akhir hidupnya, kepada siapa pun yang mau mendengar. Tapi yang ada di dalam dada Ryan bukan kebanggaan atas sesuatu yang sudah dilakukan. Lebih deka
Kekuatan jiwanya bergerak lagi, kali ini tidak ke dalam satu titik tapi ke atas.Di dalam lanskap pikirannya, ada sesuatu yang selama ini sudah ada di sana, mengambang di tempat yang tidak ia sadari keberadaannya, tidak pernah ia sentuh karena tidak ada yang pernah mengajarinya cara mendekatinya dan ia sendiri tidak pernah terpikir bahwa itu bisa didekati.Dao Surgawi.Konsep yang di dunia nyata bukan sesuatu yang bisa disentuh oleh siapa pun. Kekuatan yang menopang seluruh aturan kultivasi, seluruh sistem alam semesta yang ada. Bahkan Heavenly Saint pun tidak pernah mendekatinya dengan cara seperti yang sedang Ryan pikirkan sekarang, tidak dari referensi apa pun yang pernah ia dengar atau baca.'Aku tidak akan menyebutnya sebagai Dao Surgawi. Ini hanya konsep yang aku buat dari pemahamanku tentangnya.'Ryan mengumpulkan seluruh sisa kekuatan jiwanya dan membentuknya bukan menjadi pedang, bukan menjadi teratai, tapi me
Ryan tahu ia tidak akan bisa bertahan lama dengan cara seperti ini. Kekuatan jiwa Saint King Lyra Crimson tidak seperti sesuatu yang bisa diukur dengan satuan yang ia kenali. Setiap gelombang yang dikirimkan lebih rapi, lebih terarah, dan lebih efisien dari serangan sebelumnya. Tidak ada pemborosan, tidak ada celah yang dibiarkan terbuka oleh lalai. Di dalam pikiran Ryan, pita-pita merah terus bergerak mengikis pertahanannya dari setiap sudut yang tersedia secara bersamaan. Satu lapisan pertahanan sudah runtuh. Lapisan kedua retak di tepinya, getarannya terasa sampai ke inti kesadarannya. Ryan memaksakan dirinya untuk tidak panik. Kepanikan hanya akan mempercepat keruntuhannya, dan ia sudah cukup lama bertarung untuk tahu bahwa itu adalah satu-satunya pilihan yang tidak boleh diambil. Yang perlu ia lakukan bukan bertahan lebih keras dari sebelumnya, tapi menemukan sudut yang belum ia coba sama sekali. 'Terus bertahan seperti ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Lebih baik
Ryan menundukkan kepalanya sedikit. "Terima kasih, Senior." Tanpa pertarungan dengan Heavenly Saint Cael Ironblood, ia tidak tahu kapan ia akan menemukan prinsip itu sendiri. Bukan pemahaman yang bisa datang dari membaca kitab atau mendengarkan ceramah di tempat yang nyaman. Hanya dari tubuh yang sudah tidak punya pilihan lain selain menemukan cara baru untuk bertahan hidup. "Ini kemampuanmu sendiri." Cael Ironblood berdiri dengan susah payah dari dasar kawah, gerakannya berhati-hati seperti orang yang tahu setiap gerakan menguras sisa yang ada. Auranya melemah dengan cara yang terasa seperti seseorang yang sudah memutuskan bahwa sudah waktunya untuk pergi. "Aku menunggu di sini puluhan ribu tahun, dan sekarang saatnya pergi sepenuhnya." Ia berhenti sebentar. "Sampaikan salamku ke Harold Guard. Dia memilih orang yang tepat." Sosoknya memudar. Bukan secara dramatis dengan cahaya yang meledak ke mana-mana. Lebih seperti salju yang mencair di bawah cahaya matahari yang tidak
BOOM!Dua kekuatan ekstrem bertabrakan, dan Ryan dihantam ke lantai batu dengan keras. Punggungnya membentuk retakan di lantai yang tidak pernah retak dalam puluhan ribu tahun sebelum ini.Ryan menggerakkan jari-jarinya perlahan, satu per satu, memeriksa apa yang masih bisa bergerak dan apa yang tidak.Sakit. Semua sakit. Tidak ada satu tulang pun di tubuhnya yang masih dalam kondisi utuh, dan ia sudah cukup yakin tentang itu tanpa perlu memeriksa lebih lanjut. Napasnya keluar tidak teratur, setiap tarikan terasa seperti menyedot udara melalui sesuatu yang sudah setengah hancur dan tidak mau memberikan jalan yang bersih.Cael Ironblood berdiri di sampingnya, menatap ke bawah dengan tatapan yang tidak sepenuhnya bisa disebut kasihan tapi juga mengandung sesuatu yang dekat ke penilaian terakhir yang belum diputuskan."Di levelmu sekarang, kau belum layak menjadi lawanku."Ia mengepalkan tinjunya sekali
Di pintu masuk Hotel Century, Ryan dan Rindy berjalan beriringan, dengan Angelica mengikuti di belakang dalam diam. Suasana di antara mereka terasa sedikit canggung. Ryan, yang berjalan di depan, tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menoleh ke belakang, menatap Angelica. "Kamu pulang menggunakan apa?" ta
Ryan mendengarkan percakapan antara Franklin Pierce dan ibu Rindy Snowfield dengan saksama, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Ia harus mengakui ketajaman intuisi Franklin Pierce–pria tua itu tanpa ragu memilih berpihak padanya alih-alih Keluarga Snowfield.Dengan gera
Lidya Lark secara alami mendengar percakapan antara Rindy dan Ryan. Awalnya, ia mengira wanita itu seperti dirinya, seseorang yang penasaran dengan identitas misterius Ryan. Namun, seiring berjalannya percakapan, menjadi jelas bahwa mereka berdua saling mengenal dengan baik. Terlebih lagi, isi
Ruang pertemuan diliputi keheningan. Para peserta rapat terpaku menatap dokumen di hadapan mereka, berusaha mencerna informasi yang baru saja mereka terima. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, salah seorang dari mereka akhirnya bersuara, "Ini pasti palsu, kan? Mana mungkin ada prod






