LOGIN"Konon, siapa pun yang berhasil menguasai rahasia itu akan memiliki peluang berdiri di puncak Benua Valorisia," ujar kultivator Spirit Hall itu dengan suara berat. "Bahkan mungkin sanggup menandingi Kerajaan Ilahi."Ia menelan ludah sebelum melanjutkan."Kerajaan Ilahi sudah mencari jejak faksi itu selama bertahun-tahun. Sedangkan Spirit Hall tidak mungkin melakukan uji coba seperti ini di dunia luar. Karena itu, kami memilih Death Domain Universe sebagai tempat pelaksanaan."Mata Ryan menyipit.Ia tidak terlalu terkejut mendengar Lucas Ravenclaw terlibat. Sejak awal, aura Lucas sudah terasa jelas di dalam formasi empat puluh sembilan peti mati batu itu.Yang lebih mengganggunya adalah penyebutan tentang sekte dari Gunung Langit Biru.Kemungkinan besar, sekte yang dimaksud adalah Sekte Hell Blood.'Kalau Sekte Hell Blood memang berkaitan dengan Benua Valorisia, kenapa dulu mereka bisa dihancurkan semudah itu?' pikir Ryan. 'Atau sebenarnya, Gunung Langit Biru menyimpan rahasia yang ja
Ryan menatap mayat-mayat yang berserakan di sekelilingnya.Tidak ada rasa bersalah di matanya.Orang-orang ini telah mengorbankan puluhan nyawa tak berdosa hanya demi uji coba gila Spirit Hall. Bagi Ryan, kematian mereka bahkan masih terlalu ringan.'Kalian memang pantas menerima ini,' pikirnya dingin.Ia lalu mengalihkan pandangan kepada satu-satunya kultivator Spirit Hall yang masih hidup.Kultivator terakhir itu melihat seluruh rekannya tumbang satu per satu. Tiga orang tewas dalam waktu singkat, dan cara kematian mereka cukup untuk meruntuhkan seluruh keberaniannya.Kakinya gemetar.Ia ingin lari, tetapi tubuhnya tidak lagi mau bergerak. Wajahnya pucat seperti kertas, dan matanya dipenuhi keputusasaan.Ryan berjalan mendekatinya.Langkahnya pelan.Namun justru karena itulah, setiap suara langkah Ryan terdengar seperti lonceng kematian di telinga kultivator itu."Ku... kumohon, jangan bunuh aku!" seru kultivator itu dengan suara gemetar. "Aku bisa memberitahumu rahasia Spirit Hal
Keempat kultivator Spirit Hall itu benar-benar kehilangan keberanian untuk melawan.Rasa percaya diri yang sebelumnya mereka bawa kini lenyap tanpa sisa. Mereka hanya bisa mundur perlahan sambil menatap Ryan seperti sedang menatap sosok maut. Sesekali mereka saling melirik, berharap ada salah satu yang punya cara untuk keluar dari keadaan ini.Namun tak seorang pun bicara.Tak seorang pun punya rencana.Ryan tidak memberi mereka waktu untuk memikirkan jalan keluar.Ia melangkah maju dengan tenang. Tombak Ilahi Gungnir berada di tangannya, lalu menusuk lurus ke depan.Gerakannya sederhana.Tidak ada jurus rumit.Namun kecepatan tusukan itu membuat lawan nyaris tak punya waktu untuk bereaksi.Sret!Kultivator yang sebelumnya bahunya tertembus menjadi sasaran pertama.Kali ini, tombak Ryan menembus dadanya.Tepat mengenai jantung.Mata kultivator itu membelalak. Ia menunduk, menatap lubang besar di dadanya dengan wajah tak percaya. Mulutnya terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu, t
Keempat kultivator Spirit Hall itu nyaris tak percaya pada pemandangan di depan mata mereka.Formasi Penghancur Petir adalah salah satu formasi serangan terkuat yang mereka kuasai. Bahkan Kultivator Ranah Star Seed pun bisa terluka parah jika terjebak di dalamnya tanpa perlindungan yang cukup.Namun Ryan berbeda.Ia hanya berada di Ranah Dao Integration, tetapi setelah menerima sambaran petir bertubi-tubi, ia masih berdiri tegak. Pakaiannya memang gosong di beberapa bagian, tetapi tubuhnya tidak mengalami luka serius.Seolah petir tadi hanya hujan biasa baginya.Ryan mengangkat Tombak Ilahi Gungnir.Esensi tombak berkumpul di ujung mata tombaknya. Udara di sekitar ujung tombak itu bergetar, lalu terasa dingin dan tajam."Sekarang giliranku," ucap Ryan datar.Ia menghunjamkan tombak itu ke atas.Gerakannya sederhana.Tidak ada rangkaian jurus rumit.Tidak ada gerakan
Ryan tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak mundur, tidak menghindar, dan tidak memberi tanda bahwa ia merasa terdesak. Tombak Ilahi Gungnir terangkat di tangannya, lalu dihunjamkan lurus ke depan dengan gerakan tenang. Bagi Ryan, empat kultivator Spirit Hall di hadapannya tidak lagi sama menakutkannya seperti beberapa hari lalu. Aura hitam yang keluar dari ujung tombak terus melaju. Apa pun yang dilewatinya langsung hancur. Lantai istana retak panjang, pecahan batu beterbangan, dan sisa garis formasi di sekitar peti mati ikut terkikis oleh tekanan tombak itu. Keempat kultivator Spirit Hall terkejut. Serangan gabungan mereka yang sebelumnya dilepaskan dengan penuh keyakinan ternyata tidak mampu menghentikan aura hitam tersebut. Energi pedang, golok, dan tombak mereka justru tertelan begitu saja. Boom! Aura itu menghantam keempatnya sekaligus. Tubuh mereka terpental ke belakang dan menabrak dinding istana yang sudah retak. Dinding itu bergetar keras, lalu menjatuhkan serpi
Ryan menyipitkan mata. Ia menahan napas dan menajamkan pendengarannya, berusaha menangkap setiap kata dari keempat kultivator Spirit Hall itu. Salah satu dari mereka menatap peti mati kerangka emas di tengah formasi sambil berkata, "Tubuh ini sudah menyerap saripati darah dari empat puluh sembilan tumbal. Sekarang kekuatannya sudah setara dengan Kultivator Ranah Star Seed." Kultivator lain tersenyum puas. "Kalau proses ini bisa disempurnakan, Spirit Hall akan mampu menciptakan pasukan mayat hidup dalam jumlah tak terbatas." Mendengar itu, hati Ryan langsung terasa dingin. Jadi benar. Spirit Hall memakai Lucas Ravenclaw sebagai bahan percobaan. Empat puluh sembilan orang dikorbankan. Saripati darah mereka disedot dan dialirkan ke satu tubuh, hanya demi menciptakan mayat hidup yang bisa dikendalikan. Ryan menekan amarah yang mulai naik. Ini bukan sekadar eksperimen kejam. Jika metode ini benar-benar berhasil, Spirit Hall bisa membangun pasukan mayat hidup kapan pun mereka ma







