MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu dan Kak Muh Dahlan atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena jumlah Koin belum mencapai target, maka ini adalah bab terakhir hari inj Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
"Dewa Pembantaian Pendragon, kau mendengarkan aku atau tidak?" tanya Clara Celestedragon.Sejak memasuki alam rahasia, Clara merasa tingkah Ryan sedikit aneh. Ia tidak tahu apa penyebabnya, tetapi pemuda itu jelas terlihat berbeda dari para tamu pengawal lain.Lebih tepatnya, Ryan seperti sedang mencari sesuatu.Clara menggeleng lalu memanggilnya beberapa kali lagi sebelum Ryan akhirnya tersadar.Meski ikatannya dengan Luna sudah kembali tersambung, menemukan gadis itu di tengah gurun tanpa ujung tetap bukan perkara mudah. Untuk sementara, Ryan hanya bisa mengikuti petunjuk yang muncul sedikit demi sedikit."Kau bilang apa tadi?" tanyanya.Clara memutar bola mata. "Aku bilang kita ke timur dulu. Pengawal macam apa yang malah melamun di hari pertama?""Baiklah."Ryan tidak keberatan. Ia langsung mengikuti Clara bergerak ke arah timur.Sekitar satu jam kemudian, keduanya berhenti.
"Clara, kau pasti sengaja!" Yvonne menjerit sampai suaranya hampir pecah. Rasa malu membuat wajahnya memerah, terlebih karena ia tahu kejadian ini pasti segera tersebar di Keluarga Celestedragon. Begitu kabar bahwa pengawalnya tewas dalam satu tebasan menyebar, ia pasti menjadi bahan tertawaan. Ryan sama sekali tidak tertarik menanggapi. Ia menyarungkan pedangnya tanpa melirik mayat Garrick Hale di lantai, lalu kembali berdiri di belakang Clara. Baginya, pertengkaran antara dua keturunan langsung Keluarga Celestedragon tidak berarti dibandingkan urusan Luna. "Bagus sekali!" Nada suara Clara terdengar jauh lebih ringan daripada sebelumnya. Ini pertama kalinya ia memuji Ryan secara langsung. Bagaimanapun, Ryan baru saja membuatnya memperoleh kehormatan di depan keturunan lain sekaligus mempermalukan Yvonne. Suasana aula yang sempat membeku segera ramai kembali. Namun kali ini, cara orang-orang memandang Ryan sudah berbeda. Beberapa pengawal yang sebelumnya meremehkannya ba
Yang lain sibuk menebak apakah Garrick Hale akan meremukkan Ryan dengan satu jari atau dua. Sementara itu, Ryan justru sedang mempertimbangkan apakah ia perlu menjatuhkan Garrick dalam satu tebasan atau dua. Bagi Ryan sekarang, seorang Kultivator Ranah Star Seed puncak sama sekali bukan ancaman. Lawan dengan tingkat seperti itu bahkan tidak cukup untuk membuatnya serius. Ryan berdiri diam di tempat. Melihat sikap tersebut, Garrick mengira pemuda di hadapannya sudah ketakutan. “Kuberi kau dua jurus lebih dulu,” katanya sambil mencibir. “Aku akan berdiri di sini, tidak bergerak, dan tidak membalas.” Ryan menatapnya beberapa saat. “Kau yakin?” Nada suaranya terdengar benar-benar ragu, seolah sedang memastikan apakah Garrick memang ingin mengambil keputusan sebodoh itu. Awalnya Ryan masih berniat memberi sedikit muka. Ia bisa saja bertukar beberapa jurus terlebih dahulu sebelum menjatuhkan lawannya. Namun setelah melihat sikap Garrick yang begitu meremehkan, Ryan mengubah piki
Ryan mengangguk setelah menerima penjelasan tentang alam rahasia itu. Jantungnya sedikit berdebar. Setelah diam-diam memeriksa hampir seluruh wilayah Keluarga Celestedragon dan tidak menemukan sedikit pun jejak Luna, kemungkinan besar gadis itu memang dikurung di dalam tempat tersebut. Pagi-pagi sekali, Ryan sudah tiba di vila Clara Celestedragon. Kemarin, ia juga meminta Colin Yarrow membantu mencari informasi tentang seorang perempuan. Ryan hanya memberikan gambaran kasar mengenai wajah dan penampilan Luna tanpa menjelaskan identitasnya. Colin langsung menunjukkan senyum penuh arti. “Serahkan padaku, Saudara Pendragon. Kalau soal perempuan, aku punya telinga di mana-mana.” Ryan tidak repot-repot menjelaskan kesalahpahaman itu. ** “Ikut aku!” Suara Clara terdengar dari depan vila. Perempuan itu keluar dengan ekspresi acuh, melirik Ryan sekilas, lalu berjalan lebih dulu tanpa menunggu jawaban. Ryan mengikutinya seorang diri. Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah au
Kedua Kultivator Ranah Star Sealed itu juga tidak menyangka pemuda di hadapan mereka adalah Dewa Pembantaian Pendragon.Mereka memperhatikan pakaian Ryan dari atas sampai bawah, lalu saling melirik dan mengangguk paham.Pakaian seperti itu memang bisa ditiru siapa saja. Namun kekuatan yang baru saja ditunjukkan Ryan jelas bukan sesuatu yang mudah dipalsukan.“Mulai hari ini, kau ikut denganku ke halaman dalam untuk menjaga keselamatan seorang nona dari garis utama Keluarga Celestedragon.”Begitu salah satu pengawas selesai bicara, lima ratus peserta yang masih berdiri di sana langsung memandang Ryan dengan iri.Bisa bersentuhan langsung dengan garis utama Keluarga Celestedragon sama saja dengan naik ke langit dalam satu langkah. Selama tidak melakukan kesalahan besar, masa depannya hampir pasti jauh lebih baik daripada Kultivator Bebas biasa.“Terima kasih, Tuan.”Ryan berhenti sebentar lalu menambahkan, “Tapi
Setelah semua Kultivator Bebas masuk ke arena, dua pengawas Keluarga Celestedragon kembali menjelaskan aturan pertandingan. Sebagian besar peserta sebenarnya sudah mengetahuinya. Begitu penjelasan selesai, salah seorang kultivator tiba-tiba menyerang. Boom! Serangan itu langsung memicu kekacauan. Berbagai kemampuan ilahi dan teknik beterbangan ke segala arah. Dari luar, Ryan hanya terlihat sebagai Kultivator Ranah Creation. Karena itu, banyak orang menganggapnya sasaran empuk dan segera menyerbu. Ryan mengerutkan dahi lalu mengeluarkan sebilah pedang biasa. Esensi Pedang Abadi menyapu keluar ketika ia mengayunkannya dengan santai. Sret! Dua puluh orang langsung tumbang. Sebagian terbelah di pinggang, sedangkan beberapa lainnya kehilangan kepala sebelum sempat mengangkat senjata. Orang-orang di sekitarnya segera menjauh. Dalam pertarungan bebas seperti ini, terlalu mencolok hanya akan mengundang pengepungan. Karena itu, untuk sementara tidak ada yang mau mencari masalah dengan






