LOGINTidak sengaa melihat sang Nyonya dalam kondisi memalukan, harus membuat Wildan terseret dalam konfli krumah tangga Maya. Sekarang, sang Nyonya menyodorkan uang ratusan juta di depanku, bayaran fantastis untuk sebuah misi balas dendam dan harga diri! Wildan harus memilih antara kesempatan mengubah nasib dan risiko menghadapi musuh yang jauh lebih kuat. Mampukah dia menyelesaikan misi itu tanpa kehilangan segalanya?
View More“Wildan, tolongin Mbak Maya dong, kakakku. Saluran air di rumahnya mampet parah. Buruan ke sana ya, darurat ini!”
Telepon dari Mario, adik pemilik rumah elit tempat Wildan bekerja, membuat Wildan langsung tancap gas, bahkan sebelum ia sempat menghabiskan rokoknya.
Sesampainya di sana, pintu utama yang tidak dikunci langsung ia dorong masuk. Penampilannya sangat kontras dengan rumah itu karena Wildan hanya mengenakan celana jeans belel dan kaos hitam ketat berlumuran noda oli.
“Ah, sial,” umpat Wildan saat melihat genangan air sudah mulai merembes. Dengan cekatan, otot-otot lengannya yang kekar menegang saat memutar sambungan besi berkarat di langit-langit menggunakan kunci inggris.
Pekerjaan kasarnya selesai dalam belasan menit.
Namun saat Wildan melangkah ke koridor penghubung kamar mandi dalam untuk mengecek sisa rembesan, ia mendengar suara gemericik air. Melalui celah pintu kayu jati yang sedikit renggang, Wildan memberanikan diri untuk mengintip.
Dan .…
Yang Wildan lihat adalah Maya, istri dari pemilik rumah yang baru keluar dari bathtub.
Di dalam ruangan yang dipenuhi uap hangat itu, Maya hanya mengenakan jubah mandi sutra berwarna putih gading.
Jelas sekali, dari jubah mandi itu, postur Maya yang tinggi aduhai, body gitar Spanyol, sekaligus dengan rambutnya yang hitam panjang bergelombang seperti iklan Shampo.
Maya menunduk pelan untuk mengeringkan rambutnya dengan handuk, sehingga dua bukit kembarnya yang putih mulus sedikit menyembul jika dilihat dari tempat Wildan.
Wildan hanya bisa menganga, karena sudah pasti ukuran Maya jelas di atas rata-rata wanita pada umumnya. Terlebih, saat Wildan melihat di antara belahan itu. Arh, rasanya seperti mimpi saja, melihat bidadari selesai mandi siang.
‘Cobaan macam apa lagi ini di siang bolong? Mulus banget. Ah sial, aku nggak boleh kayak gini. Aku harus profesional!’ rutuk Wildan dalam hati.
Baru saja menjernihkan pikiran anunya, tiba-tiba .…
PRAAAK!
Pipa sambungan di langit-langit kamar mandi yang sudah rapuh mendadak pecah, sehingga semburan air bervolume besar langsung mengguyur telak tubuh Maya.
"SIAPA! Siapa di sana? Jangan coba ngintip aku lagi mandi!" jerit Maya kaget, sekaligus menutup bagian atas tubuhnya agar tidak terlihat.
Saat Wildan akan melarikan diri, dia melihat tubuh Maya refleks mundur, dan sialnya adalah lantai marmer yang licin oleh cairan sabun membuat kakinya kehilangan keseimbangan.
‘Semoga cobaan ini senikmat apa yang kubayangkan!’
Karena tidak mau istri pemilik rumah itu celaka, Wildan terpaksa masuk, mendorong pintu jati, dan menangkap pinggang ramping Maya tepat sebelum wanita itu menghantam lantai.
Bruk!
Wildan menarik tubuh basah itu masuk ke dalam dekapannya.
Dan sial, kenapa buah-buahan Maya terasa sangat kenyal! Argh, Wildan tidak menduga ini akan berakhir nikmat, walau cukup mendebarkan. Meski hanya singkat, fantasi Wildan tiba-tiba berganti ketika dia menoleh ke bawah.
Jubah putih yang tadinya sempat jadi halangan Wildan menikmati surga dunia, kini terlepas.
Posisi Maya jatuh memang menghadap ke bawah, tapi yang membuat Wildan tidak habis pikir adalah kenapa di usia Maya yang sudah kepala tiga, pinggangnya sangat ramping dan kulitnya mulus seperti setiap hari melakukan spa?
Sadar itu sudah kelewat batas, Wildan memilih untuk mencari alibi.
Satu-satunya cara agar Wildan bisa selamat dari tuduhan, dengan pura-pura menutup mata dengan tangan kiri, mengingat tangan kanannya masih merangkul bahu Maya.
"M-Mbak Maya tidak apa-apa?" tanya Wildan dengan suara serak, meski dia coba mengintip dari sela-sela jarinya.
Maya mendongak, menatap wajah Wildan dengan mata sayu yang basah. Tangannya refleks mencengkeram erat kaos hitam Wildan, lalu membenarkan posisi handuknya lebih dulu.
Di saat yang sama, tubuh mereka yang menempel rapat membuat Maya bisa merasakan dengan sangat jelas ada benda tebal, keras, dan sedikit melawan apabila disentuh.
"W-Wildan ... kamu kok ada di sini?" lirih Maya tertahan. Wajah cantiknya merona merah, tahu karena Wildan memiliki aset yang ukurannya sangat dia impi-impikan.
"Mbak Maya, sa-saya, mi-mi-mi, sa-saya tadi membenarkan pipa di luar. Maaf saya kelancangan masuk, terus tadi nggak sengaja liat Mbak Maya mau jatuh," balas Wildan terbata-bata.
Di bawah guyuran air yang masih deras, Maya justru semakin memajukan tubuhnya. Ia menyandarkan keningnya ke dada Wildan, membiarkan tubuh matangnya menempel semakin intim, seolah sengaja membiarkan gesekan di perut bawahnya terus terjadi.
Mendengar ucapan Wildan yang menusuk tajam, dunia seolah berhenti berputar bagi Indra Wiguna. Jari telunjuknya yang tadinya menempel erat pada pelatuk pistol otomatis mendadak kaku, urat-urat di pelipisnya menegang hebat, dan napasnya tertahan di kerongkongan."A-apa maksudmu ...?" suara Indra tercekat, nada tinggi penuh amarah itu seketika runtuh berganti menjadi getaran ketakutan yang luar biasa. "Ayah dan Ibu ... mendengarkan apa melalui radio ...?"Di kejauhan, tersembunyi di balik kegelapan ruang kerja yang hancur di kediaman Soebroto, perangkat radio penerima militer yang ditinggalkan menyala mengeluarkan suara bising dari pelabuhan. Jenderal Soebroto dan Ibu Ratna yang terduduk lemas di lantai terpaku ngeri. Jantung mereka bagaikan berhenti berdetak saat mendengar suara putra tunggal mereka bergetar ketakutan melalui gelombang udara malam yang sunyi."Mereka mendengar setiap rintihan putus asamu, Indra," lanjut Wildan dengan suara bariton yang menghujam jiwa. "Mereka mendengar
Desir angin laut malam di pesisir utara Jakarta terasa begitu pekat membawa bau amis air asin dan kelembapan malam. Garis pantai yang membentang luas di kawasan pelabuhan tua itu tampak gelap gulita, diselimuti bayangan kontainer-kontainer logistik berukuran raksasa yang berjejer rapi bagaikan kuburan besi raksasa.Di balik tumpukan kontainer dan kegelapan dermaga, puluhan kendaraan taktis lapis baja milik pasukan Black Wolf terparkir tanpa menyalakan lampu satu pun. Mesin-mesin diesel mereka dimatikan, menyisakan keheningan mati yang mematikan.Wildan berdiri tegak di atas lambung sebuah truk kargo terbengkalai, mengenakan rompi taktis serba hitam dengan senapan serbu laras panjang yang terkokang sempurna di tangannya. Sorot mata elangnya menatap lurus ke arah cakrawala laut lepas di ufuk utara, tempat titik cahaya merah sebuah helikopter perlahan-lahan mulai membesar."Semua unit posisikan diri," suara berat Beno berbisik tegas melalui alat komunikasi intercom internal yang te
"Saya tadinya sempat berpikir harus mencarinya sampai ke ujung dunia untuk menuntaskan urusan kami. Ternyata, dia sendiri yang mengantarkan nyawanya ke mulut singa."Ibu Ratna membelalakkan matanya, napasnya tak beraturan di balik rangkulan suaminya. "Jangan sombong kamu, bajingan! Indra tidak sendiri! Dia bersama pasukan bayaran internasional dan dipersenjatai perlengkapan militer mutakhir! Kali ini kamu pasti mati!" teriak wanita paruh baya itu dengan sisa-sisa tenaga dan kebencian yang meluap-luap.Wildan menoleh perlahan, menatap tajam ke arah Ibu Ratna tanpa rasa tersinggung sedikit pun. "Silakan pegang keyakinan itu erat-erat, Bu Ratna. Nikmati setiap detik harapan palsu sebelum anak kebanggaan Ibu itu berlutut di hadapan saya dengan kepala tertunduk."Wildan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Jenderal Soebroto. Pria tua yang dulunya disegani sebagai perwira tinggi bintang dua itu kini tampak begitu rapuh, terseret dalam pusaran kehancuran total yang diciptakan oleh kebodo
Suara desau angin dari ayunan guci keramik itu memecah keheningan detik-detik terakhir di dalam ruang kerja yang porak-poranda. Namun insting seorang penguasa jalanan yang telah ratusan kali lolos dari maut tidak pernah sepenuhnya tertidur. Tepat sepersekian detik sebelum hantaman maut itu meremukkan tengkoraknya, pantulan bayangan di pecahan kaca jendela mendadak menangkap kilatan benda keras yang meluncur cepat ke arahnya.Wildan tidak sempat berbalik sepenuhnya. Ia hanya mampu melemparkan tubuhnya ke samping dengan gerakan refleks secepat kilat.PRANG!Guci keramik hias berukuran sedang itu menghantam sisi bahu dan pelipis kiri Wildan sebelum akhirnya pecah berkeping-keping menghujani lantai kayu. Serpihan keramik tajam berhamburan ke segala arah, menciptakan suara bising yang memekakkan telinga.Wildan terhuyung ke depan, lututnya hampir menyentuh lantai. Darah segar seketika menetes hangat dari pelipisnya, mengalir melewati rahangnya yang kokoh. Rasa sakit akibat hantaman brutal






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore