로그인Melihat Nona Maya terjebak dalam pernikahan neraka dan tak pernah bahagia, hatiku pecah. Suaminya, Indra—seorang jaksa terpandang, gemar bermain tangan dan terus-menerus menuduhnya mandul hanya demi menutupi ketidakjantanannya sendiri. Penuh luka dan keputusasaan, Maya nekat mempertaruhkan segalanya dan memilihku, seorang montir serabutan, sebagai alat pembalasannya. Maya yang haus akan kasih sayang, mulai luluh dan bertekuk lutut pada sentuhanku.
더 보기"Jawab, Mbak! Ini tabung apa?!" bentak Mario. Suaranya menggema keras, memantul di dinding kamar mes yang sempit itu. Ia mengacungkan tabung kaca steril dan tas pendingin kecil itu tepat di depan wajah kakaknya.Napas Maya tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup brutal menghantam tulang rusuk. Di dalam kepalanya yang berputar cepat, Maya sangat menyadari bahwa ia tidak ingin adiknya, Mario, mengetahui rencananya yang sebenarnya. Otaknya dipaksa bekerja di luar batas normal untuk mencari jalan keluar darurat. Rahasia mengenai kesepakatan inseminasi dan urusannya dengan Wildan adalah hal yang sangat tabu, yang jika sampai bocor, akan menjadi skandal besar dan senjata mematikan bagi keluarga Indra. Membayangkan amarah Indra dan ejekan ibu mertuanya saja sudah cukup membuat lutut Maya lemas.Maya sudah terbiasa menjadi seorang nyonya besar yang terbiasa menjaga postur di depan publik. Oleh karena itu, dengan sisa-sisa ketenangan dan gengsi yang ia kumpulkan secara paksa, Maya segera
Ceklek!Ketegangan yang mencapai titik puncaknya ketika engsel pintu kayu kamar mes itu berderit dan didorong terbuka lebar dari luar. Bunyi gesekan engsel karatan tersebut terasa bagaikan vonis mati yang dijatuhkan tepat di telinga Maya dan Wildan."Wildan! Gue bawa—"Ucapan riang di ambang pintu itu terputus paksa.Mario berdiri mematung di ambang pintu, nafasnya sedikit terengah sehabis menaiki anak tangga besi. Tangan kirinya yang masih bertengger di kenop pintu membeku seketika. Ekspresi santainya yang tadinya dihiasi senyum, seketika berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa saat matanya menangkap pemandangan absurd di dalam ruangan tersebut.Ia sangat kaget melihat kakak perempuannya, Maya, bersama Wildan yang merupakan teman sekaligus bawahannya sebagai montir berada berduaan saja di dalam kamar bujangan ini. Bagi Mario, melihat kakaknya yang selalu tampil anggun, bersih, dan lekat dengan citra sosialita kelas atas kini terkurung di ruangan sempit berbau pelumas adalah seb
"Mbak ... saya mulai, ya?" bisik Wildan. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Maya.Maya menelan ludah, dadanya berdegup kencang melihat sorot mata montir di depannya. "Cepat lakukan, Wildan. Jangan banyak bicara lagi, nanti aku malah berubah pikiran.""Baik, Mbak. Maaf kalau saya lancang," jawab Wildan.Tanpa membuang waktu, Wildan memiringkan kepalanya. Tepat ketika bibir Wildan menyentuh bibir ranum Maya, mengikis habis sisa jarak dan kecanggungan di antara mereka. Sentuhan awal dari pria itu terasa sangat kaku dan ragu-ragu."Mbak, santai sedikit. Bibir Mbak kaku banget," gumam Wildan di sela-sela ciuman mereka, menggeser wajahnya sedikit untuk mengambil napas."Aku ... aku belum terbiasa disentuh laki-laki selain suamiku," balas Maya dengan suara bergetar dan wajah memerah. Maya awalnya menutup mata rapat-rapat, mencoba meyakinkan dirinya bahwa kontak fisik ini hanyalah bagian dari prosedur memancing gairah Wildan demi kelancaran proses inseminasi. "Anggap
Bab 9"Bantuin gimana maksud kamu?!" semprot Maya, berbalik badan sekilas dengan wajah memerah menahan kesal yang entah kenapa bercampur rasa penasaran. "Jangan ngelunjak ya, Wildan! Perjanjian kita kan cuma soal inseminasi!"Melihat Maya yang mendadak emosi dan sewot, mental Wildan langsung drop. Alhasil, keperkasaan di bawah sana yang tadinya sudah mulai bangun, seketika mogok kerja dan melemas lagi seperti sosis kehabisan daya."Tuh, kan ... malah galak. Punya saya malah lemes lagi nih, Mbak," keluh Wildan sambil menghela napas pasrah, buru-buru menarik kembali celana pendeknya karena canggung. "Mbak Maya kalau nggak bisa sportif buat bantu, rencana ini nggak bakal berhasil. Lagian, kerja sama ini kan sebetulnya ide dari Mbak sendiri, bukan saya."Maya melotot, napasnya naik turun menahan jengkel. "Tapi nggak begini juga caranya!""Ya terus gimana? Kalau cuma modal nonton video di ponsel, pikiran saya tetep kepentok rasa tegang karena ada Mbak di sini," balas Wildan, membela diri d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.