LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu atas Hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena jumlah Koin belum mencapai target, maka ini adalah bab terakhir hari ini. Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
Pedang hitam muncul di tangan Ryan.Ia langsung mengayunkannya dengan ganas. Cahaya pedang meledak dari bilah itu seperti meteor yang merobek ruang di depannya.Kalau tebasan Emmett Huxley sebelumnya bisa disebut mengguncang bumi, maka tebasan Ryan terasa seperti serangan yang ingin menghancurkan dunia.Dua cahaya pedang bertabrakan.Cahaya emas milik Emmett hanya mampu bertahan sepersekian detik. Retakan muncul di tengahnya, lalu seluruh tebasan itu pecah berkeping-keping seperti kaca yang dihantam palu.Serangan Ryan tidak berhenti setelah menghancurkannya.Cahaya pedang itu terus melaju menuju Emmett dengan momentum seperti ombak raksasa yang menghantam tebing.“Tidak!”Wajah Emmett langsung berubah.Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana serangan terkuatnya bisa dihancurkan begitu mudah.‘Bagaimana mungkin? Dia cuma Kultivator Ranah Creation!’Emmett telah menggunakan seluruh kekuatannya dalam tebasan tadi. Namun ketika berhadapan dengan cahaya pedang Ryan, serangannya bahkan ti
Ryan mengucapkan kalimat itu dengan begitu mantap hingga tidak terdengar seperti gertakan sedikit pun.Pemuda bengis itu memandangnya dengan tatapan aneh. Salah satu alisnya terangkat, seolah sedang menilai apakah orang di hadapannya benar-benar serius.Tadinya ia mengira Ryan hanya pura-pura tenang untuk menjaga harga diri.Namun sekarang, ia mulai merasa bocah ini memang sudah kehilangan akal sehat.Emmett Huxley juga menggeleng pelan.Ia mengakui Ryan sangat kuat dan memiliki bakat luar biasa. Namun menurutnya, keberanian tanpa mengetahui batas hanya akan berubah menjadi kesombongan. Ryan mungkin memiliki masa depan yang jauh lebih tinggi darinya, tetapi masa depan itu tidak berarti banyak jika ia mati di sini.Pemuda bengis itu melirik Emmett lalu tersenyum penuh permainan.“Emmett Huxley, aku tidak berani melawan genius menakutkan seperti Tuan Muda Ryan ini. Bagaimana kalau dia kuserahkan kepadamu?”
Pada saat itu, di dalam gua, pemuda bengis itu menatap Emmett Huxley dengan sorot penuh penghinaan. Meski begitu, ia tetap tertawa dan menepuk bahu Emmett seolah sedang memuji bawahan yang baru membuktikan kesetiaannya. “Bagus sekali! Hahahaha, pilihanmu tepat. Orang sepertimu memang layak menjadi bawahan Ras Iblis.” “Bawahan?” Emmett tersenyum pahit pada dirinya sendiri. Ia tahu posisi sebenarnya jauh lebih rendah dari itu. Di mata iblis tersebut, dirinya tidak lebih dari anjing peliharaan yang bisa dipakai selama masih berguna. Emmett juga sadar tidak ada jaminan nyawanya benar-benar akan dibiarkan. Setelah tuan di balik altar bangkit, dirinya mungkin tetap menjadi makanan berikutnya. Namun apakah ia punya pilihan lain? Ia memang takut mati. Menurutnya, rasa takut itu bukan sesuatu yang perlu dipermalukan. Wajah Ryan saat membawa kelima murid keluar sempat terlintas di pikirannya. Rasa bersalah menusuk dada Emmett, tetapi ia segera memaksa dirinya berpikir lebih dingin.
Zane Stern dan yang lain langsung lega mendengarnya. Kalau pemuda bengis itu benar-benar sudah dibereskan oleh Emmett Huxley, berarti Ryan tidak perlu menghadapi bahaya besar ketika kembali ke gua. Zane bahkan mengembuskan napas panjang sambil mengusap kepala botaknya. “Syukurlah. Aku sudah membayangkan Kakak Ryan masuk ke sana sendirian.” Namun Xander Jett justru mengerutkan kening. Ia tahu Ras Iblis terkenal memiliki daya hidup yang sangat kuat. Dengan kemampuan Emmett yang baru saja mereka lihat, apakah mungkin ia membunuh lawannya secepat itu? ‘Kalau Instruktur Huxley bisa menghabisi iblis itu begitu cepat, berarti kekuatannya jauh di atas perkiraan kami,’ pikir Xander. ‘Tapi kalau begitu, bagaimana mungkin dia sampai terluka parah?’ Ada sesuatu yang tidak masuk akal. Mungkin Emmett memiliki kartu truf yang sangat kuat dan berhasil membunuh lawannya ketika lengah. Atau ada kemungkinan lain. Xander tidak melanjutkan pikirannya. Ia menoleh kepada Ryan dan berkata pelan, “
Yang lain ikut mengangguk. Thea Wexler bahkan mencengkeram lengan jubah Ryan, seolah takut pemuda itu langsung melesat pergi sebelum mereka sempat menghentikannya. Namun Ryan hanya menggeleng pelan dan melepaskan genggaman Thea. Dari cara Emmett Huxley menghunus pedang serta melepaskan tebasan sebelumnya, Ryan sudah bisa menilai kemampuan tempurnya dengan cukup jelas. “Instruktur Huxley bukan instruktur tempur,” ucap Ryan tenang. “Dia memang sedikit lebih kuat daripada Kultivator Ranah Star Sealed pada umumnya, tapi tidak jauh.” Ryan menatap ke arah gua. “Menurutku, dia bukan tandingan iblis itu. Kalau ingin menyelamatkannya, aku harus kembali.” Xander Jett dan yang lain langsung terpaku. Ryan ternyata bukan bertindak karena gegabah. Ia benar-benar sudah menakar kekuatan Emmett dan kultivator Ras Iblis tersebut sebelum mengambil keputusan. Namun justru karena itu, ucapan Ryan terasa semakin sulit dipercaya. Menyelamatkan instruktur? Seorang murid Ranah Creation ingin kembali
“Lagi pula, kau juga akan mendapatkan kekuatan iblis, dan kekuatanmu akan melonjak tajam. Kekuatan itu jauh melampaui apa yang bisa kau bayangkan sekarang!” Mendengar tawaran itu, Emmett Huxley terdiam. Pedang di tangannya turun beberapa senti, sementara pandangannya bergeser dari lawan di hadapannya. ‘Aku hanya bekerja di Akademi Heavenly Flame,’ pikirnya. ‘Tidak ada alasan aku harus kehilangan nyawa karena urusan ini, bukan?’ Kalau menolak, hasil akhirnya hampir pasti kematian. Kekuatan mereka terpaut terlalu jauh, sehingga pilihan menyerah mulai terasa lebih masuk akal daripada mati sia-sia. Pada saat yang sama, Ryan sudah membawa Xander Jett dan yang lain sampai ke tempat Elang Windchaser menunggu. Tepat saat itu, suara Demon Emperor terdengar dari dalam Mata Iblis. ‘Aku tidak salah. Firasatku benar. Altar di gua itu memang sebuah kesempatan.’ ‘Suruh yang lain pergi, lalu masuklah sendirian.’ Ryan tidak langsung menjawab. ‘Ada iblis besar yang tersegel di dalam altar it







