Se connecterLima tahun pernikahan, Andra Hartawan memutuskan untuk menguji istrinya. Dia ingin melihat. Apakah Siska akan memeluk dan menyemangati dirinya seperti janji nikah dulu. Tiga bulan sebelum anniversary mereka yang kelima. Andra membiarkan rumor yang beredar jika perusahaannya telah bankrut. Dan Jawaban Siska hanya satu kata. "Mokondo." Lalu surat cerai melayang ke wajahnya. Andra kalah. Dia tanda tangani. Rumah mewah itu kosong. Berantakan. Sampai akhirnya datang Mawar. Gadis 20 tahun, lugu, melamar jadi pembantu. Kerjanya bersih bersih, masakannya enak, tapi aneh. Ia sangat penurut, tapi panik bukan main jika disuruh keluar rumah. Dan setiap kali Andra memakai parfum beraroma vanilla yang manis menyengat, Mawar langsung ketakutan dan bersembunyi di kamarnya. Andra mengira itu hanya trauma gadis desa. Dan ternyata, Mawar bukan hanya sekedar pembantu. Dia adalah barang dagangan yang gagal dijual. Sehingga bagi Andra, dia adalah pelayan yang special yang pantas dilindungi.
Voir plusHujan turun deras di kawasan Puncak. Kabut tebal menempel di kaca-kaca villa.
Di dalam kamar yang hangat, Andra Hartawan duduk di tepi ranjang. Ranjang king size itu sudah ia hias sendiri sejak jam empat sore tadi. Kelopak mawar merah ia tabur membentuk hati. Dua handuk ia bentuk angsa. Lampu ia redupkan. Aroma vanilla dan kayu cendana dari diffuser menguar pelan. Di atas ranjang itu, seharusnya malam ini ada dua orang. Merayakan lima tahun pernikahan mereka. Tapi malam ini hanya ada satu. Suara resleting koper yang ditarik kasar memecah keheningan. Lebih nyaring daripada hujan di luar. Siska, istrinya, bergerak cepat. Gaun tidurnya yang seksi sudah ia ganti lagi dengan dress. Riasannya kembali tebal. "Kita baru sampai, Sis. Kamu langsung mau pulang?" tanya Andra pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh hujan. Siska tidak menatapnya. Ia terus memasukkan pakaiannya ke dalam tas dengan gerakan kesal. "Dari awal aku sudah bilang, Mas. Aku sibuk. Nggak ada waktu buat liburan buang buang duit kayak gini. Endorseku menumpuk. Kamu malah ngajak nginep di tempat sepi kayak gini." Andra menarik napas panjang. Menatap punggung istrinya. Dua bulan terakhir ini, memang ia sengaja membiarkan rumor itu beredar di kalangan keluarga dan teman-temannya. Hartawan Group, perusahaan konstruksi warisan ayahnya yang ia pimpin, dikabarkan hampir bangkrut. Saham anjlok. Proyek gagal. Rekeningnya dibekukan. Ia sengaja menjual mobil sportnya, menonaktifkan kartu kredit black card milik Siska, dan bercerita bahwa rumah yang mereka tempati akan segera disita bank. Semua orang percaya. Termasuk Siska. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Di dalam laci nakas yang terkunci itu ada hal kecil yang disembunyikan. Sebuah kotak beludru kecil yang belum sempat diberikan kepada Siska. Hadiah kecil yang disiapkan sejak empat bulan yang lalu untuk surprise malam ini. Bukan barang mahal tapi dipesan khusus untuk Siska. Selain itu. Andra baru saja mendapatkan pesan dari Anton orang kepercayaannya. " Bos, berkas aman sudah aku simpan." Sandiwara bangkrut ini ia buat bukan tanpa alasan. Ia lelah. Lima tahun menikah, ia selalu memberi segalanya. Tapi semakin ia memberi, semakin ia merasa Siska hanya ada saat ia memberi. Ia ingin tahu, jika ia tidak punya apa-apa, apakah Siska masih akan menggenggam tangannya? Apakah pernikahan ini dibangun atas cinta atau atas saldo rekening? Dan malam ini, jawabannya mulai terlihat dengan sangat jelas dan menyakitkan. "Ini kan impianmu juga," kata Andra lagi, suaranya tetap terjaga, tidak meninggi. Ia mencoba menjadi dewasa. "Bulan madu kedua. Kamu pernah bilang, setelah lima tahun menikah kita mulai program hamil di tempat tenang seperti ini. Ingat? Kamu yang minta." Siska berhenti melipat baju. Ia membalikkan badan dan menatap Andra dengan tatapan dingin yang belum pernah Andra lihat selama lima tahun. "Itu dulu, Mas. Sebelum kamu jadi pengangguran," ucapnya tajam. "Kalau punya anak mau dikasih makan apa? Batu? Kalau bukan karena aku yang masih dapat endorse, ibumu aja nggak makan. Kamu itu harusnya fokus bangun usaha, bukan cuma mikirin kebutuhan bawah perutmu itu." Deg. Kata-kata itu menampar jauh lebih keras daripada tamparan fisik. "Mokondo" Kata itu kembali terngiang di kepala Andra. Kata yang diucapkan Siska dua minggu lalu saat ia meminta uang untuk perawatan di klinik kecantikan. Dada Andra sesak. Rahangnya mengeras. "Aku ngerti kamu kecewa, Siska," jawab Andra setelah menarik napas panjang. Suaranya bergetar tapi ia tahan. "Dan aku minta maaf karena dua bulan ini aku membuatmu khawatir. Itu salahku. Aku seharusnya cerita lebih jujur." Ia berdiri, menatap Siska lurus, matanya merah tapi tidak ada air mata. "Tapi tolong, Siska. Kamu boleh marah sama aku. Kamu boleh kecewa sama aku. Makian apa pun aku terima. Tapi jangan rendahkan aku sebagai laki-laki dengan kata-kata seperti itu. Jangan injak harga diriku. Karena aku di sini masih berusaha menjadi suamimu." Untuk sesaat, Siska terdiam. Ada rasa bersalah yang melintas sekilas di matanya. Tapi egonya lebih besar. "Ya udah, nikmati aja bulan madu sendirianmu itu!" bentak Siska akhirnya. Ia menyambar kunci mobil Alphard dari atas nakas. "Seminggu lagi aku jemput! Kalau aku sempat!" Pintu villa dibanting dengan keras. BRUK! Suara mesin mobil meraung, lalu hilang ditelan hujan dan kabut Puncak yang tebal. Meninggalkan villa itu dalam kesunyian yang menyakitkan. Andra berdiri lama di depan pintu. Hujan terus turun. Perlahan, ia berjalan kembali ke kamar. Ia membuka laci nakas itu dengan kode 1212, tanggal pernikahan mereka. Menatap kotak beludru tersebut. Surprise yang ia siapkan selama tiga bulan, ia rencanakan dengan penuh cinta, gagal total malam ini. Dengan tangan gemetar, ia mengambil buku catatan kecil dan menulis satu baris dengan tulisan yang agak berantakan: Ujian Siska "GAGAL" Ia memejamkan mata. Rasanya seperti ada yang mencabut jantungnya. Ponselnya bergetar di atas ranjang. Pesan dari Siska. "Mas, aku udah di jalan. Hujan gede banget. Kalau kamu butuh ditemenin selama seminggu di sana biar nggak kesepian dan kebutuhanmu itu kelar, aku bisa kirimin cewek buat nemenin kamu. Temenku ada yang mau kok, asal dibayar. Bilang aja" Andra membaca pesan itu dua kali. Tiga kali. Ini istrinya. Wanita yang ia nikahi dengan mahar 50 gram emas dan ia janjikan akan ia jaga seumur hidup. Menawarkan wanita lain untuk menemani suaminya sendiri di malam anniversary mereka. Jika ini Andra yang dulu, yang masih muda dan meledak-ledak, mungkin ponsel ini sudah ia banting. Mungkin ia akan membalas dengan makian yang sama menyakitkannya. Tapi Andra yang sekarang, Andra yang sudah memimpin ratusan karyawan, tahu satu hal. Masalah pernikahan tidak akan pernah selesai dengan merendahkan pernikahan itu sendiri. Dengan jari yang stabil meski hatinya hancur, ia membalas: "Jaga bicaramu, Siska. Aku tidak akan pernah menyelesaikan masalah pernikahan kita dengan cara merendahkan pernikahan itu sendiri. Kamu adalah istriku dan aku tetap menghargaimu, bahkan saat kamu bicara seperti itu. Hati-hati di jalan, licin. Kabari kalau sudah sampai". Setelah itu, ia mematikan ponselnya. Ia tidak menyentuh botol wine di sudut ruangan. Ia butuh kepala yang jernih untuk berpikir. Ia menuang teh hangat yang sudah dingin dari tadi sore. Ia duduk di tepi ranjang yang bertabur mawar itu sendirian. Baru saja ia menyesap tehnya yang pahit... "TOK TOK TOK" Ketukan pintu villa terdengar keras, sangat keras, memecah kesunyian hujan yang mencekam. Andra mengerutkan kening. Ia meletakkan gelasnya. Jantungnya berdebar kencang. Penjaga villa bilang tidak akan ada orang yang datang malam ini. Siska baru saja pergi dan tidak mungkin kembali secepat ini. Lalu siapa yang mengetuk pintu di tengah hujan seperti ini?.Grup WA itu telah ramai oleh komentar-komentar miring pada Andra. Mereka percaya begitu saja tanpa mencari kebenaran. Andra telah menjadi bahan pembicaraan di wa itu. Ponsel Andra yang tergeletak di atas meja dapur terus bergetar. Notifikasi masuk tanpa henti. Grup Komplek yang biasanya hanya berisi info arisan dan jadwal ronda, kini berubah menjadi sidang pengadilan untuknya. Dan hakimnya adalah Siska. Andra mengambil ponsel itu dengan tangan kiri. Perban di siku kanannya masih merembes darah tipis. Ia membuka grup itu. Foto profil Siska yang cantik dengan filter glowing masih terpampang di atas, seolah menjadi bukti bahwa ia adalah korban. "Ya begitulah suami kalau tidak sayang istri. Rejekinya akan seret." Itu komentar Bu RT. Wanita yang pernah dibantu melunasi hutang-hutangnya di bank supaya rumahnya tidak disita. Andra masih mengingat, dua tahun yang lalu. Bu RT datang menangis ke rumahnya membawa surat sita bank. Andra langsung menyuruh Anton membereskan hutang Bu R
Luka-luka di tangan dan kaki Andra belum mengering. Perban di sikut kanannya sudah rembes lagi. Darah tipis merembes dari plester yang ditempel Mawar semalam. Kakinya juga perih, lecet karena terseret pagar besi saat menahan empat bodyguard suruhan Bu Ratna. Laki-laki itu duduk di sofa ruang tamu dengan kemeja yang sama sejak semalam, sobek di bagian lengan. Halaman rumahnya masih berantakan. Balok balok yang parah masih berserakan di teras. Dan juga Pot bunga pecah. Lalu suara itu datang lagi. Tok tok tok. Pagar besi diketuk berkali-kali. Ketukannya tidak kasar seperti tadi malam. Ketukan manja. Ketukan yang dibuat-buat sopan. Andra yang tadinya mau merebahkan badan, langsung tegak. Kepalanya masih pusing karena semalam kurang tidur dan karena video podcast Siska yang sudah ditonton 800 ribu orang. Ia mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu yang sudah lama tidak pernah ia ganti. Nafasnya berhenti. Siska. Wanita itu berdiri persis di depan pagar yang masih
Satu minggu Mawar tinggal di rumah Andra. Rumah itu sudah tidak ada bau alkohol lagi. Sekarang lantai bersih mengkilap dan bau sabun lantai memanjakan Indra penciuman. Jemuran rapi. Dapur selalu ada nasi hangat jam 6 pagi. Halaman rumah yang dulunya dipenuhi daun daun kering kini telah bersih. Bunga bunga yang dulunya layu kini bermekaran karena sering disiram. Andra jadi sering cepat pulang. Jam 6 sore sudah di rumah. Bukan karena tidak ada kerjaan, tapi karena di rumah sudah tidak sepi lagi. Malam itu, jam 8 malam, Andra baru selesai makan malam. HP pribadinya bergetar terus. Grup WA alumni SMA, grup WA kantor, bahkan Anton mengirim link yang sama. "Dra, lo lihat nggak podcast mantan lo?" "Bos, sabar ya Bos..." Andra membuka link itu. Thumbnail YouTube menampilkan wajah mantan istrinya dengan make-up flawless, mata sembab yang dibuat-buat, duduk di depan podcaster terkenal dengan judul besar: "CURHAT JANDA MANDIRI! RESMI SAH CERAI, DAPAT PENGGANTI LEBIH KAYA & DIHIAN
"Carikan aku pelayan, Ton." Andra berbicara di telepon. Dia berdiri di balkon lantai dua. Dari sana ia bisa melihat Siska di bawah. Wanita itu bersenandung kecil sambil memasukkan koper-koper bermereknya ke dalam bagasi mobil Alphard putihnya. Dibantu asisten pribadinya, wanita dengan kuku panjang dan tas KW yang selalu ikut Siska live jualan skincare. Andra lupa siapa namanya. Tidak ada tatapan sedih, tidak ada air mata. Hanya senyum lega seperti baru lepas dari penjara. Hatinya yang tadi masih sesak, kini berubah menjadi dingin. "Siap, Bos. Kriterianya seperti apa?" jawab Anton, mantan asisten pribadinya di seberang telepon. "Yang jujur. Yang butuh kerjaan beneran. Usia dua puluhan, biar kuat urus rumah besar ini. Yang paling penting sehat jasmani dan rohani. Aku butuh cepat, hari ini." Di seberang, Anton terkekeh. "Oke Bos. Cantik atau biasa aja? Kan Bos sekarang..." "Ton," potong Andra tegas. "Aku butuh pelayan buat urus rumah, bukan buat main-main. Jangan bercanda d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.