Se connecterRehan terpaksa menumpang hidup di rumah Tante Ratih, sahabat mendiang ibunya. Dari situ Rehan tahu, suami Tante Ratih selalu mengabaikannya, bahkan tak segan berlaku kasar pada Tante. Lama-kelamaan, Tante mulai perhatian pada Rehan, sampai akhirnya Rehan tersetrum kabel basah. Setruman itu membangkitkan [Sistem Membahagiakan Tante]. Semakin bahagia Tante Ratih, semakin banyak pula reward yang didapat Rehan. Dan, semua kebahagiaan itu hanya untuk satu tujuan. "Jika Om Burhan tak bisa, maka izinkan saya yang membahagiakan Tante, seutuhnya..."
Voir plusRehan terbangun karena mendengar bantingan pintu.
Dari ujung lorong, terdengar suara laki-laki yang berat dan kasar. Pemuda itu niat ambil air ke dapur, tapi niatnya bubar karena melihat pintu kamar Tante yang tak tertutup rapat.
"Mas, aku capek. Tolong, jangan malam ini," suara Tante terdengar rendah dan bergetar.
"Capek? Aku yang cari uang, dinas berhari-hari, terus aku mau minta jatah ke kamu. Kamu yang capek? Maksudmu apa?!" bentak laki-laki itu.
"Aku nggak mau, Mas. Aku nggak mau main sama kamu lagi!"
"Nggak mau? Dasar istri tak tahu diuntung!?"
PRAK!
Sesuatu dilempar ke dinding, disusul pekikan tertahan yang membuat Rehan mencengkeram gelasnya sampai buku-buku jarinya memutih.
‘Ini bukan urusanku. Aku cuma numpang,’ batin Rehan sambil mundur selangkah, tapi yang tidak ia sadari, tumitnya menyenggol galon kosong di samping pintu dapur.
Glontang!
Pintu kamar Tante terbuka lebar.
Om Burhan berdiri di ambangnya dengan kemeja batik yang kancingnya terlepas dua, perut buncit menekan kain, wajah merah padam.
Celaka!
Om Burhan dan Tante Ratih tahu kalau dirinya sedang mengintip!
"Sa-saya cuma mau ambil minum, Om," ujar Rehan sambil mengangkat gelas kosongnya tinggi-tinggi.
Mata Om menyipit, bergeser dari gelas ke muka Rehan, lalu ke kardus mi instan yang kelihatan di pintu kamar tamu.
"Kamu... anak mendiang Yunita itu, kan? Yang dulu ingusan, suka ngekor ibunya kalau main ke rumah lama kami? Sejak kapan kamu datang? Lalu, ngapain kamu di rumah saya malam-malam?!"
"Mas, dia numpang dulu di sini, baru tadi sore dateng. Dia habis dipecat dari kerjanya, nggak punya tempat tinggal," sela Tante dari belakang punggung suaminya.
"Numpang? Oh gitu ternyata. Berani kamu bawa laki-laki ke rumah, tanpa izin dariku?!"
Om melangkah cepat, lalu menghantam dada Rehan dengan dua telapak sekaligus. Rehan terhuyung ke belakang, dan pelipis kanannya menghantam ujung kusen pintu dapur.
BUK!
Dunia berputar sebentar.
Tante menerobos masuk di antara mereka dengan kedua tangan terentang. "Mas, jangan! Dia anak sahabatku, bukan orang asing. Aku yang minta dia tinggal di sini. Dia nggak salah apa-apa, salahin aku aja!"
Om menangkap lengan atas Tante, mencengkeramnya sampai ujung-ujung jarinya tenggelam di kulit. "Kamu belain dia di depan suamimu?!"
Tante meringis, dan ringisan itu membuat darah Rehan naik ke kepala. Dia memaksa berdiri tegak, satu tangan menempel di pelipis dan tangan lainnya terkepal.
Telunjuk Om terangkat, lurus ke muka Rehan, sementara tangan satunya tetap menahan Tante.
"Kamu kan numpang di sini, jadi jangan harap kamu bisa tidur tenang! Tantemu memang anggap kamu kayak anak, karena kita ga ada anak. Tapi, itu dia aja. Aku ga sudi anggap kamu anak! Lalu, karena kamu ga bayar, jadi kamu harus kerja!"
Rehan menunduk. Anak dari mana? Dari sore tadi Tante tidak sekali pun memanggilnya seperti anak.
"Subuh nanti, mobilku harus dicuci sampai bersih. Rumput depan dipotong, got dikeruk, galon diangkat kalau habis," sambung Om sambil menghitung pakai jari gemuknya.
"Iya, Om. Saya kerjain."
Tante menyentuh lengan suaminya pelan. "Mas, Rehan baru dateng tadi sore. Dia lagi susah, Mas, kerjaannya baru..."
Om menyeret lengan Tante ke ruang makan dengan langkah pendek-pendek. "Kamu diem. Yang cari duit di rumah ini aku. Jadi, sampai kamu ngomong lagi, aku…"
Dug!
Tante tersandung kaki kursi, dan pinggangnya menghantam ujung meja makan saat dia berusaha lepas dari cengkeraman Om Burhan.
Rehan maju tiga langkah meski lututnya masih goyah, lalu berdiri persis di belakang Om, cukup dekat sampai bau parfum itu menusuk hidungnya. Kedua tangannya mengepal di samping paha.
Om Burhan melepas lengan Tante. Dia membuka tudung saji hijau di meja, melihat tempe goreng yang sudah dingin dan sayur bening yang airnya menggenang, lalu mendorong piring itu ke tengah meja.
"Masak begini doang? Buat suami yang habis tugas tiga hari? Dasar istri tak tahu diuntung!" gumam Om sambil melangkah ke tangga.
Tak lama, terdengar suara pintu kamar atas dibanting. Lalu TV di atas menyala keras sekali sampai suara presenter berita terdengar di dapur.
Tante tetap berdiri di ruang makan, membelakangi Rehan, satu tangan memeluk pinggangnya sendiri.
"Han... Tante boleh minta tolong sekali lagi? Lampu kamar mandi Tante mati dari minggu lalu, water heater-nya ikut mati, dan Om bilang nggak usah manggil tukang karena buang-buang uang," pinta Tante tanpa berbalik, suaranya serak.
Rehan menyentuh pelipisnya yang sudah menggembung sebesar kelereng, lalu mengangguk. "Bi-bisa, Tante. Saya anak tukang servis."
Mendengar itu, Tante akhirnya berbalik, dan matanya langsung jatuh ke pelipis Rehan. "Astaga, kepala kamu. Kamu nggak pusing? Nanti Tante kompres, tapi Tante pengen bersihin badan dulu, Han, soalnya kalau nggak, Tante nggak bakal bisa merem malam ini."
"Pusing dikit, Tante. Nanti juga hilang."
Kamar mandi Tante ada di dalam kamarnya, sempit, dan gelap total.
Tante berdiri di belakang Rehan sambil menjulurkan senter HP lewat samping bahunya, sampai bayangan punggung Rehan menutupi separuh dinding.
"Ini kayaknya colokannya longgar, Tante. Kabelnya juga udah kelupas, besok harus ganti," kata Rehan sambil menoleh sedikit ke belakang.
"Bisa dibenerin malam ini, nggak? Tante nggak bisa tidur kalau badan Tante belum bersih," keluh Tante sambil bergeser mendekat supaya cahayanya lebih terang.
Gerakan itu mendorong Rehan setengah langkah ke depan, tepat saat pelipisnya berdenyut dan pandangannya bergoyang. Kaki kanannya meluncur di keramik licin, badannya oleng, dan tangan kirinya refleks mencari pegangan ke dinding.
DZZZT.
Badan Rehan menegang, kejang, lalu lututnya lepas dan punggungnya jatuh telentang di lantai kamar mandi. Sementara itu, HP Tante terpental karena panik melihat Rehan.
Gelap.
Rehan memegang kedua pinggul Tante dan masuk dari belakang. Tante mendesah panjang, kepalanya terkulai di antara lengannya. "Aah, dalem banget, Han. Lebih dalem lagi. Tante kuat."Plak. Plak. Plak.Bunyi daging bertemu daging memenuhi dapur, dan gelas di atas meja ikut bergetar.Rehan menghentak makin cepat. Pinggul Tante bergoyang mengikuti irama, dan kedua payudaranya ikut terayun di bawah dadanya. Rehan mengulurkan tangan, menangkup salah satunya dari belakang, lalu meremasnya pelan."Mmh, Han, iya, remes. Hhh, Tante, Tante mau keluar!""Saya nggak berhenti, Tante.""Jangan berhenti! Dikit lagi, aah, dikit lagi!""Sayuuur! Bu Ratih! Terongnya baru dateng, Bu!"Celaka tiga belas! Teriakan itu menembus jendela dapur. Gerobak Mbak Ningsih berhenti tepat di depan pagar, rodanya berderit, dan suara perempuan itu terdengar jelas di seberang tembok.Rehan membeku di tengah gerakan. Tante menutup mulutnya dengan telapak tangan, menoleh dengan mata melotot, lalu menggeleng keras ke arah Reh
Di ambang dapur, Rehan berhenti. Tante berdiri di depan kompor memakai kemeja kotak-kotak milik Rehan yang kemarin dia pakai, dan hanya dua kancing bagian bawah yang terpasang. Ujung kemeja itu jatuh sampai pertengahan paha. Tiap kali Tante mengangkat tangan untuk mengambil garam, bagian belakangnya yang bulat ikut mengintip keluar.Mochi duduk di kursi makan dan mengawasi wajan dengan mata malas."Duduk, Han. Telurnya sebentar lagi mateng," kata Tante tanpa menoleh.Rehan menurut, tapi dia memilih kursi yang menghadap jendela, bukan kompor. Dari kaca jendela dapur, dia bisa melihat pantulan Tante yang sedang menggoyangkan wajan, dan pantulan itu terlalu jelas untuk ukuran pagi hari.Tante berjalan ke kulkas dengan langkah melebar dan kaku, seperti orang yang baru turun dari motor setelah perjalanan jauh."Tante, kakinya kenapa?" tanya Rehan, polos sekali.Tante berbalik sambil menodongkan spatula. "Gara-gara siapa coba?""Saya nggak tahu, Tante.""Kamu tahu. Jangan pura-pura bodoh."
"Tante nyaman. Dari tadi Tante mikirin ini terus." Tante mengangkat wajahnya, dan matanya yang masih basah memantulkan lampu jalan.Layar biru menyala redup di samping kursi Rehan.[Misi: Balas ciuman Tante. Syarat, Tante yang mulai. Reward: 4 poin.]Dalam gelap, dada Tante naik turun di balik kebaya hijau yang tegang, dan tiap tarikan napasnya menekan lengan Rehan. Wangi melati dari sanggulnya bercampur bau keringat dan air mata yang mengering. Lalu Tante menempelkan bibirnya ke bibir Rehan.Hanya menempel, diam, hangat, dan sedikit asin karena air mata. Rehan kaku dengan mulut tertutup rapat dan kedua tangan mencengkeram lututnya sendiri.Tante tertawa kecil di bibir Rehan. "Buka dikit, Han. Kamu kayak lagi dicium tukang parkir.""Maaf, Tante, saya belum pernah," bisik Rehan jujur."Tante tau. Makanya Tante yang ajarin."Ujung lidah Tante menyentuh bibir bawah Rehan. "Mmh, buka dikit, iya, gitu."Rehan membuka mulutnya. Lidah Tante masuk, hangat dan basah, menyentuh lidahnya sekali,
Om muncul dari belakang membawa segelas sirup merah, lalu sengaja memperkeras suaranya supaya terdengar sampai meja sebelah."Sopir saya izin, Bu, jadi anak ini saya pinjam buat nyetir. Soal gemuk, kebayanya sampai kayak lemper, Bu. Udah saya bilangin dari rumah supaya ganti, tapi Ratih ngeyel," kata Om, dan tawanya pecah paling keras di antara semua orang.Saudara-saudara di meja itu ikut tertawa."Lemper isi daging, Mas Burhan, makanya Ratih nggak muat!" seru seorang bibi bersanggul, dan tawa di meja itu pecah lagi, lebih keras.Senyum Tante membeku di wajahnya seperti pajangan toko. Tangan kirinya yang bercincin mencengkeram ujung jarik sampai kain itu kusut, dan Rehan tahu betul perempuan itu sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.Rehan menggenggam tas selempang itu sampai buku jarinya memutih. Mati kutu. Kalau dia maju dan membentak Om di depan saudara-saudara, Om punya alasan sempurna untuk mengusirnya malam ini juga.Kalau Rehan diusir, UKT tidak terbayar. Kala
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.