LOGINTatapan Ryan beralih pada Tetua Agung Keluarga Draug yang saat ini sedang diserang bertubi-tubi oleh Slaughter dan Pengemis Tua dengan brutal.
Meski kedua monster tua itu menyerang dengan ganas, Tetua Agung masih mampu bertahan dengan kuat. Meski terlihat kesulitan!"Orang tua itu pasti memiliki lebih banyak harta karun bersamanya," analisa Ryan dengan mata menyipit tajam. "Dia mungkin menyimpan yang terbaik untuk dirinya sendiri."Pemikirannya cukup logis. Para kuDua hari duduk bersila di sudut itu ternyata tidak sia-sia.Satu celah dalam pemahamannya tentang Seratus Langkah Mengejar Petir yang tadinya tersumbat rapat kini terbuka, tidak penuh, tapi cukup untuk membuat dia yakin bahwa waktu yang dibutuhkan sebelum teknik itu bisa dia gunakan sudah tidak akan terlalu lama lagi.Dia menggerakkan jari-jarinya pelan, merasakan aliran energi yang mengikuti pola baru itu. Masih kasar, masih ada yang belum mulus. Tapi fondasi yang dia butuhkan sudah ada.Ryan berdiri dan menepuk jubahnya pelan. Matanya beralih ke Patung Seratus Binatang. Di depan patung, sekelompok genius dari satu klan terakhir masih berjuang melawan tekanan jiwa yang mereka picu. Begitu mereka selesai dan melangkah mundur dari arena, giliran Klan Harimau Darah tiba.Serena berdiri di sampingnya dengan senyum yang terasa seperti orang yang menyimpan sesuatu dan sabar menunggu ditanya. Tangannya terlipat di
Ryan tidak bisa menemukan di mana tepatnya Yuriel Leviathan berdiri di antara kerumunan yang memadati lembah ini. Tapi dia tidak khawatir soal itu.Ini ujian yang diselenggarakan Istana Roh Abadi, dan Yuriel pasti mengikuti setiap perkembangannya. Apa pun yang terjadi di sini, cepat atau lambat akan sampai ke telinganya.Ryan mengalihkan pikirannya sejenak. 'Divine God Beast Tamer, kau begitu yakin bisa membantu. Apakah kau punya metode khusus untuk menghadapi tekanan itu?'Suara Divine God Beast Tamer mendengus pelan. "Kau meragukan kemampuanku? Baiklah, kuakui bahwa secara kekuatan murni aku memang tidak unggul dari kultivator lain selevelku.""Tapi soal binatang iblis dan roh sejati, tidak ada yang menandingi pemahamanku di seluruh benua ini. Tidak dulu, tidak sekarang.""Begini saja. Kalau kau sudah benar-benar mencapai batasmu dan tidak bisa bertahan lagi, serahkan tubuhmu kepadaku sementara. Aku yang akan mengambil alih."
Mungkin lebih bijak menyerah sekarang, melepaskan esensi darah itu dengan sukarela, dan memilih jalan iblis sepenuhnya. Bakatnya di bidang itu sudah terbukti luar biasa, dan masa depannya di jalan itu tetap cerah bahkan tanpa esensi darah klan mana pun. Tapi sebelum keputusan itu sempat dibuat, bayangan semi-oranye di depannya mengeluarkan raung panjang yang melemah. Energi yang tadi diledakkan sekaligus untuk meningkatkan tekanan justru menguras cadangannya terlalu cepat. Tubuh bayangan itu retak dari dalam, retakan itu melebar cepat dari dada hingga ke ujung sayap. Warnanya memudar dari hampir-oranye kembali ke setengah kuning setengah oranye, lalu dengan satu ledakan cahaya yang menyilaukan, pecah menjadi serpihan yang berhamburan dan lenyap. Gumpalan esensi darah yang pekat melayang di depan genius itu. Genius Klan Unicorn Naga membuang napas panjang, satu-satunya tanda bahwa dia baru saja melewati sesuatu yang hampir melampauinya. Darah mengalir deras dari bibirnya, ta
"Itu benar. Secara keseluruhan, ini tetap menguntungkan bagi mereka." Seseorang di kerumunan mengangguk. "Dengan bakat yang dia miliki ditambah esensi darah yang sudah dia dapatkan, masih ada harapan untuk menembus Ranah Star Seed dengan sisa usianya." "Bagaimanapun, dia adalah genius kedua Klan Unicorn Naga yang berhasil lulus. Bagi klan sebesar mereka, pencapaian ini tetap layak dirayakan." "Soal untung rugi urusan belakangan. Yang paling penting sekarang adalah genius yang satu lagi," sahut suara lain. Semua pandangan bergeser ke satu titik yang sama. ** Genius ketiga Klan Unicorn Naga berdiri tegak di hadapan Patung Seratus Binatang. Dia yang termuda, tapi kultivasinya yang paling dalam di antara ketiganya, dan itu bukan selisih yang tipis. Tubuhnya sudah penuh darah, tekanan dari bayangan semi-oranye di depannya sudah jauh melampaui dua genius sebelumnya, tapi ekspresinya tidak berubah. Aura di sekitarnya tetap stabil seperti tembok batu yang diguyur air deras tapi tid
"Lulus! Dia benar-benar lulus!" "Masa depan genius ini sudah tidak terbendung lagi. Klan Unicorn Naga semakin besar!" "Kalau dua yang lain juga lulus, Klan Unicorn Naga bakal mendominasi wilayah ini selama puluhan ribu tahun ke depan!" Ryan menatap genius kedua yang masih berjuang di hadapan Patung Seratus Binatang. Kondisinya jauh lebih mengenaskan dari yang baru saja lulus. Seluruh tubuhnya basah oleh darah, dan getaran di tubuhnya terasa lebih hebat bahkan dari jarak ini. Napasnya terdengar berat bahkan dari kejauhan, terputus-putus dan tidak beraturan. "Keduanya menghadapi jiwa kelas kuning," kata Ryan. Matanya tidak beranjak dari arena. "Kenapa yang pertama selesai lebih dulu?" "Meski sama-sama kelas kuning, ada gradasi di dalam kelas itu sendiri," jawab Serena. "Genius yang pertama tadi menghadapi jiwa kuning muda. Kepadatan energinya lebih ringan, jadi wajar habis lebih cepat." Ia mengangguk ke arah genius yang masih berjuang. "Sedangkan yang ini menghadapi jiwa kuni
"Tapi kepadatan energi di setiap kelas itu berbeda sangat jauh," lanjut Serena. "Bahkan kelas semi-oranye pun sudah jauh melampaui kelas kuning penuh." "Dan genius yang bisa memicu jiwa kelas kuning saja sudah termasuk yang luar biasa langka. Kebanyakan kultivator sepanjang hidupnya tidak pernah menyaksikan kemunculan satu pun."Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan. "Jangankan kelas merah atau oranye penuh. Kelas semi-oranye pun kemungkinan besar sudah jadi yang tertinggi dalam ujian kali ini." "Kelas oranye baru muncul sekali setiap seratus tahun. Sedangkan kelas merah... itu sudah masuk ke wilayah legenda.""Tidak ada kultivator dari generasi yang hidup sekarang yang pernah menyaksikannya langsung."Ryan mendengarkan semuanya dengan wajah yang tenang. Matanya tidak sekali pun bergerak dari arena.'Kalau aku ikut ujian ini, aku ingin menantang jiwa kelas merah itu.'Bukan karena sombong. Tapi kalau sudah masuk ke
Wakil Ketua Fordo Carlos bermain-main dengan gumpalan darah di tangannya seolah-olah sedang melihat mainan yang menarik. Kemudian dia melangkah maju dengan santai dan memandang ke arah Gunung Langit Biru dengan mata yang menyipit berbahaya.Dia tersenyum lebar dan berkata denga
Venerable Immortal Yuriel Leviathan sengaja menceritakan semuanya dengan detail yang menakutkan. Dia ingin melihat reaksi Rindy Snowfield dan Shirly Jirk ketika menyadari betapa hopelessnya situasi Ryan, serta bagaimana mereka akan memilih antara cinta dan keselamatan diri.Mendengar kata-kata yan
"Kakek tua bangka," ucap Ryan dengan suara yang terdengar berbeda—lebih dalam dan bergema, "apakah kau benar-benar pikir aku akan kalah dari orang rendahan sepertimu?""Pergi sana dan mati!" teriaknya dengan dominan.Beberapa saat kemudian, sebuah bercak darah yang pekat muncul
Di kejauhan yang aman, para Tetua Agung dari Sekte Demon Blade dan Sekte Sky Sword telah mundur dengan bijak ke sebuah paviliun megah, menyaksikan pemandangan brutal dengan tenang sambil menunggu kesempatan terbaik untuk menyerang.Para penonton biasa di kejauhan sudah berhamburan ketaku







