LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu atas Hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
Suara yang menggema di dalam kantin itu ternyata berasal dari Lucian Zeth.Pria itu tertawa keras sambil menunjuk Ryan Pendragon.“Adik Seperguruan Ryan, kau dengar sendiri ucapan Lena barusan, bukan?” “Badannya tiba-tiba tidak enak. Aneh sekali, kenapa perutnya baru mual tepat ketika kau hendak memesan makanan di Area Heaven?”Ia menepuk pahanya sendiri, lalu tertawa semakin keras.“Hahahaha! Coba katakan padaku, kenapa Lena mendadak sakit?” “Apa karena dia sudah bisa membayangkan kau akan mempermalukan diri di depan begitu banyak orang? Sampai perutnya bergejolak dan selera makannya hilang, begitu?”Tawanya terdengar menusuk.Gelombang tawa langsung pecah di seluruh kantin. Banyak murid menatap Ryan dengan ekspresi mengejek, seolah mereka sudah melihat hasil akhirnya bahkan sebelum pemuda itu benar-benar sampai di Area Heaven. Beberapa orang bahkan sengaja berbisik cukup keras, menunggu saat Ryan dipaksa mundur karena tidak mampu membayar.Kilatan puas muncul di mata Lucian.‘Boc
Meski Lucian Zeth tidak benar-benar menyerang, aura Ranah Star Seed miliknya tetap meledak keluar.Tekanan itu menghantam ke arah Ryan. Udara di sekitar mereka terasa turun mendadak, beberapa meja di dekatnya berderit, dan murid tahun pertama yang kebetulan berada di jalur aura itu langsung terhuyung sambil memegangi dada. Cangkir-cangkir di atas meja bergetar pelan, sementara beberapa hidangan panas menumpahkan kuah ke pinggir nampan.Namun pemandangan berikutnya membuat wajah Lucian berubah.Ryan Pendragon, yang ia anggap hanya sampah Ranah Creation, tetap berjalan menuju Area Heaven tanpa terpengaruh sedikit pun. Punggungnya tegak. Langkahnya tenang. Bahkan ujung jubahnya tidak bergetar.Lucian terdiam selama beberapa detik.Ia jauh lebih kuat daripada kultivator lain di ranah yang sama. Maka kenapa auranya bahkan tidak mampu menekan seorang Kultivator Ranah Creation tingkat satu?Amarahnya naik semakin cepat.Ia benar-benar ingin bergerak. Ia ingin melumpuhkan bocah itu di tem
“Kamu mau mengajak orang lain padahal kemampuanmu sendiri belum kau ukur?” Blaine Sonn ikut menimpali dari samping.Ia menatap Lena Sharpe, lalu tersenyum mengejek.“Adik Seperguruan Lena, sekarang kau sudah tahu orang seperti apa yang berdiri di sebelahmu, bukan?”Blaine menunjuk Ryan dengan dagu.“Dia hanya anak kampung yang merasa dirinya hebat. Wawasannya sempit, dan ia tidak tahu sebesar apa dunia ini.” “Coba bandingkan dengan Kakak Zeth. Jaraknya terlalu jauh. Sebelum kau ikut malu karena dirinya, lebih baik makan bersama kami saja.”Gunnar Fenn juga ikut berbicara dengan nada malas. “Bocah, aku menasihatimu agar tidak mempermalukan diri sendiri. Harga di sana bukan angka yang bisa kau bayangkan.”Ryan Pendragon memandang ketiga orang itu dengan tenang.Tidak ada perubahan sedikit pun di wajahnya. Kelopak matanya bahkan tidak bergerak. Dengan kekuatan dan pengalaman yang ia miliki sekarang, oran
Lucian Zeth menoleh ke arah yang ditunjuk Gunnar Fenn.Senyum di wajahnya langsung lenyap.Di kejauhan, Lena Sharpe, perempuan yang sudah ia anggap sebagai miliknya, sedang berjalan berdampingan dengan Ryan Pendragon. Mereka tampak berbicara dengan cukup santai, bahkan sesekali tertawa kecil.Rahang Lucian mengeras.Bagi dirinya, pemandangan itu sama saja dengan tamparan di depan umum.Jika hal ini tersebar, bagaimana orang lain akan memandangnya? Seorang Kultivator Ranah Star Seed yang kalah bersaing dengan murid baru Ranah Creation tingkat satu?Penghinaan seperti itu tidak bisa ia telan.“Bukankah Lena bilang badannya sedang tidak enak?” Blaine Sonn mengerutkan kening. “Dia menolak menemani Kakak Zeth ke Mata Air Abadi karena alasan itu, bukan?”Ia menatap Lena dari jauh, lalu mencibir.“Lalu kenapa sekarang dia ada di sini, makan dengan riang bersama sampah itu? Lihat wajahnya. T
Lena Sharpe menarik lengan jubah Ryan Pendragon, lalu membawanya berkeliling kantin.Setelah masuk lebih dalam, Ryan baru menyadari bahwa kantin Akademi Heavenly Flame tidak sesederhana yang ia bayangkan. Tempat itu terbagi menjadi tiga area besar.Area Mortal.Area Earth.Area Heaven.“Semua murid yang diterima akademi boleh mengambil makanan di Area Mortal tanpa membayar sepeser pun,” jelas Lena. Nada suaranya terdengar lebih hidup daripada sebelumnya, seolah pembahasan makanan berhasil sedikit mengusir mendung di wajahnya.Ia menunjuk deretan hidangan yang tertata rapi.“Tapi jangan meremehkan makanan gratis di sini. Rasanya benar-benar di luar akal. Satu porsi dari Area Mortal tidak kalah dari hidangan termahal di rumah makan paling terkenal di Benua Valorisia. Aku serius.”Ryan menatap area tersebut.Aroma dari sana memang sangat menggoda. Setiap hidangan memancarkan energi spiritual halus, jelas bukan makanan biasa. Bahkan bahan yang digunakan pun tampak dipilih dengan cermat.
Langkah ketiga adalah memperkuat energi spiritualnya.Karena Ryan mengkultivasi Teknik Reinkarnasi Dewa Iblis, energi spiritualnya memang sudah sangat murni dan tebal. Namun itu belum cukup. Jika ia hanya mengandalkan teknik tersebut, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tahap di mana ia bisa memakai jurus terkuat tanpa efek balik akan terlalu lama.Setiap kali ia memaksakan jurus melewati batas, kepalanya akan berdenyut selama berhari-hari, dan indranya menjadi tumpul.Dalam pertarungan hidup dan mati, keadaan seperti itu sama saja dengan menyerahkan leher kepada musuh.Ia membutuhkan cara lain untuk menambal kekurangan itu dan memperkuat fondasinya. Cara tersebut harus ia temukan di Akademi Heavenly Flame.Langkah keempat justru yang paling merepotkan.Ryan masih buta terhadap tempat ini.Untuk memastikan letak Tablet Reinkarnasi, ia harus memanfaatkan orang dalam. Nolan Chester memang salah satu pilihan, tetapi kedudukan Instruktur Chester di akademi tidak terlalu tinggi. Raha







