ログイン🔞 Novel dewasa 21+ Mengandung hubungan dewasa, kekerasan, rahasia gelap, dan konflik rumah tangga penuh obsesi Bagaimana jadinya jika seorang pria miskin bernama Kael Donovan mati dalam eksperimen vaksin virus mematikan… lalu bangkit kembali sebagai vampir dengan darah yang tidak lagi manusia? Saat hidupnya yang hancur membuatnya menerima peran sebagai “pengganti” dalam pernikahan orang lain, ia justru terjebak dalam rumah tangga yang seharusnya bukan miliknya—hingga batas antara kewajiban dan keinginan perlahan runtuh ketika ia jatuh pada sang nyonya dingin yang tak pernah boleh ia sentuh, sementara darah barunya mulai menuntut hal yang lebih berbahaya dari sekadar cinta: kelaparan yang tak bisa lagi ia kendalikan.
もっと見るBau formalin yang menyengat adalah hal pertama yang menyapu indra penciumannya. Dingin yang menusuk tulang terasa seolah-olah es telah menggantikan sumsum di dalam tubuhnya. Kael Donovan mencoba membuka kelopak matanya, namun terasa seberat timah.Di kegelapan itu, sebuah suara mekanis terdengar samar, berdenyut di dalam gendang telinganya yang kini seratus kali lebih sensitif.
Deg. Deg.
Suara itu bukan berasal dari mesin. Itu adalah detak jantung seseorang di luar sana. Sangat lambat, namun terdengar seperti tabuhan genderang perang di kepala Kael.
"Nomor subjek 09, Kael Donovan. Waktu kematian: 02.14 pagi. Penyebab: Gagal organ akibat reaksi penolakan serum Crimson-X."
Suara seorang pria paruh baya terdengar dingin, disusul suara goresan pena di atas kertas. Kael merasakan tubuhnya terbaring di atas permukaan logam yang sangat dingin. Sebuah brankar mayat."Sayang sekali. Padahal dia adalah harapan terakhir untuk mendapatkan antibodi Crimson Fever. Bersihkan ruangannya, bawa dia ke krematorium sekarang," lanjut suara itu.
Langkah kaki menjauh. Suasana hening sejenak, sebelum pintu geser terbuka dengan bunyi sret yang tajam. Seseorang mendekat, aroma tubuhnya—aroma darah yang mengalir di bawah kulit—tercium begitu kuat hingga membuat perut Kael melilit perih.Ini bukan lapar biasa. Ini adalah rasa haus yang membakar tenggorokan, seolah-olah ia baru saja menelan bara api.
Aku... belum mati? batin Kael berteriak.
Tiba-tiba, sebuah tangan kasar menyentuh bahunya, hendak menarik kantong mayat yang membungkus tubuhnya.
"Sial, kau berat sekali untuk pria miskin yang penyakitan," gerutu si petugas medis.
Mata Kael terbuka seketika. Namun, penglihatannya tidak lagi normal. Dunia di depannya tampak berwarna merah darah, dengan urat-urat nadi di leher pria itu tampak berdenyut jelas, memanggil-manggilnya untuk datang mendekat.
Sret!
Tangan Kael bergerak lebih cepat dari kilat. Ia mencengkeram pergelangan tangan petugas itu hingga terdengar bunyi krak yang mengerikan. Tulang itu hancur dalam satu remasan.
"Aaargh! Setan! Kau—!"
Kalimat petugas itu terputus. Kael bangkit dari brankar dengan gerakan yang tidak manusiawi. Ia tidak duduk, ia seolah terlempar ke atas oleh kekuatan pegas yang dahsyat. Dengan geraman rendah yang keluar dari tenggorokannya, Kael menerjang.Ia membenamkan taringnya yang baru saja tumbuh tajam ke leher pria itu.
Glek. Glek.
Cairan hangat, kental, dan manis mengalir masuk ke tenggorokannya. Sensasi itu luar biasa. Setiap tegukan darah itu terasa seperti aliran listrik yang menghidupkan kembali sel-sel tubuhnya yang mati. Kael merasa otaknya meledak dalam kenikmatan yang gelap dan penuh hasrat.
"Mati... aku tidak boleh mati..." gumam Kael di sela-sela hisapannya.Ia tidak peduli pada rontaan pria di bawahnya yang perlahan melemah. Kael terus menghisap hingga tetes terakhir, hingga tubuh pria itu mengering seperti mumi di bawah kungkungannya.
Setelah rasa haus itu sedikit mereda, Kael melepaskan gigitannya. Ia berdiri di tengah ruang mayat yang remang-remang. Darah berceceran di dagu dan kemeja rumah sakitnya yang compang-camping.
Ia menoleh ke arah cermin perak di sudut ruangan. Di sana, ia melihat sosok asing. Matanya yang semula cokelat gelap kini bersinar merah menyala di kegelapan, pupilnya vertikal layaknya predator malam. Kulitnya pucat sepucat marmer, namun otot-otot di tubuhnya kini tampak lebih padat dan bertenaga.
"Apa yang mereka lakukan padaku?" bisiknya, suaranya kini terdengar berat dan bergetar penuh ancaman.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari ambang pintu yang terbuka. Kael berbalik dengan sigap, siap untuk membunuh lagi.
"Luar biasa. Aku tidak menyangka investasi kecilku akan membuahkan hasil seindah ini."Seorang pria berdiri di sana. Mengenakan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap yang sangat mahal. Rambutnya tersisir rapi, dan jam tangan emas melingkar di pergelangan tangannya.
Adrian Voss. Sahabat lama Kael yang kini menjadi pengusaha paling berpengaruh di Arvendale.
"Adrian?" Kael mendesis, menahan dorongan untuk menerkam pria di depannya"Apa yang kau lakukan di sini?"
Adrian melangkah masuk tanpa rasa takut sedikit pun, meskipun ia baru saja melihat Kael menghisap darah manusia hingga kering. Ia menutup pintu ruangan, menguncinya, lalu menatap mayat di lantai dengan jijik."Menyelamatkanmu, Kael. Dan memberimu tawaran yang tidak bisa kau tolak," ujar Adrian tenang.
Kael tertawa sinis, menunjukkan taringnya yang masih berlumuran darah. "Menyelamatkanku? Aku menjadi monster karena eksperimen sialan ini! Ibuku... bagaimana dengan ibuku?"
"Ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik di dunia jika kau setuju bekerja denganku. Jika tidak... yah, kau tahu bagaimana hukum bagi monster yang membunuh manusia di CCTV rumah sakit ini, bukan?"
Adrian menyodorkan sebuah tablet yang menampilkan rekaman Kael sedang memangsa petugas medis tadi.
Kael mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya yang tajam menembus telapak tangannya sendiri. Namun, dalam hitungan detik, luka itu menutup tanpa bekas. Ia mulai menyadari bahwa dirinya bukan lagi manusia."Apa yang kau inginkan dariku, Adrian?" tanya Kael, mencoba menekan insting predatornya.
Adrian mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan yang penuh intrik. "Aku mandul, Kael. Sebuah kutukan genetik yang tidak bisa disembuhkan bahkan oleh uang miliaran dolar. Tapi keluargaku menuntut pewaris. Jika aku tidak memiliki anak dalam satu tahun, seluruh kekayaan Voss akan jatuh ke tangan paman-pamanku yang serakah."
Kael mengerutkan kening. "Lalu? Kau ingin aku melakukan apa? Mencuri bayi?"
"Tidak," Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan rahasia gelap. "Aku ingin kau menjadi 'pengganti' di ranjang pernikahanku. Aku ingin kau menghamili istriku, Elena."
Jantung Kael—yang tadinya nyaris tidak berdetak—tiba-tiba berdenyut kencang. Ia tahu siapa Elena Voss. Wanita itu adalah definisi dari keanggunan. Ia selalu memakai gaun tertutup, bicara dengan nada lembut yang menenangkan, dan memiliki tatapan mata yang seolah menyembunyikan kesedihan mendalam.
"Kau gila," desis Kael. "Dia istrimu. Dan kau ingin pria lain... monster seperti aku... menyentuhnya?"
"Bukan sembarang pria, Kael. Kau memiliki gen yang sudah berevolusi. Kau adalah puncak dari eksperimen ini. Anak yang kau hasilkan akan menjadi mahluk yang sempurna," Adrian menepuk bahu Kael. "Lagipula, Elena tidak akan tahu. Kita akan melakukannya di kegelapan. Dia akan mengira itu adalah aku."
Kael terdiam. Bayangan Elena melintas di benaknya. Aroma tubuh wanita itu yang pernah ia hirup sekilas di sebuah acara penggalangan dana dulu—aroma bunga lili yang bercampur dengan sesuatu yang sangat manis, sesuatu yang kini terasa sangat menggoda bagi sisi vampirnya.
"Berapa banyak?" tanya Kael akhirnya.
"Cukup untuk membuatmu dan ibumu hidup seperti raja selamanya. Dan tentu saja, pasokan 'darah segar' yang kau butuhkan akan aku sediakan secara legal."
Kael menatap tangannya yang berlumuran darah. Ia sudah masuk ke dalam lubang neraka. Tidak ada jalan kembali."Baiklah. Aku terima kontrak ini," ucap Kael dingin.
"Bagus," Adrian tersenyum lebar. "Selamat datang di keluarga Voss, Kael. Mari kita lihat, apakah kau bisa menahan diri untuk tidak menggigit leher istriku saat kau berada di dalam tubuhnya nanti malam."
Kael tidak menjawab. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ada sesuatu yang bangkit. Bukan hanya rasa haus akan darah, tapi sesuatu yang lebih primitif. Rasa haus akan memiliki wanita itu sepenuhnya.
Malam itu, di bawah langit Arvendale yang mendung, Kael Donovan resmi menandatangani kontrak dengan iblis. Ia tidak tahu bahwa Elena Voss menyimpan
rahasia yang jauh lebih besar, dan bahwa dirinya hanyalah bidak dalam permainan yang melibatkan nyawa, cinta, dan kutukan darah abadi.
Langkah kaki Kael meninggalkan ruang mayat, menuju mansion mewah keluarga Voss yang akan menjadi saksi bisu dari pengkhianatan paling intim yang pernah ada.
Asap tebal berwarna kelabu pekat menyembur dari tabung gas yang dijatuhkan oleh dr. Selena Morvain. Dalam hitungan detik, kegelapan mutlak menelan seisi ruangan bawah tanah klub malam tersebut. Jerit ketakutan ratusan orang beradu dengan suara derap sepatu bot pasukan militer yang merangsek masuk, memecah keheningan malam menjadi simfoni kekacauan yang mengerikan.Bagi manusia biasa, situasi ini adalah mimpi buruk tanpa jalan keluar. Namun, bagi Kael Donovan, kegelapan adalah wilayah kekuasaannya yang paling alami. Pupil matanya melebar seketika, mengubah pandangannya yang semula gelap gulita menjadi lanskap monokrom yang sangat tajam. Ia bisa melihat setiap pergerakan manusia di sekitarnya bagaikan rekaman video yang diputar lambat.Namun, bukan siluet pasukan bersenjata atau senyuman provokatif dr. Selena yang menyita fokusnya. Sepasang telinga supernya menangkap satu frekuensi suara yang sangat ia kenal di lantai atas. Suara itu begitu melengking, sarat akan keputusasaan, dan langs
"Aaargh!"Raungan Kael Donovan memecah keheningan kamar mewah itu. Tubuhnya jatuh berdebum di lantai marmer, melengkung kaku seperti busur yang ditarik paksa. Listrik bertegangan tinggi dari chip di tulang belakangnya membakar saraf, memicu insting purba yang seharusnya tetap tertidur.Elena Voss berteriak, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia melihat pemandangan yang mustahil: punggung Kael tampak berkedut, otot-ototnya mencuat hingga nyaris merobek kulit, dan matanya memerah sepekat darah segar yang baru tumpah."Kael! Apa yang terjadi? Tolong!" Elena mencoba mendekat, namun Kael menggeram, memperlihatkan taring tajam yang berkilau di bawah cahaya rembulan yang masuk dari jendela.Di luar pintu, Adrian Voss menarik napas dalam-dalam sambil menatap layar kendalinya. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia bisa mendengar suara ketakutan istrinya, namun itu tidak menghentikannya. Baginya, rasa sakit Kael adalah proses kalibrasi yang diperlukan."Sempurna," gumam Adrian. "Sisi manu
Elena Voss berdiri mematung di ambang pintu paviliun. Kotak kue di tangannya bergetar hebat, mencerminkan guncangan di dalam dadanya. Pemandangan di depannya menghancurkan ketenangan yang selama ini ia bangun; Kael, pria yang ia kira adalah pengawal pendiam, tengah dikungkung oleh Aria Bellrose dengan cara yang sangat intim."Kael...?" Suara Elena nyaris tidak keluar, serak dan penuh luka.Kael sentak mendorong Aria dengan kekuatan yang hampir membuat penyanyi itu terjungkal. Ia berdiri dengan napas memburu, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas. Namun, terlambat. Di bawah temaram lampu paviliun, Elena bisa melihat kilatan merah di kornea mata Kael yang tidak alami."Elena, ini tidak seperti yang kau lihat," Kael melangkah maju, namun suaranya terdengar seperti geraman rendah."Jangan mendekat!" Elena mundur selangkah, kotak kue itu jatuh ke lantai marmer, isinya hancur berantakan. "Siapa kalian sebenarnya? Dan mata itu... kenapa matamu berwarna merah, Kael?"Aria Bellro
Kael Donovan berdiri mematung di paviliun belakang mansion Voss. Matanya menatap dr. Selena Morvain yang masih menunggunya di bawah bayang-bayang pohon tua. Namun, pikirannya tertinggal di kamar utama, pada Elena Voss yang baru saja ia tinggalkan dalam keadaan tak berdaya."Kau tidak mendengarku, Subjek 09?" Selena melangkah mendekat. Suara tumit sepatunya menghantam kerikil dengan nada yang tajam dan berwibawa."Berhenti memanggilku dengan nomor sialan itu," desis Kael. Ia merasakan taringnya kembali berdenyut, reaksi alami saat predator merasa terpojok. "Apa mau kalian sebenarnya? Adrian bilang aku bebas asalkan aku menuruti kontraknya."Selena tertawa sinis, sebuah tawa yang tidak mencapai matanya yang dingin. Ia berhenti tepat di depan Kael, mengabaikan jarak aman. Tangan dokter itu, yang masih terbungkus sarung tangan karet tipis, mengusap dada Kael yang keras."Adrian hanya butuh pewaris. Tapi aku? Aku butuh data," bisik Selena. "Kau satu-satunya yang selamat dari serum itu. Dar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.