MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
"Hari ini, aku akan menggunakan dua jenis esensi darah yang sudah kugabungkan." Suara Ryan tenang, seperti seseorang yang sedang mendeskripsikan cuaca. "Wujud Bayangan Roh Sejati."Dalam satu detik, aura Ryan meledak ke atas.Di belakangnya, wujud binatang raksasa termanifestasi. Harimau Putih dengan surai keemasan, namun tubuhnya ditutupi sisik-sisik giok halus yang hanya bisa dimiliki oleh keturunan Unicorn Naga. Auranya menjulang tinggi, menutupi sebagian langit di atas puncak berbatu itu.Dua esensi darah yang berbeda menyatu menjadi satu manifestasi tunggal yang memancarkan tekanan dari era yang jauh lebih tua dari peradaban yang ada sekarang.Tangan wujud itu mengangkat sepenuhnya."Hancurkan!"Ryan mengayunkan Pedang Iblis Darah.BOOM!Cahaya emas memenuhi seluruh puncak berbatu itu dalam sekejap. Gelombang energi yang dilepaskan mendorong keluar ke semua arah sekaligus.
Eren Carster sudah melihat Mira Yin tumbuh dari bayi hingga menjadi gadis yang berdiri di depannya sekarang. Ia menyayanginya seperti anak sendiri, mengingat setiap kemarahan kecilnya sejak gadis itu masih sering merengek di pangkuan kakeknya.Tapi ia juga tahu dengan yakin bahwa dengan kekuatan Ryan saat ini, Ryan tidak akan pernah kalah dari Mira Yin.Menurut takdir yang sudah dibacakan peramal itu bertahun-tahun lalu, Ryan adalah orang yang ditakdirkan menjadi tujuan Mira. Apakah sebagai bawahan, pengikut, atau sesuatu yang lain, itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan lagi.Di matanya, Ryan adalah seseorang yang bisa dipercaya.Ryan mengerutkan dahinya sebentar saat mendengar kata-kata Eren tadi. Setelah beberapa detik, ia mengangguk sekali.**Di sebuah puncak berbatu di luar Kota Spirevale, tiga sosok mengambil posisi masing-masing.Ryan dan Mira Yin saling berhadapan dari jarak yang cukup untuk
Mira Yin menatapnya dengan sorot yang mempertanyakan apakah ia salah mendengar. "Keuntungan? Bertarung saja perlu keuntungan?" Orang ini benar-benar terlihat materialistis. Apa sebenarnya yang dilihat Brentley Holt dan kakeknya dari pemuda ini? Tapi ia tidak menyerah. Tangan Mira Yin bergerak dan sebilah belati kecil muncul di telapaknya. Ia membalikkan belati itu sekali di udara sebelum menahannya datar. "Belati ini adalah artefak ruang-waktu. Kalau kamu menang, aku berikan ini. Cukup?" Ryan memandang belati itu sebentar, kemudian menggeleng. "Aku tidak butuh benda-benda itu." Sudut bibirnya bergerak naik sedikit. "Yang aku mau..." Ia menatap topeng hitam yang menutupi seluruh wajah Mira Yin dengan tenang. "Yang aku mau adalah melihat wajahmu. Aku tidak tertarik bertarung dengan seseorang yang tidak berani memperlihatkan wajah aslinya." Kalimat itu keluar dengan ringan, tanpa beban yang sama sekali ia bayangkan akan menyusulnya. Diam seketika jatuh di dermaga itu. Bukan han
Kapal terbang mereka akhirnya mendaratkan diri di Kota Spirevale setelah perjalanan yang cukup panjang. Udara di kota perbatasan itu terasa lebih dingin dari Sekte Moon Flower, dengan aroma asap dan logam yang khas dari kota yang ramai oleh pendatang dari berbagai sekte. Kaki mereka baru menyentuh dermaga pendaratan ketika Mira Yin sudah bergerak lebih dulu. Gadis bertopeng hitam itu memutar posisinya dan berdiri tepat di hadapan Ryan, menghalangi jalan. "Baiklah, kita sudah turun." Suaranya terdengar seperti seseorang yang baru saja menemukan alasan terakhir yang bisa dipakai. "Bisakah kita bertarung sekarang? Atau kamu memang pengecut yang takut menghadapi perempuan?" Ryan memandang ekspresi serius di balik topeng itu dan menghela napas kecil dalam hati. Selama perjalanan dari Sekte Moon Flower, gadis ini sudah mengganggunya minimal dua puluh kali untuk meminta duel. Setiap kali Ryan memberikan alasan, Mira Yin menemukan celah untuk membantahnya. Setiap kali ia mengalihk
Beberapa saat kemudian, Eren Carster memimpin Ryan dan Mira Yin keluar dari aula utama.Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar, Eren sesekali melirik Ryan dengan tatapan yang penuh pikiran. Sesuatu masih mengganjal di benaknya.Ia sudah cukup lama menjadi Ketua Sekte untuk tahu bahwa esensi darah Unicorn Naga yang diolah tidak akan menghasilkan suara raungan sekeras dan seancaman itu.Tapi Brentley Holt sudah berbicara. Dan Tetua Agung Brentley Holt bukan orang yang perkataannya bisa dipertanyakan begitu saja.Saat mereka melangkah keluar dari batas Sekte Moon Flower, satu firasat menggelitik Eren tanpa bisa diabaikan. Keikutsertaan Ryan di Kompetisi Rising Dragon kali ini mungkin akan menggemparkan seluruh Benua Valorisia.Dari Sekte Moon Flower, ketiganya menuju Kota Phoenix Api. Di dermaga udara kota itu, sebuah kapal terbang sudah menunggu, siap membawa mereka menuju sebuah kota kecil di perbatasan Benu
Ryan menatap sosok yang berdiri di sudut aula itu.Mira Yin juga hadir? Ia tidak menyangkanya. Yang lebih mengejutkan adalah aura Mira Yin yang terasa berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.Lebih padat. Lebih tajam.Rupanya gadis itu sudah bertumbuh cukup signifikan dalam waktu yang tidak lama. Terakhir kali Ryan melihatnya, aura itu belum setajam ini. Ada yang berubah.'Berarti dia salah satu peserta kompetisi kali ini.'Eren Carster menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. "Baiklah, semua sudah hadir. Kita bersiap untuk berangkat."Ryan sedikit mengerutkan dahi. "Bukankah ada tiga slot?"Jessica Neuro tersenyum tipis. "Xavier Dragvine tidak berhasil menjadi murid rahasia.""Tapi ia lulus Ujian Darah Roh, jadi Tetua Agung Yordan sudah membawanya ke klan asing dan meminta para kultivator di sana untuk merekomendasikannya ikut kompetisi melalui jalur itu."Ia melanjutkan sebelum R
"Selama kau bisa mengalahkanku, aku bersedia mengikutimu," kata Jake Kriss. Ia mencengkeram pedang spiritual di pinggangnya. Gelombang amarahnya membumbung ke langit dan mengguncang sekitarnya saat ia meraung, "Sialan Klan Spirit Blood! Beraninya mereka merusak Gunung Langit Biru kita!"
Di sisi kerajaan Zealot Brook, banyak jenderal buru-buru mundur, membawa serta pasukan di belakang mereka. Mereka semua sangat tertekan melihat kekuatan yang ditunjukkan Ryan. Dada dan jantung Demon King tertusuk oleh serangan kuat Arthur Pendragon… Tidak seorang pun menduga hal ini akan terjadi
Pada zaman dahulu, kalau bukan karena banyaknya kultivator Ranah Dao Integration di Gunung Langit Biru yang mampu menekan binatang iblis dan tumbuhan iblis, binatang iblis dan tumbuhan iblis tidak akan pernah tunduk kepada manusia. Ekspresi Demon King tampak dingin dan menakutkan. Garis samar Gre
Stuart Fenex menyerang dengan telapak tangannya yang dipenuhi qi destruktif. Energi spiritual-nya meledak dan berkumpul di udara untuk membentuk jejak telapak tangan raksasa berwarna merah membara yang mengandung kekuatan luar biasa.Serangan itu begitu dahsyat hingga membuat udara berdesing keras







