Mag-log inSiang semuanya <( ̄︶ ̄)> apakah di tempat kalian mendung? di tempat othor petir menyambar-nyambar terus nih( ╹▽╹ ) Dan ada kabar baik nih, ternyata othor salah baca Chat. Othor hanya disarankan menamatkan di bab 500an, tapi kalau mau lanjut terserah, wkwkwkwk jadi, othor akan tetap menggunakan alur plot yang othor sudah rencanakan sejak awal. tapi di sisi lain, othor juga akan tetap membuat novel baru untuk tahun depan. othor ada 2 ide cerita. cerita pertama tentang kaisar surgawi yang menjadi seorang ayah rumah tangga. sementara cerita kedua mengenai perjalanan lahirnya Dewa Perang, dari mantan pensiunan muda militer menjadi polisi lalu lintas hingga menjelma menjadi Dewa perang yang ditakuti banyak negara. entah cerita mana yang akan di terima, yang pasti keduanya tidak harem kali ini, wkwkwkwk(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 2/6 Bab
Ryan berjalan mendekatinya. Langkah demi langkah. Tidak cepat. Tidak perlu cepat.Dan dengan setiap langkah yang ia ambil, sesuatu dalam diri Yakou Zedd semakin hancur. Bukan tulang-tulangnya, tulang-tulangnya sudah habis. Yang retak sekarang adalah sesuatu di balik itu semua, napasnya yang mulai tidak beraturan, matanya yang tidak bisa memilih satu titik untuk dipandang, bibirnya yang bergerak tanpa menghasilkan suara apa pun.Tribun terdiam.Bahkan kepala-kepala keluarga yang sudah menyaksikan ratusan pertarungan sepanjang hidup mereka tidak berkedip.Yakou mengangkat wajahnya. Matanya memandang ke atas ke arah Ryan yang kini berdiri tepat di hadapannya. Matanya merah, tidak dari amarah, tapi dari seseorang yang sudah kehabisan segalanya dan masih dipaksa sadar untuk merasakannya. Tidak ada lagi kata-kata. Tidak ada rencana. Tidak ada kalkulasi.Dengan menggunakan setiap milimeter kekuatan yang tersisa, ia mendekatkan wajahnya ke tanah.Ke arah kaki Ryan.Tribun meledak dalam bis
Hanya satu pikiran yang tersisa di kepala Yakou Zedd.Mundur. Mundur sekarang. Mundur sebelum terlambat.'Selama aku menyerah, Tetua Agung pasti akan menyelamatkanku.' 'Setelah ini, aku akan meninggalkan Sekte Moon Flower selamanya.' 'Tidak akan pernah muncul di hadapan Ryan Pendragon lagi. Tidak pernah!'Tangannya bergerak secepat kilat. Mutiara Pelindung Laut Utara memancar dari telapaknya, melingkupi seluruh tubuhnya dalam kubah biru muda yang berkilauan. Ia menarik napas dalam-dalam, membuka mulutnya."Aku meny..."BOOM!Cahaya emas meledak tepat di depan wajahnya.Kubah biru itu berguncang keras seperti lonceng yang dipukul palu raksasa. Retak-retak halus menjalar di permukaannya selama sepersekian detik sebelum perlahan menstabilkan diri. Yakou mundur setengah langkah, jantungnya hampir berhenti.'Hampir.'Keringat mengalir deras di punggungnya. Tangannya mengepal di dalam kubah. Tapi kubah itu sudah stabil kembali. Mutiara Pelindung Laut Utara adalah artefak peninggalan
Ryan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan."Aku akan masuk ke dahimu dulu. Perlu istirahat."Sebelum Ryan sempat berkata apa pun, pria itu berubah menjadi sinar iblis yang meluncur dan masuk ke celah di antara kedua alisnya.Hening.Ryan berdiri sendirian di antara reruntuhan yang perlahan-lahan mulai ambruk dari dalam. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan bara. Tulang-tulangnya berderak pelan saat ia menunduk dengan susah payah dan meraih kepala yang tergeletak di tanah.Kepala klon itu berat di tangannya.Tapi ia mengangkatnya.Ruang itu mulai runtuh sepenuhnya. Energi iblis yang tersisa menggulung dari segala penjuru, melingkupi tubuh Ryan yang penuh luka bak ombak yang menelan satu-satunya batu yang masih berdiri di tengah lautan.**Di arena, Yakou Zedd berdiri dengan senyum yang terus melebar.Senyum itu mengisi wajahnya hingga ke sudut-sudut yang biasan
'Anak itu pasti sudah mati.'Klon itu terbaring di antara reruntuhan yang gosong.Setiap serat dalam kerangkanya berteriak kesakitan, tapi pikirannya justru mencari satu-satunya kenyamanan yang tersisa. 'Backlash dari serangan tadi jauh lebih besar dari apa yang aku sendiri terima.' 'Ditambah pantulan dari tekniknya sebelumnya, tidak ada kultivator Primordial Chaos yang bisa menanggung itu semua.''Tidak mungkin ada.''Tidak mungkin.'Tap!Klon itu membeku.Telinganya menangkap sesuatu di antara kesunyian. Hanya satu ketukan, samar, hampir tenggelam dalam suara reruntuhan yang sesekali masih ambruk di sekitarnya.Ia mengabaikannya. 'Mungkin batu yang jatuh.' Pendengarannya mungkin mulai berhalusinasi karena lukanya terlalu parah.Tap! Tap!Kali ini lebih dekat.Perasaan buruk merayap di dalam dadanya pelan-pelan, seperti racun yang bekerja tanpa
Klon itu membeku.Bukan karena taktik. Bukan karena kalkulasi.Seluruh energi iblisnya, seluruh insting bertahan hidup yang telah ia asah selama ribuan tahun, semuanya berhenti sekaligus dalam satu detik yang sama. Tangannya yang sedang membentuk segel bergetar tanpa bisa ia hentikan. Kakinya melangkah mundur satu langkah, dua langkah, tanpa perintah dari otaknya.Sepasang mata itu.Dia mengenalnya.Bukan dari pengalaman pribadi. Dari sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu. Ingatan kolektif bangsa iblis yang diwariskan turun-temurun sejak zaman kuno, tertanam di lapisan terdalam inti keberadaannya, sesuatu yang tidak bisa dilupakan bahkan oleh makhluk yang sudah hidup ribuan tahun."ITU... ITU DIA!"Suaranya putus di tengah kalimat, keluar setengah sebagai teriakan dan setengah sebagai bisikan yang tidak punya bentuk yang jelas. "Yang menekan Niflheim di zaman kuno!" "Tidak! Tidak mungkin!" "Bagaimana bisa makhluk itu ada di sampingmu?! Bukankah dia sudah musnah?!""Aku tidak pe
Cahaya emas itu muncul pertama kali hanya sebersit kecil di antara gulungan energi iblis yang pekat.Seperti nyala lilin di tengah badai.Lalu ia berlipat ganda.Tunas-tunas cahaya emas menerobos dari dalam lautan gelap tanpa henti, satu demi satu, puluhan demi puluhan, sampai tidak ada lagi sudut di dalam ruang itu yang terbebas dari kilauannya. Energi Gao yang murni dan padat meledak keluar sekaligus, membakar setiap lapisan energi iblis yang mengepung dari semua sisi.Lautan gelap itu kewalahan.Lalu runtuh.BOOOM!Klon itu tidak sempat bereaksi.Pada jarak sedekat itu, Energi Gao yang berpijar menghantam langsung ke arahnya tanpa hambatan. Cahaya emas itu tidak sekadar membakar permukaan. Ia menembus kulit, menjebol setiap lapisan pertahanan iblis yang tersisa, dan menyayat kedua mata merah darahnya dari dalam hingga kepulan asap kehijauan menguar dari rongga matanya.Klon itu menjerit.Bukan karena terluka biasa. Tapi karena rasa sakitnya menembus batas yang ia sendiri tidak p
Lelaki tua itu memikirkan semuanya. Dia mengambil kendi anggur di tanah dan kembali ke tempat duduknya di depan papan catur. Dia berkata dengan lemah, "Pak Tua, mari kita lanjutkan bermain catur. Anak ini cukup luar biasa." Lelaki tua yang terluka itu menatap Ryan dalam-dalam. Tatapannya penuh k
Ryan duduk bersila di atas tempat tidur, menenangkan pikirannya. Namun saat hendak meminum esensi darah tersebut, pikirannya melayang pada aspek lain dari kultivasinya."Soal kultivasi spiritualku..." Ryan merenung dalam diam.Dao Buddha-nya baru saja mulai disempurnakan. Dia harus menyempurnakann
Cahaya tak berujung berkelebat di sekujur tubuhnya, menciptakan pemandangan yang menakjubkan sekaligus mengerikan.Ryan tak bisa menahan tawa gila yang meluncur dari mulutnya. "Boneka dan artefak, ayo keluar semua!""Aku akan meledakkan boneka dan artefakku untuk membunuh kalian semua di sini!"Dal
Wendy tidak memperhatikan kata-kata mereka. Tangannya yang ramping bergerak sedikit, dan token giok di tangan leluhur Sekte Absolute Zero muncul di tangannya.Senyum muncul di wajahnya saat dia melihat ke arah Kota Spiritum."Absolute Zero Palace telah berada dalam kekacauan ter







