ログインBeberapa waktu berlalu, dan suasana di ruangan itu semakin mencekam.
Adel, dengan wajah pucat, mencondongkan tubuhnya ke arah Ryan.
"Dengar," bisiknya, suaranya bergetar, "kau tidak tahu apa yang kau hadapi. Keluarga Shaw mungkin baru naik daun dalam lima tahun terakhir, tapi pengaruh mereka di Golden River tidak bisa diremehkan."
Ryan menoleh, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Oh ya? Ceritakan padaku."
Adel menarik napas dalam-dalam, matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. "Keluarga Shaw... mereka bukan sekadar keluarga kaya biasa. Lima tahun lalu, mereka hanya pemilik beberapa properti di Golden River. Tapi sekarang? Mereka menguasai hampir setengah pasar real estate kota ini."
Ryan mendengarkan dengan seksama, matanya menyipit sedikit mendengar perkembangan pesat keluarga Shaw.
"Bukan hanya itu," Adel melanjutkan, suaranya semakin pelan. "Mereka punya koneksi politik yang kuat. Walikota, kepala kepolisian, bahkan beberapa anggota dewan kota—semuanya berada di bawah pengaruh Shaw. Bisnis mereka merambah ke berbagai sektor: perbankan, teknologi, bahkan media massa."
"Seberapa kuat pengaruh mereka?" tanya Ryan, nada suaranya tenang namun penuh keingintahuan.
Adel merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik. "Sangat kuat. Tahun lalu, ada pengusaha yang mencoba bersaing dengan mereka di proyek pembangunan mall baru. Dalam seminggu, semua izin bisnisnya dicabut, rekeningnya dibekukan, dan dia terpaksa meninggalkan kota. Itulah kekuatan Shaw di Golden River."
Ryan terdiam sejenak, mencerna informasi itu. Lalu, tiba-tiba ia tersenyum lebar, membuat Adel tersentak kaget.
"Terima kasih, Adel," ujar Ryan, nada suaranya ringan seolah mereka baru saja membicarakan cuaca. "Kau baru saja memberiku informasi yang sangat berharga. Aku berhutang padamu."
Adel menggeleng frustasi. "Ini bukan lelucon! Kau harus pergi dari sini. Sekarang."
Dia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah kartu dan kunci. "Ini, ambillah. Kartu ini berisi semua tabunganku, ada sekitar 600 juta di dalamnya.’
“Kemudian, kunci ini untuk mobilku di parkiran. Pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah kembali," tambahnya.
Ryan menatap benda-benda di tangannya, lalu beralih ke wajah Adel. Ia tidak menyangka teman SMP-nya ini akan begitu peduli padanya di saat genting seperti ini.
"Bagaimana denganmu?" tanya Ryan, matanya menyiratkan kekhawatiran.
Adel tersenyum lemah. "Jangan pikirkan aku. Aku hanya seorang gadis, mereka tidak akan membunuhku. Tapi kau... jika tidak pergi sekarang, semuanya akan terlambat."
Sebelum Ryan bisa membalas, sebuah suara menggelegar dari luar ruangan.
"Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini!"
Pintu terbuka lebar. Sekelompok pria berjas hitam masuk, diikuti oleh seorang pria paruh baya dengan aura mengintimidasi.
"Magnus Shaw," bisik Adel, wajahnya semakin pucat.
Dia merasa seolah dunianya runtuh. "Sudah berakhir," bisiknya putus asa. "Kali ini tamatlah riwayat kita."
Di belakang Magnus, seorang pria tua dengan punggung bungkuk mengikuti dengan langkah pelan namun pasti.
Ryan mengamati kedatangan mereka dengan santai, tangannya masih memegang garpu.
Namun, matanya tiba-tiba menyipit saat melihat pria tua di belakang Magnus.
'Menarik,' pikir Ryan. 'Di memiliki aura seperti kultivator, namun dia tidak memiliki meridian. Itu artinya, dia adalah seorang praktisi bela diri.'
Ketika Adel melirik Ryan, matanya melebar tak percaya. Pria itu masih asik menyantap makanannya!
"Apa yang kau lakukan?!" desis Adel panik. "Magnus Shaw ada di sini, dan kau masih bisa makan?!"
Ryan menyodorkan sepotong ayam ke arah Adel. "Ini enak sekali, percayalah. Ayo, coba sedikit."
Adel hanya bisa terdiam, begitu pula dengan Yohan dan semua orang di ruangan itu. Mereka menatap Ryan seolah dia sudah gila.
Sementara itu, Effendy berlari ke arah ayahnya, air mata dan ingus bercucuran. "Ayah! Itu orangnya!" teriaknya sambil menunjuk Ryan.
"Dia bilang ingin membunuhku dan menghabisi keluarga Shaw! Dia memukuli pengawalku, menamparku, dan bahkan mengatakan kau harus berlutut di hadapannya!"
Magnus melirik wajah bengkak putranya, ekspresinya semakin gelap. Dia menatap tajam ke arah para tamu.
"Semua yang terlibat dalam masalah ini," ujarnya dengan nada dingin, "saya sarankan kalian keluar sekarang dan bersujud sepuluh kali. Jika kalian melakukannya, keluarga Shaw mungkin akan mempertimbangkan untuk membiarkan mayat kalian tetap utuh."
Semua mata tertuju pada Ryan, menunggu reaksinya. Namun, yang mereka lihat hanyalah seorang pemuda yang masih asyik menikmati hidangannya.
"Apa-apaan ini?" bisik salah seorang tamu. "Dari mana datangnya orang gila ini?"
"Mungkin dia kabur dari rumah sakit jiwa," sahut yang lain.
"Atau dia sedang menikmati makanan terakhirnya sebelum mati," tambah tamu ketiga.
Magnus, geram melihat sikap acuh tak acuh Ryan, memberi perintah pada pengawalnya. "Bawa bajingan itu kepadaku!"
Belasan pengawal bergegas maju. Salah satunya langsung melancarkan pukulan ke arah Ryan tanpa basa-basi.
"Awas!" teriak Adel panik.
Namun, tepat sebelum pukulan itu mengenai sasaran, Ryan akhirnya meletakkan garpunya. Dengan gerakan santai, dia memiringkan tubuhnya dan menangkap tangan si pengawal.
"Tsk, tsk," Ryan berdecak, seolah menegur anak kecil. "Tidak sopan menyerang orang yang sedang makan, kau tahu?"
"Lagi pula, kalian terlalu lemah," ujar Ryan dingin. "Sama sekali tidak layak untuk melawanku."
Suaranya yang tenang namun mengintimidasi membuat seluruh ruangan terdiam.
Pengawal yang tangannya tertangkap, sadar dari keterkejutannya, segera mencabut belati dari pinggangnya. "Dia sangat kuat!" teriaknya pada rekan-rekannya. "Mari serang bersama-sama!"
Dalam sekejap, tujuh atau delapan tinju melayang ke arah Ryan dari berbagai arah.
Ryan hanya menghela napas, seolah merasa terganggu. "Haruskah kalian memaksaku bertarung?"
Dengan satu gerakan ringan, dia melepaskan cengkeramannya pada pengawal pertama. Energi Qi samar tiba-tiba menyeruak dan menyebar di sekelilingnya.
BAM!
Suara ledakan keras memenuhi ruangan. Dalam hitungan detik, belasan pengawal yang menyerangnya terpental dan jatuh bergelimpangan di lantai.
Keheningan total menyelimuti ruangan. Semua orang terpaku, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
Adel menatap Ryan dengan mata terbelalak, napasnya terengah-engah. "Kau ... bagaimana bisa ...?"
Ryan menoleh, senyum percaya diri tersungging di bibirnya. "Ini bukan apa-apa. Kali ini, biarkan aku melindungimu. Mulai hari ini, aku pastikan tidak ada seorang pun yang berani memaksamu minum minuman keras bahkan segelas pun. Tidak seorang pun!"
Dengan itu, Ryan berbalik dan menatap Magnus Shaw dengan tatapan dingin yang menusuk.
Lima tahun yang lalu, Ryan hanyalah sampah dari keluarga Pendragon, nyaris tidak bisa bertahan hidup dengan harga diri yang hancur. Kini, ia kembali dengan kekuatan yang cukup untuk meluluhlantakkan kota ini.
Magnus, terkejut dengan tatapan Ryan, mundur beberapa langkah. Lelaki tua di belakangnya dengan sigap menahannya.
"Tetua Zimmer," ujar Magnus dengan suara bergetar, "mungkinkah orang ini..."
Tetua Zimmer mengangguk pelan. "Anda benar. Pria ini memiliki kemampuan yang sama seperti saya. Tapi dilihat dari usianya, dia pasti baru saja memasuki ranah ini. Dia bukan ancaman nyata."
Magnus menghela napas lega. "Kalau begitu, saya serahkan ini pada Anda, Tetua Zimmer. Terima kasih banyak."
Di mata orang luar, Tetua Zimmer hanyalah kepala pelayan keluarga Shaw.
Namun Magnus tahu, bahwa posisi Tetua Zimmer di keluarga Shaw, adalah tertinggi kedua setelah kakek buyutnya yang kini sedang berkultivasi di gunung.
Yang lebih penting, Tetua Zimmer merupakan seorang praktisi bela diri, figur legendaris dengan kekuatan luar biasa.
Magnus pernah menyaksikan sendiri bagaimana Tetua Zimmer menciptakan retakan di tanah hanya dengan satu jarinya.
Kekuatan itulah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa posisi keluarga Shaw di Golden River terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan penuh percaya diri, Tetua Zimmer melangkah maju, dan berhenti tepat di depan Ryan.
Ia menyipitkan matanya sedikit dan meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya, seakan dia adalah praktisi bela diri paling ahli di kota.
"Anak muda, jangan terlalu sombong. Hanya karena kau telah belajar beberapa gerakan bela diri, bukan berarti kau bisa sombong di depan master sepertiku."
Tetua Zimmer mendengus. "Di mataku, kamu tidak lebih dari seekor semut."
Alasannya sederhana dan tidak bisa dibantah.Sebagian besar dari mereka baru menyadari sesuatu yang hampir tidak mungkin, Ryan lebih kuat dari mereka.Ia menantang Chester bukan karena bodoh. Melainkan karena harga diri, dan itu adalah harga diri yang memang seharusnya ada pada seseorang yang benar-benar kuat.Yang bodoh adalah mereka sendiri. Mereka yang dari tadi tidak mampu melihat bakat dan kekuatan yang sudah berdiri tepat di depan mata mereka.Dan kini mereka berdiri di sini, menyaksikan akibat dari penilaian yang salah.Orang-orang menelan ludah, menatap gugup ke arah cahaya yang belum juga memudar.Di antara semua yang berdiri di sana, Selvia Windson menatap pusaran cahaya itu dengan mata yang sudah penuh air mata sejak tadi.Tanpa sadar, kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri. Bekas merahnya sudah dalam, tapi dia tidak merasakannya sama sekali.Ada rasa sakit di dadanya yang bukan dari luka fisik mana pun. Ia bahkan mulai membenci dirinya sendiri.Kalau bukan karena
Ryan juga merasakannya.Tekanan dari Esensi Pedang Kuno itu nyata, cukup untuk membuat siapapun berpikir dua kali sebelum melangkah. Tapi ia tidak mundur.Immortal Divine Body-nya sudah terbukti mampu menahan serangan yang jauh lebih brutal dari ini. Bahkan jika daya ledak Esensi Pedang Kuno itu jauh melampaui dugaan, tubuhnya akan tahan.Tubuh semacam itu memang dibangun untuk menanggung hal-hal yang tidak seharusnya bisa ditanggung.Yang menjadi masalah adalah Rex.Jika pertarungan meletus sekarang dan gelombang energi besar menyapu area ini, Rex yang sudah hampir melepaskan diri dari Wibawa Ilahi Harimau punya celah untuk kabur. Memukul Chester tidak ada gunanya jika Rex lolos dari sini dengan nyawa. Dan itu tidak boleh terjadi.'Kalau Esensi Pedang Abadi-ku sudah mencapai puncak, Esensi Pedang Kuno ini tidak akan jadi masalah sama sekali.'Tapi itu bukan sekarang.Ryan menarik napas pendek. Suaranya turun menjadi bisik."Sepertinya hanya satu cara.""Teknik Membakar Darah!"Api
Rex Sallow tidak sempat bereaksi.Dua esensi darah kuno yang meledak bersamaan telah mengalirkan daya jiwa ke dalam teriakan Ryan tadi. Bukan sekadar suara.Ada tekanan di baliknya, sesuatu yang menghantam bukan telinga, melainkan jiwa.Dan jiwa Rex, dalam kondisi terluka separuh habis, tidak punya kekuatan untuk menahannya.Lututnya menghantam tanah. Keras.Rex Sallow berlutut.'Wibawa Ilahi Harimau.'Ryan menghela napas singkat. Kemampuan itu jauh lebih kuat setelah ia menyerap dua esensi darah tambahan dari Ujian Darah Roh.Melawan kultivator dengan jiwa ilahi yang terlatih, serangan jiwa semacam ini nyaris tidak berguna. Tapi Rex sudah melemah parah, dan situasinya berbeda.Tubuh Rex menggigil. Otot-ototnya menegang, wajahnya memerah, rahangnya mengunci.Ia mencoba bangkit dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Kakinya tidak mau bergerak.Ada tekanan yang tidak kasat mata
Chester sudah mencabut pedangnya. Bilah itu hampir transparan, seperti kaca tipis yang dibentuk menjadi senjata, memantulkan cahaya sekitar menjadi berkas-berkas redup yang nyaris tidak tertangkap oleh mata biasa. Tidak ada suara dramatis saat bilah itu keluar, hanya satu desisan halus yang langsung lenyap.Rex tahu satu hal tentang Chester yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Pria itu tidak pernah mencabut pedangnya kecuali ketika menghadapi seseorang yang benar-benar ia anggap berbahaya bagi nyawanya sendiri. Bukan sebagai gertakan kosong. Bukan sebagai pertunjukan. Chester tidak punya kebiasaan seperti itu.Artinya...Apakah kultivator Ranah Primordial Chaos puncak ini benar-benar membuat Chester merasa terancam?Kekhawatiran mulai merayap masuk perlahan.Rex sebenarnya tahu, meski jarang mau mengakuinya, bahwa fondasi kultivasi Chester tidak sekuat yang terlihat.Dalam setah
Rex Sallow menyapu semua orang dengan tatapan yang menyimpan kebencian penuh. Matanya berhenti di Ryan, mengukurnya dengan sorot yang ingin mengingat wajah itu untuk dibenci seumur hidup, sebelum akhirnya ia berpaling ke Chester. "Kita pergi." Dua kata yang terasa seperti ditelan paksa. Di balik kata-kata pendek itu ada kalkulasi yang sudah Rex jalankan sejak beberapa menit lalu. Sekte Cloud Nether terlalu jauh dari wilayah Keluarga Sallow dan Sekte Silver Frost. Tidak ada bala yang bisa tiba dalam waktu yang masuk akal. Dan Ryan, yang baru keluar dari alam rahasia dalam kondisi seperti ini, jelas bukan orang dengan latar belakang biasa. Kekuatan yang ia tampilkan hari ini sudah membuktikan itu. Tidak ada kultivator seusianya yang bisa menangkis serangan Chester tanpa beban sama sekali. Kalau Chester benar-benar bentrok dengan Victor Lux, belum tentu Chester yang keluar dalam keadaan utuh. Satu pertimbangan lagi yang lebih berat, kondisi tubuhnya sendiri masih belum pulih
Henry memutar pikiran. Apakah orang tua gadis ini menyembunyikan sesuatu selama ini? Apakah ada seorang anak laki-laki yang lahir diam-diam tanpa sepengetahuannya? Tidak ada penjelasan lain yang masuk akal. Seorang gadis dalam kondisi seperti ini, setengah alam, setengah manusia, dibelenggu tanpa bisa bergerak, masih memanggil nama seseorang dengan nada seperti itu. Itu bukan panggilan biasa. Itu panggilan seseorang yang masih punya alasan untuk bertahan. Henry Celestedragon segera berbalik. "Sebelum memindahkannya," ucapnya kepada pelayan tua yang masih berdiri di belakangnya, "cari tahu dulu segala sesuatu tentang dataran bawah tempatnya berasal. Semua orang yang pernah berhubungan dengannya. Semua yang bisa kamu temukan." "Siap, Tuan." Pelayan tua itu mengangguk dan langkahnya menghilang ke dalam kegelapan koridor. Hanya Henry Celestedragon yang tersisa, dan Luna Celestedragon yang masih terbungkus bayangan naga yang tidak berhenti berputar. ** Di area formasi telepo
Penguasa kota memandang seorang pemuda tampan yang duduk di bawah dengan tatapan memohon. "Ben Dublex, aku benar-benar takut Arthur Pendragon akan datang dan membunuhku untuk membalas dendamnya." Ia menelan ludah dengan susah payah. "Dia sekarang seorang penjaga resmi, dan kekuatannya jauh lebih me
Ryan mengerti dengan jelas apa yang sedang terjadi ketika mendengar kata-kata pedas Finn Mark. Dia hendak melangkah maju untuk menerima tantangan, ketika Paman Simon menghentikannya dengan cepat dan menggelengkan kepalanya dengan serius. Paman Simon berbisik dengan pelan, "Kau belum pulih sepenuh
Ryan meraung dan tiga Great Dao-nya muncul di belakangnya dengan megah. Masing-masing Dao telah berevolusi menjadi Great Dao, lebih kuat dan lebih solid. Ryan sudah mampu menembus Ranah Demigod, dan hanya kekurangan senjata tingkat Primordial Chaos yang memadai.Pada saat yang sama, Ryan memanggi
Hampir empat ratus murid Ranah God King dari Seratus Sekte telah gugur, yang setara dengan menghancurkan masa depan sekte mereka untuk beberapa generasi mendatang. "Sialan kau, Arthur Pendragon!" umpat seorang tetua dengan gigi gemeretak. "Bajingan kecil ini harus membayar dengan darahnya!" seru y







