LOGINini bab kedua pagi ini. bisa dibayangkan apa yang akan terjadi di kediaman Jorge selanjutnya, wkwkwkwk (≧▽≦) Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 0/3 Bab Reguler: 2/2 Bab (Komplit)
Pria tua berjubah hitam menatap api es yang menyembur dari retakan kulitnya dengan wajah ketakutan. Ia sudah mencoba mengerahkan sisa energi spiritual, tetapi kobaran biru pucat itu terus melahap tubuhnya dari dalam.Dalam keputusasaan, ia mengeluarkan sebuah rune dan melemparkannya ke udara."Selamatkan aku!" teriaknya.Namun tidak ada lagi waktu untuk menunggu pertolongan. Api es menyebar ke seluruh tubuhnya dalam satu tarikan napas. Daging dan tulangnya terbakar bersama jubah hitam yang dikenakannya. Bahkan sebelum rune itu bisa membawakan bantuan, pria tua tersebut telah lenyap tanpa menyisakan abu.Puncak Gunung Freezing Sky akhirnya kembali sunyi. Setelah pertarungan panjang yang hampir merenggut nyawa mereka, musuh terakhir dari Keluarga Miles telah tewas.Wendy menoleh kepada Ryan yang masih terduduk di tanah. Senyum tipis muncul di balik cadarnya. Ia hendak menghampiri pemuda itu, tetapi baru beberapa langkah berjalan, setetes darah mengalir dari dahinya.Senyumnya memud
Pria tua berjubah hitam menatap telapak tangannya dengan wajah membeku. Sabit yang sejak tadi digunakannya untuk menyerang Ryan kini hanya menyisakan serpihan hitam yang jatuh dari sela-sela jarinya.Ia mengangkat kepala, lalu memandang peti pedang raksasa di hadapan Ryan. Benda itu bahkan tidak menunjukkan bekas kerusakan setelah menerima tebasan langsung darinya."Benda apa itu sebenarnya?!" serunya tak percaya.Ryan tersenyum. Namun senyum itu berbeda dari sebelumnya. Tatapannya kini dipenuhi keangkuhan yang tidak biasa, seolah orang yang berdiri di sana sama sekali tidak memandang sang tetua sebagai ancaman."Peti Pedang Six Paths." Ia mengangkat dagu sedikit. "Aku Quillon Wynn, Dewa Pedang Six Paths!"Begitu kata-kata itu terucap, peti pedang langsung bergerak. Benda raksasa tersebut berputar di udara sambil mengeluarkan dengungan berat, kemudian melesat menghantam pria tua berjubah hitam.Boom!Benturannya membuat esensi darah sang tetua bergejolak. Ia buru-buru mengangkat te
Raungan pria tua berjubah hitam belum selesai terdengar ketika Dark Ray mendadak melompat tinggi. Binatang itu lebih dahulu merasakan bahaya yang datang dari belakang, lalu mengerahkan kecepatannya untuk menjauh.Boom!Tanah tempat Dark Ray baru saja berpijak meledak, meninggalkan kawah besar. Pecahan es dan bebatuan terhambur ke udara. Ryan yang berada di punggungnya langsung menoleh, tetapi bayangan hitam sudah melesat mendekat sebelum ia sempat melakukan apa pun.Tidak ada cukup waktu untuk menghindar.Ryan mengangkat telapak tangan secara naluriah dan mengaktifkan sebagian kekuatan Garis Darah Ilahi Scarlet Dust untuk menahan serangan tersebut.Boom!Tubuhnya terpental dari punggung Dark Ray, lalu berguling beberapa kali di atas tanah beku. Ketika akhirnya berhenti, salah satu lengannya terasa nyaris kehilangan bentuk. Tulang-tulang di dalamnya seakan remuk, bahkan jari-jarinya tidak lagi bisa ditekuk.Ryan memuntahkan darah ke salju. Luka yang diterimanya sejak awal pertarung
Pria tua berjubah hitam memandang Ryan seolah sedang melihat sesuatu yang tidak mungkin ada. Pemuda yang sudah berkali-kali dihantamnya itu masih mampu berdiri. Lebih mengerikan lagi, energi iblis yang sebelumnya memenuhi domainnya kini menghilang sedikit demi sedikit.'Apakah bocah ini memiliki tubuh abadi?'Bukan hanya luka Ryan yang membuatnya bingung. Bahkan Pedang Hukuman Langit yang baru saja dilepaskannya telah lenyap bersama energi iblis tersebut, seolah ditelan sesuatu tanpa meninggalkan jejak.'Jangan-jangan dia sebenarnya iblis yang menyamar sebagai manusia?'Ryan tidak memedulikan keterkejutan lawannya. Ia menoleh kepada wanita bercadar di belakangnya. Sejak bertemu wanita itu, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya."Aku penasaran, wajah seperti apa yang kau sembunyikan di balik cadar itu?" "Kau tahu namaku, dan sebelumnya kau juga pernah menyelamatkanku. Apa kita sebenarnya saling mengenal?"Wendy sedikit gemetar. Jemarinya meremas ujung jubah yang sudah basah
"Kau mengaku kalah?" tanya Saint Immortal King sambil bersendawa setelah meneguk araknya.Pria tua berpakaian kasar justru tertawa. "Aku memang terkejut melihat Garis Darah Ilahi Scarlet Dust yang lengkap pada bocah itu." "Tapi jalan buntu tetaplah jalan buntu."Ia menunjuk bayangan Ryan di layar formasi. "Lihat kondisinya sekarang. Mengaktifkan garis darah itu sekali lagi saja pasti sangat sulit baginya." "Sementara itu, tetua Keluarga Miles masih memiliki tenaga untuk membunuh mereka berdua."Saint Immortal King tidak membantah. Ia bangkit, berjalan beberapa langkah, lalu menyandarkan punggung pada batang pohon besar di dekat papan catur."Kalau begitu, lanjutkan saja menontonnya. Aku ingin tidur sebentar," katanya santai. "Umurku sudah tua, dan belakangan ini aku kurang tidur. Harap dimaklumi."Pria tua berpakaian kasar memandangnya dengan mulut sedikit terbuka. Ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya menutup
Kedua tangan Ryan bergetar hebat ketika mencengkeram sabit hitam itu. Kekuatan yang terkandung dalam senjata tersebut menjalar sampai ke bahunya, membuat tulang-tulang lengannya terasa seperti sedang dihimpit besi panas. Ryan telah mengaktifkan Garis Darah Ilahi Scarlet Dust sepenuhnya. Immortal Divine Body, Tubuh Iblis, dan seluruh kemampuan pertahanan yang dimilikinya juga sudah dikerahkan hingga batas maksimal. Namun menahan satu serangan pria tua berjubah hitam itu tetap membuat tubuhnya hampir tidak sanggup bertahan. 'Jadi sejauh ini perbedaan kekuatan antara kami?' Ia memahami satu hal. Pria tua tersebut sebelumnya terkena serangan Formasi Pedang Pamungkas Kuno milik Wendy dan telah kehilangan satu lengan. Kekuatannya sekarang hanya sebagian kecil dibandingkan ketika masih berada dalam kondisi puncak. Kalau bukan karena luka parah itu, Ryan mungkin sudah tewas saat mencoba menghentikan sabitnya. Bahkan Garis Darah Ilahi Scarlet Dust yang dibangkitkannya tidak akan c







