Kembali ke  1980 Dari Nol Membangun Segalanya

Kembali ke 1980 Dari Nol Membangun Segalanya

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-17
โดย:  Jimmy Chuuอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
12 การให้คะแนน. 12 ความคิดเห็น
420บท
11.0Kviews
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Dia, sang protagonis, pernah berada di puncak sebagai penguasa dunia farmasi. Ia mati sendirian, dengan satu kebenaran yang menghancurkan: seluruh kekayaannya dibangun di atas pengorbanan istrinya. Lalu ia terbangun di tahun 1980. Muda. Miskin. Dan istrinya… masih mengandung anak mereka. Kesempatan kedua sudah ada di tangannya. Tapi satu pertanyaan tidak bisa dihindari: bisakah seseorang yang pernah menghancurkan keluarganya, benar-benar memperbaikinya?

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Kembali ke 1980

Ruang VIP itu sepi. Bunyi alat medis berdetak monoton dari sudut ruangan. Tidak ada pengunjung. Tidak ada bunga segar. Tidak ada siapa pun.

Leo Zhang berbaring di ranjang putih. Tubuhnya kurus hingga selimutnya hampir tidak terangkat.

Selang infus tertancap di tangan kirinya. Matanya menatap langit-langit yang bersih dan putih dan tidak punya apa-apa untuk dilihat.

Di televisi kecil di sudut ruangan, layarnya menampilkan gedung Zhang Lifescience Group.

Wartawan berdiri di depannya dengan mikrofon terangkat tinggi. Di lobi gedung, karyawan berbaris dengan kepala tertunduk. Karangan bunga memenuhi teras.

Kamera bergerak perlahan menyapu semua itu.

"Dunia kehilangan seorang pemimpin hebat hari ini," ucap pembawa berita dengan suara khidmat.

Leo tidak merespons. Matanya tidak bergerak dari langit-langit.

Enam puluh lima tahun hidup. Triliunan rupiah dikumpulkan. Ribuan karyawan yang ia gaji setiap bulan.

Dan tidak satu pun yang duduk menemaninya di sini. Tidak satu pun kursi di ruangan ini yang terisi.

Pintu ruangan terbuka. Langkah kaki masuk dengan percaya diri. Suara sol sepatu mahal berdetak di lantai keramik, teratur dan tidak terburu-buru.

"Akhirnya kita bertemu lagi, Leo."

Leo menoleh perlahan. Adrian Wang berdiri di sisi ranjang. Rambut putihnya tersisir rapi ke belakang. Jasnya hitam dan dipotong presisi.

Di usia yang sama dengan Leo, tubuhnya masih tegap dan punggungnya masih lurus.

"Mau apa kamu ke sini?" tanya Leo. Suaranya parau seperti orang yang lama tidak bicara.

"Menjenguk." Adrian menarik kursi dan duduk santai. "Apa itu salah?"

"Kita nggak pernah jadi kawan."

"Benar sekali." Adrian menyandarkan punggungnya. "Tapi tiga puluh tahun bersaing cukup alasan untuk datang di akhir."

"Pergi, Adrian."

"Sebentar." Adrian tidak bergerak. Kakinya disilangkan. "Ada yang ingin aku sampaikan sebelum kamu pergi."

"Aku nggak mau mendengarnya."

"Ini tentang Livia Lin."

Leo terdiam. Tangannya yang kurus mencengkeram selimut. Buku-buku jarinya memutih.

"Jangan sebut nama itu," ucap Leo pelan.

"Kenapa? Kamu masih merasa bersalah setelah empat puluh tahun?"

"Aku bilang pergi."

"Leo." Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan. Suaranya turun satu nada. "Livia nggak pernah mencintaimu."

Ruangan hening. Alat medis terus berdetak.

"Kamu bohong," desis Leo.

"Apa gunanya aku bohong sekarang?" balas Adrian tenang. "Kamu akan mati dalam beberapa jam."

Leo tidak menjawab. Matanya beralih ke langit-langit lagi.

"Pernikahan kalian hanya formalitas. Pengorbanan yang terpaksa ia lakukan demi menyelamatkan keluarganya dari utang."

"Diam!"

"Kamu tahu dari mana modal awal perusahaanmu?" tanya Adrian dengan nada orang yang menceritakan hal biasa. "Itu uangku. Aku berikan kepada Livia. Livia yang meneruskannya padamu."

"Nggak mungkin."

"Sangat mungkin. Karena Livia yang datang memintaku langsung. Ia menemuiku di kantor lamaku. Duduk di depan mejaku dengan punggung tegak dan nggak minta lebih dari yang ia butuhkan."

Leo menelan ludah. Tenggorokannya kering.

"Kenapa dia meminta padamu dari semua orang?"

"Karena aku mencintainya sejak kita masih muda. Dan dia tahu itu." Adrian berdiri dari kursinya. "Dia memanfaatkan perasaanku untuk mengangkatmu dari kemiskinan."

Leo mencoba menggerakkan tubuhnya. Siku kirinya bergeser di kasur. Tidak lebih dari itu.

"Kenapa perempuan dari keluarga berada seperti Livia mau menikah dengan pemabok dari desa miskin?" Adrian mengangkat bahunya. "Kamu nggak pernah benar-benar bertanya tentang itu?"

Leo tidak menjawab.

"Setelah kamu menceraikannya, aku menikahi Livia secara formal." Adrian merapikan lengan jasnya. "Tapi aku nggak pernah menyentuhnya."

"Kenapa?" Suara Leo hampir tidak terdengar.

"Karena hatinya sudah mati jauh sebelum itu." Adrian melangkah ke arah pintu. "Kamu yang membunuhnya. Pelan-pelan. Setiap hari. Dengan tanganmu sendiri."

Air mata mengalir dari sudut mata Leo tanpa ia sadari. Ia tidak mengusapnya.

"Kamu habiskan hidupmu membenciku." Adrian berhenti di ambang pintu. Ia tidak berbalik. "Membangun kerajaan untuk membuktikan kamu lebih baik. Padahal musuh terbesarmu selalu dirimu sendiri."

"Adrian..."

"Selamat tinggal, Leo. Semoga kamu menemukan kedamaian yang nggak pernah kamu berikan pada Livia."

Langkah kaki menjauh. Pintu tertutup perlahan.

Ruangan kembali sepi. Alat medis terus berdetak.

Leo menatap langit-langit. Kapan terakhir Livia tersenyum padanya? Kapan terakhir ia melihat kegembiraan di wajah istrinya?

Ia mencoba mengingat. Mencari satu saja kenangan baik dari empat puluh tahun yang lalu.

Tidak ada. Yang ada hanya bayangan wajah ketakutan. Mata yang selalu menghindar. Tubuh yang menegang setiap ia mendekat.

Bunyi alat medis berubah menjadi nada panjang yang tidak putus. Pandangannya menggelap dari pinggir ke tengah.

+++

Bau pertama yang menghantam hidungnya adalah alkohol murah bercampur tanah lembap dan kayu lapuk.

Leo membuka mata.

Kepalanya berdenyut berat. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus.

Tangannya menyentuh lantai kayu yang dingin dan berdebu. Serpihan kayu menusuk telapak tangannya dan meninggalkan rasa perih yang kecil tapi nyata.

Ia bangkit perlahan. Terhuyung. Bahunya menabrak dinding bambu. Dinding itu berderit keras dan bergoyang ke satu sisi.

Ruangan itu sempit dan pengap. Kasur tipis yang sudah menguning tergeletak di pojok dengan bau anyir yang menusuk. Di sampingnya botol-botol arak kosong berserakan.

Piring kotor bertumpuk di sudut dengan bekas nasi yang sudah mengering dan menghitam.

Baju lusuh tergeletak di lantai tanpa lipatan. Cahaya siang masuk dari celah-celah bambu yang tidak rapat.

Di satu sisi dinding tergantung cermin retak dengan tepi berkarat.

Leo mendekatinya perlahan. Kakinya tidak memakai alas. Lantai kayu terasa kasar dan dingin di telapak kakinya.

Wajah muda menatap balik dari cermin. Rambut hitam berantakan. Kulit kusam dengan noda kotoran di dahi. Tidak ada kerutan. Tidak ada rambut putih. Tidak ada tanda-tanda usia sama sekali.

Ia mengangkat tangan kanannya. Kulit masih kencang. Jari-jari panjang tanpa noda penuaan.

Matanya bergeser ke kalender sobek yang menempel miring di dinding.

Tahun 1980.

Leo berdiri tidak bergerak. Ia memandang kalender itu lama. Lalu memandang tangannya lagi.

Ia menekan dinding bambu di sampingnya dengan telapak tangan, keras. Bekas tekanan meninggalkan garis merah di kulitnya. Ia menekannya lagi. Rasa sakitnya sama.

Ini nyata.

Ia bukan Leo Zhang yang mati di rumah sakit mewah dengan infus di tangannya. Sekarang ia adalah Leo Zhang usia dua puluh tahun.

Pemabok. Penjudi. Pemukul istri.

Ia berbalik dan memandang ruangan itu sekali lagi.

Kasur tipis. Botol arak. Piring kotor. Ini kehidupan yang dipilih tubuh ini setiap harinya.

Dan semuanya belum terjadi.

Kata-kata Adrian terngiang. Livia nggak pernah mencintaimu. Kamu yang membunuh hatinya.

Jika ini nyata, maka ia berdiri tepat di awal dari semua kesalahan yang pernah ia buat.

Dari luar rumah terdengar ayam berkokok. Dari arah jalan tanah, sayup terdengar suara perempuan memanggil anaknya, lalu sepi lagi.

Langkah kaki pelan terdengar mendekati pintu. Berhenti sebentar. Lalu pintu kayu terbuka berderit.

Seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu. Rambut hitam panjangnya diikat asal dengan karet. Wajahnya pucat, pipinya tirus. Bajunya kebesaran dan warnanya sudah pudar.

Di tangannya tergenggam keranjang bambu kecil berisi beberapa umbi kurus yang kulitnya masih penuh tanah.

Perutnya membulat jelas di balik baju yang terlalu longgar itu.

Ia tidak masuk. Berdiri di ambang pintu dengan tubuh kaku. Matanya menatap Leo tanpa berkedip. Kakinya memakai sandal jepit tipis yang salah satu gespernya sudah patah dan diikat ulang dengan tali rafia.

"Tolong jangan mendekat," ucapnya. Suaranya pelan dan bergetar.

Leo tidak bergerak.

"Aku nggak punya uang. Hanya ada ini untuk makan malam."

Ia meletakkan keranjang di lantai dekat pintu dengan gerakan cepat, seperti orang yang tidak ingin tangannya terlalu lama di dekat sesuatu yang berbahaya. Lalu ia mundur selangkah. Matanya tidak beranjak dari Leo.

Di luar, seekor ayam mematuk tanah di depan pintu lalu berlari menjauh. Suara dua orang warga berbicara di kejauhan terdengar sebentar, lalu menghilang.

Leo menatap perempuan di depannya tanpa berkata apa-apa.

Livia. Istrinya. Perempuan yang pernah ia hancurkan setiap hari. Kini masih hidup. Masih muda. Masih mengandung anaknya. Dan matanya menatap Leo seperti menatap sesuatu yang berbahaya.

Bersambung

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ความคิดเห็นเพิ่มเติม

Roman Wish
Roman Wish
bagussss bangetttttttt
2026-08-18 01:57:33
0
0
Amaleo
Amaleo
alurnya bikin penasaran banget! Recommended!
2026-07-10 07:02:59
0
0
Harucchi
Harucchi
Idenya fresh banget! alurnya nagih! Recommended! Ga perlu ragu buku bukunya author satu ini!
2026-05-26 13:02:43
0
0
Cheezyweeze
Cheezyweeze
buku yang keren. berasa dilempar ke zaman dulu. Alur bikin penasaran. rekomen untuk bacaan dikala santai
2026-05-24 13:20:54
0
0
SayaNi
SayaNi
Alurnya bikin penasaran dan karakter utamanya terasa berkembang pelan-pelan. Keren keren keren,
2026-05-24 12:20:32
0
0
420
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status