Se connecterDia, sang protagonis, pernah berada di puncak sebagai penguasa dunia farmasi. Ia mati sendirian, dengan satu kebenaran yang menghancurkan: seluruh kekayaannya dibangun di atas pengorbanan istrinya. Lalu ia terbangun di tahun 1980. Muda. Miskin. Dan istrinya… masih mengandung anak mereka. Kesempatan kedua sudah ada di tangannya. Tapi satu pertanyaan tidak bisa dihindari: bisakah seseorang yang pernah menghancurkan keluarganya, benar-benar memperbaikinya?
Voir plusRuang VIP itu sepi. Bunyi alat medis berdetak monoton dari sudut ruangan. Tidak ada pengunjung. Tidak ada bunga segar. Tidak ada siapa pun.
Leo Zhang berbaring di ranjang putih. Tubuhnya kurus hingga selimutnya hampir tidak terangkat.
Selang infus tertancap di tangan kirinya. Matanya menatap langit-langit yang bersih dan putih dan tidak punya apa-apa untuk dilihat.
Di televisi kecil di sudut ruangan, layarnya menampilkan gedung Zhang Lifescience Group.
Wartawan berdiri di depannya dengan mikrofon terangkat tinggi. Di lobi gedung, karyawan berbaris dengan kepala tertunduk. Karangan bunga memenuhi teras.
Kamera bergerak perlahan menyapu semua itu.
"Dunia kehilangan seorang pemimpin hebat hari ini," ucap pembawa berita dengan suara khidmat.
Leo tidak merespons. Matanya tidak bergerak dari langit-langit.
Enam puluh lima tahun hidup. Triliunan rupiah dikumpulkan. Ribuan karyawan yang ia gaji setiap bulan.
Dan tidak satu pun yang duduk menemaninya di sini. Tidak satu pun kursi di ruangan ini yang terisi.
Pintu ruangan terbuka. Langkah kaki masuk dengan percaya diri. Suara sol sepatu mahal berdetak di lantai keramik, teratur dan tidak terburu-buru.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Leo."
Leo menoleh perlahan. Adrian Wang berdiri di sisi ranjang. Rambut putihnya tersisir rapi ke belakang. Jasnya hitam dan dipotong presisi.
Di usia yang sama dengan Leo, tubuhnya masih tegap dan punggungnya masih lurus.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Leo. Suaranya parau seperti orang yang lama tidak bicara.
"Menjenguk." Adrian menarik kursi dan duduk santai. "Apa itu salah?"
"Kita nggak pernah jadi kawan."
"Benar sekali." Adrian menyandarkan punggungnya. "Tapi tiga puluh tahun bersaing cukup alasan untuk datang di akhir."
"Pergi, Adrian."
"Sebentar." Adrian tidak bergerak. Kakinya disilangkan. "Ada yang ingin aku sampaikan sebelum kamu pergi."
"Aku nggak mau mendengarnya."
"Ini tentang Livia Lin."
Leo terdiam. Tangannya yang kurus mencengkeram selimut. Buku-buku jarinya memutih.
"Jangan sebut nama itu," ucap Leo pelan.
"Kenapa? Kamu masih merasa bersalah setelah empat puluh tahun?"
"Aku bilang pergi."
"Leo." Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan. Suaranya turun satu nada. "Livia nggak pernah mencintaimu."
Ruangan hening. Alat medis terus berdetak.
"Kamu bohong," desis Leo.
"Apa gunanya aku bohong sekarang?" balas Adrian tenang. "Kamu akan mati dalam beberapa jam."
Leo tidak menjawab. Matanya beralih ke langit-langit lagi.
"Pernikahan kalian hanya formalitas. Pengorbanan yang terpaksa ia lakukan demi menyelamatkan keluarganya dari utang."
"Diam!"
"Kamu tahu dari mana modal awal perusahaanmu?" tanya Adrian dengan nada orang yang menceritakan hal biasa. "Itu uangku. Aku berikan kepada Livia. Livia yang meneruskannya padamu."
"Nggak mungkin."
"Sangat mungkin. Karena Livia yang datang memintaku langsung. Ia menemuiku di kantor lamaku. Duduk di depan mejaku dengan punggung tegak dan nggak minta lebih dari yang ia butuhkan."
Leo menelan ludah. Tenggorokannya kering.
"Kenapa dia meminta padamu dari semua orang?"
"Karena aku mencintainya sejak kita masih muda. Dan dia tahu itu." Adrian berdiri dari kursinya. "Dia memanfaatkan perasaanku untuk mengangkatmu dari kemiskinan."
Leo mencoba menggerakkan tubuhnya. Siku kirinya bergeser di kasur. Tidak lebih dari itu.
"Kenapa perempuan dari keluarga berada seperti Livia mau menikah dengan pemabok dari desa miskin?" Adrian mengangkat bahunya. "Kamu nggak pernah benar-benar bertanya tentang itu?"
Leo tidak menjawab.
"Setelah kamu menceraikannya, aku menikahi Livia secara formal." Adrian merapikan lengan jasnya. "Tapi aku nggak pernah menyentuhnya."
"Kenapa?" Suara Leo hampir tidak terdengar.
"Karena hatinya sudah mati jauh sebelum itu." Adrian melangkah ke arah pintu. "Kamu yang membunuhnya. Pelan-pelan. Setiap hari. Dengan tanganmu sendiri."
Air mata mengalir dari sudut mata Leo tanpa ia sadari. Ia tidak mengusapnya.
"Kamu habiskan hidupmu membenciku." Adrian berhenti di ambang pintu. Ia tidak berbalik. "Membangun kerajaan untuk membuktikan kamu lebih baik. Padahal musuh terbesarmu selalu dirimu sendiri."
"Adrian..."
"Selamat tinggal, Leo. Semoga kamu menemukan kedamaian yang nggak pernah kamu berikan pada Livia."
Langkah kaki menjauh. Pintu tertutup perlahan.
Ruangan kembali sepi. Alat medis terus berdetak.
Leo menatap langit-langit. Kapan terakhir Livia tersenyum padanya? Kapan terakhir ia melihat kegembiraan di wajah istrinya?
Ia mencoba mengingat. Mencari satu saja kenangan baik dari empat puluh tahun yang lalu.
Tidak ada. Yang ada hanya bayangan wajah ketakutan. Mata yang selalu menghindar. Tubuh yang menegang setiap ia mendekat.
Bunyi alat medis berubah menjadi nada panjang yang tidak putus. Pandangannya menggelap dari pinggir ke tengah.
+++
Bau pertama yang menghantam hidungnya adalah alkohol murah bercampur tanah lembap dan kayu lapuk.
Leo membuka mata.
Kepalanya berdenyut berat. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus.
Tangannya menyentuh lantai kayu yang dingin dan berdebu. Serpihan kayu menusuk telapak tangannya dan meninggalkan rasa perih yang kecil tapi nyata.
Ia bangkit perlahan. Terhuyung. Bahunya menabrak dinding bambu. Dinding itu berderit keras dan bergoyang ke satu sisi.
Ruangan itu sempit dan pengap. Kasur tipis yang sudah menguning tergeletak di pojok dengan bau anyir yang menusuk. Di sampingnya botol-botol arak kosong berserakan.
Piring kotor bertumpuk di sudut dengan bekas nasi yang sudah mengering dan menghitam.
Baju lusuh tergeletak di lantai tanpa lipatan. Cahaya siang masuk dari celah-celah bambu yang tidak rapat.
Di satu sisi dinding tergantung cermin retak dengan tepi berkarat.
Leo mendekatinya perlahan. Kakinya tidak memakai alas. Lantai kayu terasa kasar dan dingin di telapak kakinya.
Wajah muda menatap balik dari cermin. Rambut hitam berantakan. Kulit kusam dengan noda kotoran di dahi. Tidak ada kerutan. Tidak ada rambut putih. Tidak ada tanda-tanda usia sama sekali.
Ia mengangkat tangan kanannya. Kulit masih kencang. Jari-jari panjang tanpa noda penuaan.
Matanya bergeser ke kalender sobek yang menempel miring di dinding.
Tahun 1980.
Leo berdiri tidak bergerak. Ia memandang kalender itu lama. Lalu memandang tangannya lagi.
Ia menekan dinding bambu di sampingnya dengan telapak tangan, keras. Bekas tekanan meninggalkan garis merah di kulitnya. Ia menekannya lagi. Rasa sakitnya sama.
Ini nyata.
Ia bukan Leo Zhang yang mati di rumah sakit mewah dengan infus di tangannya. Sekarang ia adalah Leo Zhang usia dua puluh tahun.
Pemabok. Penjudi. Pemukul istri.
Ia berbalik dan memandang ruangan itu sekali lagi.
Kasur tipis. Botol arak. Piring kotor. Ini kehidupan yang dipilih tubuh ini setiap harinya.
Dan semuanya belum terjadi.
Kata-kata Adrian terngiang. Livia nggak pernah mencintaimu. Kamu yang membunuh hatinya.
Jika ini nyata, maka ia berdiri tepat di awal dari semua kesalahan yang pernah ia buat.
Dari luar rumah terdengar ayam berkokok. Dari arah jalan tanah, sayup terdengar suara perempuan memanggil anaknya, lalu sepi lagi.
Langkah kaki pelan terdengar mendekati pintu. Berhenti sebentar. Lalu pintu kayu terbuka berderit.
Seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu. Rambut hitam panjangnya diikat asal dengan karet. Wajahnya pucat, pipinya tirus. Bajunya kebesaran dan warnanya sudah pudar.
Di tangannya tergenggam keranjang bambu kecil berisi beberapa umbi kurus yang kulitnya masih penuh tanah.
Perutnya membulat jelas di balik baju yang terlalu longgar itu.
Ia tidak masuk. Berdiri di ambang pintu dengan tubuh kaku. Matanya menatap Leo tanpa berkedip. Kakinya memakai sandal jepit tipis yang salah satu gespernya sudah patah dan diikat ulang dengan tali rafia.
"Tolong jangan mendekat," ucapnya. Suaranya pelan dan bergetar.
Leo tidak bergerak.
"Aku nggak punya uang. Hanya ada ini untuk makan malam."
Ia meletakkan keranjang di lantai dekat pintu dengan gerakan cepat, seperti orang yang tidak ingin tangannya terlalu lama di dekat sesuatu yang berbahaya. Lalu ia mundur selangkah. Matanya tidak beranjak dari Leo.
Di luar, seekor ayam mematuk tanah di depan pintu lalu berlari menjauh. Suara dua orang warga berbicara di kejauhan terdengar sebentar, lalu menghilang.
Leo menatap perempuan di depannya tanpa berkata apa-apa.
Livia. Istrinya. Perempuan yang pernah ia hancurkan setiap hari. Kini masih hidup. Masih muda. Masih mengandung anaknya. Dan matanya menatap Leo seperti menatap sesuatu yang berbahaya.
Bersambung
Setelah beberapa hidangan mulai berkurang, Hendra dan Maria tidak lagi duduk sekaku ketika kereta saji pertama berhenti di samping meja mereka.Mangkuk sup di depan Maria sudah tinggal separuh, sedangkan Hendra mulai mengambil ayam asam manis dengan gerakan lebih santai tanpa lagi menatap Leo setiap kali sumpitnya bergerak.“Kalau rasanya begini, sayang juga kalau cuma dilihat sampai dingin,” ujar Maria sambil mengambil sedikit sayuran yang sejak tadi belum sempat dicobanya.Ucapan itu membuat Livia tersenyum lega, lalu tangannya membantu mendekatkan piring agar ibunya tidak perlu menjangkau terlalu jauh di antara mangkuk lain.“Pelan-pelan saja, Bu, tidak perlu mencoba semuanya sekaligus kalau belum terbiasa,” katanya sambil sesekali memastikan Kevin masih makan dengan baik bersama pengasuh.Melihat istrinya sudah memilih makanan sendiri, Hendra ikut menu
Sarita menekan bibir sampai garis senyumnya nyaris menghilang, lalu hanya menjawab pendek sambil menatap hidangan di tengah. “Aku tahu.”Belum sempat dirinya menemukan sindiran baru, suara roda kereta saji kembali mendekat dan membuat pandangan beberapa orang beralih ke lorong pelayanan.Kereta keempat membawa buah-buahan luar negeri dari wilayah Eropa dan Tropis, dengan warna mencolok yang segera membuat meja terasa semakin penuh.Maria refleks menarik kedua tangannya dari meja agar tidak menyenggol piring, sedangkan Hendra hanya menghela napas ketika ruang kosong semakin sedikit.Di antara keduanya, Rendy justru menatap buah-buahan itu dengan rasa ingin tahu, sementara Sarita memandang warnanya lebih lama daripada yang ingin ia akui.Maria akhirnya bertanya dengan suara pelan sambil menunjuk salah satu buah yang belum pernah disentuhnya. “Buah seperti ini bena
Hot pot sederhana di sisi Sarita dan Mikael mulai mengepul hangat, memperlihatkan sayur, ikan, irisan ayam tipis, serta dua piring nasi yang sengaja mereka pilih secukupnya.Mikael mengaduk kuah sedikit lebih lama daripada perlu, kemudian mengambil ikan sambil sesekali melirik bagian meja Leo yang masih kosong. “Begini cukup, makan itu bukan soal pamer, tetapi tahu kebutuhan sendiri.”Di sebelahnya, Sarita segera mengangguk sambil menyentuh sisi mangkuk dengan ujung jari, seolah pilihan sederhana itu membuktikan mereka lebih pandai mengatur uang. “Orang yang benar-benar tahu cara hidup tidak perlu memenuhi meja untuk merasa berhasil.”Nada keduanya terdengar seperti percakapan biasa, tetapi arah pandangan yang beberapa kali jatuh kepada Leo membuat maksudnya tidak sulit dipahami.Dari sisi lain meja, Maria memperhatikan isi hot pot tersebut dengan mata yang masih memikirkan ha
Jawaban Leo ternyata tidak membuat Sarita dan Mikael berhenti memperhatikan jumlah pesanan yang terus dicatat oleh pelayan di samping meja.Ketika pelayan kembali menundukkan kepala dan menulis satu hidangan lagi, jemari Sarita yang sejak tadi memainkan ujung serbet perlahan berhenti bergerak.“Dia benar-benar mau memesan sebanyak itu?” bisiknya kepada Mikael sambil tetap menjaga wajah agar tidak terlihat terlalu ingin tahu.Mikael mengikuti gerak pena pelayan beberapa detik sebelum mengerutkan kening. “Orang yang baru punya sedikit uang kadang memang paling sulit direm.”Sarita menahan senyum kecil dan kembali menatap Leo, seolah sedang melihat seseorang yang belum memahami cara menjaga keuangan jangka panjang.Di hadapan mereka, Leo tetap menyelesaikan pesanan tanpa terburu-buru, sementara Livia membantu memastikan bagian untuk Kevin dan pengasuh tetap s
Hendra mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti. Rendy menghentikan tinjunya yang sudah melayang di udara."Cukup," ucap Hendra dingin. "Jangan kotori tanganmu lebih lama lagi dengan sampah seperti dia."Rendy mundur dengan napas terengah. Ia meludah ke arah Leo yang tergeletak di lantai."Ba
Matahari sudah tinggi. Cahayanya masuk dari celah-celah dinding bambu dan menerpa lantai kayu di depan kaki Leo dengan garis-garis terang yang tidak rata.Livia masih berdiri di ambang pintu. Tidak masuk. Tangannya memegang kusen, jari-jarinya putih karena mencengkeram terlalu kuat. Matanya tidak l
Ruang VIP itu sepi. Bunyi alat medis berdetak monoton dari sudut ruangan. Tidak ada pengunjung. Tidak ada bunga segar. Tidak ada siapa pun.Leo Zhang berbaring di ranjang putih. Tubuhnya kurus hingga selimutnya hampir tidak terangkat.Selang infus tertancap di tangan kirinya. Matanya menatap langit
Darman memencet lagi potongan pati itu dengan kuku, lalu melirik kailnya. "Kalau memang selaku itu, kenapa kamu datang ke aku?""Aku butuh tangan.""Kenapa bukan orang lain?""Karena kamu butuh uang. Karena cangkulmu lebih tajam dari












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus