MasukMaafkan othor, othor ada acara di luar kantor sehingga baru sempat upload bab. Bab berikutnya malam ya. Selamat beraktivitas (。•̀ᴗ-)✧ Bab Bonus: 2/3 Bab Bab Reguler: 2/2 Bab (Komplit)
"Bocah." Suara Mata Iblis terdengar kembali, kali ini dengan nada yang lebih pelan namun tidak kehilangan kedalaman yang mengandung kekunoan di setiap katanya. "Pulau ini dipenuhi energi iblis yang cocok untuk pemulihanku." "Dengan logam Gao ini, tidak akan lama sebelum aku benar-benar terbangun sepenuhnya." "Dan mungkin, aku bahkan bisa memulihkan sebagian dari kekuatan tubuh asalku."Suara itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang berbeda dari sebelumnya."Meski aku dari ras iblis, aku tidak seperti para junior ras iblis yang kau temui selama ini. Aku tidak terbiasa berutang budi tanpa membalasnya." Kata-kata berikutnya keluar dengan cara yang terasa berat, seolah pengucapannya sendiri membutuhkan sesuatu yang tidak biasa dari entitas itu. "Terima kasih."Setelah itu, keheningan kembali.Ryan menatap titik di antara alisnya dengan ekspresi yang mengandung sesuatu yang ia sendiri tidak mudah menemukan
Ryan duduk bersila di dalam gua dengan matanya yang terbuka mengandung kilatan cahaya yang tajam.Auranya mengalir keluar dengan tenang namun mengandung tekanan seorang kultivator yang sudah menempa dirinya melalui pertarungan nyata, bukan sekadar latihan biasa.Tanpa menunggu lebih lama, ia mengeluarkan logam Gao dari cincin penyimpanannya dan mulai memurnikannya dengan konsentrasi penuh.DESSS!Benang-benang emas memisahkan diri dari logam itu satu per satu, berkilauan sebelum menyatu ke dalam tubuhnya dengan aliran yang halus namun kuat. Sambil memurnikan, sebagian perhatiannya tetap tertuju pada kondisi Mata Iblis di antara kedua alisnya.Kekuatan yang menggeliat di sana terasa lebih dekat dari sebelumnya. Siap meledak keluar bagai air yang mendesak di balik pintu bendungan yang semakin retak. Namun ada sesuatu yang lebih kuat yang menahannya dari sisi lain, sebuah batasan yang belum sepenuhnya terpenuhi.
Ryan mengeluarkan potongan logam Gao dari cincin penyimpanan Kenny Brook dan mengamatinya dalam cahaya yang tersaring di antara pepohonan di sekitarnya.Matanya berbinar.Sejak pertama kali ia menyempurnakan logam Gao, kemampuannya untuk membedakan kualitas bahan itu berkembang secara alami. Logam Gao terbagi dalam empat kelas berdasarkan kemurniannya, dari kelas rendah hingga kelas tertinggi, dan setiap kelas masih terbagi dalam tiga peringkat. Yang pernah ia miliki sebelumnya adalah kelas rendah peringkat paling bawah, hampir tidak layak disebut sebanding dengan apa yang kini ada di tangannya.Potongan di genggamannya sekarang adalah kelas rendah peringkat tinggi. Kualitasnya jauh di atas apa yang pernah ia sentuh sebelumnya, dan jumlahnya lebih dari sepuluh kali lipat dari yang ia miliki dulu.'Kalau logam Gao ini dijual, nilainya lebih dari yang bisa kubayangkan.'Tidak mengherankan Yao Links bersedia mempertaruhkan nyawanya masuk ke Pulau Sorna demi memburu Kenny Brook. Iming
Bibir Ryan berkedut.Ia menatap pemuda yang kini menggosok sisi kepalanya dengan santai sambil berdiri dari tanah seolah tidak ada yang terjadi.'Jadi itu yang tidak cocok dari hasil pemeriksaan medis tadi.''Orang ini berpura-pura terluka parah dari tadi.'Jessica Neuro mengalihkan pandangannya ke Ryan dengan nada yang berubah serius. "Ryan, lanjutkan pelatihanmu. Aku akan tinggal di dekat pulau untuk sementara waktu agar iblis sejati itu tidak berani kembali dengan mudah. Tidak perlu khawatir."Lalu ia melirik ke arah pemuda di sebelahnya dan mendengus. "Hmph. Ketua Sekte benar-benar mengirim orang yang tidak bisa diandalkan untuk mengawasi pelatihan. "Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi pada Ryan, jangan harap aku diam saja.""Tapi Junior Ryan baik-baik saja, bukan?" pemuda itu bertanya dengan nada yang dibuat terdengar sedih sambil menggaruk kepalanya dengan gaya yang sangat tidak terdampak oleh teguran yang baru saja ia terima.Ryan melirik pemuda itu sejenak, lalu menangkupk
Makhluk iblis sejati itu merasakan hukum dunia yang memancar dari tubuh pemuda itu mulai mengikat pergerakannya seperti rantai yang tidak terlihat namun terasa nyata di setiap sendi wujudnya.Tidak ada pilihan selain menghadapi lawan di depannya dengan serius."Manusia rendahan." Suaranya mengandung keganasan yang tidak repot-repot disembunyikan. "Kau berani mencegat langkahku? Menarik.""Aku akan memberimu penderitaan yang tidak akan pernah kau bayangkan sebelumnya."Pemuda sembrono itu mengerutkan kening dengan ekspresi yang mengandung jijik yang tulus."Maaf, aku tidak tertarik pada pria maupun monster, apalagi yang seburuk rupamu.""Tolong pilih kata-katamu dengan lebih baik. Kalimat seperti itu bisa menimbulkan kesalahpahaman yang tidak menyenangkan bagi kedua pihak."BOOOOOM!Energi iblis murni yang pekat menghantam cahaya perak samar yang mengalir dari tubuh pemuda itu, dan ruang di titik benturan itu ber
Makhluk iblis sejati itu mengabaikan Ryan dalam sekejap.Tubuhnya berbalik dengan gerakan yang terlalu cepat untuk ukuran wujudnya, matanya yang merah menyala menatap ke arah cakrawala. Telapak tangannya yang dipenuhi energi iblis meledak ke depan dalam satu pukulan yang mengirimkan gelombang tekanan melumat udara di depannya.WUSHHH!Namun sosok yang datang dari cakrawala sudah ada di depannya sebelum pukulan itu sempat mencapai titik tengahnya.BOOOOOM!Ruang di sekitar mereka retak dan hancur seperti cermin yang dipukul dari dalam. Gelombang energi yang lahir dari benturan itu menyapu seluruh area Pulau Sorna, melenyapkan makhluk-makhluk yang lebih lemah di sekitar lokasi itu dalam sekejap tanpa memberi mereka waktu untuk merasakan apa yang mengakhiri mereka.Napas Ryan berhenti sesaat.'Kalau serangan seperti itu mengarah kepadaku...'Ia tidak menyelesaikan pikiran itu. Jawabannya sudah j
Cahaya hitam kemerahan perlahan memudar, meninggalkan ratusan pasang mata yang berkaca-kaca dan tampak kosong. Hembusan angin lembut menyapu arena, membawa aroma kematian yang masih menguar dari tubuh tak bernyawa Yun Jing, Maxim Shaw, dan Hobbs West. Lancelot, yang masih mempertahankan kesadaran
Wong Ren adalah satu-satunya harapan Bibi Sandra dan Paman Wong. Jika sesuatu terjadi padanya, seluruh keluarga akan hancur. Para penonton yang menyaksikan perubahan sikap Rhodes Pitt mulai berbisik-bisik ketakutan. Jelas pemuda di hadapan mereka ini jauh lebih mengerikan dari yang mereka bayangk
"Baiklah, Tuan Ryan!" ujar Derick dari seberang telepon. Setelah menutup telepon, Ryan tenggelam dalam pemikiran yang dalam. Membunuh dua grandmaster yang tersisa mungkin bukan solusi terbaik—Asosiasi Seni Bela Diri Provinsi Riveria pasti akan mengirim lebih banyak orang untuk membalas dendam.
Para praktisi bela diri yang awalnya meragukan Ryan karena usianya, kini hanya bisa mengakui kelemahan mereka. Lancelot mengangguk puas dari kejauhan. Ia tahu anak buahnya butuh bukti nyata, bukan sekadar kata-kata. Demonstrasi kekuatan Ryan telah menghilangkan semua keraguan. Namun, masih ada s







