ログインSemua orang tertawa mendengar ini.
Bocah Nexopolis ini pasti sudah gila, berani memerintah Tetua Zigfrid untuk mati!Mungkinkah dia tidak sadar situasinya sendiri?Ekspresi Tetua Zigfrid menggelap, jubah ungunya bergerak tertiup angin. "Ryan, kau telah membunuh murid kesayanganku. Aku bahkan tidak tahu berapa banyak kultivator Sekte Hell Blood yang telah tewas di tanganmu!""Jika kau memenggal kepalamu sendiri hari ini, kita dapat mempertimbangkan membiarMurid perempuan itu mendarat dan langsung menoleh ke Ketua Sekte dengan wajah berbinar. "Ketua Sekte! Senior Selvia selamat! Pria ini yang akan menyelamatkannya dari alam rahasia." Ia menunjuk Ryan dengan jari yang gemetar karena antusias. "Namanya Ryan. Senior Selvia pernah menyebutnya kepadaku.""Katanya Ryan sangat kuat dan bisa melampaui batasnya sendiri dalam bertarung. Dengan kemampuannya, membawa Senior Selvia keluar dari sana pasti bukan hal yang sulit!"Semua orang di pelataran serempak menatap Ryan.Lalu pandangan mereka turun ke aura yang memancar dari tubuh pemuda itu.Puncak Ranah Primordial Chaos.Para tetua tidak perlu bertukar kata. Angka itu sudah berbicara sendiri.Beberapa tetua menggeleng pelan. Ketua Sekte menarik napas, matanya berkilat antara harapan dan kekhawatiran. Tidak peduli seberapa sering seseorang "melampaui batas," melampaui batas dengan selebar itu antara Primordial Chaos puncak dan Creation tingkat tujuh adalah perkara yang berbeda sama sekali.Rex
Evan tidak mundur.Sebuah bayangan putih muncul di belakangnya, bukan awan biasa. Ini siluet naga panjang yang terbungkus lapisan kabut tipis. Pedang panjang muncul di tangannya dalam sekejap, dan jarinya bergerak membentuk kuda-kuda yang dalam dan stabil."Dao Naga Awan, Naga Mendaki Cakrawala!"Energi pedangnya meledak keluar dalam bentuk naga putih raksasa yang menerkam ke depan. Di sekitar naga itu, kabut berputar seperti mahkota yang terus mengalir, dan siapa pun bisa merasakan betapa tiap lapisan kabut itu padat seperti baja.Naga putih menabrak lautan petir.BOOM!Ledakan cahaya biru dan putih memenuhi lapangan. Para penonton melindungi mata mereka. Ketika cahaya reda, naga Evan tampak terluka, tubuh bayangannya terkoyak di beberapa tempat. Tapi ia masih berdiri di sana, dan Rex pun tidak bergerak dari posisinya.Serangan pertama selesai.Di bari
"Evan!"Ketua Sekte Cloud Nether melangkah maju, wajahnya yang tadi tegang melunak seketika saat melihat putranya berjalan santai ke pelataran. Pemuda berbaju hitam itu melangkah ringan, aura di tubuhnya padat dan mantap seperti batu yang sudah lama diasah.Evan Lux menyapu pelataran dengan satu pandangan. Ayahnya, para tetua, Silas Lux di sudut, dan dua orang asing di tengah. Yang berambut merah dengan mata kosong lebih berbahaya dari semua yang ada di sini, bahkan tanpa ia melakukan apa pun. Yang satu lagi mengenakan jubah Sekte Silver Frost."Ayah, ada apa?" tanyanya, suaranya ringan seperti seseorang yang baru pulang dari jalan-jalan. "Aku dengar ada murid perempuan yang terjebak di alam rahasia?"Ketua sekte menjelaskan semuanya singkat dan padat, cukup untuk Evan memahami gambaran besarnya.Di akhir penjelasan, tatapan Evan beralih ke Rex Sallow. Tidak ada kesan yang berarti di wajahnya.
Vera Stone mengambil posisi berdiri. Hukum nomologinya mengalir keluar seperti bendungan yang dibuka seluruh pintunya sekaligus. Langit di atas pelataran berubah dalam hitungan detik. Biru pagi berganti abu-abu berputar yang semakin pekat, semakin gelap. Bayangan awan gulita memenuhi udara dari segala arah, mengembang seperti tirai raksasa yang dijatuhkan dari langit. "Samudra Kabut Gulita!" BOOOOM! Kabut hitam keabu-abuan meledak dari tubuh Vera, menelan seluruh area dalam radius puluhan meter. Di dalamnya tersimpan lapisan formasi yang dibangun dari pemahaman hukum ruang dan jiwa. Siapa pun yang terjebak di dalamnya akan kehilangan orientasi secara bertahap, indra spiritualnya teredam, dan setiap gerakan terasa berat seperti berjalan di lumpur yang menarik ke bawah. Silas Lux yang berdiri di luar radius kabut menelan ludah. Bahkan ia tidak ingin masuk ke dalam sana tanpa persiapan yang panjang. Di tengah kegelapan gulita itu, Chester berdiri diam. Matanya yang kosong
Rex Sallow berdiri di pelataran Sekte Cloud Nether dengan kedua tangan terlipat santai di belakang punggung. Senyumnya dipasang rapi, topeng yang sudah terlalu terlatih untuk perlu dipikirkan lagi. Jubah putih Sekte Silver Frost yang ia kenakan bersih tanpa noda, dan di setiap lipatannya terasa keangkuhan yang sudah lama menjadi kebiasaan, bukan sekadar sikap. Dari luar, pria itu terlihat seperti seorang kenalan baik yang datang dengan niat mulia. Di sekitarnya, murid-murid muda di pelataran bergerak mundur sedikit tanpa mereka sadari, memberi ruang yang tidak diminta. Tapi bukan aura Rex yang membuat seluruh pelataran tercekam diam. Semua orang bisa merasakan sumber yang sesungguhnya. Melainkan sosok dua langkah di belakangnya. Tuan Chester berdiri diam seperti patung yang dilupakan. Pria berambut merah itu tidak melakukan apa-apa. Matanya menatap lurus ke depan tanpa fokus, napasnya tidak terdengar, ekspresinya tidak berubah. Namun tekanan yang memancar darinya nya
"Rex Sallow menginginkan Selvia dan ingin menjadikannya selir. Selvia menolak dengan tegas.""Lalu keluarga Rex menekan sekte kita dari berbagai arah sekaligus sampai kami hampir tidak bisa bernapas.""Karena Selvia tidak mau sekte kita ikut terseret, dia memilih masuk ke alam rahasia untuk berlatih dan mendapatkan gelar Bidadari Suci.""Karena menurut tradisi sekte kita, Bidadari Suci tidak boleh menikah sebelum mencapai puncak Ranah Dao Integration!""Dan sekarang alam rahasia itu bermutasi mendadak, Selvia terjebak di dalam, dan satu-satunya yang bisa masuk menyelamatkannya ternyata adalah Rex Sallow?" Vera Stone menatap Silas dengan tatapan yang sudah melewati batas amarah biasa. Di matanya sekarang hanya ada kesimpulan. "Kebetulan yang sangat sempurna, bukan?"Suaranya tidak gemetar. Tangannya masih mengepal di sisinya.Silas Lux tidak mengernyit. Dia hanya tersenyum tipis ke arah Vera Stone dengan ekspresi seseora
Tak lama kemudian, ledakan dahsyat yang menggelegar meletus di langit! Ryan dan para kultivator lainnya yang masih hidup mendongak bersamaan dengan terkejut, menatap mayat seorang Kultivator Ranah God King yang jatuh dari langit dengan cepat! Mayat tersebut kemudian hancur berkeping-keping di uda
Di luar penghalang spasial yang memisahkan mereka, waktu tampaknya tidak berlalu dengan normal. Itu adalah ruang dimensi yang terpisah sepenuhnya dari dunia nyata, dan berapa pun waktu yang berlalu di dalam penghalang spasial tersebut, itu hanya akan menjadi sekejap mata di dunia luar. Sementara
Berkas-berkas cahaya yang sangat terang melesat tinggi ke angkasa di tengah kilat spiritual yang memenuhi langit dengan megah dan menakjubkan.Setiap pilar cahaya yang menjulang tinggi melambangkan kemunculan seorang leluhur kuat Ranah Demigod tingkat sembilan. Tak lama kemudian, dua belas leluhur
"Jalang," Ryan berkata dengan suara dingin yang memotong udara malam, "aku di sini untuk mencari seseorang, bukan untuk membunuh seseorang, jadi sebaiknya kau jaga mulutmu sebelum aku berubah pikiran!" Amarah mulai berkobar dalam dadanya. Ryan menggenggam Pedang God Slayer di tangannya dengan era







