LOGINDi luar ruang ICU, Devan dan Pak RT mendengarkan penjelasan polisi terkait kecelakaan sepasang suami istri itu. Sementara istrinya pak RT hanya diam sebagai pendengar dan tidak menimpali sama sekali. Hatinya juga ngilu mendengar kabar duka ini. Tak pernah terbersit dalam benaknya Arkana akan pergi dalam keadaan seperti ini, bahkan terlibat dalam skandal besar obat-obatan terlarang dan juga senjata ilegal. “Jadi waktu dia menghilang selama beberapa tahun itu, dia pergi ke luar negeri hanya untuk bergabung dengan komplotan penjahat?” tanya Pak RT. Mereka pikir kepulangan Arkana adalah awal perubahan hidup pria itu ke arah yang lebih baik. Mereka terlalu percaya dengan cerita bohong yang diumbar oleh Arkana dan Amel, yang katanya selama di luar negeri Arkana bekerja di sebuah perusahaan makanan kaleng. Sungguh mereka sangat percaya kebohongan yang dibuat apalagi Arkana pulang seolah memiliki banyak tabungan.“Benar, Pak. Dia adalah tangan kanan mafia paling berbahaya di dunia gelap. Dan
Suara telepon di meja nakas berdering nyaring. Luna terbangun saat mendengar ponsel suaminya terus berdering. “Mas, bangun,” panggil Luna. Devan mulai membuka matanya, “ponselmu nyala, Mas,” ucap Luna.Dengan mata setengah terpejam pria itu segera meraih ponselnya, dan ternyata nama pak RT yang tertera di sana. “Halo, pak,” jawab Devan.“Pak Devan, saya baru mendapat kabar dari pihak kepolisian kalau Arkana dan Amel mengalami kecelakaan di jalan tol.”“Apaaaaa?” Devan menegakkan tubuhnya dan matanya seketika membesar menerima kabar duka ini. Seketika bayangan wajah Dika melintas di benaknya. Luna pun kaget melihat reaksi sang suami kala menerima telepon. Dia segera duduk di atas ranjang. “Benar, Pak. Arkana sudah dinyatakan meninggal di tempat, sementara Amel masih kritis. Amel terus memanggil nama Dika dan Bu Luna. Bisakah Pak Devan ke rumah sakit sekarang? Saya dan istri pun akan bernag ke sana. Amel dirawat di ruang ICU,” balas Pak RT lagi.Devan napasnya sesak, dia sempat terdi
“Bos, kami sudah siap. Barang yang akan dikirim juga sudah siap semua,” lapor anak buah Arkana.“Oke, nanti atur jarak aman ya,” balas Arkana.“Siap, Bos.”“Sepuluh menit lagi kita berangkat,” pesan Arkana pada orang kepercayaannya. “Baik, Bos. Kami siap menerima perintah berikutnya. Setelah itu anak buahnya segera pergi dan kembali ke posisi semula.Setelah semua persiapan dianggap cukup, Arkana dan Amel mengenakan rompi antipeluru yang sudah disiapkan sejak awal. Benda itu terasa berat di badan, tapi bagi mereka sudah menjadi bagian dari rutinitas setiap kali harus turun langsung. Arkana mengambil senjata yang disimpan di brankas kecil di sudut ruangan, memastikan pelurunya terisi penuh. Amel melakukan hal yang sama, meski gerakannya sedikit kaku. Ini bukan kali pertama, tapi setiap kali tetap saja ada rasa tidak nyaman yang sulit dihilangkan.Mereka masuk ke dalam satu mobil yang sama. Arkana di balik kemudi, Amel duduk di sampingnya. Wajah keduanya tampak serius. Tidak ada canda,
Setelah puas berkeliling dari satu kota ke kota lain, akhirnya Arkana dan Amel benar-benar bersiap kembali ke tanah air. Semua urusan di luar negeri dianggap beres, setidaknya untuk sementara waktu. Sisanya tinggal pekerjaan yang sudah menunggu di rumah, pekerjaan yang justru menjadi alasan utama mereka melakukan perjalanan ini sejak awal.Di dalam pesawat, keduanya duduk berdampingan. Amel menyandarkan punggung, melepas rasa lelah setelah hari-hari panjang yang penuh perhitungan. Namun matanya masih tampak menyala, penuh ambisi. Ia menoleh ke arah Arkana yang sejak tadi sibuk membuka catatan di ponselnya.“Jadi gimana, kita langsung kirim barangnya pas sudah sampai atau suruh orang lain yang kirim?” tanya Amel, suaranya dibuat santai, seolah yang dibicarakan hanyalah urusan bisnis biasa.Arkana mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. “Ini langganan besar buat ke depannya. Aku nggak mau ambil risiko kalau harus menyuruh orang lain. Kita yang kirim langsung. Keuntungannya besar ban
Sementara itu jauh di luar negeri, Arkana dan Amel sepakat untuk tidak lagi mempermasalahkan soal Amel tidur dengan sang raja mafia. Biar bagaimanapun orang itu adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup mereka saat ini. “Kita harus fokus untuk menimbun kekayaan. Jangan lupa buat club malam yang banyak, karena dari tempat itu kita bisa mengedarkan barang-barang terlarang itu.” Amel memberi ide pada suaminya, seolah yang mereka lakukan adalah perbuatan yang sangat terpuji. Padahal perbuatan mereka melanggar hukum. Tapi siapa yang nggak butuh uang? Mereka benar-benar butuh uang. Mereka tak bisa hidup tanpa uang. Jadi yang mereka lakukan adalah yang terbaik untuk hidup mereka. Mereka tak peduli yang mereka lakukan merugikan orang lain atau bukan. “Iya, nanti aku buat club malam lagi. Kan sekalian tempat itu bisa jadi tempat pencucian uang,” jawab Arkana.“Aku sudah tidak sabar menyamakan kedudukanku dengan mantan istrimu. Kan ku buat aku lebih unggul segalanya dari dia,” ujar Ame
“Pak, kita langsung ke ruang meeting. Klien sudah datang,” ucap Ryan.“Baik Ryan. Lima menit lagi saya ke sana,” balas Devan.Devan segera bersiap-siap setelah asistennya keluar dari ruangannya. Setelah itu dia segera menuju ruang meeting. Kali ini meeting dengan pihak pemerintahan yang sudah memberinya proyek dengan harga fantastis. Mereka mulai membahas tentang banyak hal mengenai perkembangan pembangunan yang akan segera dimulai. Tak ada satu hal pun yang terlewat oleh Devan. Penjelasannya sangat lengkap sehingga membuat pihak dari pemerintahan itu mengerti dengan cepat penjelasan Devan. Hampir 2 jam mereka ada di ruang meeting, sampai akhirnya meeting pun berakhir. Saat Devan kembali ke ruang kerjanya, dia terkejut melihat istrinya ada di sana bersama Nia, El, dan Dika. “Daddy,” sapa El dan Nia.“Om,” sapa Dika memeluk Devan seakan mereka sudah berpisah selama berminggu-minggu. Devan berjongkok dan memeluk ketiganya. El dan Nia mengecup wajah sang Daddy bertubi-tubi. Kalau sud







