ANMELDENSetelah mengganti pakaian rumahannya dengan pakaian tidur, Celine kembali ke kamar Raka dan saat kembali melewati kamar Rayhan dan Alisha, suara desahan Alisha masih terdengar bahkan bukan hanya desahhan tapi juga suara erangan Alisha dan tidak berapa lama terdengar suara Alisha yang ingin menyudahi permainan mereka.
“Mas ... please sudah mas aku sudah keluar beberapa kali, rasanya semua tulang aku menghilang dari tubuh aku.” Rayhan tidak perduli dengan permintaan Alisha, justru Rayhan semakin mempercepat gerakannya. “Mas akkhh sakit mas stop mas aku mohon.” Sakit, nyeri bercampur jadi satu yang dirasakan oleh Alisha saat ini. “Tahan sayang aku sebentar lagi sampai.” Hanya itu yang keluar dari mulut Rayhan, Rayhan terus memompa dengan ritme yang semakin cepat. Celine yang mendengar itu sampai memegang bagian bawahnya dan menekannya, karena tiba – tiba apem miliknya terasa berkedut dan gatal ingin segera disentuh. “Gila sungguh gila sekali pak Rayhan, tahan lama sekali. Sejak tadi masih terdengar belum juga lelah. Idola semua perempuan ini? Kekuatannya sungguh tidak bisa dianggap remeh.” Setelah tidak mendengar suara apapun Celine pun meninggalkan pintu kamar Rayhan dan Alisha, karena sudah terlalu lama meninggalkan Raka dikamar sendirian. Sampai di kamar Celine melihat Raka masih tertidur pulas dan Celine merebahkan tubuhnya diatas ranjang Raka karena akan segera tidur. Setelah merebahkan tubuhnya, entah kenapa mata Celine terasa kering, sehingga sudah hampir dua jam Celine masih belum juga tertidur pulas. Celine bergerak kesana kemari mencoba memejamkan matanya, namun di pikiran Celine masih dipenuhi suara – suara indah Alisha dan Rayhan. “Aaarrgggg ... sial, kenapa suara bu Alisha tidak mau hilang dari pikiranku ? Bisa gila aku kalau begini. Baru hari pertama kerja aku sudah dibuat gila oleh pasangan suami isteri itu. Bagaimana hari – hari berikutnya jika aku terus mendengar suara indah bu Alisha. Aku harap aku tidak akan mendengarnya lagi setelah ini.” Karena tidak juga tertidur pulas, Celine memutuskan untuk membuka sosial medianya, tanpa terasa akhirnya Celine tertidur juga, bahkan hingga pagi menjelang karena Raka tertidur sangat pulas dan tidak terbangun sama sekali, hingga pukul lima shubuh Raka baru bangun dan menangis karena haus. Mendengar suara tangisan Raka, Alisha yang baru saja keluar dari kamarnya dan akan turun ke dapur untuk membuat sarapan, Alisha mengurungkan niatnya untuk turun ke bawah dan akhirnya menuju ke kamar Raka. “Celine ... Celine apakah kamu sudah bangun ?” Tok Tok Tok “Celine ...” Rayhan keluar dari kamar dan melihat Alisha yang terus memanggil nama Celine. “Ada apa sayang ?” Tanya Rayhan karena penasaran melihat Alisha terus mengetuk pintu kamar Raka dan memanggil nama Celine, namun Celine tidak juga keluar dari kamar, membuat Alisha khawatir. “Tunggu sebentar bu.” Akhirnya suara Celine terdengar dan tidak berapa lama kembali terdengar suara kunci dibuka. Ceklek ... ceklek ... “Maaf bu tadi aku sedang mengganti popok Raka.” Alisha terlihat tenang setelah Celine membuka pintu. Alisha pun langsung mendekat ke box bayi dan melihat Raka sudah kembali tenang. “Ya sudah kamu mandi dan berganti pakaian, biar Raka aku yang menunggu.” Celine pun pergi meninggalkan Alisha dan Raka. “Oh iya Celine besok lagi kalau malam tidak usah di kunci ya pintunya karena aku suka ingin melihat Raka kalau malam.” Celine yang sudah berada di ambang pintu berhenti menjawab perintah Alisha. “Baik bu.” Jawab Celine pada Alisha. “Oh iya Celine satu lagi, apa boleh aku minta tolong ?” Celine kembali berhenti dan membalikkan badannya. “Boleh bu, ibu mau minta tolong apa ?” Alisha pun memberitahu Celine apa yang harus dikerjakan pagi ini. “Celine bolehkah aku minta tolong buatkan sarapan untuk pak Rayhan ? Dan kopi juga kalau bisa, karena sepertinya aku tidak sempat, aku ingin memberikan ASI kepada Raka. Apakah kamu tidak keberatan Celine ?” Tanya Alisha pada Celine dan Celine yang memang merasa bekerja kepada Alisha dan Rayhan, merasa tidak keberatan jika Alisha meminta Celine membuatkan sarapan untuk Rayhan meskipun perjanjian di awal hanya Alisha yang boleh masak, karena Rayhan hanya cocok dengan masakan Alisha. “Tentu bu aku tidak keberatan, hanya saja ... maaf apakah bapak cocok dengan masakan aku.” Celine tertunduk dan tidak berani menatap Rayhan. “Oh tidak apa – apa Celine, bukan begitu sayang ? Hari ini saja Celine membuatkan kamu sarapan, karena badan aku rasanya masih pegal semua.” Alisha bertanya pada Rayhan, Rayhan yang tidak berani membantah Alisha hanya mengangguk dan mengiyakan permintaan Alisha. Celine pun langsung turun hendak mandi dan membuatkan sarapan untuk Rayhan dan Alisha. Rayhan masih bersama Alisha menunggu Alisha yang sedang memberi ASI untuk Raka. Hampir satu jam semua sudah selesai, Celine pun sudah rapi dan akan kembali ke kamar Raka. “Pak ... bu sarapannya sudah selesai dan sudah aku siapkan di meja makan.” Rayhan melihat jam ditangannya dan memang sudah menunjukkan pukul enam lewat dan hampir jam tujuh. “Mas kamu sarapan duluan saja, aku menyusul. Sepertinya Raka belum kenyang ini. Celine kamu temani bapak sarapan ya, karena dia kalau sarapan banyak maunya, hehehe. Maaf ya Celine aku jadi merepotkan.” Rayhan masih terlihat dingin dengan Celine, hingga Rayhan hanya melewati Celine saat akan turun ke bawah. Celine mengikuti Rayhan dari belakang dan dari sinilah semua berawal tanpa disadari Alisha. ** Alisha kembali memberikan ASI pada Raka sedangkan Celine membantu Rayhan menyiapkan sarapannya, mulai dari memasukkan nasi dan lauk ke piring lalu menuangkan minuman. “Terimakasih Celine.” ucap Rayhan. “Sama – sama pak.” Jawab Celine sambil meninggalkan Rayhan di meja makan. “Oh iya pak, apa bapak mau aku buatkan kopi ?” Tanya Celine sebelum meninggalkan ruang makan. Rayhan yang sedang menikmati sarapannya langsung menjawab Celine. “Wah boleh tuh Celine. Takarannya gula sedikit saja ya Celine, aku tidak suka kopi terlalu manis kecuali perempuan berwajah manis, hehehe.” Celine tersenyum dan memang Celine itu berwajah manis, bahkan saat tersenyum Celine semakin terlihat manis, Rayhan pun mengakui itu hanya saja tidak berani mengungkapkannya. Setelah kepergian Celine ke dapur untuk membuat kopi, Rayhan terlihat begitu lahap menikmati nasi goreng buatan Celine. “Wow ... ternyata masakan Celine jauh lebih enak dari pada masakan Alisha. Celine pun sangat penurut tidak pernah bersikap membantah dan berbicara dengan nada marah, setiap kali diminta melakukan sesuatu berbeda dengan .... Astaga apa yang aku pikirkan ini ?" Rayhan memarahi dirinya sendiri yang mulai membedakan antara Alisha dan Celine. Belum selesai Rayhan menghabiskan sarapannya, Celine sudah datang dan membawakan kopi pesanan Rayhan. “Ini pak kopinya, kalau kurang sesuatu, katakan saja pak. Biar nanti aku tambah.” Suara lembut Celine kembali membuat Rayhan terpesona. “Oke Celine letakkan saja disitu. Terimakasih banyak sekali lagi Celine.” Celine pun kembali ke belakang merapikan peralatan bekas masak, sebelum kembali ke atas menggantikan Alisha menunggu Raka. Celine sengaja tidak naik keatas karena berjaga kalau Rayhan butuh bantuannya. Hingga akhirnya Rayhan menyelesaikan sarapannya dan Rayhan meninggalkan meja makan untuk berpamitan dengan Alisha. Setelah berpamitan pada Alisha, Rayhan turun dan sampai dibawah Rayhan kembali bertemu dengan Celine dan juga berpamitan dengan Celine, namun dengan sikap dinginnya. “Terimakasih untuk sarapannya Celine.” Celine tersenyum manis pada Rayhan dan Rayhan langsung mengalihkan pandangannya karena enggan menatap Celine lebih lama. “Sama – sama pak dan hati – hati dijalan.” Rayhan pun berangkat ke kantor dengan perut kenyang.Setelah mengganti pakaian rumahannya dengan pakaian tidur, Celine kembali ke kamar Raka dan saat kembali melewati kamar Rayhan dan Alisha, suara desahan Alisha masih terdengar bahkan bukan hanya desahhan tapi juga suara erangan Alisha dan tidak berapa lama terdengar suara Alisha yang ingin menyudahi permainan mereka. “Mas ... please sudah mas aku sudah keluar beberapa kali, rasanya semua tulang aku menghilang dari tubuh aku.” Rayhan tidak perduli dengan permintaan Alisha, justru Rayhan semakin mempercepat gerakannya. “Mas akkhh sakit mas stop mas aku mohon.” Sakit, nyeri bercampur jadi satu yang dirasakan oleh Alisha saat ini. “Tahan sayang aku sebentar lagi sampai.” Hanya itu yang keluar dari mulut Rayhan, Rayhan terus memompa dengan ritme yang semakin cepat. Celine yang mendengar itu sampai memegang bagian bawahnya dan menekannya, karena tiba – tiba apem miliknya terasa berkedut dan gatal ingin segera disentuh. “Gila sungguh gila sekali pak Rayhan, tahan lama sekali.
Rayhan mendekati Alisha dan Alisha membawa Raka ke kamar Alisha.“Sayang si tampan ini hanya milik kamu.”Alisha langsung duduk di pinggir ranjang dan Rayhan duduk disebelahnya.“Jangan berikan asi lagi nanti dia kembali muntah.”Alisha tidak menjawab lalu meletakkannya diatas ranjang tidur Alisha dan Rayhan.Mereka pun bercanda ria hingga akhirnya Alisha merasa lapar.“Mas aku lapar tapi aku belum masak, apa kita beli saja yah tapi yang ada sayurnya. Setelah itu aku baru masak, karena aku sudah sangat lapar sekali.”Akhirnya Alisha kembali berbicara pada Rayhan, Rayhan yang sangat menyayangi Alisha hanya menuruti semua yang diminta oleh Alisha.“Tentu sayang, pesan dan carilah makanan apa yang kamu mau. Biar kita bisa makan. Jangan lupa pesan yang agak banyak, karena sekarang ada Celine. Dia juga harus makan.”Alisha mengambil handphonenya dan mulai mencari makanan di aplikasi makanan online, sedangkan Rayhan bermain bersama Raka.**Tidak sampai tiga puluh menit pesan
Rayhan membuka pintu kamar dan melihat Alisha yang sedang memberikan asi untuk Raka. Rayhan duduk di samping Alisha dan mengecup pucuk kepala Alisha. “Sayang apa kamu marah ? Maafkan mas yah, kalau kamu kecewa karena mas mengambil keputusan tanpa memberitahukan kamu. Ini semua mas lakukan karena mas tidak ingin melihat isteri cantik mas ini lelah setiap hari.” Alisha berdiri dan meletakkan Raka diatas box tidurnya, sedangkan Rayhan masih duduk di pinggir ranjang sambil menatap Alisha yang masih berdiri di pinggir box tidur Raka dan menepuk nepuk Raka agar tidak terbangun. Sesaat kemudian Alisha berjalan mendekati Rayhan dan merapikan bantal seolah tidak ingin Rayhan tahu kalau Alisha sebenarnya kecewa dengan Rayhan. “Cantik ya mas, siapa yang memilih dia ?” Pertanyaan Alisha membuat Rayhan bingung harus menjawab apa ? “Eemmm begini sayang .. aku tidak memilih tapi Roby yang memilih sesuai kriteria yang aku berikan. Aku minta jangan yang tua dan juga jangan yang mu
Pagi hari, Rayhan sudah rapi dan turun ke bawah untuk sarapan. Alisha sudah menyiapkan semua sarapan, namun begitu Rayhan datang Alisha langsung meninggalkan Rayhan di ruang makan. “Alisha kamu mau kemana? Temani aku sarapan karena ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu.” Alisha yang masih kesal dengan Rayhan karena kejadian kemarin pagi, hari ini pun Alisha masih terlihat kecewa dengan Rayhan. Alisha duduk ditempat biasa Alisha duduk saat makan. “Ada apa mas ? apa yang akan kamu bicarakan, apakah sangat penting ? Sebaiknya cepat karena aku harus melihat Raka diatas.” Sambil menyiapkan sarapan ke atas piring Rayhan, wajah Alisha tetap terlihat tidak menunjukkan senyuman sama sekali. “Alisha jadi begini sayang, aku sudah minta tolong ke Roby, kamu masih mengenal Roby kan teman kantor aku.” Tanya Rayhan pada Alisha dan kebetulan Alisha masih ingat siapa Roby tersebut. “hmmm ... iya aku ingat, memangnya ada apa ?” Alisha duduk setelah menyelesaikan mempersiapkan sar
"Mas .. eeggghh ....” Suara desahan dan leguhan serta peraduan dua manusia yang sedang menikmati malam bahagia setelah hampir dua bulan keduanya tidak saling bersentuhan, itu semua karena Alisha baru saja melahirkan. “Alisha ... sayang, sungguh mas merindukan ini sayang.” Baru saja Rayhan akan sampai puncak dan gerakan naik turun yang sangat intens bahkan nafas Rayhan sudah sangat terengah-engah, tiba – tiba suara tangisan bayi mereka terdengar begitu keras, membuat Alisha meminta Rayhan untuk segera menghentikan kegiatannya. “Mas hentikan mas ... itu Raka menangis mas.” “Mas Rayhan ....” Rayhan yang sedang tanggung tidak menggubris permintaan Alisha, justru Rayhan semakin cepat memompa gerakannya. “Tidak sayang ... mas hampir sampai.” “Alisha ... aahhh ... Alisha.” Hingga akhirnya .. “Aahhh ... Alisha.” Baru saja Rayhan sampai pada puncak kenikmatannya, sedangkan Alisha belum sampai karena pikirannya sudah tertuju pada suara tangisan bayi mereka, ditambah suara tangi







