LOGINRayhan mendekati Alisha dan Alisha membawa Raka ke kamar Alisha.
“Sayang si tampan ini hanya milik kamu.” Alisha langsung duduk di pinggir ranjang dan Rayhan duduk disebelahnya. “Jangan berikan asi lagi nanti dia kembali muntah.” Alisha tidak menjawab lalu meletakkannya diatas ranjang tidur Alisha dan Rayhan. Mereka pun bercanda ria hingga akhirnya Alisha merasa lapar. “Mas aku lapar tapi aku belum masak, apa kita beli saja yah tapi yang ada sayurnya. Setelah itu aku baru masak, karena aku sudah sangat lapar sekali.” Akhirnya Alisha kembali berbicara pada Rayhan, Rayhan yang sangat menyayangi Alisha hanya menuruti semua yang diminta oleh Alisha. “Tentu sayang, pesan dan carilah makanan apa yang kamu mau. Biar kita bisa makan. Jangan lupa pesan yang agak banyak, karena sekarang ada Celine. Dia juga harus makan.” Alisha mengambil handphonenya dan mulai mencari makanan di aplikasi makanan online, sedangkan Rayhan bermain bersama Raka. ** Tidak sampai tiga puluh menit pesanan makanan datang. Kebetulan mereka sedang berada di bawah karena menunggu makanan datang. Rayhan yang menerima makanan tersebut dan memberikannya para Celine karena Alisha sedang menggendong Rakha. “Celine tolong siapkan makanan ini di meja makan yah.” Rayhan menyodorkan empat bungkus makanan siap saji kepada Celine dan Celine membawanya kebelakang, lalu menatanya di meja makan dan setelah selesai menata makanan tersebut Celine kembali ke depan. “Bu ... biar Raka aku pegang, ibu makan saja.” Suara lembut Celine mampu membuat Rayhan terpesona, meskipun baru hari pertama Celine bekerja. Selama ini Alisha memang selalu bersikap tegas, jarang berbicara lembut, Alisha seperti itu karena terbiasa bekerja sebagai manager dan itu berdampak pada gaya bicaranya yang terkesan tegas dan tidak suka bertele - tele. Rayhan tersenyum sambil menatap Celine, namun Celine tidak menyadarinya. ** Malam hari tiba pukul delapan semua masih asyik menonton, bahkan Raka juga belum tidur dan masih berada di ruang tengah. “Celine malam ini Raka tidur di kamarnya dan nanti kamu temani ya.” Celine yang sedang menggendong Raka langsung menjawab perintah Rayhan. “Baik pak, kalau begitu apa boleh sekarang saya bawa Raka ke kamar, agar bisa tidur karena sekarang sudah terlalu malam untuk ukuran bayi.” Rayhan kembali terpesona dengan suara lembut Celine. “Boleh Celine silahkan bawa saja, tapi biarkan aku menciumnya dulu.” Celine pun membawa Raka mendekati Alisha agar Alisha bisa mengecupnya. Setelah Alisha mengecup Raka beberapa kali, Celine naik keatas dan membawa Raka ke kamarnya di lantai dua. Setelah Celine tidak terlihat Rayhan mulai menggoda Alisha. “Malam ini akan jadi malam panjang lagi untuk kita sayang. Aku mau sampai pagi yah ? Oh iya sayang ... bagaimana kalau Celine kita berikan seragam suster ? Karena aku tidak nyaman saat Celine memakai baju sehari – hari, aku khawatir tetangga berpikir yang tidak – tidak karena Celine memakai baju biasa.” Alisha tampak terdiam dan mencerna kata – kata Rayhan. “Berpikir bagaimana maksudnya mas ?” Akhirnya Rayhan menjelaskan pada Alisha dan Alisha pun mengerti maksud Rayhan. “Hmmm ... ya sudah besok aku beli secara online saja di toko orange. Nanti aku tanyakan dulu ukuran baju Celine.” Pukul sepuluh Rayhan mengajak Alisha tidur karena Rayhan sudah mengantuk. “Ayo sayang kita tidur sudah larut malam.” Mereka pun menuju ke lantai dua dimana kamar Rayhan dan Alisha berada. Alisha mengganti pakaian rumahannya dengan pakaian tidur, lalu naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya tepat disamping Rayhan yang sudah terlebih dahulu merebahkan tubuhnya. Rayhan bergerak mendekati Alisha dan berbisik di telinga Alisha. “Sayang ... aku mulai yah?” Tanya Rayhan pada Alisha dan Alisha mengangguk. Rayhan yang sudah sangat menginginkannya langsung mengecup mesra Alisha dan tangan nakalnya mulai bermain mengelilingi area sensitif Alisha membuat Alisha menjadi bergairah dan memejamkan matanya, menikmati belaian dan kecupan lembut Rayhan. Kecupan lembut Rayhan turun ke bawah dan berhenti pada benda kenyal Alisha. Tangan dan bibir Rayhan bergantian menguasai bagian tersebut seolah sudah lama tidak mendapatkan hal itu. Tiba – tiba Rayhan berhenti saat asi Alisha ikut keluar. Rayhan menghentikan kegiatannya, karena Rayhan tidak menyukai susu yang keluar. “Kenapa mas ?” Tanya Alisha pada Rayhan yang merasa heran, tiba – tiba Rayhan menghentikan kegiatannya. “Asi kamu ikut keluar sayang, aku tidak suka rasanya.” Kecupan Rayhan turun kebawah hingga ke bagian paling bawah. Rayhan mulai menjilati bagian tersebut dan kembali Rayhan merasa tidak nyaman. Bagaimana tidak selama kehamilan, Alisha tidak melakukan perawatan miliknya sehingga aroma kurang sedap menyelimuti bagian sensitif Alisha, namun bukan karena Alisha jorok akan tetapi semenjak hamil dokter melarang Alisha melakukan perawatan bagian itu karena takut terkena dampak ke sang bayi. Meski ada aroma tidak sedap, Rayhan tetap mencoba bertahan demi memuaskan Alisha. “Mas aku sudah tidak tahan.” Mendengar Alisha mengatakan itu Rayhan merasa ini waktunya meninggalkan bagian yang mulai tidak disukai oleh Rayhan. “Gantian sayang ?” Pinta Rayhan pada Alisha yang faham dengan apa yang Rayhan maksud. Alisha pun menuruti permintaan Rayhan karena itu gaya kesukaan Rayhan. Alisha begitu menikmati tongkat keramat Rayhan yang sedang di nikmati dengan bibir atasnya. “Alisha ke permainan inti yah ?” Alisha mengangguk dan merebahkan tubuhnya. Rayhan mulai memasukkan tongkat keramatnya dan jleb !! Rayhan mulai memainkan keahliannya membuat Alisha memejamkan matanya dan mendesah perlahan. “Setelah dua bulan kamu ke salon kecantikan ya sayang, agar kembali rapat.” Alisha hanya tersenyum dan mengangguk karena Alisha sadar kalau dia baru saja melahirkan dan pastinya miliknya tidak sesempurna saat belum melahirkan. Alisha terus mengerang saat permainan Rayhan semakin cepat, bahkan Rayhan memompa semakin cepat. Suara perpaduan keduanya begitu terdengar plok ... plok ... plok ! Bahkan suara merdu Alisha sampai terdengar ke seluruh ruangan kamarnya. “Mas Rayhan ... enak sekali mas!” Begitupun Rayhan yang terus menyebut nama Alisha di setiap gerakannya. ** Di kamar Raka saat ini Raka sudah tertidur pulas dan Celine hendak ke kamarnya mengganti pakaian tidurnya. Celine keluar dari kamar Raka dan melewati pintu kamar Alisha dan Rayhan. “Mas ... aahhh. Lebih cepat mas ... enak sekali.” Celine mendengar suara Alisha seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan. Celine mendekatkan telinganya di balik pintu kamar Alisha, sehingga samar-samar terdengar suara penyatuan Alisha dan Rayhan didalam sama. “Alisha ... mas sangat merindukan ini sayang.” Tanpa mereka tahu dibalik pintu ada Celine yang tidak sengaja mendengar. “Astaga pak Rayhan sepertinya sedang memompa bu Alisha dengan begitu gagah dan kuat. Terdengar dari suara bu Alisha yang sepertinya sangat menikmati. Wajar saja sih, secara pak Rayhan memiliki postur tubuh yang atletis sudah gitu tampan lagi. Tapi bu Alisha juga cantik sih, makanya anaknya sangat tampan seperti papahnya.” Suara Alisha terdengar semakin sering menyebut nama Rayhan dan suara desahan Alisha semakin keras. Kegiatan di dalam sana membuat dada dan milik Celine terasa berdenyut dan dadanya mengeras. “Ah sial kenapa aku jadi begini ? Sebaiknya aku pergi dari sini agar tidak tergoda, lagi pula kalau tergoda aku akan mencari lawan kemana? Bisa bahaya nanti?” Celine melangkah meninggalkan kamar Rayhan dan Alisha. “Astaga kenapa aku jadi lupa dengan tujuan utama aku. Nanti Raka keburu bangun.” Celine pun tergesa-gesa meskipun pintu kamar Alisha yang masih terdengar suara – suara merdu dari dalam sana. Celine turun dan menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian tidurnya.Pagi hari, Rayhan terbangun lebih awal daripada biasanya. Dia duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa ponselnya. Ada satu pesan dari Celine yang masuk menjelang tengah malam, tetapi belum sempat dibalasnya, karena tadi malam dia sudah sangat mengantuk.“Besok kita harus bicara, pak. Aku tidak mau terus-menerus merasa takut setiap kali bu Alisha bertanya tentang pacarku.”Pesan dari Celine tadi malam. Dan Rayhan menghela napas panjang, setelah membaca pesan dari Celine tersebut.Rayhan memahami kegelisahan Celine. Semakin lama, kebohongan mereka semakin sulit dikendalikan. Namun, dia juga belum siap menghadapi kemungkinan Alisha mengetahui hubungan mereka.Rayhanpun akhirnya mengetik sebuah balasan.“Nanti siang kita bertemu. Aku akan mengatur waktunya.”Isi pesan balasan Rayhan untuk Celine.Setelah mengirim pesan tersebut, Rayhan segera bangkit dan bersiap untuk mandi.Tiga puluh menit Rayhan berada di kamar mandi, dan ketika keluar dari kamar mandi, dia mendapati Alisha
Sejak kejadian di toko beberapa hari lalu, Rayhan dan Celine semakin berhati-hati.Mereka tidak lagi berani bertemu sesering sebelumnya. Bahkan ketika saling mengirim pesan, keduanya selalu memastikan tidak ada orang lain yang berada di dekat mereka. Yang lebih penting setiap kali habis berkirim pesan, semua percakapan dihapus, untuk mencegah diketahui oleh Alisha.Namun justru sikap terlalu berhati-hati itulah yang mulai membuat Alisha merasa ada sesuatu yang berbeda.Pagi itu, Alisha sedang menyiapkan sarapan ketika Rayhan turun dari kamar."Mas, sarapan dulu." Ucap Alisha yang sedang merapikan beberapa sarapan di atas meja makan."Iya."Rayhan duduk di meja makan.Celine juga baru saja datang dari belakang rumah setelah membantu beberapa pekerjaan."Pagi, bu Alisha." Ucap Celine begitu masuk ke ruang makan."Pagi, Celine."Celine mengambil tempat duduknya. Alisha memperhatikan mereka berdua secara bergantian.Entah mengapa, dia merasa ada sesuatu yang aneh. Bukan karen
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, tetapi bagi Rayhan dan Celine, semuanya terasa berbeda.Sejak kejadian di hotel, keduanya semakin sering mencari kesempatan untuk bertemu tanpa diketahui Alisha.Mereka sadar bahwa sedikit saja kesalahan bisa membuat rahasia mereka terbongkar, bahkan Alisha bisa saja mengusir Celine dari rumah.Siang itu, Rayhan sedang berada di kantor ketika ponselnya bergetar.Sebuah pesan masuk dari Celine.“Pak, nanti sore ada waktu?”Rayhan tersenyum tipis. Dia melihat sekeliling sebelum membalas.“Ada. Kenapa?’Beberapa detik kemudian, balasan dari Celine masuk.“Aku ingin bertemu.”Rayhan terdiam sejenak. Kemudian dia mengetik.“Kita ketemu di tempat biasa. Jangan terlalu lama. Aku khawatir Alisha curiga karena aku pulang terlambat terus.”Ceine pun langsung membalas pesan Rayhan.“Baik.”**Sore harinya, Rayhan tiba lebih dahulu di sebuah kafe yang cukup jauh dari rumah.Celine datang sekitar sepuluh menit kemudian.Dia mengenakan p
Pagi menjelang ketika Rayhan membuka mata. Dia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar.Pikirannya masih teringat kejadian semalam. Pertemuannya dengan Celine di hotel yang berakhir menghabiskan waktu di ranjang.Kemudian dua puluh panggilan tidak terjawab dari Alisha.Rayhan segera meraih ponsel yang berada di meja samping tempat tidur. Layar ponselnya menunjukkan beberapa notifikasi. Dia kembali membuka daftar panggilan dan kembali melihat nama Alisha memenuhi layar.Rayhan menghela napas."Aku harus hati-hati."Dia kemudian menoleh ke samping. Alisha masih tertidur pulas, setelah tadi malam menunggu Rayhan.Wajah perempuan itu terlihat tenang. Sepertinya sama sekali tidak menyadari bahwa Rayhan baru saja memeriksa ponselnya.Rayhan turun dari tempat tidur dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.Namun baru beberapa langkah, terdengar suara Alisha."Mas ..."Panggil Alisha dan Rayhan langsung berhenti."Iya?"Alisha masih memejamkan mata."Mas sudah pul
Setelah menyelesaikan hasrat bercinta, keduanya sudah merasa saling puas. Rayhan yang sejak tadi duduk di tepi ranjang akhirnya melirik jam tangannya."Sudah jam sepuluh."Celine yang sedang merapikan rambutnya ikut melihat jam."Sudah selarut ini?" Celine memastikan apa yang dikatakan oleh Rayhan itu benar "Iya."Rayhan menghela napas pelan. Dia kemudian berdiri dan mengambil jasnya."Kita harus segera pulang."Celine mengangguk. "Aku juga takut bu Alisha menunggumu."Rayhan tersenyum tipis."Makanya kita jangan terlalu lama di sini."Celine mengambil tasnya, lalu memeriksa ponsel."Aku pulang naik apa?" tanya Celine pada Rayhan."Naik taksi." Jawab Rayhan.Celine langsung menggeleng."Jangan. Sudah malam sekali." Celine menolak naik taksi."Aku bisa pesan taksi untukmu." Ucap Rayhan pada Celine."Tidak usah. Aku pesan ojek online saja."Rayhan langsung menggeleng."Jam segini?" pertanyaan Rayhan terdengar khawatir."Iya." Jawab Celine tegas."Aku tidak mau." Pro
Malam mulai turun ketika Rayhan akhirnya tiba di hotel yang sudah disepakati.Setelah memarkir mobil, Rayhan masuk melalui lobi dengan langkah tenang. Sesekali matanya melihat layar ponsel, memastikan tidak ada pesan dari Alisha.Rayhan menghela napas lega. Langkahnya kian pasti dengan penuh semangat dan bibirnya tidak berhenti tersenyum.Rayhan langsung duduk di lobby hotel setelah memesan kamar.Tidak berapa lama Rayhan melihat Celine datang dan langsung menghampiri Rayhan.Rayhan memberi kunci hotel dan meminta Celine untuk masuk lebih dulu.Sampai di depan pintu kamar Celine membuka dan masuk ke dalam.Tidak begitu lama terdengar pintu diketuk.TokTokTokBegitu pintu terbuka, sosok Rayhan berdiri di hadapannya."Maaf membuat kamu lama menunggu?" tanya Rayhan.Celine menggeleng."Baru beberapa menit."Rayhan masuk, lalu menutup pintu.Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling memandang.Pertemuan mereka memang bukan yang pertama, tetapi berada berdua di sebuah k
Celine menutup pintu setelah Rayhan berangkat ke kantor.“Pak Rayhan tampan sekali tapi sayang sudah ada yang punya. Sebenarnya pak Rayhan itu bahagia tapi entah kenapa, seperti ada yang ditutupi oleh pak Rayhan. Tapi aku tidak tahu itu apa ? Ah ... sudahlah nggak usah ikut campur urusan rumah
Setelah mengganti pakaian rumahannya dengan pakaian tidur, Celine kembali ke kamar Raka dan saat kembali melewati kamar Rayhan dan Alisha, suara desahan Alisha masih terdengar bahkan bukan hanya desahhan tapi juga suara erangan Alisha dan tidak berapa lama terdengar suara Alisha yang ingin menyudah
Rayhan membuka pintu kamar dan melihat Alisha yang sedang memberikan asi untuk Raka. Rayhan duduk di samping Alisha dan mengecup pucuk kepala Alisha. “Sayang apa kamu marah ? Maafkan mas yah, kalau kamu kecewa karena mas mengambil keputusan tanpa memberitahukan kamu. Ini semua mas lakukan kar
Pagi hari, Rayhan sudah rapi dan turun ke bawah untuk sarapan. Alisha sudah menyiapkan semua sarapan, namun begitu Rayhan datang Alisha langsung meninggalkan Rayhan di ruang makan. “Alisha kamu mau kemana? Temani aku sarapan karena ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu.” Alisha yang masih







