Mag-log inCeline menutup pintu setelah Rayhan berangkat ke kantor.
“Pak Rayhan tampan sekali tapi sayang sudah ada yang punya. Sebenarnya pak Rayhan itu bahagia tapi entah kenapa, seperti ada yang ditutupi oleh pak Rayhan. Tapi aku tidak tahu itu apa ? Ah ... sudahlah nggak usah ikut campur urusan rumah tangga orang, karena pekerjaanku di sini mengurus anak, bukannya mengurus rumah tangga pak Rayhan dan bu Alisha. Sebaiknya sekarang aku membereskan meja makan, setelah itu aku kembali ke kamar Raka. Karena mungkin bu Alisha sudah selesai memberikan ASI kepada Raka dan siapa tahu dia mau sarapan.” Setelah merapikan meja makan bekas Rayhan sarapan, Celine melangkahkan kakinya ke lantai dua menuju ke kamar Raka. “Bu maaf, apakah ibu sudah selesai memberikan ASI kepada Raka ? Jika sudah biarkan Raka bersama aku dan ibu silakan sarapan. Aku juga akan memandikan Raka.” Celine mendekati Alisha dan Alisha memberikan Raka kepada Celine. “Apa kamu sudah sarapan Celine ?” Tanya Alisha kepada Celine saat Alisha memberikan Raka kepada Celine. “Aku nanti saja ... ibu saja duluan.” Alisha akhirnya keluar dari kamar Raka dan menuju ke ruang makan untuk sarapan. ** Tiga bulan telah berlalu semua berjalan normal, hanya saja Alisha semakin hari semakin sering menolak Rayhan, bahkan cenderung marah-marah tiap kali Rayhan memberitahu sesuatu atau menasehati sesuatu, membuat Rayhan semakin tidak nyaman berlama-lama berdekatan dengan Alisha. “Lis ... kapan kamu akan ke dokter kecantikan ? Lakukanlah perawatan ke seluruh tubuh kamu sayang. Aku ingin kamu kembali normal seperti dulu.” Suara Rayhan begitu pelan dan lembut agar tidak menyinggung perasaan Alisha, tapi tidak dengan Alisha. “Astaga mas ... sudahlah mas jangan paksa aku melakukan sesuatu yang tidak pernah aku suka sejak dulu. Katakan sejujurnya padaku apa yang membuat kamu tidak nyaman dengan keadaan aku yang sekarang ?” Alisha tidak menyadari kalau setelah melahirkan dirinya banyak sekali perubahan. Mulai dari bentuk tubuh, lalu aroma yang kurang sedap dari bagian inti miliknya, serta wajah kusam yang tidak lagi bercahaya seperti sebelumnya. Rayhan ingin sekali berkata jujur kepada Alisha namun Rayhan takut kata-kata Rayhan akan menyinggung Alisha. Apalagi belakangan ini Alisha sering marah-marah tidak jelas, meskipun Raka sudah ada yang menjaganya. “Ya .. eemmm ya paling tidak kamu ... aah ... sudahlah aku tidak akan membahas ini lagi. Terserah kamulah sayang kamu mau seperti apa ?” Rayhan pun keluar dari kamar meninggalkan Alisha yang masih merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rayhan masuk ke dalam kamar Raka dan melihat Raka sedang digendong oleh Celine sambil duduk di pinggir ranjang. Pandangan mata Rayhan tertuju ke arah Celine, yang saat ini sedang memakai pakaian suster model terusan, sehingga saat Celine duduk baju tersebut tertarik ke atas dan memperlihatkan paha putih, jenjang dan mulus milik Celine. “Apa dia tidur Celine ?” Tanya Rayhan sambil berjalan mendekati Raka yang saat ini sedang di pangku oleh Celine. “Eh pak Rayhan, tidak pak Raka tidak tidur baru habis minum susu formula. Tapi sebenarnya sebentar lagi dia akan tidur karena sudah kenyang.” Mata Rayhan masih tertuju pada paha Celine dan Celine yang menyadari hal itu seketika langsung merasa gugup dan berdiri. Sebenarnya antara Celine dengan Alisha jauh lebih cantik Alisha, hanya saja beberapa bulan belakangan Alisha terlihat kusam sedangkan Celine wajahnya semakin bersinar. Bentuk tubuh Celine jauh lebih bagus dibanding bentuk tubuh Alisha saat ini, Celine memiliki bentuk tubuh yang ideal karena bagian depan dan bagian belakang sama-sama besar. Celine pun berdiri dan berjalan ke arah box tidur Raka, lalu meletakan Raka di dalamnya karena ternyata Raka sudah memejamkan matanya. “Bapak ada yang bisa aku bantu ? karena aku akan ke bawah sebentar, setelah itu aku baru akan kembali lagi menemani Raka.” Tanya Celine pada Rayhan karena merasa gugup, Celine berusaha menghindari Rayhan dengan cara berpura-pura akan turun ke bawah. “Tidak usah Celine, nanti kalau butuh sesuatu aku akan panggil kamu.” Celine pun meninggalkan Raka di box tidur dan juga Rayhan. “Pak aku nitip Raka sebentar ya, aku akan segera kembali.” Celine pun keluar dan menutup pintu kamar Raka meninggalkan Rayhan bersama Raka di dalam kamar. “Kenapa semakin lama Celine semakin terlihat cantik ya ? Bahkan tubuhnya harum dan juga aku merasa bagian depannya terlihat semakin hari semakin besar.” Rayhan berkata dalam hati sambil otaknya berkeliling membayangkan bisa menikmati dada milik Celine tersebut. “Apalagi bentuknya begitu sempurna, jauh lebih besar dari pada milik Alisha. Arrgggh ... sial ini semua gara-gara Celine aku jadi menginginkan bercinta dengan Alisha. Tapi aku sedang malas dengan Alisha, karena dia semakin lama semakin membuat aku tidak nyaman dan tidak bergairah saat bercinta. Aku harus bagaimana ya agar Alisha bisa kembali normal seperti dahulu. Kalau seperti ini terus bisa berbahaya bagi aku, apa lagi melihat Celine setiap hari. Arrgghhhh ... aku harus menghentikan semua kegilaan aku ini.” Cukup lama Celine berada di bawah, setelahnya Celine pun kembali ke kamar Raka. Dengan langkah ragu Celine masuk ke dalam kamar Raka dan melihat Alisha yang saat ini berada di dalam kamar Raka bukan lagi Rayhan. “Ah syukurlah pak Rayhan sudah tidak ada.” Celine berkata dalam hati, lalu berjalan mendekati Alisha. “Bu Alisha, kenapa wajah bu Alisha terlihat muram ?” Tanya Celine pada Alisha yang memang wajah Alisha begitu terlihat murungnya, tidak seperti biasanya yang selalu terlihat ceria saat bersama dengan Raka. “Celine duduklah sini aku ingin bercerita sesuatu.” Alisha yang awalnya tidak menyukai Celine kini justru Alisha begitu dekat dengan Celine, bahkan seringkali Alisha berkeluh kesah kepada Celine mengenai Rayhan dan keluarganya. Tangan Alisha menepuk pinggir ranjang di sebelahnya, meminta agar Celine duduk dekat dengannya. Celine pun berjalan perlahan dan duduk cepat di sebelah Alisha. “Ada apa bu Alisha, apakah bu Alisha ingin bercerita sesuatu padaku ?” Kembali pertanyaan terlontar dari mulut Celine pada Alisha. “Iya Celine aku ingin bercerita sesuatu dan aku berpikir kamu sudah seperti saudaraku sendiri, meskipun hanya baru beberapa bulan kamu bekerja denganku. Aku harap kamu tidak menceritakan hal ini kepada siapapun termasuk kepada mas Rayhan. Berjanjilah padaku kalau kamu akan menjaga rahasia ini.” Celine memegang tangan Alisha sambil tersenyum. “Bu Alisha ... bu Alisha boleh mempercayakan semuanya kepadaku dan aku berjanji aku tidak akan mengatakan ini kepada siapapun termasuk pak Rayhan.”Rayhan terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun. Saat ini Rayhan sedang berdiri tepat di depan pintu kamar Celine. Tangan Rayhan terangkat namun terdiam sejenak tanpa mengetuk pintu tersebut. Hingga akhirnya.TokTokTokSuara ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamar Celine.“Celine ... ini aku Rayhan.”Suara Rayhan pelan dan nyaris tidak terdengar.TokTokTokRayhan kembali mengetuk karena tidak mendengar jawaban Celine.“Celine buka pintunya, aku tahu kamu belum tidur.”Cukup lama Rayhan menunggu Celine membuka pintu, namun sayang Celine tidak juga membuka pintu kamarnya.“Astaga ... Celine kamu dimana sih. Masa iya kamu sudah tidur jam segini ?”TokTokTokRayhan kembali mengetuk, namun sayang ... hasilnya sama Celine tetap tidak membuka pintunya.Rayhan mengepalkan tangannya seolah akan memukul pintu kamar Celine.“Sialan kamu Celine!” Rayhan terus memaki Celine pelan, bahkan dia terlihat sangat emosi karena Celine tidak membukakan pintu, sedangkan Ray
Rayhan naik ke tangga tanpa menoleh sedikit pun ke arah Celine yang masih berdiri terpaku di ruang tamu.Sikap Rayhan barusan benar-benar berbeda dari biasanya.Biasanya, setiap kali pulang kalau tidak ada Alisha, Rayhan selalu menunjukkan perhatian kecil kepada Celine. Sebuah tatapan, senyum tipis, atau sekadar pertanyaan sederhana sudah cukup membuat Celine merasa bahwa dirinya diperhatikan.Namun kali ini tidak. Rayhan bahkan seolah sengaja menjaga jarak. Celine mengepalkan tangannya dan wajahnya sedikit memerah.“Kenapa pak Rayhan bersikap seperti itu kepadaku. Tidak biasanya dia seperti ini.”Tatapannya mengikuti punggung Rayhan sampai pria itu menghilang di balik tangga.Dalam hati, Celine mendengus kesal.“Baiklah. Kalau sekarang kamu tidak menginginkanku, aku tidak akan memaksamu.”Celine menarik napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan.“Tapi awas saja kalau suatu hari nanti kamu yang mencariku dan membutuhkanku.”Celine tersenyum tipis.“Jangan harap aku akan la
Dua jam kemudian, rapat Rayhan akhirnya selesai. Dia kembali ke ruangannya dengan wajah lelah. Namun begitu duduk, sekretarisnya langsung mengetuk pintu.TokTokTok “Masuk.” Suara Rayhan terdengar dari dalam."Permisi pak, ada bu Alisha ingin bertemu." Mila memberitahu Rayhan kalau ada Alisha ingin bertemu dengannya."Alisha?" tanya Rayhan."Iya pak bu Alisha."Rayhan langsung mengangkat wajah."Serius Alisha?" tanya Rayhan memastikan."Iya, pak."Rayhan berdiri. “Tidak biasanya Alisha datang ke kantor tanpa memberi kabar lebih dahulu.” Pikir Rayhan.Pintu terbuka. Alisha masuk sambil membawa sebuah tas kecil. Rayhan berjalan menghampirinya."Ada apa sayang ? Kenapa tiba-tiba datang?" suara Rayhan terdengar berpura-pura senang dan Alisha tersenyum."Aku ingin mengajakmu makan siang."Rayhan membalas senyum itu, tetapi ada sesuatu dalam tatapan Alisha yang membuatnya merasa tidak nyaman.Seolah-olah kedatangan istrinya bukan sekadar untuk makan siang."Baik. Tunggu
Maaf yah kak baru lanjut lagi, kemarin hiatus lumayan lama. Semoga lanjutnya bisa nyambung dengan cerita sebelumnya.Rayhan menarik napas panjang, kemudian memaksa pandangannya kembali pada layar laptop.Dia membuka salah satu berkas yang sejak tadi terabaikan. Beberapa angka terpampang di layar, lengkap dengan laporan penjualan dan catatan dari bagian keuangan. Namun baru beberapa detik membaca, pikirannya kembali melayang. Siapa lagi yang menjadi beban pikirannya selain ... Celine.Nama itu seolah terus berputar di kepalanya. Rayhan mengusap wajah kasar. Dia sendiri tidak mengerti mengapa kehadiran Celine akhir-akhir ini begitu mengganggu pikirannya.Selama ini dia selalu mampu memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan. Dia terbiasa mengambil keputusan dengan kepala dingin. Bahkan ketika menghadapi masalah besar di perusahaan, Rayhan hampir tidak pernah kehilangan fokus.Dia selama menikah tidak pernah berniat untuk selingkuh, bahkan dia tidak pernah memikirkan Alisha seperti dia
Sampai di kantor, Rayhan langsung masuk ke ruangannya dan duduk di ruang kerjanya. Tas kerja diletakkan diatas meja dan Rayhan mengeluarkan Laptopnya. Laptop sudah terbuka dan beberapa berkas sudah tersusun. Namun selama hampir lima belas menit, tidak satu pun pekerjaan disentuhnya, pikiran Rayhan masih berada di rumah.Saat langkah kaki Celine yang tadi lewat di ruang makan, Alisha bertanya dan menatapnya saat sarapan tadi. Bahkan ke malam tadi, dimana dia baru saja bercinta dengan Celine.Rayhan menyandarkan tubuh ke kursi, lalu menatap langit-langit.“Kenapa malah makin susah dilupakan …” gumamnya.Rayhan mengambil onselnya, lalu dibuka layar chat dengan Celine.Dia menatap kolom pesan kosong beberapa saat. Ingin mengirim pesan untuk Celine tapi dia ragu.Akhirnya dia mengunci layar kembali dan memutuskan untuk tidak menghubungi Celine.“Arrgghh ... sial ada apa dengan aku ?” pertanyaan itu muncul untuk dirinya sendiri.Sementara itu, di rumah Alisha sedang membantu Celine
Setelah itu pintu tertutup dan Rayhan tidak tampak lagi. Sementara Celine masih duduk di tepi ranjang dengan napas yang belum sepenuhnya tenang. Rambutnya sedikit berantakan, kulitnya lengket oleh keringat, dan pikirannya jauh lebih kacau dibandingkan tubuhnya. Ada rasa menyesal tapi juga ada rasa puas setelah percintaannya dengan Rayhan barusan. “Ya tuhan kenapa aku jadi begini ?” tanya Celine pada dirinya sendiri. “Harusnya aku bisa menolak ... tapi sentuhan pak Rayhan membuat aku lupa apa itu penolakan.” Begitu langkah Rayhan tak lagi terdengar, Celine perlahan berdiri. Dia berjalan menuju kamar mandi kecil di belakang kamarnya, lalu menyalakan air. Dengan diam, dia membersihkan dirinya, berusaha menghapus sisa-sisa percintaan mereka dari tubuhnya, seakan sisa keringat Rayhan tidak bisa hilang begitu saja. Namun yang paling sulit dibersihkan justru bukan jejak di keringat keduanya, tetapi perasaan yang terus bertentangan di dalam hati. Air mengalir cukup lama dan akhirnya
Setelah mengganti pakaian rumahannya dengan pakaian tidur, Celine kembali ke kamar Raka dan saat kembali melewati kamar Rayhan dan Alisha, suara desahan Alisha masih terdengar bahkan bukan hanya desahhan tapi juga suara erangan Alisha dan tidak berapa lama terdengar suara Alisha yang ingin menyudah
Rayhan mendekati Alisha dan Alisha membawa Raka ke kamar Alisha.“Sayang si tampan ini hanya milik kamu.”Alisha langsung duduk di pinggir ranjang dan Rayhan duduk disebelahnya.“Jangan berikan asi lagi nanti dia kembali muntah.”Alisha tidak menjawab lalu meletakkannya diatas ranjang tidur Ali
Rayhan membuka pintu kamar dan melihat Alisha yang sedang memberikan asi untuk Raka. Rayhan duduk di samping Alisha dan mengecup pucuk kepala Alisha. “Sayang apa kamu marah ? Maafkan mas yah, kalau kamu kecewa karena mas mengambil keputusan tanpa memberitahukan kamu. Ini semua mas lakukan kar
"Mas .. eeggghh ....” Suara desahan dan leguhan serta peraduan dua manusia yang sedang menikmati malam bahagia setelah hampir dua bulan keduanya tidak saling bersentuhan, itu semua karena Alisha baru saja melahirkan. “Alisha ... sayang, sungguh mas merindukan ini sayang.” Baru saja Rayhan akan







