LOGINSatu tahun menikah, namun bagi Isabella pernikahannya terasa seperti kesepakatan tanpa makna. Menjadi istri dari seorang billionaire seharusnya membuat hidupnya sempurna. Tapi tidak dengan Isabella. Di balik kemewahan dan nama besar keluarga suaminya, ia hanya hidup sebagai bayangan, diabaikan, tidak dianggap, dan tidak pernah benar-benar diakui. Sebastian tidak pernah menyentuhnya apalagi mencintainya. Baginya, pernikahan itu hanyalah kontrak tanpa perasaan dan tanpa ikatan. Namun segalanya mulai berubah ketika batas yang selama ini dia jaga tiba-tiba runtuh dalam satu malam. Sentuhan yang seharusnya tidak terjadi itu, justru membuka luka yang lebih dalam dan perasaan yang tidak bisa lagi disembunyikan. Isabella tahu satu hal pasti, dia tidak boleh berharap. Karena dalam pernikahan ini, hanya ada satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta. Dan masalahnya… dia sudah melanggarnya.
View More"Tuan Alejandro, saya perlu memberitahu anda sesuatu."Begitu telepon terhubung, Marco langsung berbicara. Ia duduk di belakang meja kerjanya, ponsel di satu tangan, sementara tangan satunya mengetuk meja pelan menunggu jawaban.Di ujung telepon, Alejandro terdiam sejenak. Lalu ia bertanya singkat, "Tentang apa?""Camilla datang ke kantor saya tadi pagi," kata Marco. "Dia menemui Isabella di koridor dan membuat keributan di depan beberapa staf."Keheningan singkat dari ujung telepon."Seberapa parah?" tanya Alejandro dengan suara yang lebih serius."Isabella bisa mengatasinya dengan baik. Tidak sampai terjadi kontak fisik," jawab Marco sambil berdiri dan berjalan
"Jawab aku, Isabella Castellano."Camilla menyebut nama itu dengan nada penuh kemarahan. Namun Isabella tetap berdiri tenang. Ia hanya menatap Camilla tanpa menunjukkan sedikit pun rasa takut atau emosi.Di ujung koridor, pintu ruang kerja Marco terbuka. Marco baru saja hendak keluar, tetapi Isabella mengangkat satu tangan sebagai isyarat agar ia tidak ikut campur. Marco mengerti maksudnya. Ia berhenti di depan pintu dan memilih mengawasi dari tempatnya."Nona Camilla." Isabella memulai dengan nada yang sama persis dengan cara ia berbicara di meja pertemuan bisnis. Terkontrol, jelas, tanpa ekstra emosi. "Kalau ada yang ingin anda sampaikan, sampaikan dengan tenang. Tempat ini kantor, bukan arena pertengkaran.""Aku tidak peduli ini kantor." Camilla berdiri di depannya dengan napas yang masih memburu. "Kamu sudah mengambil terlalu banyak hal dari hidupku dan aku ingin kamu menjelaskan.""Saya mengambil apa dari hidup kamu?""Sebastian." Camilla mengatakannya seperti kata itu sendiri su
"Kalau begitu percakapan ini selesai."Suara Alejandro terdengar sangat tenang, tetapi semua orang di ruangan itu bisa merasakan kekecewaan di baliknya.Veronica tetap diam. Wajahnya tenang dan sulit dibaca, seolah tidak ada satu pun pertanyaan yang bisa menggoyahkannya."Aku sudah mengatakan apa yang aku tahu," katanya."Dan kamu memilih untuk tetap berbohong," jawab Alejandro pelan.Maria menunduk, sementara Antonio menggenggam tangan istrinya. Isabella duduk diam, tidak ikut bicara. Ia baru saja melihat sendiri bagaimana seseorang bisa tetap menyangkal meski ruangan itu sudah penuh dengan bukti.Veronica berdiri perlahan.
"Nyonya Castellano, ini Isabella Romano."Veronica tidak langsung menjawab. Tangannya mengencang di sekitar ponsel, matanya menatap nama Alejandro di layar yang sekarang terasa seperti sesuatu yang asing."Kenapa kamu menelepon dari ponsel suamiku?" Suara Veronica keluar datar."Karena Pak Alejandro yang meminta saya." Isabella menjawab dengan nada yang tidak defensif dan tidak juga mengambil jarak. Tenang, seperti biasanya. "Beliau ingin saya menyampaikan bahwa dia mengundang Anda untuk bertemu besok pagi di kediaman Castellano. Pukul sepuluh.""Pertemuan tentang apa?""Tentang hal-hal yang sudah seharusnya dibicarakan." Isabella berhenti sebentar. "Beliau minta saya sampaikan, kehadiran Anda sangat diharapkan."Veronica menatap dinding di depannya selama beberapa detik setelah sambungan terputus. Ruang keluarga yang tadi terasa seperti miliknya sendiri sekarang terasa berbeda, seperti seseorang sudah menggeser satu benda kecil dari tempatnya dan semua proporsisi ruangan berubah kare
"Jadi kalau aku ingin mendekatinya lagi, aku harus tahu apa saja yang dia suka."Sebastian duduk di depan meja Rodrigo dengan ekspresi serius yang membuat sahabatnya langsung menghela napas panjang. Baru dua hari lalu i
"Kamu terlihat seperti orang yang baru kehilangan sesuatu."Rodrigo mengangkat alis saat Sebastian masuk ke ruangan kerjanya keesokan pagi. Penampilannya tidak berbeda dari biasanya, tetapi ada perubahan yang sulit dije
“Satu jam lagi atur pertemuan dengan Victor.”Alejandro memberi instruksi pada Sofia lalu melanjutkan menghabiskan sarapannya. Ekspresinya tetap tenang, tetapi Sofia yang berdiri tidak jauh darinya tahu pria itu sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih serius daripada sekadar urusan bisnis biasa.
"Pak Marco, tempatnya bagus."Isabella menatap ke sekeliling Le Venue Restaurant dengan ekspresi yang tidak terlalu ia sembunyikan. Tempat itu memang layak untuk reaksi seperti itu. Pencahayaan hangat, meja-meja yang ti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews