LOGINSatu tahun menikah, namun bagi Isabella pernikahannya terasa seperti kesepakatan tanpa makna. Menjadi istri dari seorang billionaire seharusnya membuat hidupnya sempurna. Tapi tidak dengan Isabella. Di balik kemewahan dan nama besar keluarga suaminya, ia hanya hidup sebagai bayangan, diabaikan, tidak dianggap, dan tidak pernah benar-benar diakui. Sebastian tidak pernah menyentuhnya apalagi mencintainya. Baginya, pernikahan itu hanyalah kontrak tanpa perasaan dan tanpa ikatan. Namun segalanya mulai berubah ketika batas yang selama ini dia jaga tiba-tiba runtuh dalam satu malam. Sentuhan yang seharusnya tidak terjadi itu, justru membuka luka yang lebih dalam dan perasaan yang tidak bisa lagi disembunyikan. Isabella tahu satu hal pasti, dia tidak boleh berharap. Karena dalam pernikahan ini, hanya ada satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta. Dan masalahnya… dia sudah melanggarnya.
View More“Delapan bulan dan rasanya seperti delapan tahun,” gumam Isabella pelan, sambil menatap jam di dinding.
Dia tidak pernah menyangka bahwa delapan bulan pernikahan bisa terasa selama ini. Rumah besar milik keluarga De Luca ini seharusnya terasa mewah, hangat, dan hidup. Tapi baginya, tempat ini lebih mirip ruang kosong yang terlalu luas. Setiap langkah kakinya memantul pelan di lantai marmer, seolah mengingatkanku bahwa aku sendirian.
Sebastian sepertinya tidak akan pulang lagi malam ini.
Isabella sudah terbiasa. Awalnya dia menunggu di ruang tamu dengan penuh harap, lalu beralih menunggu di kamar. Sekarang? Dia hanya memastikan pintu tidak terkunci dan lampu tetap menyala.
“Kenapa aku masih menunggu?” bisiknya pada diri sendiri dengan perasaan yang getir.
Padahal dia tahu jawabannya. Meskipun ini hanya pernikahan kontrak, hatinya tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai sesuatu yang sementara.
Isabella menghela napas panjang, lalu berjalan menuju dapur untuk menuang segelas air. Jam sudah hampir tengah malam dan suasana begitu sunyi hingga suara detak jam terasa nyaring, lalu suara pintu depan terbuka.
Isabella langsung berhenti. “Akhirnya pulang juga…” bisiknya lirih.
Langkah kaki terdengar berat dan tidak teratur.
Dia menutup mata sejenak. “Mabuk lagi…” desahnya pelan.
Isabella berjalan ke ruang tamu dan di sanalah dia melihat Sebastian.
Jasnya sedikit berantakan, dasinya longgar, dan langkahnya tidak stabil. Wajahnya tetap tampan seperti biasa, tapi matanya kosong dan bau alkohol begitu kuat.
“Kamu baru pulang?” tanyanya, mencoba terdengar tenang.
Ia mengangkat kepalanya sedikit. “Ini rumahku,” jawabnya dingin. “Aku bisa pulang kapan pun aku mau.”
Dadanya mengencang.
“Aku gak melarang kamu pulang,” kataku, menahan emosi. “Aku cuma bertanya.”
Sebastian tertawa kecil tanpa kehangatan. “Jangan bertingkah seperti istri sungguhan.”
Kalimat itu menusuk.
Aku menatapnya. “Aku memang istrimu,” jawabku pelan tapi tegas.
Ia mendengus. “Kamu hanya istri kontrak,” koreksinya. “Jangan lupa itu.”
Isabella terdiam sejenak.
“Kontrak bukan berarti kamu bisa menghilang begitu saja,” kataku. “Aku bahkan gak tahu kamu masih menganggap pernikahan ini ada atau tidak.”
Sebastian berjalan mendekat, langkahnya goyah tapi tatapannya tajam. “Dari awal sudah aku katakan,” katanya rendah, “jangan pernah berharap lebih.”
Isabella menelan ludah.
“Dan kamu setuju,” lanjutnya.
Dia tersenyum pahit. “Iya, aku setuju. Tapi aku gak mau diperlakukan seperti bayangan.”
Ia berhenti tepat di depanku.
“Kalau kamu merasa seperti bayangan,” katanya dingin, “itu bukan urusanku.”
Isabella menatapnya tidak percaya. “Kenapa kata-katamu sejahat itu?”
Ia diam sejenak, lalu berkata, “Karena sejak awal aku tidak pernah mencintaimu.”
Jawaban itu menghantamku.
“Kalau begitu kenapa kamu menikah denganku?” tanyaku.
Sebastian tersenyum tipis. “Kamu sudah tahu jawabannya.”
Isabella tertawa pelan, pahit. “Iya, demi kesepakatan.”
Suasana kembali hening.
Sebastian mencoba berjalan melewatiku, tapi tubuhnya goyah. Refleks, Isabella menahan lengannya.
“Pelan-pelan,” katanya.
Sebastian berhenti. Tatapannya turun ke tangan Isabella, lalu naik ke wajahnya. Ada sesuatu yang berubah.
“Jangan sentuh aku kalau kamu gak siap menerima akibatnya,” katanya pelan.
Isabella mengernyit. “Maksudmu apa….”
Belum selesai dia bicara, tiba-tiba Sebastian menariknya mendekat. “Sebastian….!”
Tangannya melingkar di pinggang Isabella, menahan tubuhnya agar tidak menjauh.
Napasnya hangat dan terlalu dekat. “Apa ini yang kamu mau?” bisiknya rendah.
Jantung Isabella berdetak kencang. “Lepaskan aku…”
Namun ia tidak langsung melepas. Sebaliknya, wajahnya mendekat ke leher Isabella dan tanpa peringatan, bibirnya menyentuh ceruk leher Isabella. Lembut dan hangat, sangat berbeda dari sikap dinginnya selama ini.
Tubuhku menegang, lalu tanpa sadar melemas. Isabella terdiam, sesaat terbuai. Detik itu terasa begitu lama. Napasnya menyentuh kulit Isabella dan sesuatu di dalam dirinya runtuh.
“Sebastian…” bisiknya lirih.
Namun kemudian kesadaran itu menghantamnya. Ini bukan cinta. Ini bukan perasaan. Ini hanya kesalahan.
Isabella langsung mendorongnya menjauh. “Cukup!” katanya tegas.
Sebastian sedikit terhuyung, tapi akhirnya dia melepaskan Isabella.
Isabella mundur satu langkah, napasnya tidak teratur. “Jangan pernah lakukan itu lagi,” katanya dingin.
Sebastian menatapnya, sedikit berbeda sekarang. “Aku…” ia terdiam sejenak. “Gak bermaksud…”
Isabella menggeleng. “Aku gak butuh penjelasan.”
Dia memeluk dirinya sendiri. “Seperti kata-katamu tadi. Ini cuma kontrak, Sebastian,” katanya pelan. “Jangan bersikap seolah lebih dari itu.”
Sebastian terdiam dan untuk pertama kalinya, ia tidak membantah.
“Sebaiknya kamu pergi ke kamarmu,” lanjut Isabella.
Sebastian menatapnya beberapa detik, lalu berbalik dan pergi tanpa kata. Langkahnya menjauh, meninggalkannya sendirian dan ruangan kembali sunyi.
Isabella berdiri mematung, menyentuh lehernya tanpa sadar. Jejak hangat itu masih terasa.
“Kenapa…” bisiknya.
Air matanya jatuh.
“Ini hanya kontrak…” ulangnya pelan.
Isabella mengulangnya lagi dan lagi, seolah itu bisa menghapus apa yang baru saja terjadi.
Dia menutup mata dan kali ini dia tahu, masalahnya bukan pada kontrak. Masalahnya, hatinya sudah terlalu jauh.
Isabella tersenyum pahit. “Empat bulan lagi…” bisiknya.
Isabella berjalan ke kamarnya, membuka pintu, lalu menguncinya kembali.
“Kenapa aku membiarkannya?” bisiknya lirih, suaranya hampir tidak terdengar di dalam kamar yang sunyi.
Isabella masih bersandar di pintu, mencoba menenangkan napas yang belum stabil. Bayangan tadi terus terulang, terlalu dekat, terlalu nyata, dan terlalu berbahaya untuk sesuatu yang seharusnya tidak berarti.
“Kenapa aku bodoh sekali…” gumamnya pelan.
Dia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk perlahan. Tangannya tanpa sadar menyentuh leher.
“Ini cuma karena dia mabuk,” katanya, mencoba meyakinkan diri sendiri. “Besok juga dia gak akan ingat.”
Namun justru itu yang membuat hatinya terasa semakin kosong.
“Dan aku juga harusnya lupa…” bisiknya.
Tapi Isabella tahu, dia tidak akan bisa melupakannya.
Dia berbaring, menatap langit-langit kamar. Malam terasa panjang, pikirannya tidak mau diam. Perasaan yang selama ini berusaha ditahan, perlahan mulai muncul ke permukaan. Tentang Sebastian, tentang jarak di antara mereka, dan tentang sesuatu yang seharusnya tidak pernah tumbuh sejak awal.
Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja, dia langsung menoleh. Layar menyala. Papa.
Jantungnya sedikit menghangat. Dia segera meraih ponsel itu dan menjawab. “Halo… Pa,” katanya pelan.
Suara di seberang sana terdengar lemah, tapi hangat seperti biasa. “Bella, kamu sibuk?”
Isabella tersenyum kecil, “gak Pa. Aku lagi di kamar.”
“Gimana keadaan kamu di sana?” tanyanya.
Isabella terdiam sejenak. “Baik,” jawabnya akhirnya, meskipun kata itu terasa berat di lidah.
Papanya menghela napas pelan. “Suamimu memperlakukan kamu dengan baik, kan?”
Pertanyaan itu membuatnya menatap kosong ke depan.
Bayangan Sebastian kembali muncul di kepalanya, dingin, jauh, dan tadi malam, terlalu dekat.
“Dia…” Isabella berhenti. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
“Dia baik,” katanya akhirnya, memilih jawaban paling aman.
Hening sejenak di seberang sana.
Lalu papanya berkata pelan, “Bella, apa kamu bahagia?”
Dadanya langsung terasa sesak.
Dia hendak membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
“Kalau kamu tidak bahagia, kamu tidak perlu bertahan,” lanjutnya. “Papa tidak ingin kamu mengorbankan dirimu hanya demi Papa.”
Matanya mulai terasa panas.
“Papa sudah baik-baik saja sekarang,” tambahnya pelan. “Kamu tidak punya alasan untuk menyakiti dirimu sendiri lagi.”
Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat.
“Aku gak menyakiti diriku sendiri,” bisikku.
Namun bahkan dia sendiri tidak yakin.
Hening kembali menyelimuti percakapan mereka.
Lalu, dengan suara yang lebih dalam, papanya bertanya. “Bella, sebenarnya apa alasan kamu bersedia menikah dengan Sebastian?”
Jantungnya seperti berhenti dan dia membeku. Pertanyaan itu sederhana, tetapi untuk pertama kalinya dia tidak tahu harus menjawab apa.
Isabella berdiri di beranda kediaman keluarga, menghirup udara pagi yang terasa segar dan jernih. Cahaya matahari menyinari wajahnya lembut, menyapu sisa-sisa bayangan yang selama ini mengikutinya. Di belakangnya, pintu terbuka lebar bukan sekedar pintu rumah, melainkan pintu menuju kehidupan yang akhirnya utuh. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum perlahan, menyadari bahwa ia tidak lagi mencari tempat untuk pulang. Ia sudah berada di sana."Kamu tampak bahagia pagi ini," ucap Alejandro pelan, berhenti di sampingnya sambil menatap pemandangan halaman yang tertata rapi. Suaranya hangat, penuh kebanggaan sekaligus ketenangan yang mendalam. "Seperti seseorang yang akhirnya tahu di mana tempatnya berada."Isabella menoleh, menatap ayahnya dengan senyum tulus yang tak lagi menyembunyikan apa pun. Semua rahasia, keraguan, dan ketakutan telah terungkap dan tersele
Pintu kediaman terbuka perlahan. Sebastian berdiri di ambang pintu, tangannya menggenggam sebuah amplop putih bersih yang tertutup rapat. Udara sore yang sejuk ikut masuk bersamanya, namun ketegangan yang menyelimuti ruangan itu terasa lebih kuat dari angin mana pun. Isabella berdiri beberapa langkah di depannya, menatap benda di tangannya dengan dada yang berdebar, ia sudah menduga apa yang ada di sana, namun kesiapannya untuk menerima isinya belum sepenuhnya utuh.“Ini dari Esterlita,” ucap Sebastian pelan, melangkah maju perlahan seakan takut menyentuh sesuatu yang rapuh. Matanya menatap Isabella lekat-lekat, menyiratkan permohonan sekaligus keikhlasan. “Rafael memastikan keasliannya. Kata-kata di sini ditulis olehnya sendiri, tanpa paksaan, tanpa disembunyikan apa pun.”Isabella mengulurkan tangan, jemarinya sedikit gemetar saat menyentuh kertas itu. Permuk
Malam telah turun menyelimuti Verenzia, namun lampu ruang kerja Sebastian tetap menyala terang. Di atas meja kayu yang luas itu tergeletak sebuah map tebal bersampul gelap, laporan akhir penyelidikan dari Rafael yang baru saja dikirimkan. Sebastian duduk diam, menatap benda itu cukup lama, seakan tahu bahwa sekali ia membukanya, tidak ada lagi yang bisa tetap sama. Ia melangkah maju, menarik napas panjang, lalu perlahan membuka halaman pertama. Setiap baris yang dibacanya mengungkapkan kepingan kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik senyuman dan janji-janji manis. Rencana yang disusun bertahun-tahun, kebohongan yang ditata rapi, dan peran yang dimainkan dengan sangat sempurna hingga sulit dibedakan dari kenyataan.Rafael berdiri di sisi meja, tidak terburu-buru, membiarkan Sebastian mencerna setiap bagian dengan tenang. Ia tahu betapa beratnya membaca halaman demi halaman ini bagaimana seseorang ya
Ruang konferensi lantai puncak gedung utama Castellano Imperial Hotels tampak penuh pagi itu. Kamera berkedip, suara percakapan rendah bergema, dan puluhan mata tertuju pada satu kursi yang masih kosong di meja depan. Di balik tirai, Isabella berdiri diam, menatap cermin di hadapannya. Gaun berwarna gelap yang dikenakannya sederhana namun rapi, sama persis seperti keteguhan yang ia coba jaga di dalam dada. Tangan yang tadi sempat gemetar kini terlipat tenang di depannya, meski jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.Alejandro berdiri di sampingnya, menatap putrinya dengan pandangan yang penuh bangga sekaligus kelembutan. Ia meletakkan tangan di bahu Isabella, sentuhan yang menenangkan dan memberi kekuatan sekaligus. “Kamu tidak perlu membuktikan apa pun kepada mereka,” ucapnya pelan, hanya terdengar oleh keduanya, suaranya teguh namun lembut seakan menanamkan keyakinan langsung ke dalam hatinya
Hari itu akhirnya datang juga. Hari yang sejak awal sudah tertulis di dalam kontrak yang ditandatangani tanpa ragu. Satu tahun telah berlalu, dan kini Isabella berdiri di ruang tamu rumah besar ini, tempat yang tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah.Semua terlihat sama seperti pertama kali d
“Apa dia sudah pergi?” gumamnya pelan.Isabella akhirnya keluar dari kamar menjelang siang.Rumah masih sama, terlalu besar, terlalu sunyi, dan terlalu tidak terasa seperti rumah. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada tanda kehidupan, bahkan tidak ada tanda bahwa Sebastian masih ada di sini. Enta
Isabella sengaja tidak langsung keluar kamar keesokan paginya.Bukan karena dia tidak bisa, tapi karena dia tidak ingin melihatnya. Kejadian tadi malam masih terasa terlalu dekat, terlalu nyata, dan entah kenapa terlalu menyakitkan untuk dihadapi secepat ini.“Aku harusnya sudah terbiasa,” bisiknya
“Delapan bulan dan rasanya seperti delapan tahun,” gumam Isabella pelan, sambil menatap jam di dinding.Dia tidak pernah menyangka bahwa delapan bulan pernikahan bisa terasa selama ini. Rumah besar milik keluarga De Luca ini seharusnya terasa mewah, hangat, dan hidup. Tapi baginya, tempat ini lebih






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews