ANMELDENRayhan berusaha menenangkan Celine.“Kita harus tetap tenang,” katanya.“Tapi ini semakin sulit, pak,” lanjut Celine. “Semakin lama … semakin banyak yang harus ditutupin.”Rayhan menatapnya, wajahnya terlihat gelisah.“Aku sudah pikirkan,” ucapnya pelan.Celine menoleh dan menatap Rayhan dengan sedikit tersenyum. “Besok kamu kembali ke rumah seperti biasa.”Celine langsung mengernyit.“Seperti biasa?” tanya Celine dengan suara polosnya.“Iya. Kamu tetap jadi seperti sebelumnya. Kerja seperti biasa, bersikap seperti biasa.”Perintah Rayhan pada Celine.“Tapi …” Celine ragu, “kalau saya salah bicara?”Rayhan menggeleng dan memegang bahu Celine, seolah menguatkan Celine.“Makanya jangan banyak bicara. Jawab seperlunya saja kalau Alisha mengajak bicara.”Celine mengangguk lalu menunduk.“Terus … soal saya di kampung?” Celine terlihat bingung dengan situasi ini.“Kita bilang kamu baru pulang hari ini,” jawab Rayhan cepat. “Kalau dia tanya kenapa lama, kamu bilang ada urusa
Sampai di kantor, Rayhan langsung menghubungi Celine.Panggilan itu diangkat dengan cepat.“Halo, pak …” jawab Celine dari seberang sana.“Celine, dengar ya,” suara Rayhan terdengar sedikit tegang. “Alisha sudah di rumah.”“Apa?!” Celine terkejut.“Iya. Tadi pagi aku baru tahu. Dia sudah pulang dari semalam. Dan akupun terkejut saat melihat Alisha pagi-pagi ada di dapur.”Celine langsung duduk tegak.“Terus, pak? Apa ibu curiga?” tanya Celine pada Rayhan yang sedikit ketakutan.“Sejauh ini belum … tapi dia sempat tanya,” jawab Rayhan. “Aku sudah jawab, tapi kamu harus hati-hati.”Celine menarik napas meskipun detak jantungnya masih terasa berdebar kencang.“Iya, pak …” kembali Celine menjawab Rayhan dengan suara masih terdengar gugup.“Dan … mungkin dia akan hubungi kamu.”Belum sempat Celine menjawab, ponselnya berbunyi lagi.Panggilan masuk dari Alisha.“Pak … Ibu telepon,” bisik Celine panik.Rayhan langsung berkata, “Angkat. Ingat, kamu masih di kampung.” Perintah
Pagi menjelang Alisha masih belum benar-benar tertidur, bahkan dia hampir tidak tidur sama sekali setelah melihat Rayhan pulang menjelang subuh. Tubuhnya memang sempat berbaring di samping Raka, namun matanya tetap terbuka dalam gelap, pikirannya berputar tanpa henti.Hingga akhirnya, dia bangun perlahan agar tidak membangunkan Raka, lalu melangkah keluar kamar menuju dapur.“Dari pada terus mikir …” gumamnya pelan, “lebih baik aku masak saja.”Di dapur, Alisha mulai menyiapkan sarapan. Aroma masakan perlahan memenuhi rumah khususnya dapur. Rayhan masih tertidur pulas di kamarnya. Tubuhnya benar-benar kelelahan, bukan hanya karena kurang tidur, tapi juga karena aktivitas semalam yang menguras tenaga bersama Celine.Waktu terus berjalan. Alisha sudah selesai memasak, bahkan sempat merapikan dapur. Dia sesekali melirik ke arah tangga, menunggu Rayhan turun.Beberapa saat kemudian, akhirnya terdengar suara langkah dari lantai atas. Rayhan turun dan sudah rapi dengan pakaian ke
Menjelang waktu subuh, suasana di sekitar rumah masih sangat sunyi dan jalanan di depan rumah hampir tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Bagaimana tidak karena waktu masih menunjukkan pukul empat, bahkan adzan shubuhpun belum berkumandang. Mobil Rayhan akhirnya berhenti tepat di depan rumah. Rayhan tidak mematikan mesin mobil dan langsung turun untuk membuka gerbang yang digembok oleh Alisha. Rayhan memasukkan mobilnya ke dalam garasi.Dia mematikan mesin, lalu duduk sejenak di dalam mobil. Matanya terlihat lelah, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena lelah setelah bercinta dengan Celine hingga beberapa kali sebelum akhirnya Rayhan memutuskan untuk pulang.Rayhan menghembuskan napas panjang.“Harusnya aman karena Alisha belum pulang.” gumamnya pelan.Dia keluar dari mobil, melangkah cepat menuju pintu depan. Namun saat tangannya akan membuka pintu, dia sedikit terkejut, karena pintu itu … tidak terkunci.Keningnya langsung berkerut.“Aneh … padahal aku sudah meng
Malam di kamar hotel saat ini terasa hangat dan sunyi serta penuh keintiman antara Celine dan Rayhan.Udara dingin dari AC, tidak membuat dua pasangan tanpa ikatan pernikahan itu, menciptakan suasana yang tenang setelah semua yang terjadi di antara mereka. Celine berbaring diam, menatap langit-langit, sementara Rayhan duduk di tepi tempat tidur, tangannya meraih jam di pergelangan.Dia melirik jam ditangannya dan melihat waktu menunjukkan pukul sembilan malam.Rayhan menghela napas pelan, lalu berdiri.“Aku harus pulang,” ucapnya singkat.Celine yang sejak tadi diam langsung menoleh. Ada sesuatu dalam suaranya yang berubah, bukan sekadar pertanyaan, tapi seperti keputusan yang tidak bisa ditawar oleh Rayhan.“Sekarang?” tanya Celine pelan sambil berjalan mendekati Rayhan.“Iya. Kalau terlalu malam, malah jadi pertanyaan, kamu tahu sendiri tetangga di sekitar rumah seperti apa ?” jawab Rayhan sambil merapikan bajunya.Celine terdiam. Entah kenapa, hatinya terasa berat saat Ra
Perasaannya campur aduk antara cemas, gugup, dan sesuatu yang lain yang sulit dijelaskan.Ting ...Lift berhenti tepat dilantai empat hotel bintang dua itu. Mereka berjalan menyusuri lorong hingga akhirnya tiba di depan kamar.Petugas hotel membuka pintu, lalu mempersilahkan Celine masuk terlebih dahulu, setelahnya menyusul Rayhan.Celine melangkah masuk. Kamar itu cukup luas, bersih, dan nyaman. Tempat tidur besar berada di tengah, dengan jendela besar di sampingnya.Celine meletakkan tasnya pelan, sedangkan Rayhan memberikan tips pada petugas hotel sebelum akhirnya pergi meninggalkan Rayhan dan Celine di kamar itu.“Ini .. jadi saya tinggal di sini saja ya, pak?” tanyanya.“Iya,” jawab Rayhan. “Untuk sementara, sampai Alisha berada di rumah dan ikuti semua instruksi dia.”Celine mengangguk. Rayhan melihat jam di tangannya, lalu menarik napas.“Aku harus ke kantor sekarang. Kalau terlambat, malah jadi pertanyaan.”Celine menatapnya.“Iya, pak. Hati-hati.”Rayhan mendek
Sepanjang malam mereka mengobrol segala macam baik mengenai keluarga, rumah tangga Alisha dan Rayhan serta pekerjaan Rayhan beberapa bulan belakangan.Rayhan sedikit tidak fokus mengobrol karena Rayhan sudah berjanji pada Celine untuk memijat tubuhnya yang sudah mulai terasa tidak enak.Pikiran R
Rayhan tiba di kantor dan berjalan menuju ruangannya. Lalu duduk di kursi kerja dan mulai memeriksa dokumen-dokumen yang ada di depannya untuk persiapan meeting pagi ini.Namun, tiba-tiba Rayhan membayangkan wajah cantik Celine yang selalu tersenyum manis ketika melayaninya. Bahkan Rayhan juga me
Alisha dan Rayhan pun akhirnya kembali melakukan ritual malam romantis mereka.Suara gemuruh dan petir menyamarkan suara teriakan kenikmatan dan desahan Alisha.“Mas .. eeuugghh.”Sakit yang semula dirasakan Alisha, kini seketika menghilang berganti dengan kenikmatan yang diberikan oleh Rayhan.
Di perjalanan menuju ke kantor, pusaka Rayhan yang sudah berdiri sejak tadi, terasa begitu ingin disalurkan.“Ah sial seandainya tidak ada Alisha pasti Celine sudah aku habisi di ranjang Raka tadi.”Rayhan terus menggerutu karena hasratnya tidak tersalurkan.“Aku harus mencoba membujuk Celine,







