Home / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 7 Ada Yang Cemburu

Share

Bab 7 Ada Yang Cemburu

Author: Tristar
last update publish date: 2026-03-27 18:15:12

Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba.

Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak.

Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santai di atas motornya, menikmati sebatang rokok yang terselip di antara jari-jarinya.

Dari kejauhan, beberapa tukang ojek lain memandang Joko dengan tatapan tidak ramah. Ada rasa iri yang jelas terpancar dari sorot mata mereka.

Sejak kemarin, banyak siswi SMA lebih memilih naik ojek Joko. Hal itu membuat para tukang ojek lain merasa di rugikan.

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Tak lama kemudian, gerbang sekolah di buka dan para siswa dan siswi SMA berbondong-bodong keluar dari gerbang. Para siswa yang membawa kendaraan langsung melaju pergi, sementara yang tidak ~ mereka sibuk mencari ojek.

Joko bangkit dari motornya sambil menatap kerumunan para siswa-siswi itu.

"Ayo, yang mau naik ojek! Bang Joko antar sampai tempat tujuan dengan selamat!" teriak Joko dengan lantang dan juga riang, sambil melambai-lambaikan tangannya.

Beberapa siswi buru-buru menghampiri Joko. Namun, dua siswi cantik lebih dulu sampai di hadapan Joko. Mereka adalah Mia dan Dea.

"Kakak..." sapa keduanya hampir bersamaan.

"Siapa dulu nih, yang mau di antar? kalian putuskan sendiri! jangan berebut, oke!" ujar Joko kepada kedua wanita itu.

"Dea, kamu duluan!" ucap Mia kepada Dea.

Ternyata kedua wanita itu saling mengenal.

"Benaran? gak apa-apa aku duluan?" Dea memastikan.

"Benaran, udah sana!" balas Mia tegas, sambil sedikit mendorong tubuh Dea.

Joko naik ke motornya.

"Kalau gitu, ayo naik!" ajak Joko.

Dea naik ke motor Joko. Setelah posisi duduk wanita itu benar dan nyaman, Joko melajukan motornya.

Melihat Joko sudah pergi membawa penumpang, para tukang ojek yang belum mendapatkan penumpang segera mengambil kesempatan untuk menawarkan jasa mereka kepada siswi-siswi yang ingin naik ojek Joko.

Namun, para siswi itu menolak tawaran mereka. Penolakan tersebut membuat para tukang ojek itu semakin kesal kepada Joko.

"Sialan, awas saja kau, Joko!" gumam para tukang ojek itu di dalam hatinya dengan penuh amarah.

Setelah para tukang ojek itu pergi, ada seorang siswa menghampiri Mia.

"Sayang, ayo pulang sama aku!" ajak siswa itu kepada Mia.

Dari cara ia memanggil Mia, bisa diketahui bahwa siswa itu adalah pacar Mia.

"Gak mau. Kamu pulang duluan aja! aku mau naik ojek Kak Joko aja!" balas Mia acuh, seolah tak peduli kepada pria itu.

"Sayang, udah dong marahnya... aku kemarin buru-buru jadi gak antar kamu pulang!" ujar pria itu dengan nada memohon.

"Aku gak marah, kok!" balas Mia.

"Terus kenapa kamu gak mau pulang sama aku?" tanya pria itu dengan heran.

"Gak kenapa-kenapa," balas Mia acuh, sambil melemparkan pandangannya ke arah lain.

Pria itu semakin kebingungan dengan sikap Mia. Namun, dia tidak menyerah ~ dia terus membujuk Mia agar mau pulang bersamanya.

===

Sementara itu, Joko sudah sampai di kosan Dea.

Dea turun dari motor Joko, lalu memberikan uang sebesar 20 ribu kepada Joko.

"Nih kak, gak perlu di kembalian. Besok jemput aku lagi yah!" ujar Dea dengan nada riang.

"Oke siap! pasti aku jemput. Makasih yah! udah ngasih ongkos lebih," Joko berkata dengan nada riang, sambil memasukkan uang itu ke dalam saku celananya.

"Sama-sama kak," balas Dea, lalu dia berbalik, melangkah pergi masuk ke dalam kosannya.

Joko memutar arah motornya, lalu melajukan motornya kembali ke SMA.

Sampai di sana, Joko melihat seorang pria yang tampak sedang membujuk Mia. Joko merasa penasaran dengan hubungan mereka.

Ketika Mia melihat Joko datang, dia buru-buru menghampiri Joko, ekspresi wajahnya tampak cerah.

Pacar Mia menatap Joko dengan tatapan cemburu. Dalam benaknya muncul dugaan kasar bahwa alasan Mia menolak diantar pulang olehnya mungkin ada kaitannya dengan Joko ~ tukang ojek yang memiliki paras tampan dan tubuh gagah.

"Mia, jadi kamu gak mau pulang sama aku, gara-gara tukang ojek ini?" tanya pria itu. Nada bicaranya terdengar jelas menyimpan kemarahan.

"Nona, dia... siapa?" tanya Joko dengan hati-hati.

"Pacar aku! udah, gak usah pedulikan dia! ayo, antar aku pulang," balas Mia santai, sambil naik ke motor Joko.

Melihat Mia yang mengabaikannya, pria itu semakin marah sampai wajahnya merah padam. Pria itu menatap Joko, lalu berkata,

"Hey kau, jangan antar Mia! aku yang akan mengantarkannya pulang!" nada bicaranya itu terdengar mengancam.

"Maaf, saya hanya tukang ojek! tentu saya harus menuruti penumpang," balas Joko dengan riang, dia tidak tampak tersinggung sama sekali oleh perkataan pria itu.

"Jangan banyak omong! cepat suruh Mia turun!" teriak pria itu.

Ekspresi Mia sangat muram.

"Reza, apaan sih kamu ini! terserah aku dong... mau pulang diantar siapa pun. Kenapa kamu yang repot?" bentak Mia dengan penuh amarah.

Di bentak Mia, pria itu sedikit ciut. Namun, dia tetap berusaha agar tampil berani.

Keributan itu menarik perhatian banyak orang. Beberapa orang membela Joko, sementara yang lain membela pria tersebut.

Kebanyakan yang membela pria itu adalah orang-orang yang memang tidak menyukai Joko. Di antaranya para tukang ojek lain dan beberapa siswa yang merasa Joko terlalu disukai para siswi.

Keributan itu langsung menarik perhatian banyak orang. Para siswa yang baru keluar dari gerbang sekolah mulai berkumpul, membentuk lingkaran di sekitar mereka. Suara bisik-bisik dan teriakan kecil bercampur menjadi satu.

"Hei, jangan sembarangan nuduh!" teriak seseorang dari kerumunan yang membela Joko.

"Iya! Orang cuma tukang ojek doang, kenapa dibawa-bawa!" sahut yang lain.

Namun tidak sedikit juga yang membela Reza.

"Kalau pacarnya diantar orang lain, wajar dong dia marah!" teriak seorang siswa dari belakang.

Beberapa tukang ojek yang sejak tadi memang tidak menyukai Joko ikut menyulut suasana.

"Paling juga dia sengaja... cari perhatian sama para siswi cantik!" celetuk salah satu tukang ojek dengan nada sinis.

"Iya! Mentang-mentang punya wajah tampan," timpal tukang ojek lain.

Pacar Mia bernama Reza itu, menatap Mia dan Joko secara pergantian, ekspresi wajahnya tampak tak enak di pandang.

"Aku ngerti sekarang! jadi... kamu mau naik ojeknya gara-gara dia tampan?" tanya Reza kepada Mia.

"Kalau iya kenapa?" Mia yang sudah di buat kesal, dia tidak menyembunyikan lagi kebenarannya.

Reza tertawa marah.

"Hahaha, sudah aku duga..." Reza berhenti tertawa, lalu memandang Joko dengan sorot mata tajam. "Hey kau! jauhi Mia! atau kau... akan menyesal!" ancam Reza.

Joko tersenyum tipis, tidak tampak ciut sama sekali saat di ancam pria itu.

"Bro, apa kau cemburu? aku ini hanya tukang ojek lho. Masa sih, cemburu sama tukang ojek!" ucap Joko dengan nada heran.

"Jangan banyak omong!" bentak Reza sambil menunjuk Joko. "Aku.. aku... gak cemburu, bagaimana mungkin aku cemburu!" ucapnya kaku, justru membuat semua orang semakin yakin bahwa dia memang sedang cemburu.

"Tenang, Bro… santai saja,” katanya sambil mengangkat tangan seolah menenangkan. "Kalau cemburu itu gak perlu sampai gagap begitu. Aku dengarnya saja jadi ikut grogi."

Beberapa orang di sekitar mulai menahan tawa.

Joko lalu menatap Reza dari atas sampai bawah, pura-pura berpikir.

"Atau jangan-jangan kamu bukan cemburu…" katanya sambil menggaruk dagu.

Dia tersenyum jahil. "Kamu cuma takut kalah saing sama tukang ojek, yah?”

Orang-orang di sekitar langsung meledak dalam tawa terbahak-bahak mendengar ejekan Joko. Beberapa sampai menepuk paha, sementara yang lain saling menunjuk Reza sambil masih tertawa.

"Haha, Reza... apa kau takut kalah saing, hah? tapi wajah sih... Abang ojek lebih tampan darimu," ucap salah satu siswa yang berada di pihak Joko.

Wajah Reza seketika berubah gelap. Rahangnya mengeras, dan tatapannya penuh rasa malu bercampur kesal.

"Kau... kau..." teriak Reza sambil menunjuk Joko. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Joko.

"Sudah cukup!" teriak Mia dengan penuh amarah. Ekspresi Mia tampak sangat dingin. "Reza, kita putus saja!" ucap Mia tegas. Dia sudah merasa sangat jengkel dengan pria itu.

Mendengar itu, Reza seperti tersambar petir. Ia sempat mematung, namun tak lama kemudian, kesadarannya kembali pulih.

"Sa-sayang... ke-kenapa? Kita udah pacar dari kelas 1 SMA, lhoo! Katanya pas udah lulus nanti, kita mau tunangan," ucap Reza dengan panik, ekspresinya tampak sangat jelek. "Tadi... aku... aku hanya.."

Sebelum Reza menyelesaikan perkataannya, Mia memotongnya. "Mulai sekarang, kau jauhi aku! aku gak mau punya pacar sepertimu! Lupakan saja rencana tunangan itu, aku gak mau... tunangan sama pria kayak kamu!" tegas Mia, lalu ia membuang mukanya. "Ayo kak, kita pergi! masih banyak penumpang yang harus kakak antar!" ajak Mia kepada Joko.

Joko mengangguk setuju, dia langsung melajukan motornya.

Reza ingin menghentikan, namun sudah terlambat. Ia hanya bisa mantap dengan sorot mata penuh kebencian dan putus asa.

"Tukang ojek sialan, awas saja! aku akan balas semua ini!" gumam Reza di dalam hatinya dengan penuh amarah.

Dengan rahang terkatup rapat, Reza berbalik dan berjalan pergi. Tatapan penuh ejekan dari para siswa dan siswi yang membela Joko mengiringi langkahnya, disertai bisik-bisik dan tawa yang membuat suasana semakin memalukan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 426 Pulang Lapar

    Pukul dua belas lewat, tiga mobil memasuki gerbang Vila Bintang. Lampu teras masih menyala. Begitu juga lampu ruang makan. Joko turun dengan langkah pelan, satu tangan menekan rusuk kirinya. Kausnya robek di beberapa bagian, debu marmer masih menempel di rambutnya. Di belakangnya, Darto mengulurkan tangan untuk membantu Nyonya Desi turun. Wanita itu menepisnya, lalu berjalan sendiri meski langkahnya sedikit pincang. Pintu depan terbuka sebelum mereka sampai di teras. Sonya berdiri di ambang pintu. Rambutnya tergerai, matanya sembap, lehernya masih merah. Dia menatap Joko dari ujung kepala sampai kaki, lalu berjalan cepat dan berhenti tepat di depannya. "Kamu pulang," ucapnya. Suaranya bergetar. "Aku sudah janji." Joko tersenyum, meski sudut bibirnya masih berdarah. "Ngomong-ngomong, ancamanmu masih berlaku? Soal gigit-menggigit itu?" Sonya menatapnya beberapa detik. Lalu dia mena

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 425 Tiga Jarum

    Tuan Besar Jery tertawa. Tawa serak yang menggema di aula gelap itu. "Bocah sombong." Dia melesat. Joko tidak mundur. Kali ini dia maju, menyongsong serangan itu dengan Langkah Bayangan. Tubuhnya menghilang tepat sebelum tinju merah itu menghantam, lalu muncul di belakang punggung Tuan Besar Jery. Jarum pertama melesat dari jemarinya. Titik di belakang jantung. Tapi Tuan Besar Jery lebih cepat dari dugaannya. Pria tua itu memutar tubuhnya, dan jarum perak itu hanya menggores bahunya sebelum jatuh berdenting di lantai marmer. Lalu tinjunya menghantam perut Joko. Joko terlempar, menghantam meja panjang di tengah aula. Tubuh Rico terguncang di atas kain putih itu. Tuan Besar Jery membeku sejenak, menatap jasad cucunya. Wajahnya berubah. Kemarahan yang tadi sudah membara kini meledak tak terkendali. "Jangan sentuh dia!" Dia

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 424 Rumah Yang Berduka

    Kediaman Keluarga Jery berdiri di ujung jalan sepi di sisi selatan Ibu Kota. Malam itu, semua lampunya menyala. Tapi tak ada suara musik, tak ada suara tawa. Hanya sunyi yang berat, seperti rumah yang sedang berduka. Pukul sepuluh malam, tiga mobil berhenti di depan gerbangnya. Joko turun dari mobil terdepan. Zirah Bintang sudah melekat di balik kaus hitamnya, nyaris tak terasa. Di saku celananya, sembilan jarum perak terbungkus kain. Nyonya Desi turun di sampingnya, bahu kirinya masih berbalut perban di balik pakaian bela diri hitam. Di belakang mereka, empat ahli dari Keluarga Lintang dan Permata berdiri tegap. Lalu Darto, Seno, dan sembilan pria kampung yang wajahnya masih menyimpan lebam dari pertarungan siang tadi. Darto menatap gerbang besi tinggi itu, lalu menoleh ke arah Joko. "Bos, kita dobrak?" "Gak perlu," jawab Joko pelan. Gerbang itu terbuka sendiri, berderit pelan.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 423 Sebelum Malam Tiba

    Pukul tiga sore, Vila Bintang sunyi. Di ruang tengah, Sonya duduk di sofa dengan selimut tipis di bahunya. Lehernya masih merah bekas cekikan. Nadya duduk di sampingnya, menggenggam tangannya tanpa melepaskannya sedikit pun. "Nona," ucap Sonya pelan, mencoba tersenyum. "Tanganku sudah gak gemetar lagi. Nona boleh lepas." "Diam," balas Nadya ketus. Tapi matanya merah. "Aku yang gemetar." Sonya tertawa kecil, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Nadya. Rinda duduk di karpet di depan mereka, memeluk lututnya. Wajahnya pucat, matanya sembap. "Harusnya aku," ucapnya lirih. "Dia datang buat aku. Kalau Kak Sonya gak memukulnya dengan vas itu..." "Kalau aku gak memukulnya, dia bawa kamu," potong Sonya. "Dan kamu gak bisa menggigit sekuat aku." Rinda menatapnya, lalu tangisnya pecah lagi. Bila yang duduk di sampingnya langsung merangkulnya. Di

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 422 Gang Belakang

    Gang di belakang Butik Aurelia sempit dan lembap. Tempat sampah besar berjajar di sepanjang dinding, bau sisa makanan bercampur air comberan menyengat hidung. Di ujung gang, sebuah sedan hitam menunggu dengan mesin menyala. Sopirnya mengetuk-ngetukkan jari di kemudi dengan gelisah. Pintu tangga darurat terbuka dengan keras. Rico keluar sambil menyeret Sonya. Lengan kirinya masih melingkar erat di leher wanita itu, pistol di tangan kanannya menempel di pelipis Sonya. Darah dari pelipis Rico sendiri sudah mengering, meninggalkan garis merah gelap di pipinya. "Jalan," desisnya. Sonya menyeret kakinya, sengaja memperlambat langkah. Sepatu hak tingginya sudah terlepas satu. "Kamu tahu apa yang bakal Joko lakukan ke kamu?" ucapnya dengan suara serak karena cekikan di lehernya. Rico tertawa. "Gak ada. Kakek bilang, orang di atas melarang siapa pun menyentuh Joko. Jadi aku gak akan menye

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 421 Butik Aurelia

    Butik Aurelia berdiri di ujung Jalan Kenari, kawasan belanja paling mewah di pusat Ibu Kota. Bangunannya tiga lantai, dindingnya kaca dari lantai dasar sampai atap, dengan papan nama emas yang berkilau di bawah matahari siang. Pukul sebelas, lantai dua butik itu sudah diubah menjadi studio foto. Lampu-lampu sorot berdiri di setiap sudut. Fotografer, penata rias, dan beberapa staf Butik Aurelia sibuk berlalu-lalang. Rinda berdiri di depan latar putih dengan gaun sutra biru tua. Kamera berkilat berkali-kali. "Dagunya sedikit naik, Nona Rinda. Ya, begitu. Sempurna!" Rinda tersenyum ke arah lensa. Tapi matanya sesekali melirik ke arah pintu tangga. Di dekat pintu itu, Nyonya Desi berdiri bersandar di dinding dengan tangan terlipat, mengenakan setelan hitam sederhana. Wajahnya datar, tapi matanya terus bergerak, menyapu setiap orang yang masuk dan keluar. Sonya duduk di kursi di samping penata rias,

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 4 Bu Tika Lebih Berani

    Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 3 Goda Wanita Bersuami

    Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 2 Memiliki Hasrat Besar

    Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 1 Pangkalan Baru

    "Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status