تسجيل الدخولWaktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba.
Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santai di atas motornya, menikmati sebatang rokok yang terselip di antara jari-jarinya. Dari kejauhan, beberapa tukang ojek lain memandang Joko dengan tatapan tidak ramah. Ada rasa iri yang jelas terpancar dari sorot mata mereka. Sejak kemarin, banyak siswi SMA lebih memilih naik ojek Joko. Hal itu membuat para tukang ojek lain merasa di rugikan. Bel pulang sekolah pun berbunyi. Tak lama kemudian, gerbang sekolah di buka dan para siswa dan siswi SMA berbondong-bodong keluar dari gerbang. Para siswa yang membawa kendaraan langsung melaju pergi, sementara yang tidak ~ mereka sibuk mencari ojek. Joko bangkit dari motornya sambil menatap kerumunan para siswa-siswi itu. "Ayo, yang mau naik ojek! Bang Joko antar sampai tempat tujuan dengan selamat!" teriak Joko dengan lantang dan juga riang, sambil melambai-lambaikan tangannya. Beberapa siswi buru-buru menghampiri Joko. Namun, dua siswi cantik lebih dulu sampai di hadapan Joko. Mereka adalah Mia dan Dea. "Kakak..." sapa keduanya hampir bersamaan. "Siapa dulu nih, yang mau di antar? kalian putuskan sendiri! jangan berebut, oke!" ujar Joko kepada kedua wanita itu. "Dea, kamu duluan!" ucap Mia kepada Dea. Ternyata kedua wanita itu saling mengenal. "Benaran? gak apa-apa aku duluan?" Dea memastikan. "Benaran, udah sana!" balas Mia tegas, sambil sedikit mendorong tubuh Dea. Joko naik ke motornya. "Kalau gitu, ayo naik!" ajak Joko. Dea naik ke motor Joko. Setelah posisi duduk wanita itu benar dan nyaman, Joko melajukan motornya. Melihat Joko sudah pergi membawa penumpang, para tukang ojek yang belum mendapatkan penumpang segera mengambil kesempatan untuk menawarkan jasa mereka kepada siswi-siswi yang ingin naik ojek Joko. Namun, para siswi itu menolak tawaran mereka. Penolakan tersebut membuat para tukang ojek itu semakin kesal kepada Joko. "Sialan, awas saja kau, Joko!" gumam para tukang ojek itu di dalam hatinya dengan penuh amarah. Setelah para tukang ojek itu pergi, ada seorang siswa menghampiri Mia. "Sayang, ayo pulang sama aku!" ajak siswa itu kepada Mia. Dari cara ia memanggil Mia, bisa diketahui bahwa siswa itu adalah pacar Mia. "Gak mau. Kamu pulang duluan aja! aku mau naik ojek Kak Joko aja!" balas Mia acuh, seolah tak peduli kepada pria itu. "Sayang, udah dong marahnya... aku kemarin buru-buru jadi gak antar kamu pulang!" ujar pria itu dengan nada memohon. "Aku gak marah, kok!" balas Mia. "Terus kenapa kamu gak mau pulang sama aku?" tanya pria itu dengan heran. "Gak kenapa-kenapa," balas Mia acuh, sambil melemparkan pandangannya ke arah lain. Pria itu semakin kebingungan dengan sikap Mia. Namun, dia tidak menyerah ~ dia terus membujuk Mia agar mau pulang bersamanya. === Sementara itu, Joko sudah sampai di kosan Dea. Dea turun dari motor Joko, lalu memberikan uang sebesar 20 ribu kepada Joko. "Nih kak, gak perlu di kembalian. Besok jemput aku lagi yah!" ujar Dea dengan nada riang. "Oke siap! pasti aku jemput. Makasih yah! udah ngasih ongkos lebih," Joko berkata dengan nada riang, sambil memasukkan uang itu ke dalam saku celananya. "Sama-sama kak," balas Dea, lalu dia berbalik, melangkah pergi masuk ke dalam kosannya. Joko memutar arah motornya, lalu melajukan motornya kembali ke SMA. Sampai di sana, Joko melihat seorang pria yang tampak sedang membujuk Mia. Joko merasa penasaran dengan hubungan mereka. Ketika Mia melihat Joko datang, dia buru-buru menghampiri Joko, ekspresi wajahnya tampak cerah. Pacar Mia menatap Joko dengan tatapan cemburu. Dalam benaknya muncul dugaan kasar bahwa alasan Mia menolak diantar pulang olehnya mungkin ada kaitannya dengan Joko ~ tukang ojek yang memiliki paras tampan dan tubuh gagah. "Mia, jadi kamu gak mau pulang sama aku, gara-gara tukang ojek ini?" tanya pria itu. Nada bicaranya terdengar jelas menyimpan kemarahan. "Nona, dia... siapa?" tanya Joko dengan hati-hati. "Pacar aku! udah, gak usah pedulikan dia! ayo, antar aku pulang," balas Mia santai, sambil naik ke motor Joko. Melihat Mia yang mengabaikannya, pria itu semakin marah sampai wajahnya merah padam. Pria itu menatap Joko, lalu berkata, "Hey kau, jangan antar Mia! aku yang akan mengantarkannya pulang!" nada bicaranya itu terdengar mengancam. "Maaf, saya hanya tukang ojek! tentu saya harus menuruti penumpang," balas Joko dengan riang, dia tidak tampak tersinggung sama sekali oleh perkataan pria itu. "Jangan banyak omong! cepat suruh Mia turun!" teriak pria itu. Ekspresi Mia sangat muram. "Reza, apaan sih kamu ini! terserah aku dong... mau pulang diantar siapa pun. Kenapa kamu yang repot?" bentak Mia dengan penuh amarah. Di bentak Mia, pria itu sedikit ciut. Namun, dia tetap berusaha agar tampil berani. Keributan itu menarik perhatian banyak orang. Beberapa orang membela Joko, sementara yang lain membela pria tersebut. Kebanyakan yang membela pria itu adalah orang-orang yang memang tidak menyukai Joko. Di antaranya para tukang ojek lain dan beberapa siswa yang merasa Joko terlalu disukai para siswi. Keributan itu langsung menarik perhatian banyak orang. Para siswa yang baru keluar dari gerbang sekolah mulai berkumpul, membentuk lingkaran di sekitar mereka. Suara bisik-bisik dan teriakan kecil bercampur menjadi satu. "Hei, jangan sembarangan nuduh!" teriak seseorang dari kerumunan yang membela Joko. "Iya! Orang cuma tukang ojek doang, kenapa dibawa-bawa!" sahut yang lain. Namun tidak sedikit juga yang membela Reza. "Kalau pacarnya diantar orang lain, wajar dong dia marah!" teriak seorang siswa dari belakang. Beberapa tukang ojek yang sejak tadi memang tidak menyukai Joko ikut menyulut suasana. "Paling juga dia sengaja... cari perhatian sama para siswi cantik!" celetuk salah satu tukang ojek dengan nada sinis. "Iya! Mentang-mentang punya wajah tampan," timpal tukang ojek lain. Pacar Mia bernama Reza itu, menatap Mia dan Joko secara pergantian, ekspresi wajahnya tampak tak enak di pandang. "Aku ngerti sekarang! jadi... kamu mau naik ojeknya gara-gara dia tampan?" tanya Reza kepada Mia. "Kalau iya kenapa?" Mia yang sudah di buat kesal, dia tidak menyembunyikan lagi kebenarannya. Reza tertawa marah. "Hahaha, sudah aku duga..." Reza berhenti tertawa, lalu memandang Joko dengan sorot mata tajam. "Hey kau! jauhi Mia! atau kau... akan menyesal!" ancam Reza. Joko tersenyum tipis, tidak tampak ciut sama sekali saat di ancam pria itu. "Bro, apa kau cemburu? aku ini hanya tukang ojek lho. Masa sih, cemburu sama tukang ojek!" ucap Joko dengan nada heran. "Jangan banyak omong!" bentak Reza sambil menunjuk Joko. "Aku.. aku... gak cemburu, bagaimana mungkin aku cemburu!" ucapnya kaku, justru membuat semua orang semakin yakin bahwa dia memang sedang cemburu. "Tenang, Bro… santai saja,” katanya sambil mengangkat tangan seolah menenangkan. "Kalau cemburu itu gak perlu sampai gagap begitu. Aku dengarnya saja jadi ikut grogi." Beberapa orang di sekitar mulai menahan tawa. Joko lalu menatap Reza dari atas sampai bawah, pura-pura berpikir. "Atau jangan-jangan kamu bukan cemburu…" katanya sambil menggaruk dagu. Dia tersenyum jahil. "Kamu cuma takut kalah saing sama tukang ojek, yah?” Orang-orang di sekitar langsung meledak dalam tawa terbahak-bahak mendengar ejekan Joko. Beberapa sampai menepuk paha, sementara yang lain saling menunjuk Reza sambil masih tertawa. "Haha, Reza... apa kau takut kalah saing, hah? tapi wajah sih... Abang ojek lebih tampan darimu," ucap salah satu siswa yang berada di pihak Joko. Wajah Reza seketika berubah gelap. Rahangnya mengeras, dan tatapannya penuh rasa malu bercampur kesal. "Kau... kau..." teriak Reza sambil menunjuk Joko. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Joko. "Sudah cukup!" teriak Mia dengan penuh amarah. Ekspresi Mia tampak sangat dingin. "Reza, kita putus saja!" ucap Mia tegas. Dia sudah merasa sangat jengkel dengan pria itu. Mendengar itu, Reza seperti tersambar petir. Ia sempat mematung, namun tak lama kemudian, kesadarannya kembali pulih. "Sa-sayang... ke-kenapa? Kita udah pacar dari kelas 1 SMA, lhoo! Katanya pas udah lulus nanti, kita mau tunangan," ucap Reza dengan panik, ekspresinya tampak sangat jelek. "Tadi... aku... aku hanya.." Sebelum Reza menyelesaikan perkataannya, Mia memotongnya. "Mulai sekarang, kau jauhi aku! aku gak mau punya pacar sepertimu! Lupakan saja rencana tunangan itu, aku gak mau... tunangan sama pria kayak kamu!" tegas Mia, lalu ia membuang mukanya. "Ayo kak, kita pergi! masih banyak penumpang yang harus kakak antar!" ajak Mia kepada Joko. Joko mengangguk setuju, dia langsung melajukan motornya. Reza ingin menghentikan, namun sudah terlambat. Ia hanya bisa mantap dengan sorot mata penuh kebencian dan putus asa. "Tukang ojek sialan, awas saja! aku akan balas semua ini!" gumam Reza di dalam hatinya dengan penuh amarah. Dengan rahang terkatup rapat, Reza berbalik dan berjalan pergi. Tatapan penuh ejekan dari para siswa dan siswi yang membela Joko mengiringi langkahnya, disertai bisik-bisik dan tawa yang membuat suasana semakin memalukan.Sonya datang membawa tiga gelas jus jeruk. Dia mendengar semua yang di katakan Joko. "Nona, kamu jangan ingkar janji lho," ucapnya sambil menatap Nadya dengan tatapan menggoda. Hati Nadya bergejolak. Dia menggigit bibirnya dengan wajah yang sedikit menunduk. Joko menarik tubuh Nadya, sampai tubuh wanita itu meletakkan di tubuhnya. "Gimana, mau menepati janji, atau mau mengingkari?" Nadya mengepalkan tinjunya. Dia menatap Joko dengan tatapan tajam. "Kamu berani?" "Hei, tentu saja aku berani! Lagi pula, kamu sudah setuju sebelumnya!" balas Joko dengan nada main-main. Telapak tangannya yang berada di pinggang Nadya, perlahan naik ke atas. Tatapan Nadya semakin tajam. Wajah cantiknya itu semakin memerah. Tak ada ucapan keluar dari mulut wanita itu dan tak ada tindakan untuk menjauhi Joko. Sonya menyaksikan dari sisi dengan penuh minat. Matanya terus mengikuti arah pergerakan tangan Joko. Hanya beberapa nafas, Joko sudah berhasil menyentuh area sisi semangka Nadya. "D
Tiga orang pria turun dari mobil sedan hitam itu. Mereka melangkah menghampiri Joko. Pria yang memimpin mereka tampak sudah tua dan keriput. Joko tampak sangat santai, meski aura yang keluarkan pria tua itu terasa sangat mengancam. "Pendekar beladiri tingkat tinggi. Lumayan," gumam Joko di hatinya. "Bocah, berikan Nona Nadya dan Nona Sonya! Kalau tidak, kau gak akan selamat!" ucap pria tua itu dengan nada tenang. "Cepat serahkan! Kalau gak ingin mati!" teriak pria yang tampak babak belur. Pria itu adalah salah satu pria yang di hajar Joko kemarin. "Serahkan? Hehe, apa menurut kalian aku ini pria yang gampang menyerah?" tanya Joko dengan nada main-main. Kemudian, matanya menatap lekat pria tua itu. "Hei pria tua, kau sudah sangat tua, apa kau yakin bisa mengalahkanku?" tanyanya dengan nada ekspresi mengejek. Wajah pria itu menjadi sangat dingin. "Anak muda sekarang, suka sekali meremehkan orang. Bocah, ingatlah, di atas langit masih ada langit!" ucapnya. "Biar gak di san
Di sepanjang jalan, Nadya tampak lebih pendiam. Meski dia duduk di depan, dia tak berinteraksi sama sekali dengan Joko. Mungkin saja wanita itu masih kesal dengan kenyataan ~ Joko punya banyak teman ranjang. "Jagoanku, kamu ke ibu kota masih lama kah?" tanya Sonya. "Gak tahu. Yah perkiraan beberapa minggu lagi," balas Joko. "Kamu mau apa sih tinggal di ibu kota, kasih tahu aku dong! Aku penasaran nih," ucap Sonya. "Ini urusan keluargaku sih. Aku sebenarnya gak enak kasih tahunya," balas Joko. "Oh gitu yah, ya sudah gak apa-apa," ucap Sonya dengan wajah sedikit meredup. Joko terdiam. "Apa aku coba tanya mereka tentang teman kakek itu? Siapa tahu saja mereka kenal! Mereka kan dari kalangan atas. Menurut catatan ~ teman kakek juga dari kalangan atas," gumam Joko di dalam hati. Setelah mengambil keputusan, Joko pun akhirnya menanyakan kepada kedua wanita itu. "Kalian ada yang kenal sama pria bernama Suryo gak?" Nadya dan Sonya mengerutkan kening. "Nama Suryo itu banyak! Apa kamu
Nadya menatap Joko. "Aku harus lihat dulu isi dalam batu mu ini! Kalau sudah di lihat semua aku akan kasih harga yang pas!""Kalau gitu, sini aku kupas semua kulitnya," ucap Joko dengan penuh semangat."Tuan, biarkan saya saja! Mengupas semuanya butuh keahlian, kalau salah sedikit saja pasti akan banyak giok yang terbuang," ucap pria tua itu."Baiklah. Makasih yah!" balas Joko."Tuan, tapi aku boleh tidak setelah aku kupas, aku mau foto ketiga batu giok itu," ucap pria tua itu dengan ekspresi malu-malu."Oh boleh saja, silakan saja!" balas Joko dengan santai."Saya gak akan gratisan. Soalnya nya fotonya nanti buat di jadikan promosi tambangku. Sebagai imbalannya, Tuan boleh ambil batu mentah manapun yang tuan mau!" ucap pria tua itu dengan penuh semangat.Joko melirik semua batu mentah. Meski ada beberapa yang terlihat oleh matanya mengeluarkan energi, tapi tidak ada satu pun yang mengeluarkan energi sepekat batu miliknya."Gak perlu! Kalau mau foto silakan saja. Aku sudah puas banget
Mata gerinda mulai mengenai kulit batu itu, suara gesekan yang keras tercipta. Lapisan sedikit lapisan mulai terpotong. Namun, tidak terlihat ada tanda-tanda batu giok. "Jagoanku, sudah pasti itu cuma batu biasa," ucap Sonya dengan nada menggoda. "Mungkin kurang dalam!" ucap Joko, lalu dia memotongnya lebih dalam lagi. Nadya dan Sonya menggeleng-gelengkan kepala mereka, begitu pula dengan pria tua itu. Pada saat lapisan yang lebih dalam berhasil di belah, warna ungu yang sangat jelas terlihat. Sontak, mata Nadya, Sonya, dan pria tua itu membelalak lebar. "Hei, di dalamnya ternyata warna ungu," ucap Joko dengan polosnya. Nadya dengan cepat merebut batu itu dari Joko. Dia menatap batu itu dari jarak yang sangat dekat. "Giok... ternyata ada giok nya!" teriak Nadya. Joko bangkit, ekspresinya tampak bingung. "Giok, emangnya batu ungu itu giok?" tanyanya sambil menggaruk tengkuk lehernya. "I-ini benar-benar giok! Giok ungu jenis es! Giok langka! Sangat transparan, gak ada sedikit p
Tak lama kemudian, mereka sampai di gudang yang cukup besar. Di dalamnya, terlihat banyak sekali bongkahan batu dengan berbagai ukuran. "Tuan, silakan pilih saja!" ucap pria tua itu. Joko melirik Nadya. "Pilihlah!" Nadya mengangguk. Kemudian, dia dan Sonya mulai memilih batu. "Semoga saja mereka gak mengosongkan gudangku. Kalau tidak, aku benar-benar akan rugi!" ucap pria tua itu sambil terus melap keringat di dahinya. Joko menatap banyak bongkahan batu itu. Saat dia menatap lebih lekat ~ dia melihat ada beberapa batu yang memancarkan energi. Ada energi yang berwarna hijau, ada yang berwarna ungu, bahkan ada yang warna warni. Namun, energi yang terpancar itu berbeda-beda, ada yang tebal ada yang juga yang tipis. Karena penasaran, Joko mengambil bongkahan yang memancarkan warna hijau paling tebal, warna ungu paling tebal, dan juga bongkahan yang memancarkan energi tiga warna. "Tuan Muda, ini cuma bahan kualitas rendah. Di dalamnya pasti gak ada giok," ucap pria tua itu menging
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







