Início / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 8 Ciuman Pertama

Compartilhar

Bab 8 Ciuman Pertama

Autor: Tristar
last update Data de publicação: 2026-03-27 18:15:16

Saat Reza hendak menaiki motornya, tiba-tiba seorang pria dewasa menghampirinya. Pria itu adalah salah satu tukang ojek yang mangkal di dekat sekolah.

Wajahnya terlihat ramah, tetapi sorot matanya tampak licik.

"Nak…" panggil pria itu pelan.

Reza menoleh dengan ekspresi tidak sabar.

“Apa?” jawabnya singkat.

Pria itu mendekat sedikit lalu berkata dengan nada pelan.

"Nak, kamu pasti kesal kan sama tukang ojek tadi?"

Wajah Reza semakin dingin.

"Iyalah! malah nanya!" balas Reza ketus.

Pria itu tersenyum tipis tidak tampak tersinggung sama sekali.

"Kalau kamu masih kesal… sebenarnya ada cara buat kasih pelajaran ke orang seperti dia."

Reza menatapnya tajam.

"Maksudnya?"

Pria itu melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak banyak orang yang memperhatikan mereka.

“Kamu bisa sewa orang… preman. Biar mereka yang urus dia. Pukul sedikit saja, dan ancam dia supaya gak mangkal lagi di sini."

Mata Reza sedikit menyipit.

Amarah yang sejak tadi ia tahan seperti menemukan jalan keluar.

“Memangnya ada orang kayak gitu?” tanya Reza.

Pria itu langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu membuka sebuah kontak.

"Ada. Saya kenal orangnya. Biasanya dia dan teman-temannya sering ‘ngerjain’ orang… asal ada bayaran."

Dia lalu menunjukkan nomor itu kepada Reza.

"Kalau kamu mau, hubungi saja dia. Bilang dari saya."

Reza menatap layar ponsel itu beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

“Oke.”

Pria itu menyebutkan nomor tersebut agar Reza menyimpannya.

"Namanya Darto. Dia pasti mau."

Reza menyimpan nomor itu di ponselnya.

"Terima kasih."

"Oh iya, siapa sih, nama tukang ojek sialan itu?" tanya Reza.

"Namanya Joko! rumahnya di Kampung Nagari," jawab pria itu.

Reza mengangguk paham.

"Joko... Joko... kau pasti habis!" gumamnya di dalam hati dengan nada kejam.

Pria tukang ojek itu tersenyum tipis, lalu kembali berjalan ke pangkalan. Sementara Reza masih berdiri di samping motornya, menatap nomor yang baru saja ia simpan.

Amarahnya belum padam.

Dan sekarang… dia sudah menemukan cara untuk melampiaskannya.

====

Disisi lain.

Joko melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Di belakangnya, Mia memeluk tubuh Joko dengan erat. Kejadian tadi sama sekali tidak mengubah apa pun di antara mereka.

"Nona, apa kamu yakin mau putus sama pacarmu itu?" tanya Joko santai.

"Iya. Buat apa punya pacar kayak dia!" balas Mia tegas.

"Nona Mia sangat cantik, gak akan kekurangan pria yang menyukai Nona. Gak rugi kalau Nona putus dengannya," ujar Joko santai.

Mia berkedip licik, senyuman tipis terukir di bibirnya. Dia menggoyangkan tubuhnya, sehingga gunung besarnya itu terus bergesekan dengan punggung Joko.

"Kalau Kak Joko menyukai aku gak? kalau suka, gimana kalau kita kita pacaran saja?" Mia berkata dengan nada menggoda. "Aku udah kelas 3 SMA, bentar lagi bakalan lulus. Kalau Kak Joko jadi pacar aku, pas udah lulus nanti, kita bisa bertunangan, atau bisa juga langsung menikah!"

Joko sedikit terkejut dengan pernyataan Mia itu. Tanpa pikir panjang, Joko menggeleng kepalanya.

"Maaf Nona, aku gak bisa!" tegas Joko. Setelah menolak, Joko buru-buru menjelaskan, karena takut wanita itu tersinggung. "Tapi bukan berari aku gak suka Nona, hanya saja aku gak punya rasa cinta sama Nona,"

Mia sedikit cemberut, ia tak mengira Joko menolaknya begitu saja.

"Kak, apa aku kurang cantik? makanya Kak Joko gak mau jadi pacar aku," keluh Mia.

"Bukan begitu! Nona sangat cantik! tapi seperti yang aku bilang tadi... Aku gak punya rasa cinta sama Nona! Dan juga..." Joko berhenti berbicara.

"Dan juga apa?" tanya Mia. "Lagian, rasa cinta itu kan... bisa di bentuk perlahan!"

Joko menghela nafas, lalu lanjut berkata, "Aku... gak bisa setia ~ sama satu wanita!"

"Kakak... ternyata play boy!" cela Mia dengan nada sedikit genit. Tak ada sedikit pun kebencian sama sekali di nada bicaranya.

Joko tertawa pelan, ia tidak malu mendapatkan julukan seperti itu.

Setelah cukup tertawa, Joko terdiam sejenak, lalu dia berkata dengan nada riang.

"Walau gak jadi pacar, Nona bebas datang kepadaku ~ kalau butuh sesuatu, seperti... teman curhat, atau apapun itu. Selama aku mampu, aku pasti akan melakukannya."

Mia tersenyum licik, tangannya menyentuh area batang Joko, lalu mengelusnya perlahan.

Merasakan sentuhan itu, tubuh Joko seketika memanas karena hasratnya yang mulai membara. Namun, ia tidak berkata apapun, hanya diam ~ menikmati.

"Kalau aku butuh teman ranjang gimana? apa kakak bisa?" tanya Mia dengan nada menggoda.

"Kalau itu, aku gak akan nolak!" balas Joko langsung tanpa banyak berpikir.

Mia terkikik pelan.

"Hihi, dasar nakal!" ucap Mia dengan genit.

"Nona, bukannya kamu mau bantu aku? jadi gak?" Joko menanyakan tawaran wanita itu ~ kepadanya, saat pagi tadi.

"Jadi, dong... mau langsung ke kosan aku?" bisik Mia pelan dengan nada menggoda.

"Jangan sekarang! aku harus ngojek dulu! masih banyak penumpang yang menungguku. Gini saja! setelah aku ngojek, aku ke kosan Nona," ucap Joko.

"Oke. Aku ada di kamar kos nomor 10! kakak bisa langsung masuk, aku gak akan kunci pintunya," ujar Mia. Elusan tangannya di batang Joko berubah menjadi cengkeraman.

"Kak, batangmu kayaknya besar! dan ini... sudah sangat keras," goda Mia dengan nada genit.

"Iya lah keras! kalau terus di sentuh kayak gitu," keluh Joko, ekspresinya tampak tertekan.

Wanita ini benar-benar membuat Joko kepanasan. Joko merasa sangat ingin menerkamnya.

Mia tertawa kecil, sambil menarik tangannya dari batang Joko.

Tak lama kemudian, mereka sampai di kosan Mia. Wanita itu turun dari motor Joko.

"Jangan lama-lama yah! aku udah gak sabar," goda Mia sambil mengedipkan matanya dengan genit.

Joko mengangguk pelan. Sorot matanya tampak panas oleh hasrat, dan wajahnya sedikit memerah.

Mia berbalik masuk ke dalam gerbang kosan.

Tanpa membuang waktu, Joko memutar balik motornya dan langsung melaju cukup kencang.

====

Waktu terus berlalu, tak terasa satu jam lebih telah berlalu. Joko yang pergi mengantarkan para penumpangnya, telah kembali ke kosan Mia.

Dia memarkirkan motornya di luar kosan, lalu masuk ke dalam. Karena telah di beritahu nomor kamar Mia, Joko langsung bergegas ke kamar tersebut.

Sampai di sana, dia langsung membuka pintunya ~ sesuai instruksi dari Mia.

Di dalam kamar kos, terlihat Mia yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur. Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah. Namun, terlihat kancing baju seragamnya, hampir seluruhnya di lepas yang membuat bra hitam renda yang menutup gunungnya tampak terlihat jelas.

Joko mematung, matanya menatap lurus ke arah dada Mia yang terpampang jelas itu.

Mia menatap Joko dengan sorot mata genit, senyuman tipis tersungging di bibirnya.

"Masuk kak! kunci pintunya!" ucap Mia dengan lembut, namun terdengar begitu menggoda.

Joko masuk ke dalam, lalu dia menutup pintu dan menguncinya dengan gerakan cepat. Setelah itu, dia melangkah menghampiri Mia.

"Sini, duduk!" ujar Mia, sambil memberi kode dengan menepukkan tangannya di sisinya.

Tanpa ada rasa sungkan, Joko duduk di sampingnya, dengan penuh keberanian, tangganya melingkari pinggang wanita itu, lalu menarik tubuh wanita itu agar menempel erat dengan tubuhnya.

"Kak, kamu sangat berani yah," ucap Mia dengan nada genit. Tangannya melingkari leher Joko, dan dia sedikit menggesekkan dadanya di tubuh Joko.

"Pria itu harus berani! jangan jadi pengecut!" balas Joko dengan nada tegas. Senyuman cerah terlukis di bibirnya. Matanya melirik ke arah gunung gadis itu, "Nona... apa aku boleh... memegangnya?" tanya Joko dengan nada tidak sabar.

Melihat gunung yang tampak cukup besar itu, membuat Joko tak tahan ingin memainkannya.

"Lakukan saja! Kak Joko bebas melakukan apa saja padaku! mau di remas kek, mau di hisap, terserah kakak!" balas Mia dengan nada menggoda.

Ketika tangannya hendak menyentuh gunung itu, Joko ingat... kalau dia belum membersihkan tubuhnya.

"Nona, aku mandi dulu yah! tubuhku sangat berkeringat!" ucap Joko dengan canggung.

"Gak perlu! aku suka kok, aroma alami tubuh Kak Joko," balas Mia dengan tegas. "Ayo, mulai saja!"

Joko sangat bersemangat saat mendengar perkataan itu. Dia langsung meremas Dada wanita itu dengan remasan yang cukup keras.

Mia seketika mengeluarkan desahan manja, dan tubuhnya sedikit menegang.

"Ahhh... Kak Joko!"

Joko tampak sangat menikmati sensasi meremas gunung gadis itu.

"Jadi... ini rasa meremas gunung wanita, benar-benar sangat nyaman!" ucap Joko di dalam hati dengan penuh semangat. Akhirnya, rasa penasarannya selama ini terbayar pada hari ini.

"Ahh... Kak, remas lebih keras!" Mia tampak sangat menikmati remasan itu.

Joko menatap wajah Mia, lalu dia mencium bibir wanita itu. Detik berikutnya, Joko merasa terkejut, karena respons ciuman dari Mia begitu ganas dan ciuman wanita itu begitu terampil.

"Gadis ini... ternyata sudah sangat berpengalaman! untung saja... aku sudah banyak belajar dari film-film itu, kalau tidak... aku pasti aku kalah telak," gumam Joko di dalam hati.

Tak lama kemudian, bibir mereka terpisah.

Mia menjilat bibir yang basah itu dengan jilatan menggoda. "Ternyata... Kak Joko sangat pandai berciuman!" ucapnya dengan nada genit.

Mia tidak tahu bahwa ciuman tadi adalah ciuman pertama bagi Joko. Walau begitu, Ia tidak berniat memberitahunya, karena merasa gengsi jika gadis itu sampai tahu, bahwa ini adalah pengalaman pertamanya.

"Kamu juga... sangat hebat! sepertinya kamu sudah sering melakukannya."

Mia tak menjawab, dia hanya mengedipkan matanya dengan kedipan genit.

Melihat tingkah genitnya wanita itu, membuat Joko tidak tahan. Dia bergerak cepat, menekan wanita itu di bawah tubuhnya. Tangan Joko masuk ke dalam bra wanita itu, lalu meremas gunung secara langsung tanpa terhalang apapun. Sensasi lembut dan kenyal itu, bisa di rasakan oleh Joko, yang membuat semakin berhasrat.

Bibir Joko menyerang leher wanita itu, mendaratkan kecupan dan jilatan di sana.

Dalam proses itu, Joko bisa mencium aroma harum parfum dan keringat yang melekat di tubuh gadis itu.

"Ahh... ahh..." desahan-desahan manja keluar dari mulut Mia, membuat suasana di sana terasa semakin menggairahkan.

"Ahh... remas terus kak! enak banget! iya... begitu," racau Mia dengan nada penuh kenikmatan.

"Hari ini, aku benar-benar akan mencicipi tubuh wanita! batangku... akan masuk ke dalam apem wanita ini, aku sangat tidak sabar merasakan rasanya itu," gumam Joko di dalam hati dengan penuh semangat. Ketika hal itu terbayang di benaknya, Joko merasa hasratnya semakin membara.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (2)
goodnovel comment avatar
Odod Gunarsa
menarik membuat penasaran
goodnovel comment avatar
Resually Wally
lanjut bacanya
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 365 Pertemuan Tak Terduga

    Joko menatap Tuan Tua Suryo dengan tenang. “Orang tua saya sudah tiada, Tuan Tua,” jawabnya. “Saya hidup sebatang kara. Saya berasal dari desa, dari keluarga biasa.” Kening Tuan Tua Suryo semakin mengernyit. Jawaban itu sama sekali tidak menghapus keraguan di matanya. Justru sebaliknya. Verona menatap Joko dengan sedikit terkejut. Selama ini, melihat penampilannya, mobil mewahnya, dan uang ratusan miliar yang dia dapat dengan begitu mudah, dia mengira Joko berasal dari kalangan elite. Ternyata pemuda itu berasal dari desa. Sementara Tuan Tua Wangsa tampak biasa saja. Dia sudah mendengar latar belakang Joko dari Nadya sebelumnya. “Nak,” Tuan Tua Suryo kembali bersuara, kali ini lebih mendesak. “Aku ingin tahu nama orang tuamu. Bisakah kamu memberitahuku?” Belum sempat Joko menjawab, Verona sudah lebih dulu menyela. “Kek!” protesnya. “Kenapa Kakek langsung menginterogasi Joko begitu, sih? Dia kan tamu.” Tu

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 364 Kediaman Keluarga Permata

    Joko memperlambat laju mobilnya. Dia melirik Nadya yang masih menunduk. “Orang tuamu dirawat di mana sekarang?” tanyanya pelan. “Di rumah,” jawab Nadya lirih. “Kakek menyiapkan ruangan khusus untuk mereka. Dokter dan perawat berjaga dua puluh empat jam.” Joko mengerutkan kening. “Keluargamu kan sangat berpengaruh. Memangnya gak ada cara buat menyembuhkan mereka?” Nadya menghela napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kami sudah berusaha, Jo,” ucapnya dengan suara bergetar. “Dokter-dokter terbaik dari luar negeri sudah didatangkan. Ahli pengobatan tradisional paling terkenal di negeri ini juga sudah dipanggil. Semuanya angkat tangan. Kata mereka, luka dalam yang diderita orang tuaku terlalu parah. Hanya keajaiban yang bisa membangunkan mereka.” Dia buru-buru menyeka sudut matanya, lalu memalingkan wajah ke arah jendela. Joko terdiam. Pikirannya melayang ke buku usang peninggalan kakeknya. Selama beberapa waktu ini, dia sudah mempelajari teknik alkemis dan akupunktur dari bu

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 363 Rahasia Keluarga Permata

    Beberapa saat kemudian, kamar yang tadinya riuh oleh desahan dan suara benturan kulit, perlahan berubah senyap. Hanya tersisa suara napas yang tersengal. Joko dan Nadya berbaring berpelukan di atas ranjang yang berantakan. Tubuh keduanya basah oleh keringat. Seprai kusut tak berbentuk, bantal-bantal berjatuhan ke lantai. Nadya menyandarkan kepalanya di dada Joko. Tubuhnya terasa lemas sekali, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Bahkan untuk mengangkat tangan pun rasanya berat. “Kamu ini manusia apa bukan, sih?” gerutunya dengan suara serak. “Kok bisa kuat banget?” Joko terkekeh sambil mengelus rambut Nadya yang lembap. “Hehe, tentu saja aku manusia. Manusia yang bisa memuaskan wanita.” Nadya memukul pelan dadanya. “Dasar sombong.” Tapi dalam hati, dia akhirnya mengerti. Selama ini dia tak habis pikir kenapa Joko bisa punya begitu banyak wanita di sisinya. Sekarang dia paham. Dengan stamina seperti itu, satu wanita jelas tidak akan sanggup menampungnya. Untuk beberapa saat

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 362 Memecah Segel Nadya

    Ciuman Nadya begitu menuntut, membuat Joko sempat kewalahan. Tapi hanya sebentar. Detik berikutnya, dia membalas dengan sama ganasnya. Lidah mereka saling membelit, napas mereka saling memburu. Tangan Joko bergerak ke punggung Nadya, melepaskan kaitan renda hitam itu dengan satu gerakan. Dua bongkahan kenyal Nadya terbebas, memantul pelan di hadapannya. Joko tak membuang waktu. Dia membenamkan wajahnya di sana, meremas keduanya dengan kuat, lalu menghisap puncak merah mudanya dengan rakus. “Ahh! Jo...” Nadya melenguh panjang. Punggungnya melengkung, jemarinya meremas rambut Joko, menekannya lebih dalam. “Punyamu padat banget,” bisik Joko di sela-sela kecupannya. “Harum lagi. Aku bisa gila.” “Jangan... banyak omong...” desah Nadya dengan wajah merah padam. Tapi tangannya justru semakin erat mencengkeram rambut Joko. Joko terkekeh. Satu tangannya perlahan turun, menyusuri perut rata Nadya yang bergetar, lalu terus ke bawah. Begitu jemarinya menyentuh bagian paling sensitif itu,

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 361 Kompensasi Untuk Nadya

    Joko menimbang sejenak. Berbohong pun percuma, Nadya pasti akan tahu juga cepat atau lambat. “Sonya ada di sini,” jawabnya jujur. “Di hotel. Sama aku.” Hening di seberang telepon. Joko bisa membayangkan wajah Nadya yang perlahan menggelap. “Mana Sonya?” ucap Nadya akhirnya, suaranya datar. “Aku mau bicara sama dia.” Joko melirik wanita yang masih terlelap di pelukannya. “Dia lagi tidur. Kecapekan.” Hening lagi. Kali ini lebih lama. “Kecapekan,” ulang Nadya dengan nada yang membuat bulu kuduk Joko sedikit berdiri. Joko terkekeh pelan, tak berani menjawab. “Setelah dia bangun, suruh dia pulang ke vila,” ucap Nadya tegas. “Kamu juga ikut ke sini.” Sambungan telepon langsung terputus sebelum Joko sempat membalas. Joko menatap layar ponselnya sejenak, lalu perlahan tersenyum. Nada suara Nadya barusan jelas bukan nada wanita yang tidak peduli. Itu nada wanita yang sedang cemburu. Pikiran-pikiran nakal mulai bermunculan di benaknya. === Vila Nadya, satu jam kemudian... Ferrari

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 360 Memecah Segel Sonya

    Joko terdiam. Dia menatap wajah Sonya lekat-lekat. Wanita yang biasanya paling berani menggoda, yang tadi menyeretnya ke hotel dengan penuh nafsu, kini terbaring di bawahnya dengan wajah tegang. Jemarinya mencengkeram lengan Joko, dan bibirnya sedikit gemetar. “Sonya, kamu kenapa?” tanya Joko heran. “Kok tiba-tiba gugup gitu?” Sonya memalingkan wajahnya. Pipinya memerah, kali ini bukan karena gairah. “Aku...” Dia menggigit bibirnya. “Aku masih segel.” Joko membeku. Matanya membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka. Dia menatap Sonya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Selama ini, dia mengira Sonya adalah wanita yang sudah berpengalaman. Setiap kali bertemu, Sonya selalu menempel padanya tanpa malu. Barusan di kantor pun, wanita itu menggodanya habis-habisan dengan begitu lihai. Tak pernah sekali pun terlintas di benak Joko bahwa wanita segenit itu ternyata b

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 2 Memiliki Hasrat Besar

    Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 1 Pangkalan Baru

    "Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 7 Ada Yang Cemburu

    Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 6 Bantu Puaskan Aku, Bang!

    Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status