Mag-log inSaat Reza hendak menaiki motornya, tiba-tiba seorang pria dewasa menghampirinya. Pria itu adalah salah satu tukang ojek yang mangkal di dekat sekolah.
Wajahnya terlihat ramah, tetapi sorot matanya tampak licik. "Nak…" panggil pria itu pelan. Reza menoleh dengan ekspresi tidak sabar. “Apa?” jawabnya singkat. Pria itu mendekat sedikit lalu berkata dengan nada pelan. "Nak, kamu pasti kesal kan sama tukang ojek tadi?" Wajah Reza semakin dingin. "Iyalah! malah nanya!" balas Reza ketus. Pria itu tersenyum tipis tidak tampak tersinggung sama sekali. "Kalau kamu masih kesal… sebenarnya ada cara buat kasih pelajaran ke orang seperti dia." Reza menatapnya tajam. "Maksudnya?" Pria itu melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak banyak orang yang memperhatikan mereka. “Kamu bisa sewa orang… preman. Biar mereka yang urus dia. Pukul sedikit saja, dan ancam dia supaya gak mangkal lagi di sini." Mata Reza sedikit menyipit. Amarah yang sejak tadi ia tahan seperti menemukan jalan keluar. “Memangnya ada orang kayak gitu?” tanya Reza. Pria itu langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu membuka sebuah kontak. "Ada. Saya kenal orangnya. Biasanya dia dan teman-temannya sering ‘ngerjain’ orang… asal ada bayaran." Dia lalu menunjukkan nomor itu kepada Reza. "Kalau kamu mau, hubungi saja dia. Bilang dari saya." Reza menatap layar ponsel itu beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Oke.” Pria itu menyebutkan nomor tersebut agar Reza menyimpannya. "Namanya Darto. Dia pasti mau." Reza menyimpan nomor itu di ponselnya. "Terima kasih." "Oh iya, siapa sih, nama tukang ojek sialan itu?" tanya Reza. "Namanya Joko! rumahnya di Kampung Nagari," jawab pria itu. Reza mengangguk paham. "Joko... Joko... kau pasti habis!" gumamnya di dalam hati dengan nada kejam. Pria tukang ojek itu tersenyum tipis, lalu kembali berjalan ke pangkalan. Sementara Reza masih berdiri di samping motornya, menatap nomor yang baru saja ia simpan. Amarahnya belum padam. Dan sekarang… dia sudah menemukan cara untuk melampiaskannya. ==== Disisi lain. Joko melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Di belakangnya, Mia memeluk tubuh Joko dengan erat. Kejadian tadi sama sekali tidak mengubah apa pun di antara mereka. "Nona, apa kamu yakin mau putus sama pacarmu itu?" tanya Joko santai. "Iya. Buat apa punya pacar kayak dia!" balas Mia tegas. "Nona Mia sangat cantik, gak akan kekurangan pria yang menyukai Nona. Gak rugi kalau Nona putus dengannya," ujar Joko santai. Mia berkedip licik, senyuman tipis terukir di bibirnya. Dia menggoyangkan tubuhnya, sehingga gunung besarnya itu terus bergesekan dengan punggung Joko. "Kalau Kak Joko menyukai aku gak? kalau suka, gimana kalau kita kita pacaran saja?" Mia berkata dengan nada menggoda. "Aku udah kelas 3 SMA, bentar lagi bakalan lulus. Kalau Kak Joko jadi pacar aku, pas udah lulus nanti, kita bisa bertunangan, atau bisa juga langsung menikah!" Joko sedikit terkejut dengan pernyataan Mia itu. Tanpa pikir panjang, Joko menggeleng kepalanya. "Maaf Nona, aku gak bisa!" tegas Joko. Setelah menolak, Joko buru-buru menjelaskan, karena takut wanita itu tersinggung. "Tapi bukan berari aku gak suka Nona, hanya saja aku gak punya rasa cinta sama Nona," Mia sedikit cemberut, ia tak mengira Joko menolaknya begitu saja. "Kak, apa aku kurang cantik? makanya Kak Joko gak mau jadi pacar aku," keluh Mia. "Bukan begitu! Nona sangat cantik! tapi seperti yang aku bilang tadi... Aku gak punya rasa cinta sama Nona! Dan juga..." Joko berhenti berbicara. "Dan juga apa?" tanya Mia. "Lagian, rasa cinta itu kan... bisa di bentuk perlahan!" Joko menghela nafas, lalu lanjut berkata, "Aku... gak bisa setia ~ sama satu wanita!" "Kakak... ternyata play boy!" cela Mia dengan nada sedikit genit. Tak ada sedikit pun kebencian sama sekali di nada bicaranya. Joko tertawa pelan, ia tidak malu mendapatkan julukan seperti itu. Setelah cukup tertawa, Joko terdiam sejenak, lalu dia berkata dengan nada riang. "Walau gak jadi pacar, Nona bebas datang kepadaku ~ kalau butuh sesuatu, seperti... teman curhat, atau apapun itu. Selama aku mampu, aku pasti akan melakukannya." Mia tersenyum licik, tangannya menyentuh area batang Joko, lalu mengelusnya perlahan. Merasakan sentuhan itu, tubuh Joko seketika memanas karena hasratnya yang mulai membara. Namun, ia tidak berkata apapun, hanya diam ~ menikmati. "Kalau aku butuh teman ranjang gimana? apa kakak bisa?" tanya Mia dengan nada menggoda. "Kalau itu, aku gak akan nolak!" balas Joko langsung tanpa banyak berpikir. Mia terkikik pelan. "Hihi, dasar nakal!" ucap Mia dengan genit. "Nona, bukannya kamu mau bantu aku? jadi gak?" Joko menanyakan tawaran wanita itu ~ kepadanya, saat pagi tadi. "Jadi, dong... mau langsung ke kosan aku?" bisik Mia pelan dengan nada menggoda. "Jangan sekarang! aku harus ngojek dulu! masih banyak penumpang yang menungguku. Gini saja! setelah aku ngojek, aku ke kosan Nona," ucap Joko. "Oke. Aku ada di kamar kos nomor 10! kakak bisa langsung masuk, aku gak akan kunci pintunya," ujar Mia. Elusan tangannya di batang Joko berubah menjadi cengkeraman. "Kak, batangmu kayaknya besar! dan ini... sudah sangat keras," goda Mia dengan nada genit. "Iya lah keras! kalau terus di sentuh kayak gitu," keluh Joko, ekspresinya tampak tertekan. Wanita ini benar-benar membuat Joko kepanasan. Joko merasa sangat ingin menerkamnya. Mia tertawa kecil, sambil menarik tangannya dari batang Joko. Tak lama kemudian, mereka sampai di kosan Mia. Wanita itu turun dari motor Joko. "Jangan lama-lama yah! aku udah gak sabar," goda Mia sambil mengedipkan matanya dengan genit. Joko mengangguk pelan. Sorot matanya tampak panas oleh hasrat, dan wajahnya sedikit memerah. Mia berbalik masuk ke dalam gerbang kosan. Tanpa membuang waktu, Joko memutar balik motornya dan langsung melaju cukup kencang. ==== Waktu terus berlalu, tak terasa satu jam lebih telah berlalu. Joko yang pergi mengantarkan para penumpangnya, telah kembali ke kosan Mia. Dia memarkirkan motornya di luar kosan, lalu masuk ke dalam. Karena telah di beritahu nomor kamar Mia, Joko langsung bergegas ke kamar tersebut. Sampai di sana, dia langsung membuka pintunya ~ sesuai instruksi dari Mia. Di dalam kamar kos, terlihat Mia yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur. Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah. Namun, terlihat kancing baju seragamnya, hampir seluruhnya di lepas yang membuat bra hitam renda yang menutup gunungnya tampak terlihat jelas. Joko mematung, matanya menatap lurus ke arah dada Mia yang terpampang jelas itu. Mia menatap Joko dengan sorot mata genit, senyuman tipis tersungging di bibirnya. "Masuk kak! kunci pintunya!" ucap Mia dengan lembut, namun terdengar begitu menggoda. Joko masuk ke dalam, lalu dia menutup pintu dan menguncinya dengan gerakan cepat. Setelah itu, dia melangkah menghampiri Mia. "Sini, duduk!" ujar Mia, sambil memberi kode dengan menepukkan tangannya di sisinya. Tanpa ada rasa sungkan, Joko duduk di sampingnya, dengan penuh keberanian, tangganya melingkari pinggang wanita itu, lalu menarik tubuh wanita itu agar menempel erat dengan tubuhnya. "Kak, kamu sangat berani yah," ucap Mia dengan nada genit. Tangannya melingkari leher Joko, dan dia sedikit menggesekkan dadanya di tubuh Joko. "Pria itu harus berani! jangan jadi pengecut!" balas Joko dengan nada tegas. Senyuman cerah terlukis di bibirnya. Matanya melirik ke arah gunung gadis itu, "Nona... apa aku boleh... memegangnya?" tanya Joko dengan nada tidak sabar. Melihat gunung yang tampak cukup besar itu, membuat Joko tak tahan ingin memainkannya. "Lakukan saja! Kak Joko bebas melakukan apa saja padaku! mau di remas kek, mau di hisap, terserah kakak!" balas Mia dengan nada menggoda. Ketika tangannya hendak menyentuh gunung itu, Joko ingat... kalau dia belum membersihkan tubuhnya. "Nona, aku mandi dulu yah! tubuhku sangat berkeringat!" ucap Joko dengan canggung. "Gak perlu! aku suka kok, aroma alami tubuh Kak Joko," balas Mia dengan tegas. "Ayo, mulai saja!" Joko sangat bersemangat saat mendengar perkataan itu. Dia langsung meremas Dada wanita itu dengan remasan yang cukup keras. Mia seketika mengeluarkan desahan manja, dan tubuhnya sedikit menegang. "Ahhh... Kak Joko!" Joko tampak sangat menikmati sensasi meremas gunung gadis itu. "Jadi... ini rasa meremas gunung wanita, benar-benar sangat nyaman!" ucap Joko di dalam hati dengan penuh semangat. Akhirnya, rasa penasarannya selama ini terbayar pada hari ini. "Ahh... Kak, remas lebih keras!" Mia tampak sangat menikmati remasan itu. Joko menatap wajah Mia, lalu dia mencium bibir wanita itu. Detik berikutnya, Joko merasa terkejut, karena respons ciuman dari Mia begitu ganas dan ciuman wanita itu begitu terampil. "Gadis ini... ternyata sudah sangat berpengalaman! untung saja... aku sudah banyak belajar dari film-film itu, kalau tidak... aku pasti aku kalah telak," gumam Joko di dalam hati. Tak lama kemudian, bibir mereka terpisah. Mia menjilat bibir yang basah itu dengan jilatan menggoda. "Ternyata... Kak Joko sangat pandai berciuman!" ucapnya dengan nada genit. Mia tidak tahu bahwa ciuman tadi adalah ciuman pertama bagi Joko. Walau begitu, Ia tidak berniat memberitahunya, karena merasa gengsi jika gadis itu sampai tahu, bahwa ini adalah pengalaman pertamanya. "Kamu juga... sangat hebat! sepertinya kamu sudah sering melakukannya." Mia tak menjawab, dia hanya mengedipkan matanya dengan kedipan genit. Melihat tingkah genitnya wanita itu, membuat Joko tidak tahan. Dia bergerak cepat, menekan wanita itu di bawah tubuhnya. Tangan Joko masuk ke dalam bra wanita itu, lalu meremas gunung secara langsung tanpa terhalang apapun. Sensasi lembut dan kenyal itu, bisa di rasakan oleh Joko, yang membuat semakin berhasrat. Bibir Joko menyerang leher wanita itu, mendaratkan kecupan dan jilatan di sana. Dalam proses itu, Joko bisa mencium aroma harum parfum dan keringat yang melekat di tubuh gadis itu. "Ahh... ahh..." desahan-desahan manja keluar dari mulut Mia, membuat suasana di sana terasa semakin menggairahkan. "Ahh... remas terus kak! enak banget! iya... begitu," racau Mia dengan nada penuh kenikmatan. "Hari ini, aku benar-benar akan mencicipi tubuh wanita! batangku... akan masuk ke dalam apem wanita ini, aku sangat tidak sabar merasakan rasanya itu," gumam Joko di dalam hati dengan penuh semangat. Ketika hal itu terbayang di benaknya, Joko merasa hasratnya semakin membara.Sumi mengulum dengan penuh semangat. Semakin lama, rasa yang di hasilkan dari kulumannya semakin nikmat. "Ahhh... mmm, sepertinya... kamu sudah sering melakukan ini, mmm... enak banget!" racau Joko dengan mata merem melek.Dia berusaha keras untuk menjaga fokusnya. Meski jalanan di sana kosong, tapi jika kehilangan fokus bisa-bisa mobilnya keluar dari jalan.Setelah beberapa menit di mainkan, Joko belum memperlihatkan tanda-tanda mencapai puncak. Para wanita itu takjub dengan ketahanan Joko."Sumi, kamu bisa gak sih? Kok dia belum keluar?" tanya Rara dengan sinis.Sumi mengeluarkan batang Joko dari mulutnya. "Jangan salahkan aku, punya dia kuat banget!" ucapnya sambil memelototi Rara."Gantian dong!" pinta Rara dengan ekspresi wajah tidak sabar.Sumi mendengus kesal, lalu dia pindah ke kursi belakang. Dia bukan mengalah, tapi dia sudah merasakan mulutnya pegal.Rara dengan penuh semangat pindah ke kursi depan. Setelah itu, dia langsung menunduk batang Joko dan meraihnya."Keras bange
Perkataan Sumi seperti sengatan listrik untuk Joko. Miliknya yang sudah mengeras, semakin mengeras sampai tercipta tonjolan di celananya. Rara bangkit dari tempat duduknya, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Joko. "Asalkan... jaga rahasia, kamu boleh cicipi kita." "Kalian pasti bercanda kan?" tanya Joko. Dia tidak langsung memercayai ucapan para wanita itu. "Tadinya... kita sepakat mau berebut kamu. Tapi ternyata... kamu itu pria nakal yang punya banyak wanita. Jadi... gak ada gunanya lagi kita berebut lagi," ucap Sumi. "Kamu orang kaya. Kalau menjalin ikatan yang lebih jauh... kita pasti dapat keuntungan dari kamu. Walau bukan berupa harta, setidaknya bisa dapat bantuan kalau di masa depan punya masalah," ucap Rara. "Aku setuju. Walau aku pengen jadi wanitamu, tapi sepertinya sudah gak mungkin," ucap Sumi. Dita dan Yeni setuju dengan ucapan Sumi. Joko menyeringai tipis. "Kalian cerdik juga yah." ucapnya. "Pantas saja kalian mau di mobilku, ternyata kalian sudah punya renc
"Jo, mobilmu nyaman banget yah," ucap Sumi dengan ekspresi sedikit genit. "Tentu saja nyaman. Mobil ini gak murah!" sahut Dita dari belakang. "Hehe, senyaman apapun mobil, pasti lebih nyaman diam di rumah," canda Joko. "Kamu bisa saja," Sumi menekan pundak Joko dengan jari telunjuknya. Joko sedikit melirik wanita itu. "Hmm, wanita ini sangat aktif. Baru kenal saja sudah berani bertingkah genit." Setelah terdiam sesaat, Joko kembali berkata. "Nanti sampai di kota, kalian harus ke toilet dulu. Kalau sudah lewat kota, susah nyari toilet. Baru ada lagi toilet nanti di kalau udah sampai di Kota Awan." "Kalau kebelet di jalan, tinggal nyari hutan saja. Gak masalah, hihi," ucap Rara sambil terkikik. "Kalau gak masalah kencing di hutan, gak apa-apa," balas Joko. "Jo, kamu gak bawa camilan?" tanya Sumi. "Nggak, nanti beli di kota," balas Joko. "Nggak usah beli. Kita bawa banyak camilan kok," ucap Sumi buru-buru. "Iya. Gak bakal habis kita makan," ucap Yeni sambil memperlihatkan sat
Tak terasa hari Sabtu pun tiba...."Sayang, kalian yakin gak mau ikut?" tanya Joko sambil menatap Ayu, Lana, Sinta, dan Mona.Joko tampak sedang sibuk memasukkan semua keperluannya ke dalam koper. Keempat wanita cantik itu sibuk membantunya."Nggak ah. Kalau kita ikut liburan, pasti nanti beritanya bocor ke para warga. Para bocah itu pasti gak akan bisa tutup mulut," balas Sinta."Hmm, ya sudah. Kalian mau di bawakan apa?" tanya Joko."Terserah kamu saja. Kamu gak bawa apa-apa pun gak masalah. Yang penting, kamu pulang dengan selamat," balas Ayu dengan lembut."Hehe, aku mau liburan ~ bukan mau perang," Joko menggosok kepala Ayu. "Tetap saja kamu harus berhati-hati!" tegas Ayu dengan wajah cemberut."Oke... oke. Ya sudah, kalau nanti ada barang bagus, aku pasti bawakan buat kalian," ucap Joko.Beberapa saat kemudian, mobil Joko melaju pergi meninggalkan rumah Lana. ===Tadi malam, Rian memberi tahu Joko kalau besok akan berkumpul di depan jalan keluar kampung. Saat Joko sampai di s
Joko dan Lana tidak pulang ke rumah. Joko membawa Lana ke markas kelompok Darto. Setibanya di sana, Darto dan kelompoknya tampak sangat antusias dan langsung mengerumuni Joko dan Lana."Bang.... akhirnya kamu punya waktu datang ke sini," ucap Darto. "Ayo... duduk Bang, Nona Lana," undang Darto."Ayo kalian juga duduk lagi saja!" Joko duduk dan Lana duduk di sampingnya. Setelah semua orang duduk, Joko berbicara. "Gimana dengan latihan kalian?" tanyanya sambil menatap kelompok Darto."Hehe, kita sangat rajin Bang. Kita sekarang sepertinya sudah jauh lebih kuat!" balas Seno."Benar kata Seno. Semua yang di ajarkan Abang sudah hampir kita pelajari semuanya," tambah Darto.Dengan kemampuan sekarang, Joko bisa merasakan dengan jelas seberapa kuat kelompok Darto.Mata Joko menatap Darto. "Pendekar tahap awal," matanya beralih ke Seno. "Pendekar tahap awal. Lumayan, lumayan." Mendengar ucapan Joko, Darto dan yang lainnya termasuk Lana menjadi kebingungan."Bang, apa itu pendekar tahap awal
Keesokan harinya.Warga kampung di buat heboh saat melihat rumah Joko di bongkar oleh para pekerja konstruksi. Banyak warga berkerumun untuk melihat proses pembongkaran itu.Joko berada di sana bersama Lana. Dia ingin melihat detik-detik rumah lamanya di robohkan.Berbagai kenangan di masa lalu saat dia bersama keluarga, kini bermunculan di pikirannya. Perasaan masam memenuhi hatinya, perasaan itu membuat matanya sedikit basah."Ibu, Ayah, Kakek. Aku akan membangun kembali rumah peninggalan kalian menjadi rumah yang paling bagus di kampung ini. Kalau kalian melihatnya di atas sana, semoga kalian suka dengan rumah yang aku buat," gumamnya di dalam hati.Lana melirik Joko. Melihat sorot mata pria itu yang mengandung kesedihan, dia diam-diam memeluknya ~ untuk berusaha memberikan kenyamanan.Para warga menjadi sangat yakin kalau Lana adalah pacar Joko setelah melihat wanita itu memeluk Joko dengan eratnya.Banyak pria yang iri kepada Joko, bagaimana pun wanita yang sangat menawan seperti
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu







