LOGINPuiiih...!
Hal itu dilakukan lebih dari lima kali, sampai akhirnya seringai di wajah Pendekar Kera Sakti mulai hilang. Rasa sakit mulai menipis. Namun luka belum bisa sembuh. Pembusukan masih terjadi di batas betis ke bawah. Bahkan sekarang luka itu bagaikan bergerak merayap mendekati lutut.
"Masih terasa sakit!"
"Tid... tidak. Tapi luka ini masih bergerak terus."
"Aku telah membuang rasa sakitnya. Tapi racun itu susah kusedot pakai tenagaku!"
"Kalau saja sa
"Baiklah, aku menurut dengan saranmu. Kupikir memang ada baiknya aku menjaga diri agar aku bisa merawatmu."Pendekar Kera Sakti sunggingkan senyum tipis. Sorot matanya tertuju ke mata indah Putri Malu. Sorot mata itu merayap ke hidung bangir, lalu ke bibir menggemaskan, lalu ke dada. Sampai di dada sorot mata itu cepat-cepat naik lagi, tak berani terlalu lama memandangi dada berkulit mulus, takut terjadi pemberontakan dalam jiwanya."Masih terasa sakit?" tanya Putri Malu dengan suara lembut.Baraka menggeleng pelan."Tapi kau berkeringat, apakah menahan sakit?" sambil keringat di kening Baraka segera dihapusnya memakai kain ikat pinggang berwarna kuning. Kain itu dilepas dari pinggang Putri Malu dan digunakan mengeringkan keringat di sekitar kening dan pelipis. Dengan terlepasnya kain ikat pinggang yang selama ini membuat rompi merah tak berlengan itu menjadi rapat bagian depannya, maka keadaan rompi merah pun menjadi berubah. Rompi itu membuka dan kulit
Ketika hal itu ditanyakan kepada Baraka, Pendekar Kera Sakti itu hanya menjawab, "Aku tak tahu. Aku baru saja siuman dari pingsanku.""Oh, kau sempat pingsan!""Ya, karena menahan rasa sakit yang datang lagi secara bertubi-tubi ini!" sambil ia menunjuk kakinya yang kian membusuk.Karena senja semakin temaram, Putri Malu berkata kepada Baraka, "Aku tadi melihat sebuah gua di lereng sebelah selatan sana. Bagaimana kalau kau kubawa ke gua itu, lalu kutinggalkan di sana untuk mencari daun penangkal racun?""Apakah gua itu aman untuk kita?""Aku sempat memeriksa sebentar. Gua itu aman, hanya sedikit agak kotor. Dan lagi... sebentar lagi petang akan tiba. Kita harus segera dapatkan tempat untuk bermalam. Langit menghitam begitu, pasti akan turun hujan."Pendekar Kera Sakti tidak mempunyai pilihan lain, ia terpaksa menerima uluran tangan Putri Malu untuk bangkit dan menuju ke sebuah gua yang dimaksud si gadis tadi."Bagaimana kalau kau kupan
Woos, wooos, woos, woos...!Blegeeerrr...!Badai besar berkecepatan tinggi menerjang apa saja yang ada di depan Baraka. Bumi pun berguncang hebat, langit berawan gelap, kilatan cahaya petir bersahutan di angkasa. Keadaan itu seperti awal kedatangan kiamat.Pohon-pohon tumbang beterbangan, sekalipun yang berukuran besar maupun kecil. Tumbangnya pohon-pohon itu menimbulkan suara semakin gaduh. Bebatuan tersapu oleh badai yang melanda tempat itu. Bongkahan batu besar pecah menjadi bongkahan kecil, yang berukuran tanggung pecah menjadi kerikil. Yang berukuran kecil terbang bagaikan kapas terhempas angin.Siluman Selaksa Nyawa semula bermaksud melawan badai kekuatan Ilmu ‘Mata Malaikat’ itu dengan berdiri tegak, tongkatnya ditancapkan ke tanah, ia biarkan angin badai menyapu dirinya, menyingkapkan kerudung hitamnya hingga rambutnya yang panjang tampak meriap-riap tersapu angin badai. Tetapi pertahanan itu segera tumbang setelah sebatang pohon terba
Siluman Selaksa Nyawa selain berilmu tinggi juga punya kelicikan yang membuatnya licin seperti belut, sukar diburu dan ditangkap. Namun sekarang tokoh sesat itu ada di depan Baraka, seolah-olah menantang perburuan yang dilakukan Baraka selama ini. Sayang sekali keadaan Baraka cukup lemah untuk lakukan perlawanan.Sekalipun Baraka tahu bahwa Siluman Selaksa Nyawa hanya akan bisa dibunuh dengan Pedang Kayu Petir, namun setidaknya dalam keadaan bagaimanapun Pendekar Kera Sakti harus lakukan penyerangan dan perlawanan terhadap orang terkutuk yang membunuh saudara kembarnya, ayah-ibunya dan anaknya sendiri itu. Karenanya, ketika Siluman Selaksa Nyawa diam tak bergerak dalam jarak enam langkah dari Baraka dengan mata memandang tajam dan kedinginannya bagai membekukan seluruh darah, Pendekar Kera Sakti tak mau kalah nyali, ia juga memandang penuh sikap menantang, walaupun keadaan luka di kakinya sebenarnya tidak memungkinkan bagi sang Pendekar untuk melakukan pertarungan."Ki
Puiiih...!Hal itu dilakukan lebih dari lima kali, sampai akhirnya seringai di wajah Pendekar Kera Sakti mulai hilang. Rasa sakit mulai menipis. Namun luka belum bisa sembuh. Pembusukan masih terjadi di batas betis ke bawah. Bahkan sekarang luka itu bagaikan bergerak merayap mendekati lutut."Masih terasa sakit!""Tid... tidak. Tapi luka ini masih bergerak terus.""Aku telah membuang rasa sakitnya. Tapi racun itu susah kusedot pakai tenagaku!""Kalau saja saat ini suling mustiku ada, aku tak akan semenderita ini, Putri Malu."Hati gadis itu meratap sedih dan penuh penyesalan. Rasa bersalah semakin menghantui jiwanya. Dan kini ia merasa bertanggung jawab terhadap luka Pendekar Kera Sakti, ia harus bisa menyembuhkan luka berbahaya itu karena gara-gara ulahnya maka luka itu tak bisa dicegah oleh sang Pendekar Kera Sakti."Maaf, aku harus menotok lututmu untuk membendung gerakan racun yang akan menjalar ke sana!""Lakukanlah...!" k
Weeet...!Jruub...! Pedang itu menancap di batang pohon. Kurang dari setengah jengkal akan menembus daun telinga Pendekar Kera Sakti.Pada saat Baraka mengelak itulah, Lumut Karang melepaskan pukulan tenaga dalam jarak jauh, berupa sinar biru dari tengah telapak tangannya.Suuuut...!"Awaaass...!" teriak Putri Malu dengan tegang.Baraka menghindar dengan satu lompatan. Tapi gerakannya terlambat sedikit. Kaki Baraka terkena sinar biru itu.Blaab...!"Aaauuh...!" Baraka memekik keras karena kaget dan merasakan sakit bukan kepalang, ia pun segera roboh tak mampu berdiri lagi. Kaki kirinya menjadi memar membiru bahkan seperti mau busuk."Mampus kau, Cah Bagus. Kupenggal kepalamu, Iiihh...!" Batu Laut gemas sekali, ia segera berlari melompat dengan berjungkir balik cepat, lalu tiba di samping Baraka.Pedang besar diangkat, siap untuk ditebaskan. Putri Malu siap lepaskan pukulan jarak jauhnya yang akan mengarah ke punggung Bat
Baraka segera bertindak, Jelita Bule dan Pesona Indah segera di obatinya dengan hawa ‘Kristal Bening’ miliknya. Kalau hanya untuk mengobati luka dalam dan racun-racun kelas menengah kebawah. Hawa ‘Kristal Bening’ sudah lebih dari cukup untuk dikerahkan tanpa menggunakan kh
Syakuntala memainkan jurus rendah. Tangannya berkelebat ke sana-slnl sambil yang kanan pegangi pedang. Gerakan tangan dan tubuhnya yang meliuk-liuk itu menyerupai gerakan seekor naga sedang mende-kati mangsanya. Tapi tiba-tiba Sumbaruni lepaskan jurus 'Anak Rembulan' berupa sinar kuning seperti b
"Kalau begitu semua tokoh tingkat tinggi tentunya mengetahui tentang penggunaan ilmu 'Bias Dewa' itu?""Kurasa begitu. Tapi setahuku ilmu tersebut tak bisa dipergunakan oleh Sunti Rahim, sebab dia sudah tidak perawan lagi.""Muridnya yang menggunakannya, Ki. Perawan Tanpa Tanding ju
"Dari mana kau tahu tentang dia?""Gusti Guru Embun Salju belum lama ini berkunjung ke negeri Muara Singa, karena punya hubungan baik dengan kakak angkat sang ratu bernama Purnama Laras. Orang yang berjalan paling depan itulah yang bernama Purnama Laras.""Menurutmu apa rencananya d







