LOGINDi benua Akhantara, berdiri Sekte Wana Jagad, sekte terlemah yang hanya dipandang sebagai tempat sampah dunia persilatan. Di sanalah hidup seorang pemuda yatim piatu bernama Aksara Linggar, seorang pelayan rendahan yang tak memiliki nasib selain dicaci, dipukuli, dan dijadikan budak oleh para murid resmi. Ketika ia difitnah mencuri harta sekte, Aksara dikhianati oleh seseorang yang ia percaya, lalu dibuang ke jurang terkutuk. Namun kematian justru menolaknya. Di dasar jurang, ia menemukan Darah Naga Purba, sebuah warisan dewata yang tersegel selama ribuan tahun. Darah itu menyatu dengan tubuhnya, mengubah setiap luka menjadi kekuatan, dan setiap musuh yang ia bunuh menjadi sumber penempaan tubuhnya. Bangkit kembali sebagai makhluk yang kekuatannya tumbuh dari penderitaan, Aksara bersumpah: “Aku akan naik kembali ke dunia persilatan. Bukan untuk memohon pengakuan, tetapi agar setiap sekte yang pernah menindasku bersujud di bawah kakiku.” Saat dunia diguncang ramalan tentang “Pewarisan Darah Langit”, nama Aksara Linggar mulai mengguncang benua. Dari pelayan tak berharga, ia naik melampaui murid inti, pahlawan sekte, hingga menjadi ancaman bagi para tetua dan penguasa yang selama ini berkuasa atas dunia.
View MoreAngin pagi di Puncak Wana Jagad tidak pernah ramah sejak dulu. Udara yang turun dari pegunungan utara membawa serpihan es halus yang menusuk kulit seperti jarum dingin. Bagi orang yang tidak memiliki api kultivasi, hawa itu terasa seolah ingin mengeras di dalam tulang.
Bagi ribuan murid Sekte Wana Jagad, dinginnya hanya gangguan kecil yang hilang begitu mereka memutar Qi. Tapi bagi Aksara Linggar, rasa dingin ini adalah seorang teman lama yang punya kelakuan buruk yang setiap hari menyambutnya saat ia membuka mata.
Ia terbangun sambil mengembuskan napas putih. Tubuhnya menggigil di atas tikar jerami tipis yang sudah usang. Tidak ada selimut, tidak ada tungku. Gubuk reyot tempatnya tinggal berdiri di sudut paling belakang sekte, berdekatan dengan kandang hewan spiritual dan tempat pembuangan limbah ramuan. Bau menyengat dari kotoran dan herbal busuk sudah menjadi bagian dari kesehariannya; hidungnya tak lagi protes.
Saat ia bangkit, punggungnya berderak kecil. Tubuh usia tujuh belas tahun itu seolah membawa beban orang yang hidup terlalu lama dalam lelah. Matanya yang sayu mengarah ke celah dinding, mencari tanda-tanda cahaya. Langit masih gelap keunguan, waktu di mana malam dan pagi saling berebut.
Waktunya bangun. Tidak ada pilihan. Bila ia terlambat sedikit saja, cambuk pengawas asrama akan menyambutnya lebih dulu daripada fajar.
Ia membasuh wajah dengan air dari gentong, permukaannya mengeras menjadi lapisan es tipis. Air itu seperti menampar kulitnya, dingin menyengat, namun cukup untuk membuatnya benar-benar sadar. Setelah itu ia mengenakan jubah abu-abu lusuh penuh tambalan. Jubah itu kedodoran di tubuhnya yang kurus, seolah tidak ada daging di baliknya.
Dengan sapu lidi besar di tangan, ia keluar dari gubuk. Kesunyian masih menyelimuti seluruh kompleks sekte. Kabut tebal bergantung rendah, menutupi bangunan-bangunan megah dengan atap melengkung seperti daun raksasa. Pilar-pilar kayu hitam purba muncul samar di balik kabut, sementara jalan berbatu sungai memantulkan cahaya redup.
Pemandangan ini indah, tapi bagi Aksara justru ironi. Ia tinggal di tempat yang disebut surga oleh banyak orang, tempat di mana manusia bisa terbang, membelah batu, dan menaklukkan alam, tapi ia sendiri hidup lebih hina daripada anjing penjaga gerbang.
Perjalanannya menuju Aula Latihan Utama menanjak. Setelah sekitar seratus langkah, paru-parunya mulai terasa sesak. Sandal jeraminya rapuh dan tipis; setiap kerikil kecil menusuk telapak kakinya.
Setiap langkah mengingatkannya pada kenyataan pahit yang tak pernah pergi.
Di dunia ini, hidup dan mati ditentukan oleh Qi. Semua manusia terlahir dengan meridian sebagai wadah energi. Namun sejak kecil, Aksara sudah dinilai berbeda.
Tubuhnya disebut “Bejana Bocor.”
Ia memiliki meridian, tapi jalurnya tidak mampu menahan energi. Qi apa pun yang ia coba serap selalu mengalir kembali, hilang tanpa jejak. Seratus tahun meditasi pun tidak akan mengubah dirinya menjadi kultivator.
“Buang ke dapur saja,” begitu komentar salah satu tetua saat ia masih bayi, kata-kata yang ia dengar dari seseorang dan selalu membayanginya.
“Kekuatan nol, berguna hanya untuk pekerjaan rendahan.”
Aksara mengusir suara itu dari kepalanya. Ia sudah bosan namun tidak pernah benar-benar kebal.
Ia tiba di lapangan granit hijau Aula Latihan Utama dan mulai menyapu.
Srek.
Srek. Srek.Hanya suara sapu yang menemani. Ia membersihkan daun kering, menghapus debu, dan menyingkap garis formasi di lantai. Ia tidak melakukannya karena cinta pada pekerjaan, melainkan karena takut pada hukuman.
Ketika matahari muncul sedikit di balik puncak gunung timur, cahaya emas mengalir turun dan menandai waktu kedatangan para murid sejati. Mereka yang disebut “dewa muda.”
Satu demi satu murid sekte berdatangan. Jubah putih bersih mereka tampak berpendar di bawah cahaya pagi. Motif hijau dan perak menghiasi seragam mereka, menandakan status dan bakat. Kulit mereka tampak sehat, gerakan mereka ringan seolah angin mendukung langkah.
Aksara langsung menepi. Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Ia tahu tempatnya. Di tengah orang-orang yang dibesarkan untuk menjadi legenda, ia hanyalah noda kecil yang seharusnya tidak terlihat.
“Eh, lihat siapa yang sudah bangun duluan.”
Tubuh Aksara menegang. Ia mengenali suara itu.
Suara itu milik Darius.
Ia tidak mengangkat kepala, tapi sepatu bot kulit rusa berhenti tepat di depan wajahnya yang menunduk. Darius adalah murid inti dari Aula Pedang, anak tetua, berbakat, tampan, dan kaya. Satu-satunya hal yang ia lakukan dengan sepenuh hati adalah merundung Aksara.
"Selamat pagi, Tuan Muda Darius," gumam Aksara pelan, suaranya serak.
"Pagi?" Darius tertawa, tawa yang diikuti oleh beberapa pengikutnya. "Pagi ini cerah, tapi melihat wajahmu yang suram membuatku merasa mendung."
Salah satu pengikut Darius, seorang pemuda berbadan gempal, menendang sapu di tangan Aksara hingga terlempar jauh. "Kau tidak dengar Tuan Muda bicara? Angkat wajahmu, Sampah!"
Aksara perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Darius yang menyeringai. Ada kepuasan sadis di mata pemuda itu.
"Kau tahu, Aksara," kata Darius sambil memutar-mutar cincin giok di jarinya. "Kemarin aku mencoba teknik pedang baru. Tebasan Akar Liar. Tapi aku merasa gerakanku kurang luwes karena target kayunya diam saja. Aku butuh target yang ... lebih responsif."
Jantung Aksara berdegup kencang. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. "Tuan Muda ... saya harus menyelesaikan tugas kebersihan ..."
"Tugasmu adalah melayani murid sekte!" potong Darius tajam. Wajahnya yang tampan berubah dingin. "Dan sekarang, aku ingin kau melayaniku sebagai samsak."
Tanpa peringatan, kaki Darius melayang. Tendangan itu dilapisi Qi tipis, cukup untuk meremukkan batu bata.
Bugh!
Aksara terlempar tiga meter ke belakang. Tubuhnya menghantam pilar kayu ulin. Rasa sakit meledak di dadanya, membuatnya tersedak. Ia terbatuk, dan cairan hangat keluar dari mulutnya.
Darah.
Darius tidak menggunakan kekuatan penuh. Jika ia serius, Aksara sudah mati. Ia hanya menggunakan cukup tenaga untuk menyakiti, bukan membunuh. Itu adalah seni penyiksaan, bertujuan untuk menjaga mainanmu tetap hidup agar bisa dimainkan lagi besok.
"Lemah," cibir Darius, berjalan mendekat. Ia menginjak dada Aksara, menekan perlahan hingga Aksara kesulitan bernapas. "Lihat dirimu. Kau bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri dari satu tendangan ringan. Untuk apa kau hidup? Kau hanya menghabiskan jatah beras sekte."
Aksara mencengkeram pergelangan kaki Darius, mencoba melepaskannya, tapi tenaga manusia biasa tidak ada artinya melawan seorang kultivator. Air mata frustrasi menggenang di sudut matanya. Bukan karena sakit fisik, ia sudah terbiasa dengan itu tapi karena rasa tidak berdaya. Harga dirinya diinjak-injak di depan puluhan murid lain yang kini menonton sambil berbisik-bisik.
Tidak ada yang menolong. Mengapa mereka harus peduli? Di dunia ini, yang kuat memakan yang lemah. Itu hukum alam Wana Jagad, hutan memakan yang lemah. Aksara adalah kelinci di tengah serigala.
"Cukup, Darius."
Laut Selatan biasanya merupakan jalur perdagangan yang paling aman di bawah perlindungan bendera Sekte Matahari Suci. Tidak ada bajak laut yang cukup gila untuk menyentuh kapal yang membawa lambang matahari emas di layarnya.Namun, malam ini, laut itu mati.Konvoi suplai raksasa yang terdiri dari dua puluh kapal kargo besar sedang berlayar menuju Kota Pelabuhan Tanjung Perak. Kapal-kapal itu memuat ribuan ton Batu Roh, senjata, dan bahan obat yang dikirim dari wilayah pusat untuk memperkuat garis pertahanan Aliansi di selatan.Di atas kapal utama, Kapten Surya, seorang kultivator Inti Emas Awal berdiri di anjungan, menatap kabut tebal yang tiba-tiba turun menyelimuti armada."Kabut sialan," gerutu Kapten Surya. "Penyihir Cuaca! Usir kabut ini! Aku tidak bisa melihat ujung hidungku sendiri!"Seorang penyihir angin di dek mencoba merapal mantra. Namun, bukannya menipis, kabut itu justru semakin pekat. Dan warnanya berubah. Dari puti
Pertempuran di Arena Pusat Nusa Kencana tidak berlangsung lama. Itu bukan perang; itu adalah eksekusi massal.Lima puluh pengawal elit Jagal, para pembunuh bayaran veteran yang telah mencabut nyawa ratusan orang tumbang seperti gandum di hadapan sabit.Kabut ungu Larasmaya bergerak seperti makhluk hidup, menyusup ke dalam hidung dan telinga para pengawal. Mereka yang menghirupnya tidak mati seketika; mereka berhalusinasi, melihat teman sendiri sebagai monster, lalu saling tikam dalam kegilaan.Di tengah badai kekacauan itu, Aksara Linggar adalah pusat gravitasinya.Ia tidak menggunakan senjata. Ia tidak membutuhkannya. Tangan Kiri Asura-nya mencabut nyawa dari tubuh fisik musuh, sementara Cakar Naga Kanan-nya menghancurkan tulang dan baju zirah mereka.KRAK! SREET!Satu per satu pengawal jatuh. Darah membanjiri pasir arena, mengubahnya menjadi lumpur merah yang kental.Di balkon kehormatan, Si Jagal gemetar hebat. Gelas anggu
Dalam kegelapan tidur panjangnya, Aksara tidak bermimpi. Ia mengingat.Kesadarannya ditarik masuk ke dalam aliran darah Jantung Raja Naga yang baru saja ia tanam di dadanya. Darah itu bukan sekadar cairan kehidupan; itu adalah perpustakaan memori yang telah ada sejak dunia ini terbentuk.Aksara melihat zaman dahulu kala.Zaman di mana langit tidak berwarna biru, melainkan ungu keemasan. Zaman di mana manusia dan naga hidup berdampingan, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saudara.Manusia menunggangi naga untuk membelah awan. Naga mengajarkan manusia cara menyerap Qi alam semesta. Peradaban mereka begitu maju, begitu kuat, hingga kultivator pada masa itu tidak perlu memakan pil atau membunuh sesama untuk naik tingkat. Mereka hidup dalam harmoni.Kekuatan gabungan antara Kebijaksanaan Manusia dan Fisik Naga menciptakan entitas yang nyaris sempurna.Lalu, Aksara melihat Mereka.Langit terbelah. Bukan oleh petir, tap
Lorong menuju perut bumi itu ternyata tidak gelap gulita seperti yang Aksara bayangkan.Dinding-dindingnya terbuat dari tulang rusuk yang membatu, memancarkan cahaya merah temaram yang berdenyut seirama dengan suara DUM yang menggema dari kedalaman. Udara di sini panas, kering, dan berbau belerang purba.Setiap langkah yang diambil Aksara terasa semakin berat. Bukan karena gravitasi bumi, melainkan karena Tekanan Spiritual yang dipancarkan oleh sisa-sisa keberadaan Raja Naga di bawah sana. Tekanan itu menolak kehadiran makhluk hidup lain. Bagi manusia biasa, tekanan ini sudah cukup untuk menghancurkan pembuluh darah otak dalam radius satu mil.Aksara terengah-engah. Keringat membanjiri tubuhnya yang setengah bersisik. Lututnya gemetar, seolah memikul gunung di pundaknya."Kau merasakannya?" suara Naga Wiratama terdengar bergetar, penuh rasa hormat dan duka. "Ini adalah aura Baginda Raja Antaboga. Bahkan dalam kematiannya, be






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews