FAZER LOGINPERAMAL Pikun pergi dengan berkelebat bagaikan angin atau hantu siang hari. Baraka tidak peduli lagi dengan kepergian Peramal Pikun. Hasratnya untuk mandi begitu kuat, tak bisa ditahan lagi. Bahkan dalam hatinya ia berkata. "Siapa tahu habis mandi bisa bertemu dengan Hyun Jelita. Setidaknya bunga rindu di hati yang belum pernah bertemu ini akan terpupus habis."
Baraka mulai meletakkan sulingnya. Baru saja ia mau membuka baju, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara orang berlari cepat ke ar
Blaarr... blegaar... blaang.... Duaar...!Dalam satu kesempatan, ketika mereka masih mengambang di udara tanpa pedulikan bumi dan alam yang bergetar, Buyut Gerang berhasil hantamkan pukulan telapak tangannya ke dada Poci Dewa. Sedangkan pihak Poci Dewa pun mendapat kesempatan menghantamkan tangannya yang menguncup ke ulu hati Buyut Gerang. Pukulan itu sama-sama timbulkan bunyi menggelegar secara bersamaan.Blegaarr...!Kedua tokoh tua tanpa pengikut itu sama-sama terpental dan jatuh bergulingguling. Napas mereka terengah-engah. Wajah mereka dicekam rasa sakit yang tetap dipertahankan kekuatannya. Buyut Gerang memuntahkan darah merah kental, rambutnya rontok sebagian karena pukulan Poci Dewa. Sedangkan lawannya pun mengalami hal yang serupa, rambut Poci Dewa rontok sebagian, bahkan yang semula berwarna putih sempat menjadi semburat hitam karena hangus terbakar oleh pukulan telapak tangan Buyut Gerang. Keduanya tak ada yang merasa kalah dan tak ada yang merasa lem
"Ranggu...!" Seruan itu berasal dari gadis cantik berjubah kuning yang tak lain adalah Cumbu Bayangan.Gadis itu diizinkan oleh Baraka untuk keluar dari persembunyian dan menemui kekasihnya."Kismi...!" seru Ranggu Pura dengan girang, ia pun segera berlari menyambut kekasihnya. Gadis itu berlari kecil dan akhirnya mereka berpelukan penuh curahan rindu.Pendekar Kera Sakti sengaja dibuat terbatuk-batuk untuk memberi tanda agar mereka jangan terlalu lama berpelukan. Pikir Baraka saat itu, "Terlalu lama melihat mereka berpelukan kepalaku jadi puyeng! Ingat kekasihku; Hyun Jelita."Ranggu Pura tampak ceria memandang kemunculan kekasihnya, tapi sedikit curiga ketika tahu kekasihnya datang bersama Pendekar Kera Sakti yang lebih ganteng dari dirinya sendiri. Kismi segera menjelaskan tentang perbuatan Kunta Aji dan penyelamatan yang dilakukan Pendekar Kera Sakti."Terima kasih kau telah selamatkan kekasihku, Baraka," ujar Ranggu Pura dengan ceria."
Wajah Ranggu Pura menegang lagi dengan gusar. "Sebaiknya lupakan tentang Cumbu Bayangan. Toh ada perempuan lain yang bersedia kau cumbu lebih lama lagi. Sayang kau menyepelekan diriku, sehingga kau tidak melihat ada perempuan lebih hebat dari Kismi yang mampu memberikan kebahagiaan padamu sepanjang masa.""Persetan dengan kata-katamu, Ayunda! Kau perempuan bermulut busuk! Mengapa kau racuni pikiran guruku dengan bualanmu! Kaulah biang keladi dari masalah yang menyangkut tentang hubunganku dengan Cumbu Bayangan!""Kalau kau keras kepala tak mau melayani gairahku, aku pun keras kepala untuk tetap ingin mencabut nyawamu, Ranggu Pura!""Biadab dia!" geram Cumbu Bayangan dalam persembunyiannya. Wajahnya menjadi merah jambu karena dibakar kemarahan. Tapi Pendekar Kera Sakti menahannya agar tidak terburu-buru keluar dari persembunyian."Banyak yang perlu kita ketahui dari mereka! Kita lihat dulu, jangan terburu nafsu, Kismi!" bisik Baraka."Tapi perempuan
"Hmmm... ya, aku kenal dia. Dia yang bernama Ayunda. Dia sering berkunjung ke perguruanku dan menjalin hubungan baik dengan guruku!""Benarkah begitu! Tapi ketika kau menderita racun 'Hawa Bangkai' tadi, gurunya Ayunda menyerangku dan mengancamku agar tidak mencampuri urusannya.""Urusan apa?""Mana kutahu? Dia tidak jelaskan urusan itu."Cumbu Bayangan masih berkerut dahi dan mencoba memikirkan hal itu. Tapi Baraka lebih dulu berkata dalam bisikan lagi. "Aku curiga dengan gerakan Ayunda yang mengendap-endap menuruni tanggul sungai itu. Kita lihat apa yang dilakukannya!"Pendekar Kera Sakti melenting di udara, tubuhnya melesat naik dan hinggap di atas pohon. Cumbu Bayangan mengikuti gerakan itu dan ternyata cukup mampu, walau ia hampir saja jatuh saat mendaratkan kakinya di sebuah dahan. Untung segera disambar oleh tangan Pendekar Kera Sakti, sehingga ia terhindar dari kecelakaan kecil itu.Dari pohon ke pohon, akhirnya mereka tiba di
"Akan kucoba membantu kalian. Hanya saja, ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu."Gadis itu semula memandang ke arah jauh. Tapi sekarang menatap Baraka dengan gerakan berpaling cukup cepat. Ini menandakan bahwa ia tertarik sekali dengan pertanyaan yang ingin diajukan Baraka."Benarkah kekasihmu yang bernama Ranggu Pura itu anak dari Gandapura, penguasa Pantai Ajal itu!"Mata sang gadis terkesiap. Sedikit menyipit dalam tatapannya. Ada rasa kaget yang disembunyikan dalam hati, yang akhirnya berubah menjadi sebentuk renungan pendek. "Sebab, kudengar Gandapura sedang mengamuk di Pulau Jelaga karena mencari anaknya yang bernama Ranggu Pura. Anak itu yang akan mendapat warisan seluruh ilmu si Gandapura, yang berarti akan menjadi manusia pemakan daging manusia."Setelah berdiam beberapa saat, Cumbu Bayangan berkata dengan suara tidak seketus tadi, "Aku tidak tahu dengan pasti. Tapi Ranggu Pura pernah bilang, bahwa ia ditemukan oleh gurunya dalam usia
"Aneh orang itu. Menuduhku ikut campur urusannya. Urusan yang mana? Oh, barangkali ia melihatku berjalan bersama Pinang Sari ke makam Nini Pucanggeni, sehingga ia menyangka aku berkomplot dengan Pinang Sari! Ah, masa bodoh! Tak perlu kupikirkan si nenek peot itu. Oh, kasihan Cumbu Bayangan. Aku harus segera mengobatinya "Baraka segera menempelkan hulu berkepala naga Suling Naga Krishnanya di urat nadi pergelangan tangan kanan Cumbu Bayangan. Hanya dalam dua tarikan napas, tubuh Cumbu Bayangan yang membiru dan membusuk serta mengeluarkan cairan busuk itu berangsur-angsur lenyap. Itu berarti pengaruh 'Racun Hawa Bangkai' di tubuh Cumbu Bayangan mulai lenyap pula. Keadaan Kismi berangsur-angsur membaik.Di lain kejap, Suling Naga Krishna yang berwarna kuning keemasan menjadi hitam kelam. Suling Naga Krishna yang telah berwarna hitam kelam dijulurkan lurus ke depan. Saat Baraka mengalirkan tenaga dalam, lubang-lubang yang ada di Suling Naga Krishna menyemburkan asap berwa
Tiba-tiba sang gadis berseru,"Berhenti! Jangan mendekat lagi!""Lho, kenapa?""Aku mau bunuh diri! Aku tak mau kau pegangi saat aku mau melompat nanti!""Kau mau bunuh diri?" Baraka bernada tidak percaya. Sengaja ia bernada begitu, supaya sang gadis mengurungkan niatnya k
"Luar biasa. Memang anak ini benar-benar anak aneh. Pingsan saja masih bisa menantang, apalagi kalau dalam keadaan sadar. Oh, aku tak bisa bertahan lagi."Sistem penyembuhan untuk menghancurkan Racun Kembang Kubur telah membuat kepekaan tinggi dari semua urat saraf di tubuh sang Pendekar Ke
“Yang kutanyakan, dari mana kau tahu namaku Dukun Gadai?”“Ooo… itu? He, he, he, he… Aku tadi mendengar sahabatku itu menyebutmu Dukun Gadai. Sahabatku itu tak pernah bohong, jadi aku percaya bahwa namamu Dukun Gadai. Apa mau diganti Gadai Jaya?”
BULAN PURNAMA kurang dua malam lagi. Bukit Jengkal Demit sudah banyak disatroni para tokoh rimba persilatan. Tentu saja mereka datang secara sembunyi- sembunyi. Ada yang datang berdua, ada yang datangnya bertiga. Tetapi yang banyak mereka datang secara pribadi. Sendiri dan tersembunyi. Arah sasar






