LOGIN"Hmmm... ya, aku kenal dia. Dia yang bernama Ayunda. Dia sering berkunjung ke perguruanku dan menjalin hubungan baik dengan guruku!"
"Benarkah begitu! Tapi ketika kau menderita racun 'Hawa Bangkai' tadi, gurunya Ayunda menyerangku dan mengancamku agar tidak mencampuri urusannya."
"Urusan apa?"
"Mana kutahu? Dia tidak jelaskan urusan itu."
Cumbu Bayangan masih berkerut dahi dan mencoba memikirkan hal itu. Tapi Baraka lebih dulu berkata dalam bisikan lagi. "Aku
"Aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan hal-hal seperti itu. Aku keluar dari pengasinganku, karena tak tahan mendengar sepak terjang cucuku yang kelewat sesat. Aku tak rela jika cucuku dibunuh orang lain. Maka sebelum orang lain membunuhnya, aku lebih dahulu melakukannya. Kukorbankan perasaan kasih sayangku kepada Merak Cabul untuk selamatkan isi dunia dari kecabulannya.""Aku... aku kagum pada sikapmu, Dewa Putih," ucap Kinanti lirih, namun jelas terdengar oleh yang bersangkutan."Tak ada yang perlu dikagumi dariku, Nona. Aku bertindak sebagaimana harusnya manusia bertindak. Kau pun bisa berbuat seperti apa yang kuperbuat jika kau mengerti bagaimana seharusnya manusia berbuat di alam kehidupannya ini.""Wah, kalau sudah bicara soal begini, puyeng juga kepalaku mengartikannya," pikir Baraka.Pada saat itu ia segera dipandang oleh Dewa Putih. "Nak Mas tidak perlu puyeng. Kata-kataku ini bukan untuk dipikirkan tapi untuk dicerna dan dipahami."Pen
Sedangkan para tokoh sakti mana pun paling sungkan jika berurusan dengan orang-orangnya Ratu Hyun Ayu Kartika Wangi, karena ilmu mereka jauh lebih tinggi dari para tokoh di rimba persilatan di alam kasatmata."Damai hidupmu, panjanglah umurmu, Ki Dewa Putih."Begitulah sapaan keselamatan dari Baraka jika mendapat hormat dari seseorang yang menganggapnya sebagai Manggala Yudha dari Puri Gerbang Kayangan. Ucapan selamat itu bagai berkah seorang raja kepada hambanya."Rupanya aku datang terlambat," ujar Dewa Putih. "Seharusnya aku datang sebelum cucuku termakan oleh tingkahnya sendiri.""Mengapa kau bunuh cucumu sendiri, Ki Dewa Putih?""Terlalu sesat, memalukan nama keluarga. Namaku sendiri menjadi tercoreng karena tingkahnya yang tak tahu susila itu!"Dewa Putih bicara dengan tegas dan penuh wibawa. Kinanti memandanginya dengan rasa sungkan. Namun akhirnya ia pun mencoba bicara kepada kakek yang usianya sekitar seratus tahun itu, "Apaka
"Gawat! Kenapa dia jadi begitu setelah terkena jurusnya sendiri?" pikir Kinanti sambil hatinya berdebar-debar dan merasa kikuk sendiri.Pendekar Kera Sakti hanya tersenyum-senyum nakal, bahkan sesekali melirik Kinanti sambil tertawa pelan. "Baraka, kau apakan dia?""Sekadar membalikkan jurus 'Racun Teluh Cinta'-nya.""Dia menjadi gila! Gila kemesraan!"Erangan memanjang dari mulut Merak Cabul terdengar mendesirkan hati Kinanti, ia jadi tak enak hati, lalu segera menarik lengan Baraka sambil membentak, "Palingkan muka dan tinggalkan tempat ini! Jangan kau tonton tingkahnya itu, kau bisa ikut-ikutan gila seperti dia!"Kinanti menarik Baraka mengajaknya pergi. Pendekar Kera Sakti hanya tertawa kecil, ia masih sempat berpaling memandangi Merak Cabul yang telah melepas seluruh penutup tubuhnya. Bahkan langkahnya yang gontai telah sampai di tempat Sanjung Rumpi. Mereka bagai tak ingat apa-apa lagi. Sanjung Rumpi dipeluk dan dicumbunya dengan jerita
Baraka justru makin menertawakan walau tanpa suara tawa yang nyata."Merak Cabul!" seru Kinanti kepada perempuan berdandanan seronok itu. "Apa alasanmu membumihanguskan Lembah Birawa dengan Sabuk Gempur Jagat itu!""Hik, hik, hik, hik...!" Merak Cabul tertawa, lalu tawa itu tiba-tiba hilang dan wajahnya berubah ketus. "Kalau aku punya Sabuk Gempur Jagat, sudah kuhancurkan kepalamu saat tadi melawan Sanjung Rumpi!""Mengapa tidak kau lakukan! Aku siap melayanimu dengan senjata pusaka apa saja! Keluarkan semua pusaka di Bukti Kasmaran, aku tak akan gentar menghadapimu. Perempuan cabul!""Aku hanya menghendaki Kitab Jati Mulya! Kulihat Lembah Birawa sudah hancur, sisanya tinggal dirimu seorang, Kinanti. Tak perlu kau bertahan dan bersikeras sembunyikan Kitab Jati Mulya. Kau tidak akan mampu menandingi kemarahanku, walaupun kau bersahabat dengan si tampan itu! Kalau si tampan itu ikut campur, akan kubuat berlutut dan menjadi pelayan cintaku setiap malam!"
Tepat pada saat pandangan terlempar, saat itu Baraka melihat kemunculan Sanjung Rumpi dengan seorang perempuan yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Wajahnya cantik, berbentuk lonjong. Hidungnya mancung dan bibirnya sangat menggiurkan. Kulit perempuan itu kuning langsat. Rambutnya disanggul rapi dengan sisa anak rambut terjuntai di smping kanan-kiri.Namun hal yang membuat Baraka menjadi berdebar-debar adalah pakaian perempuan itu. Ia mengenakan pakaian hijau berbunga-bunga seperti bulu merak. Terbuat dari kain tipis yang dibentuk jubah berlengan panjang. Jubah hijau merak itu tidak dikancingkan bagian depannya, sedangkan bagian dadanya hanya ditutup dengan kain tipis dan kecil. Seakan hanya menutupi bagian yang penting saja. Demikian pula bagian bawahnya, tak ada kain lain kecuali kain penutup tipis dan kecil, menutup bagian penting secukupnya. Tapi tipisnya kain penutup itu membuat apa yang ditutupnya menjadi tampak samar-samar dan mengguncang hati setiap lelaki.
Wuuut...!Sanjung Rumpi menghindar dengan memiringkan tubuh dan membungkuk. Kakinya menyapu kaki Kinanti.Weess...!Tapi Kinanti lompat ke atas dan segeramenghujamkan pedang ke punggung SanjungRumpi yang membungkuk. Suuut...!"Heeaat...!"Sanjung Rumpi berguling di tanah. Kakinya berkelebat ke atas dan tubuhnya terpental bangkit dalam satu sentakan manakala pedang itu menancap di tanah. Lalu kaki itu berkelebat menendang rusuk Kinanti dengan cepat.Deeg...!"Uuhg...!" Kinanti terguling-guling. Pedangnya tertinggal dalam keadaan menancap di tanah. Sanjung Rumpi bermaksud mencabut pedang itu, tapi tangan Kinanti segera lepaskan pukulan bersinar merah bagaikan besi membara yang memancar lurus ke arah Sanjung Rumpl.Claaap...!Sinar tanpa putus itu kenai tangan Sanjung Rumpi yang ingin memegang gagang pedang.Cras...!"Aaauh...!" Sanjung Rumpi memekik kesakitan, lalu melompat mundur dalam keadaa
TIDAK ada yang lebih indah di siang teduh berangin semilir selain merebah di bawah sebuah pohon. Melepas lelah dalam buaian angin lembah sungguh merupakan hal yang menyenangkan bagi Baraka. Sayup-sayup terdengar suara alunan seruling yang meliuk-liuk bagai meninabobokan setiap sukma. Suara seruli
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke







