MasukSALAH satu sebab mengapa Pendekar Kera Sakti memikirkan Cincin Mustika Iblis karena timbulnya perasaan cemas di dalam hatinya. Mustika itu adalah senjata berbahaya yang sukar dicari tandingnya. Satu-satunya tandingan Cincin Mustika Iblis adalah Perisai Naga Bening. Tapi perisai itu sudah hilang dan terkubur di dasar lautan. Hal itu secara tak langsung telah membuat Cincin Mustika Iblis merupakan senjata terampuh dan tak bisa dikalahkan.
Senjata seperti itu jelas tak akan luput dari inc
"Bagaimana kau bisa tahu semua itu, Ki Sanupati?" tanya Baraka bersikap menyelidik."Pendeta Jantung Dewa dan Pendeta Mata Lima adalah sahabat karibku, satu perguruan beda tingkatan. Jangan tanya tinggi mana tingkatan mereka dengan tingkatanku, aku tak mau menjawabnya!" sergah Tua Bangka yang agaknya merahasiakan soal tingkatannya itu."Jadi, secara tidak langsung sebenarnya Dewi Kapas Ayu adalah lawanku juga, karena rencongnya itu yang akan menandingi Kapak Kubur-ku!" kata Tua Bangka lagi."Kalau begitu, kita cari Dewi Kapas Ayu itu sebelum para tabib binasa oleh keganasan racun pada rencongnya!" kata Baraka penuh semangat. Ia bahkan memeluk Salju Kelana dari samping sebagai ungkapan rasa lega, bahwa pemilik rencong ternyata bukan gadis yang mirip Hyun Jelita itu."Tunggu sebentar," kata Tua Bangka dengan dahi berkerut seperti teringat sesuatu. "Ketika aku dikejar-kejar oleh orang kadipaten, aku sempat melihat ia bergerak ke arah timur. Tapi tak kupeduli
"Oo... pantas," Baraka manggut-manggut.Claaap...! Blegaar...!Dua orang itu gagal lagi menyerang dari jarak jauh. Akhirnya mereka bosan dan salah seorang berkata, "Sudah, tinggalkan saja dia! Kalau yang lain bertanya, bilang saja ia pergi entah ke mana. Larinya sangat cepat!"Baraka tersenyum mendengar ucapan lirih orang itu. Tapi ia segera memperhatikan Tua Bangka dan berkata, "Sebenarnya apa yang membuat Adipati Janarsuma bernafsu sekali ingin mendapatkan pusaka Kapak Kubur itu?""Dia ingin balas dendam kepada Gandapura, karena anak angkatnya yang tunggal itu diculik oleh orangnya Gandapura dan dimakannya. Kepalanya dipulangkan ke istana kadipaten. Jadi ia bernafsu sekali ingin dapatkan senjata yang dapat untuk melawan titisan raksasa itu, tanpa ia bercermin diri bahwa banyak kepala orang yang dipenggalnya pada saat ia melebarkan wilayah merebut kekuasaan para tumenggung. Kupikir anak angkatnya yang disantap Gandapura merupakan upah perbuatan kejinya s
Pendekar Kera Sakti diliputi kebimbangan yang meresahkan, sambil tetap membiarkan tubuhnya berdiri tegak diguyur air pancuran dengan segarnya. Sementara itu, Salju Kelana seakan ingin mendekat, ingin memandanginya lekat-lekat, namun gadis itu tak berani lakukan untuk melompat turun ke sungai. Barangkali takut terpeleset, atau ia merasa lebih suka duduk sambil membayangkan Baraka mandi.Yang jelas gadis itu segera berkata, "Sepertinya kau masih menuduhku sebagai pembunuh para tabib itu, Baraka. Setega itukah kau mencurigaiku!""Dari mana kau tahu kalau aku masih mencurigaimu?""Detak jantungmu sedikit lebih cepat dari biasanya. Benar, bukan?"Baraka tak berani menjawab. Ia bahkan semakin resah.-o0o-SEORANG lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun melepaskan pukulan tenaga dalamnya berupa sinar biru yang melingkar-lingkar. Pukulan itu terlepas dari telapak tangan kirinya dan menerjang dua orang penunggang kuda yang bersebelahan.S
"Bertahanlan sampai kita mencari daratan, Baraka ""Sekarang sudah sampai di darat. Aku jangan diseret terus!" geram Baraka bernada jengkel sambil menahan sakit."O, maaf. Aku tidak tahu kalau sudah sampai di darat. Kau sendiri mengapa masih memegangi tongkatku terus sehingga terseret-seret!"Baraka menggerutu tak jelas. Badannya terbungkus lumpur hitam berbau rumput. Namun ia tidak peduli dan segera menggulingkan tubuh beberapa kali dengan susah payah, lalu mencapai suling mustikanya.Baraka segera menyalurkan hawa ‘Kristal Bening’-nya tanpa mempedulikan dirinya tubuhnya yang masih diselimuti lumpur hitam. Ia tetap tidak peduli, yang penting mengobati luka dalamnya dulu dan rasa sakit di dada mulai berkurang.Baraka duduk di tanah bersandarkan pohon. Napasnya masih terengah-engah, walau rasa sakitnya semakin ringan. Ia tertegun membayangkan hampir mati terhisap lumpur hidup kalau tak ditolong oleh Salju Kelana.Gadis itu mencoba
Di luar dugaan, dari kedua mata Nyai Sumbar Keramat keluar dua baris sinar merah sebesar lidi, lurus tanpa putus. Baraka sempat terperanjat, lalu cepat-cepat menyilangkan suling mustikanya ke arah depan mata, sebab kedua sinar merah itu ingin menembus mata Baraka.Dengan menyilangnya suling mustika yang digenggam dengan kedua tangan itu, maka kedua sinar merah pun kembali menghantam suling mustika secara bersamaan.Jgaaarrr...!Sinar biru lebar melesat dari suling mustika itu. Sinar biru lebar itu merupakan percikan dari perpaduan tenaga sakti dalam suling mustika dengan dua sinar merah. Sinar biru lebar melesat ke depan dan di luar dugaan menghantam tubuh Nyai Sumbar Keramat.Zrruuub...!"Aaaahg...!" Nyai Sumbar Keramat terpental terbang sambil memekik. Tubuhnya berasap dan jatuh di semak-semak."Guruuu...!" teriak Anggani dengan tegang sekali. Ia berlari menghampiri gurunya yang terperosok di semak-semak. Bahkan sebagian semak-semak itu te
Pendekar Kera Sakti cemaskan jiwa Salju Kelana, sebab gadis itu terdesak sampai di dekat rawa. Padahal Baraka tahu rawa itu adalah genangan lumpur hidup yang mampu menyedot manusia yang jatuh ke dalamnya. Jika sampai Salju Kelana jatuh ke lumpur hidup, habislah riwayatnya. Pasti ia akan semakin ditenggelamkan oleh Nyai Sumbar Keramat dengan caranya sendiri.Tak ada pilihan lain bagi Baraka selain menghambur dalam pertarungan itu demi menyelamatkan Salju Kelana. Dengan gerakan yang amat cepat melebihi anak panah, Baraka berhasil melesat dan dalam sekejap tiba di samping Salju Kelana.Zlapp...! Jleeg...!"Hentikan, Nyai!" sentak Baraka dengan suara menggelegar. Sentakan suara itu membuat jantung Sang Guru terhentak pula dan gerakannya pun terhenti. Baraka segera meraih tangan Salju Kelana dan menariknya."Diam di belakangku!" perintah Baraka dengan mata tetap memandang ke arah Nyai Sumbat Keramat."O, rupanya apa kata muridku memang benar. Pendekar K
"Di alam gaib? Mengapa kau bicara soal alam gaib?"Pendekar Kera Sakti kerutkan dahi dalam lagak bingungnya. Tabib Awan Putih tersenyum. "Aku melihat noda merah kecil di keningmu, Baraka. Aku tahu, noda itu sebagai tanda bahwa kau bisa masuk ke alam gaib. Dan satu-satunya negeri alam gaib
Akhirnya, ketika batu itu hampir menggilas tubuhnya, Karang Wesi segera kerahkan pukulan 'Angin Lahar'.Tepat pada saat batu besar mendekatinya, kedua tangannya yang telah mengandung pukulan 'Angin Lahar' itu digunakan untuk menahan gerakan batu.Gluduk gluduk gluduk...! Plakk...! G
Karang Wesi berkata, "Maaf, saya tak sempat menggunakan jurus 'Salju Hitam', karena dia mendesak terus, Guru!""Seharusnya tak perlu membunuh, biar dia cedera dan lari sendiri, Karang Wesi!"Karang Wesi diam menunduk, ia takut kena murka sang Guru. Tapi dalam hati Karang Wesi mengge
"Kalau begitu, seseorang telah mengguncangkan pohon itu dengan kekuatan jarak jauhnya!"Setan Culik diam, Tikus Ningrat pun diam. Karena tiba-tiba dari arah belakang mereka terdengar suara menyahut,"Aku yang mengguncangkan pohon!"Garong Codet juga terkesiap melihat kemuncul







