LOGINKi Madang Wengi diam terpekur di atas sebuah batu. Mulutnya masih mengunyah makanan, matanya memandang lurus ke arah lautan. Lalu, Tabib Awan Putih yang berjarak enam langkah darinya itu segera mendekati dan berkata pelan, "Cepatlah pergi dan bersembunyi! Kurasa orang yang mengejarmu sebentar lagi datang!"
Ki Madang Wengi dongakkan kepala memandang wajah Tabib Awan Putih. Sebelum Madang Wengi ucapkan kata, Tabib Awan Putih sudah bicara, "Kurasakan getaran nadinya semakin mendekat. Leka
ANGIN bertiup semilir sejuk. Barangkali karena mendung menggantung di langit dan hujan sedang berkemas untuk turun, maka angin pun membawa kelembaban udara yang sejuk. Cuaca seperti itu enak untuk tidur. Maka bersiaplah pemuda tampan berambut poni itu untuk mencari tempat buat baringkan badan. Setidaknya dengan duduk bersandar pun jadilah, yang penting bisa untuk pejamkan mata dan terlena tidur. Pemuda berpakaian rompi tanpa lengan itu tak lain adalah Pendekar Kera Sakti: Baraka.Karena tak ada tempat yang enak untuk baringkan badan, Baraka akhirnya berbaring di atas dedaunan semak tak berduri. Tempat yang sepi dan sangat kecil kemungkinannya dijamah manusia itu membuat Baraka tak segan-segan berbaring di atas dedaunan semak. Daun-daun itu tidak patah, bahkan tidak melengkung terlalu banyak. Padahal daun dan ranting kecil-kecil itu menyangga tubuh Pendekar Kera Sakti. Tentu saja hal itu dilakukan oleh Baraka dengan menggunakan ilmu peringan tubuh yang bekerja dengan sendiriny
Trabb...! Zlapp...!Sinar itu membalik ke arah pemiliknya lebih cepat dan lebih besar. Tapi Aswarani sudah pernah melihat kehebatan suling mustika itu, sehingga ia sudah menduga akan terjadi hal demikian. Maka dengan satu kali lompatan bersalto, ia lolos dari sinar baliknya itu.Blegarrr...!Sinar itu menghantam pohon besar. Dua pohon lenyap berubah menjadi debu."Kau boleh bangga dengan suling mustikamu, tapi tak akan mampu menahan jurusku kali ini, haaah...!"Claappp...!Sinar merah besar terlepas dari tangan Aswarani. Baraka menghadangnya lagi dengan suling mustika, namun kali ini sinar tidak membalik arah melainkan meledak di depan Baraka.Blegarrr....Pendekar Kera Sakti terbang melambung ke udara. Peristiwa itu pernah dialaminya ketika ia ingin menyelamatkan Bulan Sekuntum dalam peristiwa Keranda Hitam dulu. Kini keadaan Baraka terkapar dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Semua yang menyaksikan hal itu menjadi tegang d
"Baik! Kudengar kau pun juga menantang pertarungan denganku. Semula aku ingin melupakan tantangan itu, tak ingin melayaninya. Karena kupikir kau pemuda yang layak dibelai, bukan layak dihancurkan. Tapi karena sikapmu sudah tak mau bersahabat lagi denganku, terpaksa kulayani tantanganmu. Sekarang, di sini juga, kita awali pertarungan kita. Tunjukkan kepada perempuan-perempuan itu bahwa kau mampu mengungguli ilmuku! Tapi tentunya kau tahu bahwa sekarang aku mengenakan Gelang Naga Dewa ini!"Aswarani menunjukkan gelang yang dimaksud dengan mengangkat tangan kirinya, ia menyambung kata, "Kau tak akan mampu kalahkan aku jika gelang ini masih ada di tanganku, Baraka!""Kusarankan, kembalikan gelang itu pada pemiliknya!"Anak Petir tertawa. "Hah, hah, hah, hah...! Kau mau coba-coba memerintahku, Pendekar Kera Sakti! Oh, jangan harap ucapanmu bisa membuatku tunduk dan menuruti perintahmu! Gelang ini adalah nyawaku. Kalau memang kau inginkan gelang ini kembali kepada pem
Ki Lurah Tunggoro segera keraskan semua uraturatnya, mengerahkan tenaga untuk melawan rasa panas yang membakar tangannya. Bulan Sekuntum sentakkan kaki dan melesat menerjang Ki Lurah Tunggoro dengan pedangnya.Wuuttt...! Namun tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro melemparkan sesuatu dari tangan kirinya. Ternyata sinar hijau seperti bola kecil yang diarahkan kepada Bulan Sekuntum.Pedang pun dikibaskan untuk menangkis tenaga dalam berbentuk sinar hijau itu.Wusss...! Dam...!Ledakan tersebut membuat Bulan Sekuntum terpental tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, ia jatuh terguling-guling sampai dalam jarak tujuh langkah dari tempatnya."Bulan Sekuntum terluka," bisik Dinada. "Lihat, wajahnya mulai pucat dan kebiru-biruan! Kita harus segera bertindak.""Jangan dulu," cegah Baraka. "Bulan masih mampu bangkit, ia pasti akan menyerang kembali."Tetapi tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro mengangkat kedua tangannya ke atas dalam keadaan telapak tangan terbu
"Mengapa heran?""Pada waktu pertarungan pertama; bukankah Raja Hantu sudah memegang Gelang Naga Dewa? Mengapa ia tidak bisa tumbangkan Nini Kutang Katung, bahkan gelang itu dititipkan kepadamu?""Tentu saja karena gelang itu baru diperoleh dari pencuriannya. Gelang itu hanya akan berguna jika pemakainya sudah lakukan puasa selama tujuh hari sambil memakai gelang tersebut. Jika belum lakukan puasa selama tujuh hari, gelang itu tidak bedanya dengan gelang biasa bagi pemakainya.""Apakah gelang itu sudah ada tujuh hari di tangan Anak Petir?""Lebih," jawab Dinada cepat. "Tentunya sudah dipuasai oleh Aswarani."Percakapan demi percakapan dilakukan sambil memandang ke sana kemari, mencari suara pertarungan yang terjadi antara Nini Kutang Katung dan Aswarani. Tetapi suara pertarungan itu tidak mereka dengar, gerak bayangan orang berlari pun tidak mereka lihat.Dinada hampir putus asa. Hatinya kesal membayangkan kebodohan Pendekar Kera Sakti. Untu
"Tahan. Tak perlu kau kejar, biar diselesaikan oleh Aswarani!""Minggir kau!" bentak Dinada. Ia berusaha lolos dari hadangan Baraka, namun hal itu sulit dilakukan karena Baraka selalu merintanginya."Dinada, tenanglah dulu! Ada berita bagus untuk dirimu tentang pamanmu; si Raja Hantu itu!""Aku akan mengejarnya dulu! Minggir, Baraka...!""Hei, sabar! Nenek itu tak akan lepas dari kejaran Aswarani!""Bodoh!" sentak Dinada dengan cemberut. Kemudian ia melemas karena merasa sudah tertinggal jauh, tak mungkin terkejar lagi. Dinada duduk di atas sebuah batu, di bawah pohon teduh. Wajahnya cemberut dan tak mau memandang Baraka."Lagak manjanya mulai keluar lagi," gumam Baraka dalam hati. Ia hanya tersenyum tipis lalu mendekati Dinada pelan-pelan."Dari mana saja kau, Dinada! Mengapa sampai terpisah dariku!"Dinada diam saja. Mulutnya masih meruncing. Sesekali ia mendesis dengan tangan mengepal kuat pertanda menahan kejengkelan.
Bocah berkulit hitam itu berkata-kata seakan Putri Budukan masih berada di hadapannya. Setelah tertawa mengikik, dia berkelebat mengikuti jejak Putri Budukan! Dewi Pedang Halilintar yang masih berdiri di tempatnya tampak geleng-geleng kepala melihat kecepatan gerak Dewa Geli.Teringat akan
“Rupanya, kau benar-benar seorang durjana licik yang patut mati, Mahisa Birawa!” seru Pendekar Kera Sakti, naik pitam.Melihat Baraka menatap dengan mata berkilat penuh nafsu membunuh, Iblis Seribu Wajah tersurut mundur. Pada langkah ketiga, tiba-tiba dia membalikkan badan seray
"Alirkan tenaga dalam dengan lembut, lalu tempelkan di tengah perutku. Hei! Hei! Jangan terbalik! Yang harus ditempelkan adalah bagian ujungnya yang besar itu!"Setengah berteriak Setan Bodong memberi petunjuk pada Pendekar Kera Sakti yang telah kembali ke rumah batu. Sementara, Kemuning ta
"Perempuan. Tubuh bagian atas bayi itu berupa manusia biasa dan berwajah cantik. Tapi, tubuh bagian bawahnya berupa ekor ular yang amat menjijikkan. Lebih aneh lagi, kelahiran bayi manusia setengah uiar itu dibarengi sebuah benda ajaib yang juga keluar dari perut sang ratu siluman. Benda itu beru







