Share

4. Kota Papilio

Pertempuran masih berlanjut dengan sengit. Raja Angkara kembali bangkit, orang yang menjabat sebagai tahta tertinggi di kerajaan itu mengambil pedangnya. Raja Angkara berlari menghampiri Raja Ambira. Raja Angkara menyabet Ambira dengan pedangnya hingga Ambira kembali jatuh. Ambira tergeletak di tanah, darah segar keluar dari bibirnya. 

Angkara menginjak dada Ambira kencang membuat darah di mulut Ambira kembali keluar. Ambira sudah berada di ujung batas saat Angkara meletakkan pedang tepat ke arah jantungnya. 

"Kamu yang menguji kesabaranku, Ambira. Sejak dulu kamu mengusik kerajaan Lembah yang bahkan tidak pernah sejengkal pun menginjak tanah kekuasaan Api," ucap Angkara. 

"Bersiaplah Ambira," ujar Angkara menusukkan pedang tepat ke jantung Ambira. 

Suara teriakan menggelegar terdengar kencang. Yan Lixin menolehkan kepalanya, pria itu berteriak nyaring melihat ayahnya tergeletak dengan darah yang mengalir dari berbagai arah. Yan Lixin menatap sekelilingnya, semua prajurit sudah tidak bernyawa. Yan Lixin berlari menghampiri ayahnya, tapi tendangan kuat ia dapatkan dari raja Angkara membuat tubuhnya terpental kencang. Tubuh Lan Yixin menubruk tembok pembatas dan tersungkur ke sana. Yan Lixin menyemburkan darahnya hingga mengenai seluruh bajunya. 

Lan Feiyu menatap seluruh prajurit Api yang mati tanpa sisa. Pria itu kembali menyarungkan pedangnya, menatap Raja Angkara yang juga menatapnya. 

"Wangga, bawa Raja ke dalam dan obati lukanya," titah Lan Feiyu. 

Angkara menghentikan Wangga yang akan mendekat, Angkara berjalan tertarih mendekati anaknya. Lan Feiyu tidak sampai hati melihat ayahnya terluka parah. Lan Feiyu berjalan mendekati sang ayah juga. Tangan Lan Feiyu memegang tangan ayahnya yang penuh darah. 

"Feiyu, terimakasih," ucap Angkara. 

"Sudah semestinya," jawab Feiyu. 

"Feiyu, soal kamu-" 

"Aku akan mengambil syarat dari perjanjian kita. Aku tidak akan mengambil Tahta Raja," sela Feiyu dengan cepat. 

"Hem." Raja Angkara mengangguk-anggukkan kepalanya. 

"Aku hanya minta restu dari ayah," ujar Feiyu menundukkan kepalanya. 

"Jalanlah ke arah barat, ada padepokan bernama Mata Air sama seperti padepokan tempatmu. Terletak di Kota Papilio. Padepokan itu sudah hancur karena perebutan kekuasaan. Bangun padepokan itu kembali bersama Guru Li Ren. Guru Li Ren guru ayah dulu, mengabdilah padanya," ucap Angkara. 

"Baik, ayah," jawab Feiyu. Feiyu merendahkan tubuhnya, pria itu meminta restu pada sang ayah dengan bersujud di bawah kaki ayahnya. 

Tidak ada pilihan lain untuk Angkara kecuali memenuhi syarat anaknya. Seorang ksatria sejati tidak mengingkari janjinya. Lan Feiyu sudah membantunya, kini ada harga yang harus dia bayar. 

"Berdirilah, nak!" titah Angkara. Lan Feiyu segera berdiri. 

Lan Feiyu menatap istana yang masih berdiri megah, pria itu membuka kepalan tangannya. cahaya biru muncul dari sana. Angkara menatap sang anak dan sedikit memundurkan tubuhnya. 

"Aku akan melindungi istana ini, tidak ada yang bisa masuk kecuali keluarga Lan," ujar Feiyu melemparkan cahaya biru itu ke istana. Cahaya biru yang terlempar menyebar ke seluruh istana. Angkara menatap istananya yang kini dikelilingi cahaya berwarna biru. 

"Sabana, aku serahkan padepokan Mata Air padamu. Jaga mereka, jaga keluarga Lan, jangan biarkan perempuan dan anak-anak kecil menderita. Untuk Aixing ikut aku ke Papilio," kata Feiyu. Sabana dan Aixing menganggukkan kepalanya. 

Lan Feiyu segera menjauhi ayahnya, meninggalkan Angkara, Wangga dan Sabana. Aixing mengikuti gurunya, ia sudah berjanji untuk terus mengabdi di mana pun gurunya berada. 

Angkara menjatuhkan air matanya melihat kepergian anaknya. Putra satu-satunya yang selalu ia banggakan. Seketika penyesalan merasuki diri Angkara. Kutukan sudah keluar dari bibirnya, tapi anaknya masih menyelematkan istana. 

"Aku mencabut kutukanku," batin Angkara memejamkan matanya. 

****

Bertahun-tahun kemudian ....

Lan Feiyu membuka matanya dengan pelan tatkala selesai bermeditasi. Pria itu menurunkan kakinya dan berdiri dengan pelan. Lan Feiyu sudah berada di Kota Papilio, satu tahun yang lalu ia datang dan menemukan guru Li Ren dan membangun sama-sama padepokan Mata Air. Penerimaan murid baru pun sudah berlalu satu bulan yang lalu.

Di perjalanannya dari tanah kelahirannya ke kota Papilio, Lan Feiyu melakukan beberapa kali persinggahan dan membangun padepokan. Hingga pada akhirnya ia sampai di Mata Air. Mengabdikan diri pada Guru Li Ren. 

Lan Feiyu mengambil satu buku di sampingnya, pria itu membuka halaman pertama dan membacanya. Hari-hari Lan Feiyu terasa indah dan lebih menyenangkan saat berada di Papilio. Tidak ada desakan menjadi raja, tidak ada desakan harus ini harus itu. Inilah hidup yang sebenarnya ia inginkan. 

Di sisi lain, di balik danau kupu-kupu yang ada tidak jauh dari Padepokan Mata Air, ada seorang gadis yang tengah mengasah kemampuan pedangnya. Gadis itu menyabetkan pedang dan melompat dari satu batu ke batu lain dengan cekatan. Namun, saat melihat buah apel berwarna merah membuat fokus gadis itu teralih. Yan Zai Ziliu tersenyum miring, terbang mendekati pohon apel dan mengacungkan pedangnya ke arah sana. 

"Akhhh kena kau," teriak Yan Zai Ziliu kencang tatkala pedangnya mengenai dua buah apel sekaligus. Yan Zai Ziliu atau biasa dipanggil Ziliu mendarat di tanah dengan sempurna seraya menangkap dua buah apelnya. Pedang yang tadi terlempar, dengan sendirinya masuk ke sarung pedangnya yang terselip di tubuh samping Ziliu. 

Gadis dengan perawakan tinggi ramping, hidung mancung dan kulit seputih susu, terlihat sangat cantik apalagi rambut panjangnya. Gadis itu bernama Yan Zai Ziliu, seorang anak raja yang harus terdampar di kota Papilio. Yan Zai Ziliu tersenyum senang karena berhasil mendapatkan apel. Gadis itu membawa apelnya ke babatuan, merebahkan dirinya seraya memakan apelnya. 

Setiap harinya, Yan Zai Ziliu akan belajar ilmu bela diri di tengah hutan Kota Papilio yang berada di balik danau kupu-kupu. Gadis itu belajar ilmu pedang dan mempunyai kekuatan cambuk emas yang tersimpan di dalam tangannya. Kekuatan dari keluarga Yan Zai Ziliu yang ditinggalkan untuk gadis itu. Yan Zai Ziliu sangat ingin mempelajari berbagai ilmu bela diri, sejak kecil ia hidup tertindas bersama sang ibu. Yan Zai Ziliu ingin menjadi kultivator hebat yang bisa menumpas segala ketidak adilan. Namun, sampai saat ini ia hanya bisa menguasai ilmu pedang dan cambuk emas. Untuk ilmu lainnya ia belum menguasainya. 

"Hah, Andai padepokan Mata Air menerimaku," ucap Zizi dengan lesu. Zizi membuang biji apelnya ke sembarang arah. 

Zizi sangat ingin berguru di Padepokan Mata Air. Namun ia tidak diterima di sana karena ia tidak mempunyai Adamas Core, atau semacam inti Berlian yang tertanam di tubuh, yang bisa digunakan untuk mengisi sumber kekuatan. 

"Akhhhh ...." Zizi berteriak frustasi seraya berdiri. Terkadang Zizi merasa dunia tidak adil padanya. Ia hidup tertindas bersama sang ibu.

Yan Zai Ziliu lahir dan besar di tanah terpencil, berusaha hidup di tengah gunjingan orang-orang karena ibunya melahirkannya tanpa suami. Saat ia kecil ia berusaha menghidupi dirinya sendiri karena kakak laki-lakinya pergi entah kemana. Saat ia berusia lima tahun, kakak laki-lakinya pergi dari rumah, membawa pedangnya dan berkelana untuk mencari ilmu bela diri tanpa mengajaknya. 

Kakaknya hanya meninggalkan seruling kecil untuknya. Seruling biasa yang biasa ia mainkan saat pikirannya mulai memberontak tentang keadilan. ZIzi menuju ke danau kupu-kupu, menuju ke jembatan di tengah danau yang dipenuhi bunga kertas di samping kanan kirinya. 

Zizi mengambil seruling dari samping tubuhnya, mendekatkan ke bibirnya. Belum jua seruling itu ia tiup, anak-anak kecil penduduk samping danau segera mendekatinya. Kupu-kupu, capung dan burung cinta juga terbang mendekat ke gadis cantik itu. Di mana ada Yan Zai Ziliu, di situ ada aura cinta yang bertebaran di sekitarnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status